Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pamer Harta
Sinar matahari pagi menyiram jembatan marmer putih yang menghubungkan dua kediaman megah di Distrik Zamrud.
Di satu sisi, berdiri Kediaman Jian, bangunan bergaya klasik dengan ukiran kayu cendana yang mengeluarkan aroma menenangkan.
Di sisi lain, Kediaman Lu berdiri dengan pilar-pilar batu giok yang dipoles mengkilap, seolah ingin meneriakkan kepada dunia betapa tebal kantong pemiliknya.
Dua keluarga ini adalah penguasa ekonomi wilayah tersebut.
Namun, di dunia di mana kekuatan Qi adalah hukum tertinggi, mereka hanyalah Bangsawan Tingkat 3.
Mereka punya emas untuk membeli satu kota, tapi belum punya cukup pendekar tingkat tinggi untuk menggulingkan Kekaisaran.
Mereka kaya, namun "renyah"—mangsa empuk bagi Bangsawan Tingkat 4-5 yang memiliki perlindungan para Pendekar Suci.
Di tengah jembatan, dua nyonya besar bertemu untuk sesi pamer bayi rutin.
Nyonya Jian, Su Lin, tampak anggun dengan gaun sutra ungu yang disulam benang perak.
Di gendongannya, Jian Yi terbungkus kain bedung dari sutra Langit Tingkat 2 yang konon bisa menahan hawa dingin ekstrem.
"Ah, Nyonya Lu, putra Anda terlihat sangat ... bersemangat hari ini," ujar Su Lin dengan senyum sopan namun penuh selidik.
Nyonya Lu, Mei Hua, yang mengenakan perhiasan emas di hampir setiap jemarinya, tertawa renyah.
Di pelukannya, bayi Lu Feng sedang berusaha keras mengunyah mainan gigitannya yang terbuat dari batu giok murni. "Tentu saja, Nyonya Jian! Suami saya baru saja membelikan Lu Feng satu set mainan dari Benua Barat. Dia bilang, putra seorang Lu tidak boleh menyentuh kayu murahan."
Kedua ibu itu mulai asyik berbincang tentang harga tanah dan gosip istana, tidak menyadari bahwa di dalam dekapan mereka, dua jiwa tua sedang melakukan komunikasi tingkat tinggi.
Jian Yi menatap Lu Feng. Mata bayinya yang jernih memancarkan kecerdasan yang tidak wajar.
Ia mengangkat tangan kecilnya yang gembul, menunjuk ke arah ayahnya, Tuan Jian Hong, yang sedang berdiri di kejauhan sambil memerintah puluhan pelayan.
Jian Yi melakukan gerakan jari yang rumit—sebuah isyarat rahasia kaum pendekar masa lalu—yang artinya: "Lihat bapakku. Dia menguasai jalur perdagangan rempah di tiga provinsi. Perpustakaannya penuh dengan manual teknik pernapasan tingkat tinggi, meski dia sendiri terlalu malas untuk berlatih."
Lu Feng tidak mau kalah. Ia melepaskan mainan gioknya (yang jatuh ke lantai dengan suara denting mahal) dan menunjuk ke arah gerbong-gerbong emas di depan gerbang kediamannya. Dengan gerakan tangan yang kikuk namun penuh penekanan, ia membalas:
"Cih, cuma buku? Bapakku punya tambang batu energi di perbatasan! Lihat rantai emas di lehernya? Itu bisa dipakai untuk membeli satu batalion prajurit bayaran!"
Jian Yi menyipitkan mata. Ia meraih ujung jubah ibunya yang berbahan langka, lalu memamerkannya pada Lu Feng dengan seringai sombong. "Sutra ini dibuat dari ulat es ribuan tahun. Sangat lembut untuk kulit bayiku yang berharga, bukan begitu, Pemabuk?"
Lu Feng membalas dengan meniup gelembung air liur tepat ke arah Jian Yi, lalu menepuk-nepuk perutnya yang buncit seolah berkata: "Aku makan bubur saripati teratai setiap pagi. Tenaga dalamku mungkin akan pulih lebih cepat darimu, si Kurus!"
Perdebatan "isyarat" itu terhenti ketika kedua bayi itu tiba-tiba tersenyum lebar secara bersamaan—bukan senyum bayi yang polos, melainkan senyum licik dua pendekar yang sedang merencanakan kudeta.
"Nyonya Su ... apakah Anda melihat itu?" bisik Mei Hua, bulu kuduknya sedikit meremang. "Putraku ... dia menatap putra Anda seolah-olah mereka baru saja menyepakati cara untuk merampok bank pusat."
Su Lin mengangguk pelan, wajahnya pucat. "Jian Yi juga begitu. Dia tidak pernah menangis sejak lahir. Kemarin, aku melihatnya sedang menatap peta wilayah kita dengan ekspresi sangat serius, seolah-olah dia sedang menilai titik lemah pertahanan kota."
"Mungkin mereka jenius?" Mei Hua mencoba menghibur diri.
"Atau mungkin mereka dirasuki roh leluhur yang haus harta," balas Su Lin khawatir. "Lihatlah mereka ... bayi mana yang saling bertukar tatapan sinis seperti itu sambil memegang botol susu?"
Jian Yi dan Lu Feng kembali bertukar pandang. Di balik kemewahan ini, mereka tahu posisi mereka belum aman.
Menjadi Bangsawan Tingkat 3 berarti mereka adalah target empuk. Harta keluarga mereka yang melimpah adalah magnet bagi para predator dari tingkat yang lebih tinggi.
Jian Yi menggerakkan jempolnya ke leher, sebuah isyarat universal: "Kita harus segera berlatih. Kekaisaran yang membunuh kita masih berkuasa."
Lu Feng mengangguk mantap, lalu secara tidak sengaja bersendawa keras, menghancurkan suasana dramatis tersebut.
Jian Yi memutar bola matanya. "Dasar tidak elegan. Baiklah, tetangga. Mari kita buat wilayah ini gemetar saat kita mulai bisa berjalan nanti."
Kedua bayi itu kemudian tertidur serempak, meninggalkan ibu mereka yang kebingungan melihat betapa cepatnya diskusi dua bayi ajaib itu berakhir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