“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINCIN DI JEMARI VINA
BAB 28
Pagi itu, atmosfer di dalam rumah mewah di pinggiran kota Roma terasa begitu menyesakkan bagi Sefa.
Gadis itu sudah terbangun jauh sebelum matahari benar-benar naik. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan segalanya, ia tidak tidur semenit pun.
Arka dan Vina, yang terjebak dalam kebahagiaan rahasia mereka semalam, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang telah menyaksikan pengkhianatan mereka di dapur.
Baiklah disini Sefa mengira jika dia adalah korban sedangkan Vina yang menjadi tersangkanya. Sefa tidak tau kebenaran yang terjadi pada Tunangannya itu.
Pikiran Sefa terus berputar pada satu kenyataan yang menghancurkan, Vina tidak kembali ke kamar mereka hingga fajar tiba. Sefa tahu pasti, Vina telah menghabiskan sisa malam itu di kamar Arka.
Bayangan tentang apa yang mereka lakukan di balik pintu yang terkunci itu membuat kepala Sefa terasa ingin meledak. Rasa mual terus menghantam ulu hatinya setiap kali ia melihat wajah Arka yang tampak begitu tenang, seolah tidak ada dosa yang ia sembunyikan.
“Ya tuhan hatiku sangat sakit.”Sefa memejamkan kedua matanya, susah payah dia menahan air matanya yang hendang meluncur.
Saat sarapan, keheningan menyelimuti meja makan. Sefa menyantap makanannya secara mekanis, tanpa rasa.
Hari ini adalah hari libur langka bagi mereka berdua. Tidak ada jadwal syuting, tidak ada urusan naskah. Hanya ada mereka bertiga di dalam rumah yang kini terasa seperti penjara kaca.
Untuk menguji sejauh mana mereka bisa berbohong, Sefa tiba-tiba melontarkan ide yang tak terduga.
"Kak Arka, Vin... hari ini kan kita libur. Bagaimana kalau kita maraton menonton drakor di kamar Kak Arka? Aku rindu suasana seperti dulu di jakarta," ucap Sefa dengan senyum yang dipaksakan, mencoba menutupi badai di matanya.
Meskipun sudah menjadi artis papan atas dengan bayaran selangit, Sefa tetaplah gadis yang menyukai drama Korea. Namun kali ini, tujuannya bukan untuk hiburan. Ia ingin menarik ‘ular’ dan ‘pengkhianat’ itu ke dalam wilayah yang paling intim, kamar Arka untuk melihat bagaimana reaksi mereka.
Arka sempat ragu, namun ia tidak punya alasan untuk menolak.
"Boleh, Sef. Kalau itu bisa membuatmu lebih rileks," jawab Arka sambil melirik Vina sekilas, sebuah lirikan yang langsung ditangkap oleh radar kecurigaan Sefa.
Kini, ketiganya duduk di atas ranjang besar milik Arka. Sebuah posisi yang sangat ironis. Sefa duduk di tengah, menjadi pembatas fisik di antara suami dan istri rahasia itu.
Arka berada di samping kanan Sefa, sementara Vina duduk di samping kirinya. Mereka menghadapi layar televisi besar yang menampilkan adegan romantis dari drama yang sedang populer.
Arka bahkan sempat membuatkan satu wadah besar popcorn hangat. Bau mentega memenuhi ruangan, namun bagi Sefa, baunya terasa memuakkan.
"Enak, Kak. Terima kasih," ujar Sefa sambil mengambil segenggam popcorn dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri, lalu ia dengan sengaja menyuapi Arka.
"Ayo Kak, makan. Kamu pucat sekali hari ini."
Arka menerima suapan itu dengan canggung. Sementara itu, Vina hanya duduk mematung di samping kiri Sefa.
Matanya tertuju pada layar, namun pikirannya jelas tidak ada di sana. Vina merasa seperti sedang duduk di atas bara api. Ia tahu ini kamar Arka, kamar di mana semalam ia merasa aman dalam pelukan pria itu, namun kini ia harus berjarak, dipisahkan oleh wanita yang secara status adalah tunangan suaminya.
Di tengah adegan drama yang menampilkan konflik cinta segitiga, Sefa tiba-tiba bersandar di bahu Arka, namun tangannya yang lain dengan sengaja menggenggam tangan Vina.
"Lucu ya ceritanya," bisik Sefa, suaranya terdengar dingin di telinga Vina.
"Pria di drama ini sangat hebat bersandiwara. Dia menikahi wanita yang tidak dia cintai demi harta, tapi di belakang itu dia punya kekasih gelap. Menurutmu, siapa yang paling jahat di sini, Vin? Prianya, atau wanita yang mau jadi orang ketiga?"
Vina tersentak, tangannya yang digenggam Sefa terasa dingin dan berkeringat.
"Aku... aku tidak tahu, Sef. Mungkin semuanya punya alasan masing-masing."
"Alasan?" Sefa tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Arka meremang.
"Apa ada alasan yang cukup kuat untuk membenarkan pengkhianatan terhadap sahabat sendiri?"
Arka berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sef, fokus saja ke filmnya. Jangan terlalu dibawa perasaan."
Sefa semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Arka, kepalanya bersandar nyaman di sana, namun matanya tetap melirik tajam ke arah Vina yang nampak semakin gelisah.
