Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Bangkai
Bukit tengkorak yang biasanya sepi mendadak ramai, dari arah Tanjung ke kotaraja Karang setra nampak beberapa kereta kuda membelah hutan yang berada di lereng bukit itu
Namun saat melewati Lembah bangkai kereta berhenti
" Kakang Lodaya, ada apa?" tanya seorang pria dari dalam kereta kuda yang paling depan
" Perjalanan kita terganggu Adipati, ada pohon roboh di depan" sahut pria yang di panggil Lodaya itu menjawab
Tirai kereta terbuka, dan satu pria berusia 35 tahun melihat ke arah pohon tumbang yang menghalangi jalan.
" Kakang perintahkan Prajurit bersiap!" seru adipati itu saat melihat yang menghadang jalannya bukan pohon Rapuh tetapi pohon segar yang baru di tebang
"Prajurit Siaga!" Lodaya dengan cepat berseru. para prajurit yang mendengar seruan itu langsung menhunus senjata dan berdiri di depan kereta Adipati
" Kakang Mahesa ada apa?" tanya seorang wanita yang berada di sisinya
" sepertinya ada yang menghadang kita nyai" sahut Adipati
" Nyai kau tunggu di sini aku keluar melihat keadaan" lanjut Adipati Mahesa berkata dan dngan langkah ringan ia turun dari kereta kuda, Lodaya yang melihat junjungannya turun dengan cepat melompat dari kudanya di ikuti para prajurit
Sreeet
sreeeet
tiba tiba dari rimbunan semak tak jauh dari pohon tumbang bebrapa sosok berpakaian serba hitam melesat dan mengepung mereka
" Lindungi Gusti Ayu!" teriak Adipati Mahesa , ia menatap satu persatu pengepungnya, saat melihat seorang Pria tinggi tegap dengan wajah kasar penuh dengan Brewok hatinya terkesiap
" Macan Hitam" desis Adipati itu dengan suara bergetar, ia jelas terkejut karena sosok ini adalah seorang tokoh golongan hitam yang sulit di cari tandingannya
" Ilmu Cakar Macan yang di milikinya sangat dahsyat, belum lagi ilmu lainnya Bayangan Macan Hitam yang jarang di tandingi
" He he he, kau mengenaliku Adipati" Macan Hitam terkekeh melihat adipati Mahesa kaget saat melihatnya, tawa yang di sertai tenaga dalam itumenggema ke seluruh lembah itu
Para prajurit yang mendengar bergetar hatinya, nama Macan Hitam merupakan salah satu gembong penjahat yang di takuti, ilmunya sangat tinggi
"Tak ku sangka ada mangsa yang sangat bagus hari ini" lanjut Macan hitam itu berkata
" Hhhh!"
Adipati Mahesa mendesah panjang mencoba menenangkan diri, ia tahu ia bukan lawan Macan Hitam , ilmunya terpaut jauh sepuluh orang dirinya belum tentu mampu mengalahkan Macan hitam
Suara tawa itu juga terdengar sampai ke kereta kuda, wanita yang berada di dalam kereta menjadi gelisah ia memeluk anaknya Jaka yang masih berusia lima tahun
" Ibu" Jaka yang sedang tidur terbangun karena pelukan keras sang ibu, jaka memandang wajah ibunya
" Tidurlah, sebentar lagi kita sampai Jaka" bujuk Nyai Mayang pada anaknya
" Seraaaaang...!"
