1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM BERDARAH DI MANSION VEYRIS
Malam di wilayah perbatasan Veyris biasanya sunyi, hanya dihiasi suara jangkrik dan embusan angin dingin dari pegunungan Drakmor. Namun, bagi Kaelan, kesunyian ini terasa "berisik". Melalui Bakat EX miliknya, ia bisa merasakan fluktuasi mana yang tidak wajar di sekitar tembok luar mansion.
Ada lima titik aura yang bergerak sangat halus—nyaris tidak bergetar. Mereka menggunakan teknik Mana Suppression tingkat tinggi.
Status: Shadow Assassins (Level 3 - Expert).
Guild: Dark Hand.
Target: Kamar Count Aldric.
Kaelan duduk di tepi tempat tidurnya. Tangannya yang kecil mengepal. Sial, Papa sedang dalam kondisi terburuknya malam ini. Racun mana itu pasti sedang bereaksi setelah latihan berat tadi pagi. Jika mereka menyerang sekarang, Papa tidak akan bisa menggunakan 30% kekuatannya.
Ia tidak bisa memanggil penjaga. Jika ia berteriak, para pembunuh itu akan langsung menyerang membabi buta, dan Kaelan akan sulit menjelaskan bagaimana seorang balita bisa mendeteksi pembunuh profesional.
"Aku harus menyelesaikannya sendiri... secara sunyi," bisik Kaelan.
Kaelan mengaktifkan Mana Ghosting dan Silent Step secara bersamaan. Tubuh kecilnya memudar, menyatu dengan kegelapan koridor. Ia bergerak seperti hantu, melewati para ksatria penjaga yang bahkan tidak menyadari ada embusan angin kecil yang melewati kaki mereka.
Ia sampai di atap koridor yang menghubungkan paviliun utama dengan kamar ayahnya. Di sana, ia melihat dua bayangan hitam sedang merangkak di dinding luar, memegang pisau beracun yang berkilat tertimpa cahaya bulan.
Dua di atap, tiga masuk lewat ventilasi bawah, analisis Kaelan cepat.
Kaelan menarik mana dari buku kuno yang ia simpan di dalam jubahnya—sebuah teknik terlarang bernama "Mana Needle" (Jarum Mana). Ia memusatkan mananya di ujung jari telunjuknya, memadatkannya hingga menjadi setajam jarum berlian.
Wush!
Jarum transparan itu melesat menembus udara, tepat mengenai titik saraf di leher salah satu pembunuh di dinding. Tanpa suara, pembunuh itu langsung lumpuh dan jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Kaelan tidak membiarkannya jatuh berdebum; ia menggunakan sedikit manipulasi udara untuk menahan tubuh itu agar mendarat pelan di semak-semak.
Pembunuh kedua menyadari rekannya hilang. Ia menoleh, tapi yang ia lihat hanyalah seorang balita dengan mata biru yang menyala dingin di kegelapan.
"Siap—"
Sebelum ia sempat bersuara, Kaelan sudah berada di depannya. Dengan gerakan Silent Step yang ditingkatkan, Kaelan menusukkan jari mungilnya yang terbungkus mana tajam tepat ke jantung pembunuh itu.
Jleb.
Darah hangat muncrat mengenai pipi Kaelan yang tembem. Mata pembunuh itu membelalak, tidak percaya bahwa mautnya datang dari seorang anak yang bahkan belum bisa memegang pedang besi. Kaelan mendorong tubuh itu jatuh ke arah yang sama dengan rekannya.
Dua tewas. Sisa tiga di dalam, batin Kaelan dingin. Ia menyeka darah di pipinya dengan lengan baju.
Di dalam kamar Count Aldric, suasana sangat tegang. Aldric sedang duduk bersila di tempat tidurnya, berkeringat hebat. Urat-urat ungu di dadanya berdenyut menyakitkan. Elena sedang tertidur lelap di sampingnya akibat sihir tidur dosis ringan yang disemprotkan para pembunuh melalui celah pintu.
Tiga pembunuh muncul dari bayang-bayang lemari. Mereka mengangkat pedang pendek mereka serentak.
"Untuk Drakmor," bisik pemimpin pembunuh itu.
Tepat saat pedang itu mau berayun, ruang di sekitar mereka mendadak membeku. Bukan, bukan membeku, tapi melengkung.
