"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Kaisar
Sepuluh menit berlalu. Raline sudah selesai memotong wortel dan kentang dengan potongan dadu yang presisi, terlihat rapi. Ia kemudian menghampiri Kaisar untuk melihat progres sang suami dalam memotong daging ayam.
"Udah beres?" tanyanya.
Kaisar mengangguk mantap, menunjukkan hasil potongannya pada Raline dengan bangga.
"Tadaaa..."
Namun, bukannya bangga, Raline justru membulatkan mata melihat hasil karya sang suami.
"Kai... ini apa?!" tanya Raline dengan nada suara yang mulai naik satu oktav.
Kaisar tersenyum bangga. "Ayam potong. Biar cepet mateng dan bumbunya meresap sampai ke tulang, jadi gue potongnya agak... kreatif."
Raline menarik talenan itu ke arahnya. Di atasnya, daging ayam itu hancur berantakan. Ada yang seukuran kelereng, ada yang masih menempel besar dengan tulang yang pecah tajam, bahkan ada potongan yang bentuknya tidak karuan seperti tercabik-cabik.
"Kreatif mata lo peyang!" semprot Raline, matanya melotot. "Ini bukan potongan buat sup, Kai! Ini mah namanya pakan lele! Lo liat nih, kecil-kecil banget, ada yang cuma kulit doang lagi. Terus ini kenapa tulangnya sampai hancur begini? Kalo kemakan bisa luka tenggorokan gue!"
Kaisar terdiam, menatap tumpukan ayamnya yang memang terlihat agak menyedihkan dibanding potongan sayur Raline yang estetik. "Ya... kan katanya mau yang gampang dimakan? Gue pikir kalo kecil-kecil tinggal hap gitu."
"Hap mata lo! Sup ayam itu potongannya sedang, biar sari kaldunya keluar tapi dagingnya gak hancur pas direbus! Lo bilang tadi sering bantuin nyokap lo? Bantuin apa? Bantuin ngabisin doang?!"
Kaisar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya yang tadi sok jago kini berubah jadi cengengesan tak berdosa. "Hehe... ketahuan ya?"
"Lo bohong, kan?" selidik Raline, berkacak pinggang.
"Ya, sejujurnya sih... Mama kalo ke dapur cuma buat bikin kopi atau ambil buah yang udah dikupas Mbak Sukma. Dia gak pernah masak," aku Kaisar sambil nyengir lebar, menampilkan barisan giginya yang rapi. "Gue tadi cuma berusaha pengen jadi suami yang baik, biar lo gal kerepotan gitu. Eh, malah gini. Sorry... Hehehe..."
Raline membuang napas kasar, antara ingin marah dan ingin tertawa melihat ekspresi konyol suaminya. "Tau ah! Minggir lo, sana cuci tangan! Biar gue yang rapihin sisa-sisanya. Bisa-bisa sup gue jadi bubur ayam kalo lo yang lanjutin."
"Siap, Bos!" Kaisar segera mundur dengan patuh, masih dengan senyum jahilnya.
Raline mengambil alih tugas Kaisar memotong daging. Ia geleng-geleng melihat hasil perbuatan suaminya. Rasanya gemas, ingin mencakar wajah Kaisar tanpa ampun.
Tapi mengingat pemuda itu hanya berusaha membantu, ia pun mengerti sepenuhnya bahwa Kaisar memang tak pernah melakukan hal-hal seperti ini dalam hidupnya. Ia anak 'mami', tentu saja hidupnya serba mudah tanpa harus ia melakukan sesuatu yang bukan tugasnya.
Raline akhirnya mengambil potong ayam yang besar-besar, memotongnya sesuai dengan yang seharusnya. Lalu, ia mengambil wadah, memasukkan potongan ayam yang hampir hancur ke dalam wadah tersebut.
"Yang ini bisa gue orak arik atau gue masak menu lain aja nanti," gumamnya pelan. "Kalo di masukin ke sup juga malah bakal lembek dagingnya."
Kaisar yang masih berdiri di dekat wastafel hanya memperhatikan Raline yang sibuk menyelamatkan sisa-sisa "karya seninya". Ia merasa sedikit bersalah, tapi lebih banyak merasa geli sendiri. Ternyata, memotong ayam jauh lebih sulit daripada memotong musuh di game online.
"Mau gue bantuin apa lagi? Kupas bawang? Kalo itu gue yakin bisa, tinggal tarik kulitnya sama diiris-iris, kan?" tawar Kaisar, mencoba menebus kesalahannya.
Raline menoleh sekilas, matanya menyipit penuh selidik. "Kupas bawang? Nanti lo nangis. Mending gak usah, ribet liat lo. Bukannya bantuin, malah nyusahin!"
"Dih, ngeremehin. Air mata gue mahal, Lin. Nggak bakal keluar cuma gara-gara bawang."
"Yaudah kalo lo mau. Kupas aja bawang-bawangnya, terus nanti lo iris-iris tipis. Gue mau goreng buat taburan."
"Oke."
Kaisar meraih segenggam bawang merah dari keranjang bumbu. Ia lalu duduk di kursi makan dan mulai mengupas bawang-bawangnya.
Raline membiarkannya. Ia mulai menyalakan kompor, merebus air dalam panci untuk kuah supnya. Sambil menunggu air mendidih, ia melirik Kaisar dari sudut matanya. Pemuda itu tampak sangat serius, alisnya bertaut, konsentrasi penuh menguliti bawang putih seolah sedang menjinakkan bom.
Ia tak berkomentar. Pikirnya, mungkin Kaisar memang bisa melakukannya tanpa harus merepotkan dirinya lagi.
Satu menit... dua menit...
"Eh... Lin..." suara Kaisar terdengar agak sengau.
Raline menoleh dan hampir meledak tawanya. Mata Kaisar sudah memerah dan berair. Ia berusaha mengedipkan matanya berkali-kali, tapi air mata mulai menggenang di pelupuknya.
"Katanya air mata lo mahal?" goda Raline sambil menahan tawa.
"Ini... ini bukan nangis! Ini reaksi kimia! Bawangnya nyerang mata gue secara personal!" bela Kaisar, suaranya makin bindeng. Ia mencoba menyeka matanya dengan punggung tangan, tapi malah makin parah karena tangannya baru saja memegang bawang. "Aduh! Perih banget, anjir!"
"Jangan dikucek, Kai! Malah makin perih itu!" Raline segera menghampiri Kaisar. Ia menarik tangan Kaisar menjauh dari wajahnya. "Sini, cuci muka dulu."
Raline menuntun Kaisar ke wastafel, membantu suaminya itu membasuh wajah dengan air mengalir. Kaisar menurut saja, matanya terpejam rapat sambil mengaduh pelan. Setelah dirasa cukup, Raline mengambil tisu dapur dan menepuk-nepuk wajah Kaisar hingga kering.
Jarak mereka kembali merapat. Raline bisa merasakan deru napas Kaisar di keningnya.
Saat Kaisar perlahan membuka mata, yang pertama ia lihat adalah wajah Raline yang tampak khawatir sekaligus menahan tawa.
"Masih perih?" tanya Raline lembut, suaranya mendadak pelan.
Kaisar terdiam sebentar, menatap mata Raline yang jernih. Rasa perih di matanya seolah menguap, digantikan oleh debaran aneh yang kembali menyerang dadanya, lebih kuat dari yang di meja makan tadi.
"Dikit lagi... coba tiupin," gumam Kaisar pelan. Ia mulai bermodus pada istrinya.
Raline mendengus, tapi entah kenapa ia menuruti permintaan konyol itu. Ia berjinjit sedikit, lalu meniup mata Kaisar perlahan.
Fuuuh... fuuuh...
Kaisar mematung. Wangi sabun cuci piring bercampur aroma samar parfum Raline masuk ke indra penciumannya. Ia merasa seperti sedang tersihir. Tangannya tanpa sadar bergerak naik menyentuh pinggang Raline.
"Udah?" tanya Raline.
Kaisar mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian ia mengangguk. "Udah gak perih lagi," jawabnya.
Raline sekali lagi memperhatikan mata suaminya. Masih merah, tapi sudah terlihat tak seperih tadi.
"Yaudah, gak usah dilanjut," ucapnya. "Biarin aja. Nanti gue yang lanjutin sambil masak sup."
Kaisar mengangguk pasrah. Kedua tangannya masih berada di pinggang Raline.
"Gue harus bantu apa?" tanya Kaisar.
"Gak usah," jawab Raline. "Udah cukup lo bantuin gue. Lo diem aja, tunggu supnya matang."
"Oke."
Raline kembali ke kompor, melanjutkan membuat sup yang terus saja terkendala karena Kaisar. Sedangkan Kaisar, ia memilih duduk sambil bersandar memerhatikan Raline.
Suasana hening sekarang. Tak ada keributan atau omelan Raline terhadap Kaisar. Gadis itu fokus memasak karena perutnya sudah keroncongan.
Kaisar sendiri hanya terus memperhatikan panggung Raline. Ingin membantu pun rasanya percuma. Ia hanya membuat Raline kerepotan.
Ting!
Ponsel Raline berbunyi. Sebuah pesan masuk untuknya.
Kaisar langsung melirik ponsel Raline. Rasa penasaran mulai muncul di hatinya. Ia ingin tahu siapa yang mengirimkan chat pada Raline.
Ia melirik Raline yang tidak mempedulikan bunyi ponselnya.
Kaisar dengan gerakan cepat meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Layarnya menyala sesaat, menampilkan notifikasi pop-up yang muncul di layar terkunci.
Mata Kaisar menyipit. Satu nama muncul di sana, membuat dadanya mendadak terasa sesak.
[Faiz]
1 Pesan Baru
Kaisar membeku.
Melihat nama sahabatnya muncul di ponsel Raline, membuatnya bertanya-tanya "Apa Raline dan Faiz punya hubungan spesial saat ini?"
Bersambung...
Visual karakter Kaisar & Raline:
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya