Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Hari-hari berikutnya, suasana di Hutan Aethelgard tidak lagi terasa sama.
Angin yang berhembus memang masih membawa aroma dedaunan kering dan bunga liar, tapi ada sesuatu yang menyelinap di antaranya, sesuatu yang asing dan mengganggu, bau besi yang dingin, sisa asap api unggun yang sudah mati, dan jejak manusia yang tidak seharusnya ada di sana.
Alexandria bisa merasakannya meski tidak sepeka Leonard, sementara Leonard sendiri tidak perlu mencari—bau itu selalu ada, semakin jelas dari hari ke hari, seolah jarak di antara mereka dan para penyusup itu terus menyusut tanpa henti.
Sejak kebenaran tentang dirinya terungkap, sejak Alexandria mengetahui siapa Leonard sebenarnya, hubungan mereka berubah tanpa perlu banyak kata. Tidak ada lagi kebingungan atau rasa ragu seperti sebelumnya, yang ada hanya pemahaman yang lebih dalam, dan di balik itu, kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Pagi itu, Alexandria duduk di meja kayu sambil meracik ramuan dengan gerakan yang lebih cepat dari biasanya. Botol-botol kecil berjajar rapi di depannya, beberapa berisi cairan berwarna pekat, beberapa lainnya serbuk halus yang ia campur dengan hati-hati. Ia berusaha fokus, tapi pikirannya terus kembali pada hal yang sama.
Di dekat jendela, Leonard berdiri diam, tubuhnya tegap dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari luar. Telinganya bergerak kecil setiap kali angin berubah arah, setiap kali ada suara yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Leonard," panggil Alexandria tanpa mengangkat kepala, jarinya masih sibuk menutup salah satu botol kecil, "kamu juga merasakannya, kan?"
Geraman rendah yang keluar dari tenggorokan Leonard terdengar singkat namun jelas, tidak perlu penjelasan tambahan.
Alexandria berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Berarti aku tidak salah ya... rasanya seperti mereka benar-benar sudah dekat, bukan sekadar lewat."
Ia tersenyum tipis, mencoba menjaga nada suaranya tetap ringan meski dadanya terasa berat. "Aku tidak takut, cuma... aku tidak suka mereka datang sejauh ini, seolah tempat ini milik mereka."
Leonard bergerak mendekat, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Alexandria dengan gerakan yang lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ia tahan. Alexandria langsung memahami apa yang ada di balik sikap itu, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap bulu hitam itu perlahan.
"Hei, jangan mulai menyalahkan diri sendiri lagi," bisiknya lembut, tapi tegas. "Ini bukan salahmu. Yang salah itu mereka, yang datang tanpa diundang dan pikir bisa mengambil apa saja sesuka hati."
Ia memiringkan kepalanya sedikit, mencoba menangkap tatapan Leonard. "Dan aku tidak butuh kamu jadi pahlawan sendirian. Aku butuh kamu tetap di sini, di sampingku."
Leonard menatapnya beberapa detik, lalu menjilat pipinya pelan, gerakan sederhana yang langsung membuat Alexandria menghembuskan napas yang tidak ia sadari ia tahan sejak tadi.
Siang harinya, mereka memutuskan untuk memeriksa sekeliling pondok, berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Leonard berada di depan, langkahnya tenang tapi penuh kesiapan, sementara Alexandria mengikuti dengan lebih hati-hati, matanya mengamati setiap sudut yang biasanya ia anggap aman.
Saat mereka sampai di sisi timur, dekat tumpukan kayu bakar, Leonard tiba-tiba berhenti. Seluruh tubuhnya menegang dalam sekejap, geraman rendah keluar dari tenggorokannya, kali ini lebih tajam, lebih penuh peringatan.
Alexandria langsung mendekat tanpa suara, mengikuti arah pandang Leonard, dan saat ia melihatnya, dadanya langsung mengeras.
Jejak kaki itu jelas terlihat di tanah lembap, tidak sepenuhnya tertutup oleh daun kering, ukurannya besar dengan pola sol yang tidak biasa, dan yang membuatnya semakin menegangkan adalah betapa segarnya jejak itu. Di dekatnya, ada sisa puntung rokok, kecil, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan, tapi cukup untuk memastikan satu hal.
Mereka tidak hanya dekat. Mereka sudah ada di sini.