"Siapa?!" pemimpin pembunuh itu terkejut.
Dari balik tirai, muncul Mira. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan, namun tangannya terulur ke depan secara insting. Di sekeliling Mira, aura perak berkobar hebat. Ini adalah reaksi Grade S (Ruang) yang dipicu oleh rasa takut luar biasa karena melihat tuannya terancam.
"Jangan... jangan sakiti Count!" teriak Mira.
Wush!
Secara tidak sadar, Mira menciptakan Spatial Distortion (Distorsi Ruang). Pedang para pembunuh itu tertekuk secara mustahil, seolah-olah menabrak dinding transparan yang sangat keras.
Aldric membuka matanya. "Mira?! Apa yang kau—"
Namun Aldric terlalu lemah untuk bergerak. Para pembunuh itu, meski terkejut, segera menyesuaikan diri. "Penyihir Ruang?! Bunuh dia duluan!"
Saat mereka hendak menerjang Mira, sebuah bayangan kecil melesat dari langit-langit.
BRAKK!
Kaelan mendarat tepat di tengah-tengah mereka. Ia tidak lagi menggunakan teknik sembunyi-sembunyi. Ia melepaskan sedikit tekanan Bakat EX-nya yang membuat ketiga pembunuh itu merasa seolah-olah sedang berdiri di depan naga purba.
"Kaelan?!" Aldric berteriak kaget.
Kaelan tidak menjawab. Ia mengayunkan tangannya, memicu skill dari buku kuno: "Aether Slash". Sebuah garis cahaya biru horizontal menebas udara dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia.
Slash!
Kepala ketiga pembunuh itu terlepas dari leher mereka secara bersamaan. Darah menyembur ke segala arah, membasahi lantai karpet mahal kamar Aldric.
Keheningan menyelimuti ruangan. Mira jatuh terduduk karena kehabisan mana setelah membangkitkan kekuatannya secara paksa. Aldric menatap putranya dengan tatapan yang sangat kompleks—takut, bangga, dan bingung.
Kaelan berdiri tegak di tengah genangan darah. Ia menoleh ke arah ayahnya, matanya kembali menjadi jernih dan polos, namun sisa-sisa otoritasnya masih terasa.
"Papa... Kaelan nggak mau Papa mati," ucap Kaelan dengan suara kecilnya.
Aldric mencoba bangkit, ia memeluk Kaelan dengan tangan gemetar. "Kaelan... apa yang baru saja kau lakukan? Teknik itu... itu bukan sihir Grade A."
Kaelan membenamkan wajahnya di pundak ayahnya. "Buku kuno itu, Pa. Kaelan baca... Kaelan cuma pengen Papa selamat."
Malam itu berakhir dengan pembersihan total. Mayat-mayat itu dibawa pergi oleh ksatria setia Veyris. Aldric memerintahkan semua orang untuk tutup mulut. Rahasia Kaelan dan kebangkitan sihir Mira harus dijaga dengan nyawa.
Di menara barat, Nox berdiri di dekat jendela, melihat para ksatria yang sibuk. Ia mencium bau darah dari arah kamar utama. Ia tahu tuannya baru saja beraksi.
Tuan Kaelan sudah mulai bergerak. Aku tidak boleh tertinggal, batin Nox sambil kembali berlatih pernapasan Sword Soul hingga matanya menyala merah di kegelapan.
Kaelan duduk di balkon kamarnya setelah dibersihkan oleh ibunya yang masih syok. Di depannya, Mira berdiri dengan tangan gemetar.
"Tuan Muda... apa yang terjadi pada saya tadi?" tanya Mira pelan.
Kaelan menatapnya dengan senyum tipis. "Mila baru saja menyelamatkan Papa. Mila itu hebat. Mulai besok, Kaelan yang akan jadi guru sihir Mila. Kita harus rahasia, ya?"
Mira menatap tangan kecil Kaelan yang tadi menebas kepala tiga pembunuh profesional. Ia sadar, anak ini bukanlah balita biasa. Ia adalah takdir yang harus ia kawal.
"Iya, Tuan Muda. Saya milik Anda," jawab Mira sambil berlutut dengan hormat yang berbeda dari sebelumnya.
Kaelan menatap bulan yang kini berwarna kemerahan. Pencucian darah pertama selesai. Drakmor sudah mulai bergerak. Waktunya mempercepat rencana Nox Astra.