"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Di Bawah Sumpah dan Luka
Ruang tunggu Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu terasa pengap, meskipun pendingin ruangan sudah bekerja maksimal. Aroma pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kecemasan dari orang-orang yang duduk di bangku kayu panjang yang kaku. Hana duduk di samping Maya, mengenakan setelan blazer berwarna putih gading yang memberikan kesan bersih namun tangguh. Rambutnya yang kini sebahu dibiarkan tergerai rapi.
Hana menatap jemarinya yang saling bertautan. Tidak ada lagi cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Bekas lingkarannya pun sudah memudar, seolah-olah kulitnya pun ingin segera melupakan beban sepuluh tahun tersebut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berisik memecah keheningan koridor. Hana mendongak dan melihat Aris datang bersama ibunya, Mama Sarah. Aris tampak lebih rapi dari pertemuan terakhir mereka, namun matanya tetap memperlihatkan kegelisahan. Sementara itu, Mama Sarah tampak seperti seorang ratu yang sedang kehilangan takhtanya—wajahnya ketat, bibirnya dipoles lipstik merah tua yang tajam, dan tatapannya langsung menghunus ke arah Hana.
"Hana!" Mama Sarah berseru, suaranya menggema di lorong yang sunyi. Ia melangkah cepat mendekati Hana, mengabaikan pengacaranya yang mencoba menahannya.
Hana berdiri perlahan. Ia tidak menunduk. Ia menatap mertuanya tepat di mata.
"Mama harap kamu puas," desis Mama Sarah saat ia sudah berdiri tepat di depan Hana. "Kamu menghancurkan nama baik Aris, kamu membuat Mama malu bertemu teman-teman Mama, dan sekarang kamu menyeret anak Mama ke tempat hina seperti ini? Di mana rasa terima kasihmu setelah sepuluh tahun kami memberimu tempat tinggal yang mewah?"
"Ma, ini bukan tempat untuk meributkan hal itu," potong Maya dengan suara profesional yang tenang. "Kita akan bicara di dalam."
"Saya bicara dengan menantu saya, bukan dengan pengacara haus darah seperti Anda!" bentak Mama Sarah. Ia kembali menatap Hana. "Hana, tarik gugatan ini sekarang. Aris sudah minta maaf. Laki-laki itu wajar khilaf, tapi kamu... kamu keterlaluan karena mengumbar aib keluarga ke semua orang. Apa kamu tidak punya hati?"
Hana menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Hati saya sudah habis, Ma. Habis terbakar oleh kebohongan Aris dan pengabaian Mama selama ini. Mama bilang Aris khilaf? Khilaf itu sekali, bukan berkali-kali dengan sadar. Dan rumah mewah yang Mama banggakan itu... itu bukan surga bagi saya, itu adalah penjara yang dingin."
"Kamu benar-benar sudah dicuci otak oleh lingkungan barumu, ya?" Mama Sarah tertawa sinis. "Ingat, Hana. Tanpa nama Aris, kamu bukan siapa-siapa di kota ini. Kamu hanya akan menjadi janda yang dicibir orang."
"Saya lebih baik menjadi janda yang terhormat daripada istri yang dihina di rumahnya sendiri," jawab Hana telak.
Petugas pengadilan kemudian memanggil nama mereka. "Pihak penggugat, Hana Keiko, dan pihak tergugat, Aris Gunawan, silakan masuk ke Ruang Sidang Utama."
Di dalam ruang sidang, suasana menjadi sangat formal dan dingin. Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya, menatap berkas di depannya dengan saksama.
Sidang dimulai dengan mediasi terakhir. Hakim memberikan kesempatan kepada Aris untuk berbicara.
Aris berdiri, suaranya sedikit bergetar. "Yang Mulia, saya masih mencintai istri saya. Kejadian kemarin hanyalah salah paham besar yang diperkeruh oleh pihak ketiga. Saya berjanji akan memperbaiki semuanya jika Hana mau memberikan kesempatan sekali lagi. Saya hanya ingin rumah tangga kami utuh kembali."
Hana mendengarkan kata-kata itu dengan rasa mual yang tertahan. Bagaimana bisa seorang pria bicara tentang cinta setelah ia menjual rahasia hidup istrinya kepada selingkuhannya?
Kini giliran Hana. Ia berdiri dengan bahu tegak. "Yang Mulia, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dari sesuatu yang sudah hancur hingga ke fondasinya. Cinta bukan hanya tentang kata-kata di ruang sidang, tapi tentang kesetiaan dan rasa hormat yang sudah lama hilang dari pernikahan kami. Saya tetap pada pendirian saya untuk berpisah."
Persidangan berlanjut pada penyampaian bukti dan saksi. Taktik Aris mulai terlihat. Pengacaranya mencoba menyerang stabilitas mental Hana.
"Yang Mulia," ujar pengacara Aris sambil memegang beberapa lembar dokumen. "Kami memiliki bukti bahwa penggugat sering mengalami tekanan emosional yang tidak stabil. Dia sering mengasingkan diri dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak rasional. Kami meragukan apakah keputusan cerai ini diambil dalam kesadaran penuh atau hanya karena pengaruh emosi sesaat."
Maya segera berdiri. "Keberatan, Yang Mulia! Tuduhan itu tidak berdasar. Penggugat adalah seorang individu yang sangat mandiri dan sadar akan keputusannya."
Namun, serangan belum berakhir. Aris memanggil Mama Sarah sebagai saksi.
Mama Sarah duduk di kursi saksi, ia mulai bercerita dengan nada yang sangat dramatis. "Hana itu... dia sering sekali tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri. Dia lebih banyak diam, tidak mau bersosialisasi dengan keluarga, dan seringkali membuat anak saya tertekan di rumah. Aris mencari hiburan di luar karena dia merasa tidak mendapatkan kehangatan di rumah. Sebagai ibu, saya melihat anak saya sangat menderita karena sikap dingin Hana."
Hana merasa dadanya sesak. Ia melihat Aris menunduk, pura-pura sedih di samping pengacaranya. Mereka sedang mencoba membangun narasi bahwa Hana-lah penyebab perselingkuhan itu terjadi. Bahwa Hana-lah yang "mendorong" Aris ke pelukan wanita lain.
"Apakah benar penggugat sering mengabaikan tugas rumah tangga?" tanya pengacara Aris pada Mama Sarah.
"Sangat benar. Dia bahkan jarang memasak untuk Aris belakangan ini. Dia lebih sibuk dengan dunianya sendiri," jawab Mama Sarah dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Hana menggenggam pinggiran meja. Ia teringat bagaimana ia bangun setiap jam lima pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan Aris, bagaimana ia memastikan baju Aris licin sempurna, dan bagaimana ia menelan egonya setiap kali Mama Sarah menghinanya di depan asisten rumah tangga. Semua pengabdian itu kini dibalas dengan fitnah di depan hakim.
Maya menyentuh tangan Hana, memberi kode agar ia tetap tenang. Saat giliran Maya bertanya pada Mama Sarah, suasana berubah tajam.
"Ibu Sarah, Anda bilang Aris mencari 'hiburan' karena Hana dingin? Apakah hiburan itu termasuk memberikan perhiasan senilai puluhan juta rupiah kepada wanita lain sementara istri sahnya tidak pernah diberikan hal yang sama?" Maya menunjukkan foto bukti pembelian anting mutiara yang legendaris itu.
Mama Sarah terdiam sejenak, wajahnya memucat. "Itu... itu urusan bisnis Aris!"
"Urusan bisnis dengan perhiasan mutiara?" Maya tersenyum tipis. "Lalu, apakah Anda juga tahu bahwa putra Anda menceritakan masalah pribadi dan rahasia masa lalu istrinya kepada wanita tersebut? Apakah itu juga bagian dari 'mencari kehangatan'?"
Mama Sarah tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Hana.
"Yang Mulia," Hana tiba-tiba berdiri, memotong perdebatan. "Saya tidak ingin ruang sidang ini menjadi tempat untuk saling menjatuhkan lebih jauh. Semua bukti perselingkuhan dan pengabaian sudah saya lampirkan. Saya hanya ingin satu hal: kebebasan saya. Saya tidak meminta harta gono-gini sepeser pun dari harta yang didapatkan Aris selama pernikahan. Saya hanya ingin keluar dari sini dengan nama saya sendiri."
Hakim menatap Hana dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. Pengakuan Hana bahwa ia tidak menginginkan harta sedikit pun membuat argumen Aris tentang "uang" menjadi runtuh.
Persidangan ditunda untuk dilanjutkan minggu depan. Saat Hana keluar dari ruang sidang, Aris mengejarnya dan menarik lengannya di lorong yang sepi.
"Hana! Kamu gila?! Kamu tidak mau harta gono-gini? Rumah itu, mobil-mobil itu... kamu punya hak!" Aris setengah berbisik, wajahnya penuh kebingungan.
Hana melepaskan tangan Aris dengan gerakan yang sangat tenang. "Aku tidak mau satu sen pun uangmu, Mas. Aku tidak mau ada satu helai benang pun di rumahku nanti yang dibeli dari uang yang mungkin juga kamu gunakan untuk membelikan hadiah bagi wanita lain. Aku punya tanganku sendiri, aku punya pikiranku sendiri. Aku bisa mencari uangku sendiri tanpa harus mengemis padamu."
Aris terpaku. Ia tidak pernah menyangka Hana akan melepaskan kemewahan itu dengan begitu mudah. Selama ini, Aris pikir ia bisa mengontrol Hana karena Hana butuh uangnya. Ternyata, Aris salah besar. Hana tidak pernah butuh uangnya; Hana hanya butuh cintanya, dan saat cinta itu hilang, maka tidak ada lagi alasan bagi Hana untuk bertahan.
"Kamu akan menyesal, Hana," desis Aris. "Dunia luar tidak seramah rumah yang aku berikan padamu."
"Mungkin," jawab Hana sambil mulai melangkah pergi. "Tapi setidaknya di dunia luar, aku bisa bernapas dengan lega. Selamat tinggal, Mas. Sampai jumpa di sidang putusan."
Hana berjalan menjauh, langkah kakinya berbunyi klik-klik di atas lantai koridor, terdengar seperti suara detak jam yang menandai dimulainya waktu yang baru. Mama Sarah masih berdiri di kejauhan, menatapnya dengan kebencian, namun Hana tidak lagi menoleh.
Ia keluar dari gedung pengadilan dan disambut oleh hembusan angin jalanan yang panas namun terasa sangat menyegarkan. Hana masuk ke dalam mobil Maya, menutup pintunya, dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke gedung itu, ia tersenyum tulus.
"Satu langkah lagi, Hana," bisik Maya sambil menjalankan mobil.
"Ya," jawab Hana pelan. "Satu langkah lagi menuju diriku yang sebenarnya."