Alexandria menarik napas pelan, mencoba menahan gelombang emosi yang muncul.
"Berani sekali mereka," gumamnya, nada suaranya berubah, tidak lagi sekadar khawatir, tapi ada kemarahan yang mulai terasa jelas.
Leonard langsung berputar, matanya menyapu hutan dengan tajam, tubuhnya condong ke depan seolah siap mengejar, nalurinya berteriak untuk menghabisi siapa pun yang berani mendekat sejauh ini.
Namun Alexandria lebih cepat.
Ia menahan leher Leonard dengan satu tangan, menatapnya lurus tanpa ragu. "Jangan sekarang," katanya pelan, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
"Kita tidak tahu mereka berapa banyak, dan aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian hanya karena mereka memancingmu."
Ia menarik napas, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut, "Tetap di sini. Itu yang paling penting."
Beberapa detik berlalu sebelum Leonard akhirnya menahan dirinya, mundur sedikit meski amarahnya belum benar-benar hilang.
Mereka kembali ke dalam pondok dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya, dan kali ini Alexandria tidak mengambil risiko. Ia mengunci semua pintu dan jendela, menarik tirai hingga rapat, lalu mendorong lemari kayu untuk menahan pintu belakang. Setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati, seolah ia tahu bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Sore berlalu dalam ketegangan yang tidak perlu dijelaskan. Alexandria tetap di dekat perapian, berpura-pura sibuk dengan botol-botol kecilnya, sementara Leonard tidak pernah benar-benar diam, berpindah dari pintu ke jendela, lalu kembali lagi, matanya selalu waspada.
Saat malam turun, suasana terasa semakin menekan. Cahaya lampu minyak dibuat redup, cukup untuk melihat, tapi tidak cukup terang untuk menarik perhatian dari luar.
"Kita harus tidur, atau setidaknya pura-pura tidur," kata Alexandria sambil berbaring, meski matanya tetap terbuka menatap langit-langit kayu. "Kalau kamu terus berjaga seperti ini, aku curiga kamu bahkan tidak akan berkedip sampai pagi."
Leonard hanya menatapnya tanpa bergerak, yang membuat Alexandria menghela napas kecil sambil tersenyum tipis.
Waktu berjalan lambat, terlalu lambat, hingga akhirnya suara itu muncul.
Gemerisik halus dari atas.
Dalam satu gerakan, Leonard sudah berdiri, tubuhnya menegang dengan bulu yang berdiri di sepanjang punggungnya, geraman rendah mengisi ruangan. Alexandria langsung bangkit, tangannya meraih kayu bakar yang sudah ia siapkan di samping tempat tidur, jantungnya berdegup keras tapi genggamannya tetap kuat.
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, berasal dari arah atap, lalu bergeser ke dekat cerobong, diikuti bunyi logam beradu pelan seolah seseorang sedang mencoba membuka jalan masuk.
"Mereka tidak cuma mengintai," bisik Alexandria, suaranya rendah tapi tegas, "mereka masuk."
Belum sempat mereka bergerak lebih jauh, benturan keras menghantam pintu depan, membuat seluruh pondok bergetar. Lemari yang menahannya ikut bergeser sedikit, kayu pintu berderit menahan tekanan dari luar.
Leonard mengaum keras, suara itu memenuhi ruangan dengan ancaman yang nyata, tidak lagi sekadar peringatan.
Alexandria berdiri tepat di belakangnya, kayu di tangannya terangkat, napasnya cepat tapi matanya fokus pada pintu yang mulai retak.
"Jangan mundur," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Leonard, tapi cukup jelas untuk terdengar.
Benturan kedua datang lebih keras, retakan di pintu semakin terlihat, dan bayangan mulai bergerak di balik celah kecil yang terbuka.
Leonard tidak bergerak satu langkah pun, tubuhnya menjadi garis pertahanan pertama, dan untuk pertama kalinya, Alexandria tidak merasa berada di belakangnya.
Ia berdiri sejajar. "Biar mereka coba," katanya pelan, tapi penuh keyakinan. "Rumah ini bukan milik mereka."
Benturan berikutnya mengguncang seluruh pondok, suara kayu yang hampir patah terdengar jelas di telinga mereka.
Dan di tengah kegelapan yang menekan dari luar, mereka berdiri tanpa ragu, bukan lagi sekadar bertahan, tapi siap menghadapi apa pun yang datang, bersama.