Ia bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tubuh Arka dan Vina. Ruangan yang ber-AC itu terasa sangat panas.
Bagi Sefa, ini bukan lagi maraton drama. Ini adalah eksekusi perlahan.
Ia ingin melihat sampai kapan Vina sanggup duduk di sana, mencium aroma parfum Arka yang mungkin masih tertinggal di bantal yang ia duduki, tanpa berteriak mengakui segalanya. Dan ia ingin melihat, seberapa tebal muka Arka saat berpura-pura menjadi tunangan yang manis di kamar yang baru saja menjadi saksi pengkhianatannya.
Film terus berputar, menampilkan adegan-adegan romantis yang biasanya akan membuat Sefa menjerit gemas. Namun hari ini, setiap dialog cinta di layar televisi terasa seperti ejekan bagi hidupnya.
Di atas ranjang ini, Sefa merasa seperti sedang duduk di tengah-tengah dua orang yang saling berbagi bahasa rahasia melalui diam mereka.
“Sayang aku mengantuk.”
Sefa sengaja menggeser duduknya, membuat tubuhnya semakin menempel pada Arka. Ia bisa merasakan otot-otot lengan Arka yang menegang. Arka, yang biasanya akan merangkulnya dengan hangat, kini hanya duduk kaku dengan pandangan lurus ke depan.
"Vin, kamu kok diam saja? Popcornnya dimakan dong. Arka sengaja bikin banyak buat kita," ucap Sefa sambil menyodorkan wadah besar itu melewati pangkuannya ke arah Vina.
Vina tersentak dari lamunannya. Ia mengambil satu buah popcorn dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Iya, Sef. Enak kok. Aku cuma... fokus ke ceritanya."
"Ceritanya memang dalam, ya?" Sefa menyahut pelan.
Matanya kini tertuju pada bantal di belakang punggung Vina. Bantal itu adalah bantal yang sama yang digunakan Arka setiap malam. Sefa bisa mencium aroma parfum Arka yang tertinggal di sana, dan ia yakin Vina juga bisa merasakannya.
"Kadang aku berpikir, betapa mengerikannya jika kita hidup bersama seseorang selama bertahun-tahun, tapi ternyata kita tidak benar-benar mengenalnya. Seperti pria di drakor ini, dia punya ruang rahasia di rumahnya sendiri."
Arka berdehem, mencoba memecah ketegangan yang kian mencekik.
"Itu kan cuma film, Sef. Di dunia nyata tidak ada orang yang sanggup menyimpan rahasia sebesar itu tanpa ketahuan."
"Oh ya?" Sefa menoleh pada Arka, menatapnya dengan senyum misterius yang membuat Arka merasa telanjang.
"Atau mungkin orang-orang di sekitarnya saja yang terlalu bodoh untuk menyadari? Atau mungkin... mereka terlalu mencintai hingga memilih untuk menutup mata?"
Vina merasa oksigen di kamar itu habis. Ia tidak sanggup lagi duduk di sana, di ranjang yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu pembicaraan intimnya dengan Arka.
Rasa bersalah dan takut tercampur menjadi satu, membuat perutnya mual.
"Sef, Kha... aku tiba-tiba merasa pusing. Mungkin aku kurang darah. Aku ke kamar dulu ya," ujar Vina buru-buru.
Ia hendak beranjak, namun tangan Sefa dengan cepat menahan pergelangan tangannya.
"Tunggu dulu, Vin. Baru juga satu episode," Sefa menatap Vina dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Tadi pagi kamu bilang tidak bisa tidur di kamarmu karena sepi. Sekarang kalau kamu balik ke sana, nanti kamu pusing lagi. Kenapa tidak tidur di sini saja sama kita?"
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Arka dan Vina. Arka hampir tersedak minumannya.
"Sefa, apa yang kamu bicarakan? Ini tidak pantas."
"Kenapa tidak pantas, Kak?" Sefa menoleh pada Arka dengan wajah polos yang dibuat-buat.
"Vina kan sahabatmu. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Dan kamu... kamu tunanganku. Apa salahnya kita bertiga istirahat di sini sambil nonton? Kecuali... ada alasan lain kenapa kalian merasa tidak nyaman?"
Suasana kamar mendadak sunyi senyap. Hanya suara dari televisi yang masih memenuhi ruangan. Arka bisa merasakan jantungnya berdegup kencang hingga ke kerongkongan. Ia menatap Sefa, mencari tanda-tanda apakah gadis itu sudah tahu segalanya atau hanya sedang mengujinya.
Vina menarik tangannya perlahan dari genggaman Sefa. "Aku benar-benar butuh istirahat, Sef. Maaf."
Vina hampir lari keluar dari kamar Arka. Begitu pintu tertutup, Arka menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Namun, Sefa tidak membiarkannya tenang. Ia segera mematikan televisi dan berbalik menghadap Arka sepenuhnya.
"Kak Arka," panggil Sefa lirih.
"Ya, Sef?"
"Kenapa Vina memakai cincin nikah di jari manisnya? Semalam aku melihatnya saat dia tidur. Bukankah Bayu sudah tiada?"
Arka mematung. Ini adalah pertanyaan yang paling ia takuti. Ia tidak menyangka Sefa akan memperhatikan detail sekecil itu di tengah duka yang ia alami.