" Trang"
" traaang"
baru saja ia mencoba membujuk anaknya agar tidur kembali teriakan keras di susul dentingan senjata beradu terdengar
" Ibu apa yang terjadi?" tanya Jaya, walau ia baru berusia lima tahun tetapi ia sangat pintar ia tahu ada yang menyerang mereka
" Lodaya, bawa istri dan anakku pergi!" terdengar suara Mahesa yang memerintahka Lodaya melarikan Nyai Mayang dan Jaka
" Baik Gusti!" sahut Lodaya dan dengan cepat ia menghampiri kereta utama
Wuuut
belum juga sampai di depan kereta satu sosok bayangan melesat dan memberikan satu pukulan untuk menghadang Lodaya tak sampai ke kereta kuda, dengan tangkas Lodaya menghindari serangan itu, namun pukulan pukulan yang lain berdatangan, Lodaya menggulingkan diri menghindari serangan itu
Saat ia berhasil mengelak serangan dengan cepat ia berdiri dan menyilangkan pedang di depan dada karena takut ada serangan susulan lagi
Hiaaaat
benar saja satu pedang berkelebat dengan Cepat Lodaya menangkis serangan pedang
Traaaang
lodaya berhasil menangkis serangan itu, dan langsung melesat ke arah kereta kuda
Para prajurit yang melihat itu dengan cepat mencoba mengahalangi anak buah Macan Hitam agar Lodaya bisa menyelamatkan Nyai Mayang dan anaknya
Sreeet
sreeet
Aaaaaagh
Aaaaaaaa
namun prajurit itu hanya mengantarkan nyawa, sabetan pedang terdengar menyayat dada mereka . para prajurit itu menjerit dan tewas seketika,
" Gusti Ayu mari kita pergi!" Lodaya berhasil mencapai kereta kuda
" Bagaimana dengan Kakang Mahesa?" tanya Nyai Mayang
" Ini perintah Adipati nyai" seru Lodaya
Nyai Mayang segera menggendong Jaka , dan turun dari kereta kuda
Lodaya membawa Nyai Mayang ke arah hutan , berharap dengan rimbunya Hutan mereka bisa selamat dari kelompok Macan Hitam
Sementara Adipati Mahesa bersama empat Prajurit kini berhadapan dengan Macan Hitam
" Serang, jangan ada yang lolos!" teriak Macan Hitam, ia melesat menyerang Adipati mahesa, sedangkan anak buahnya bergerak menyerang prajurit yang mengawal Adipati Mahesa
" Seraaaaang!" Adipati yang melihat Macan hitam mulai menyerang ia juga menyerukan menyerang pada Prajuritnya
Hiaaaat
Traaaang
Wuuut
Adipati Mahesa dengan kekuatan penuh ia menyerang salah satu anak buah Macan Hitam
namun Macam Hitam menangkis dengan pedangnya dan melancarkan serangan balasan dengan telapak tangan
" Plaaak"
Aaaah
Adipati Mahesa terdorong mundur dan menjerit kesakitan tangannya terasa panas saat berusaha menangkis pukulan telapak Macan Hitam
Aaaaargh
Aaaaargh
satu persatu prajurit Mahesa berguguran
" Aku akan mengadu nyawa dengan mu Macan Hitam!" raung Adipati Mahesa murka melihat para prajuritnya tewas satu persatu, ia menjadi nekat karena melihat Lodaya telah berhasil membawa istri dan anaknya lari
Heaaaaaah
" terima ini" AdiPati melesat dengan kekuatan penuh
Wuuuuut
Macan Hitam mendengus melihat serangan itu
dengan gerakan ringan ia mengangkat tangannya
wush
satu angin kencang keluar dari tangan Macan hitam
Braaaak
Aaaaaargh
Adipati mahesa terpental terkena serangan itu,
"Hanya ilmu cakar ayam mau melawanku" dengus Macan Hitam
Ia mengangkat tangannya dan mengirimkan serangan lanjutan
Wuush
Braaaak
Aaaaargh
Adipati menjerit lalu tewas di tempat terkena serangan itu, para prajurit yang melihat itu menjadi semakin ciut dan dengan mudah di jatuhkan satu persatu oelh anak buah Macan hitam
" Kalian ambil semua barang berharga di kereta itu aku akan mengejar Lodaya yang melarikan diri" ucap Macan Hitam lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah larinya Lodaya
Sementara Lodaya dengan menggendong Jaka berlari ke arah hutan , hanya saja karena Nyai Mayang hanya wanita biasa yang tak memiliki ilmu kanuragan larinya menjadi sangat lambat, apalagi banyaknya akar pohon yang mencuat, membuat Nyai Mayang sering terselandung dan jatuh
Wush
Lodaya terkesiap saat mendengar kesiur angin di belakangnya, saat ia menengok Macan Hitam ternyata telah mengejar di belakangnya
" Nyai , bawa Den Jaka dan bersembunyilah, aku akan menghadang nya" seru Lodaya sambil menyerahkan Jaka yang ada di pondongannya
" Tapi bagaimana dengan kakang Mahesa?" tanya Nyai Mayang
" Kita cari selamat dulu nanti kita akan mencarinya kembali" sahut Lodaya, ia berdiri menunggu Macan Hitam yang kian mendekat