Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran untuk Dita dan pertemuan yang tidak terduga
Di depan teras rumah yang sunyi, ketegangan terasa semakin menebal. Arjuna menatap Dita lekat-lekat.
Tanpa peringatan ia melangkah maju.
Dan dalam satu gerakan cepat, tangannya melingkar di pinggang ramping Dita, menariknya mendekat.
"Ah...!" Dita terkejut bukan main.
Tubuhnya langsung kaku. Sementara dari balik tirai, Mimi dan Tante Elsa yang masih mengintip langsung membeku. Mata Mimi membesar, namun Tante Elsa segera menarik lengannya pelan.
"Sudah, Mi…" bisiknya. "Ini urusan mereka berdua… sebaiknya kita tidak perlu ikut campur."
Mimi masih menatap ke arah teras, napasnya sedikit tertahan.
"Beruntungnya Dita…" gumamnya lirih, dengan helaan napas panjang. "Bisa mendapatkan suami idaman seperti Pak Arjuna…"
Namun sorot matanya justru terlihat… lemah.
Ada sesuatu yang ia pendam.
Di teras, Dita berusaha keras melepaskan diri.
Tangannya mendorong dada Arjuna.
"Dasar pria mesum! Lepas!" bentaknya.
Arjuna menyeringai tipis dan juga pahit.
"Bukankah ini yang kamu mau, hm...?" ucapnya rendah. "Kau sendiri yang menulis kata-kata menjijikkan itu di mobil patroliku, iya kan?"
Dita menegang. Arjuna semakin mendekat.
" Kalau kau tidak mau mengakuinya…" lanjutnya pelan, "aku akan menjadi seperti pria yang kau tuliskan itu."
Deg!
Tubuh Dita langsung gemetar. Wajahnya memucat.
Ia bisa merasakan napas Arjuna semakin dekat.
Bahkan terlalu dekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti.
Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa terpojok.
"Jangan…" suaranya melemah.
Namun Arjuna tetap menatapnya tanpa berkedip.
Menunggu, memberikan tekanan hingga akhirnya Dita menyerah.
" Okay… ya!" ucapnya cepat, suaranya gemetar. " Aku minta maaf! Aku mengaku salah! Sekarang lepaskan aku!"
Tiba-tiba suasana hening sejenak. Lalu Arjuna melepaskan cengkeramannya.
Dita langsung mundur beberapa langkah, menjauh.
Arjuna menatapnya, ada kepuasan tersirat di wajahnya.
‘Ternyata cara seperti ini efektif juga…’ batinnya.
Ia hampir saja tertawa melihat ekspresi Dita yang ketakutan.
Namun ia menahan diri.
"Kali ini aku maafkan perbuatan konyolmu," ucapnya tegas. "Tapi kalau sampai kau berani mempermalukan ku lagi… jangan harap aku akan memberimu ampun." Nada suaranya dingin.Penuh peringatan.
Namun alih-alih takut, sorot mata Dita justru berubah tajam, penuh perlawanan. Ia menatap Arjuna lurus.
"Cih…" dengusnya. "Aku terpaksa minta maaf padamu… karena aku tidak sudi disentuh oleh pria seperti kamu!"
Arjuna sedikit terkejut. Namun belum sempat ia bicara, Dita melanjutkan perkataannya.
"Kau adalah penyebab kematian Ayahku!" suaranya bergetar, namun penuh emosi. "Sampai kapanpun… aku tidak akan pernah memaafkan kamu!"
Deg!
Kata-kata itu menghantam Arjuna seperti palu.
Ia terdiam, tatapannya berubah.
"Jadi… itu alasanmu…" gumamnya pelan.
Kini ia mengerti. Bukan sekadar kenakalan. Bukan sekadar iseng. Ini merupakan sebuah dendam.
Dita menggigit bibirnya. Air matanya kembali mengalir.
"Ayahku tidak akan meninggal kalau tidak ada kamu di sana!" lanjutnya. " Semua ini…. karena kamu!"
Arjuna menarik napas panjang, menahan emosi yang mulai naik.
"Dita…" ucapnya pelan, mencoba tetap tenang. " Kau tidak tahu kejadian yang sebenarnya."
"Aku tidak peduli!" potong Dita cepat.
Suasana kembali memanas.Namun kali ini lebih dalam. Lebih personal.
Dua orang yang terikat dalam pernikahan itu, kini berdiri saling berhadapan. Bukan sebagai pasangan.
Melainkan sebagai dua hati yang dipenuhi luka… dan kesalahpahaman.
Langit siang terasa terik, namun suasana di teras rumah itu jauh lebih panas. Dita menatap Arjuna dengan penuh kebencian. Tanpa berkata apa pun lagi ia berbalik.Langkahnya cepat, tegas dan meninggalkan Arjuna seorang diri di teras.
Pintu rumah ditutup cukup keras.
Brak!
Arjuna tetap berdiri diam. Tatapannya kosong.
Angin berhembus pelan, namun tak mampu meredakan gejolak dalam dadanya. Ia menghela napas panjang.
"Kalau kau tahu yang sebenarnya…" gumamnya lirih. "Kau mungkin tidak akan membenciku seperti ini, Dita…"
Namun tak ada jawaban. Hanya sunyi.
Akhirnya, Arjuna merapikan pakaiannya.
Ia berbalik dan memilih pergi. Bukan untuk mengejar Dita, melainkan menuju tempat di mana ia merasa masih punya kendali yakni Mabes polri
"Terlalu banyak yang harus aku selesaikan…" ucapnya pelan.
*
*
Siang harinya, di depan gerbang sekolah dasar.
Siena keluar dengan wajah ceria, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya membesar.
"Tante Maudy?!" serunya kaget.
Tanpa menunggu, ia langsung berlari dan memeluk Maudy erat.
"Tante… kok jemput Siena?" tanyanya dengan mata berbinar.
Maudy tersenyum hangat, mengelus rambutnya.
"Karena tante kangen sama Siena, boleh kan?”
Siena mengangguk cepat.
"Boleh banget!"
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Arjuna turun. Dan ia sedikit terkejut melihat pemandangan itu.
"Maudy?" ucapnya heran. "Kamu jemput Siena?"
Maudy tersenyum tipis.
"Iya, Mas Juna… kebetulan lewat."
Siena langsung menarik tangan Arjuna.
"Wah kebetulan banget! Ayah dan Tante Maudy datang!" ucapnya semangat. " Setelah ini aku mau ke mall ya! Ada mainan Pokemon limited edition di DFC! Ayah sama Tante Maudy mau kan kita pergi ke sana?"
Arjuna terdiam sejenak. Ia sebenarnya ingin menolak. Pikirannya masih kacau. Namun melihat wajah putrinya yang penuh harap, hatinya luluh.
"Mas, kalau Mas Juna sibuk…" sela Maudy lembut. "Biar aku saja yang antar Siena."
Arjuna langsung menggeleng.
"Aku tidak sibuk kok," jawabnya cepat. " Jam dua aku baru kembali ke Mabes."
Siena langsung melonjak kegirangan.
"Yeaaay! Ayah baik banget!"
Maudy tersenyum. Dalam hatinya, ia merasa selangkah lebih dekat dengan Arjuna.
*
*
Tak lama, mereka tiba di restoran cepat saji DFC di dalam mall.
Siena langsung berlari ke kasir.
"Aku mau ayam goreng spesial yang ada boneka robot Pokémon nya!” ucapnya semangat.
Namun, di saat yang sama, dua remaja berseragam putih abu-abu datang. Dan memesan menu yang sama. Kasir tampak canggung.
"Maaf ya… menu dengan bonus boneka Pokémon nya tinggal satu paket lagi…"
Siena langsung menoleh.
"Berarti itu buat aku! Aku duluan!"
Salah satu remaja itu menyeringai.
"Hey bocah, aku lebih dulu ya!"
Siena langsung cemberut.
"Dih! Aku lebih dulu! Kakak harus ngalah sama anak kecil!"
"Gak bisa!" balas remaja itu ketus. " Pokoknya aku yang dapat!"
Wajah Siena langsung berubah. Matanya berkaca-kaca.
"Ayah…" panggilnya lirih, hampir menangis.
Di kejauhan, Arjuna yang sedang melihat ponselnya langsung tersadar.
"Siena?"
Ia buru-buru menghampiri putrinya
"Ada apa, Nak?" tanyanya panik.
Siena menunjuk ke arah dua remaja itu.
" Kakak itu jahat… dia gak mau ngalah…"
Arjuna menghela napas. Ia pun menoleh, dan saat itulah, waktunya seolah berhenti. Matanya membesar.
'Dita…?!'
Salah satu dari dua remaja itu, adalah Dita.
Sementara itu, Dita juga menatap Arjuna.
Lalu pandangannya bergeser, ke arah Maudy.
Seorang wanita cantik. Berdiri di samping Arjuna, dengan jarak yang dekat, bahkan terlalu dekat.
Hatinya Dita langsung panas. Pikirannya melesat liar.
"Jadi…" gumamnya lirih, penuh amarah. "Ini alasan dia…"
Tangannya mengepal.
"Kurang ajar…!" bentaknya tiba-tiba.
Semua orang di sekitar terkejut.
"Dasar pria pembohong!" teriak Dita dengan suara bergetar.
Arjuna terdiam.
"Dita, dengar dulu..."
Namun, Dita sudah berbalik. Dan pergi begitu saja.
Langkahnya cepat. Penuh emosi. Rena yang berdiri di sampingnya pun kebingungan.
"Dit! Tunggu!" serunya sambil mengejar.
Suasana mendadak hening. Siena menatap ayahnya bingung.
"Ayah… itu siapa?"
Maudy juga menatap Arjuna penuh tanda tanya.
"Mas Juna…" ucapnya pelan. "Dia siapa? Kenapa bilang kamu pembohong?"
Arjuna terdiam. Rahangnya mengeras.Masalah yang ia coba tutupi, kini mulai terbuka. Dan semuanya terjadi lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna