Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Darrel sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Wajahnya tampak lebih bersemangat dari biasanya. Perubahan itu membuat orang-orang di rumah saling berpandangan.
“Pi, tumben cucu kita kelihatan semangat sekali,” ujar Vivian kepada suaminya.
“Doakan saja semoga di sekolah barunya dia tidak membuat onar lagi,” sahut Marcel datar.
Langkah Darrel yang hendak menuju ruang makan langsung terhenti. Ucapan kakeknya terasa seperti duri yang menusuk. Selalu saja ia dicap sebagai pembuat masalah.
Di kursi makan, Nathan hanya diam. Sikapnya seolah membenarkan ucapan sang ayah.
Seketika semangat Darrel runtuh. Mood-nya hilang begitu saja. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berbalik hendak meninggalkan ruang makan.
“Sayang, kok langsung pergi begitu saja?” panggil Vivian, mencoba menahannya.
“Gak nafsu makan,” jawab Darrel ketus.
Vivian segera bangkit dan menyusul cucunya. Wajah wanita itu terlihat cemas.
“Sayang, kamu marah, ya? Maafkan kakekmu,” ucapnya lembut.
Darrel hanya menghela napas panjang.
“Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu saja, ya,” bujuk Vivian lagi.
Darrel menggeleng cepat.
“Enggak usah, Nek. Nafsu makan Darrel sudah hilang.”
“Nak, jangan ngambek begitu. Nanti kalau kamu sakit karena telat makan bagaimana?” kata Vivian khawatir.
“Tenang saja, Nek. Darrel sarapan di kantin sekolah saja,” jawabnya santai.
Vivian langsung terkejut.
“Apa? Tidak boleh!” serunya. “Kamu tidak boleh jajan sembarangan. Bukannya Nenek sudah menyiapkan bekal untukmu?”
“Tenang saja. Makanannya enak dan tempatnya bersih,” sahut Darrel ringan.
Ucapan itu justru membuat Vivian semakin gelisah.
“Tidak, Sayang. Makanan di luar itu belum tentu sehat. Bisa saja minyaknya dipakai berulang-ulang, tidak ada gizinya.”
“Enggak, Nek,” potong Darrel cepat. “Mbak kantin pakai minyak baru. Darrel tahu. Pokoknya Darrel tidak mau terus diatur seperti ini. Darrel sudah besar dan bisa menentukan makanan yang mau Darrel makan.”
Vivian terdiam, semakin cemas melihat perubahan cucunya.
Dari meja makan terdengar suara Nathan yang mulai kehilangan kesabaran.
“Sudah, Mi. Ayo sarapan. Waktuku tidak banyak. Untuk Darrel, biarkan saja dia memilih apa yang dia suka,” kata Nathan tanpa menoleh.
“Baik,” sahut Darrel singkat.
Vivian menatap putranya dengan kecewa.
“Kamu tidak boleh begitu, Nath. Dia anakmu. Seharusnya kamu membujuknya agar mau sarapan.”
“Tapi dia memang tidak mau, Mi,” jawab Nathan dingin.
Darrel tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit.
“Sudahlah, Nek. Jangan pikirkan Darrel. Daddy saja tidak pernah memikirkan Darrel.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung melangkah keluar rumah tanpa berpamitan.
Pagi itu, semangat yang sempat muncul di hatinya kembali menghilang begitu saja.
Sementara Nathan mendengus kesal, merasa kalah dengan emosinya, yang tidak pernah sabar menghadapi sang anak.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sesampainya di sekolah, Darrel langsung menuju kelas untuk menaruh tasnya. Setelah itu ia berjalan menuju kantin Andin. Pagi itu kantin tidak terlalu ramai, hanya beberapa siswa yang sedang membeli makanan.
Dengan wajah yang masih terlihat murung, Darrel mendekati meja kantin.
“Mbak, nasinya satu,” pintanya pelan.
Andin yang sedang mengelap piring langsung menoleh.
“Nasi apa, Rel?”
Darrel mengangkat bahu. “Terserah Mbak saja. Yang penting aku sarapan.”
Andin sedikit mengernyit. “Loh, kok gitu?”
“Aku lagi malas, Mbak,” jawab Darrel lemas.
“Sarapan itu penting, lho,” kata Andin sambil mengambil sepiring nasi dan beberapa lauk.
Darrel hanya menghela napas panjang.
“Iya sih penting… tapi sudahlah. Mereka selalu bilang semoga di sekolah baru aku tidak bikin onar,” keluhnya pelan.
Mendengar itu, Andin terdiam sejenak. Entah kenapa hatinya terasa iba. Meski ia belum pernah menikah ataupun memiliki anak, hatinya mudah tersentuh melihat kesedihan bocah di depannya.
“Siapa yang bilang kamu selalu bikin onar?” tanya Andin lembut. “Menurut Mbak, kamu anak yang baik.”
Darrel tersenyum tipis. “Ah, Mbak Kantin bisa saja. Orang-orang di rumah saja menganggap aku anak nakal.”
Andin menggeleng pelan.
“Sudah, jangan bilang begitu lagi. Sekarang kan kamu punya teman di sini,” katanya sambil menyodorkan piring nasi ke hadapan Darrel. “Biarkan Mbak Kantin percaya kalau kamu anak baik.”
Darrel menatap Andin sejenak. Entah kenapa, ucapan sederhana itu terasa hangat di hatinya.
“Iya, Mbak,” sahutnya pelan sebelum mulai menyantap sarapannya.
Darrel pun mulai menikmati hidangan sederhana itu, tidak semewah di rumahnya, namun entah kenapa tempat sederhana ini membuat dirinya merasa lebih di terima.
☘️☘️☘️☘️☘️
Siang itu pelajaran berjalan seperti biasa. Hingga akhirnya bel tanda pulang hampir berbunyi.
Di sudut kelas, Genta terlihat berbisik dengan dua temannya. Tatapan matanya sesekali melirik ke arah Darrel yang sedang duduk santai di bangkunya.
“Sekarang saja,” bisik Genta pelan.
Kedua temannya mengangguk.
Saat Edo keluar kelas untuk mengambil buku yang tertinggal di loker, Genta dan dua anak itu segera menyusulnya.
Lorong belakang sekolah terlihat cukup sepi. Edo baru saja menutup pintu lokernya ketika tiba-tiba seseorang mendorong bahunya dengan keras.
“Eh!” Edo terhuyung.
Belum sempat ia bereaksi, Genta langsung menarik kerah bajunya. “Kamu kira hebat ya kemarin!” bentak Genta.
“Apa maksudmu?” balas Edo kebingungan.
Namun Genta tidak memberi kesempatan. Ia langsung mendorong Edo hingga jatuh. Dua temannya ikut memegang bahu dan tangan Edo. Beberapa pukulan pun mendarat di tubuh anak itu.
“Ini gara-gara kamu!” ujar Genta kesal.
Edo mencoba melawan, tetapi jumlah mereka lebih banyak. Saat beberapa siswa mulai mendekat karena mendengar keributan, Genta tiba-tiba berhenti memukul.
Ia tersenyum tipis. “Cepat!” bisiknya pada teman-temannya.
Mereka langsung berlari meninggalkan Edo yang tergeletak di lantai lorong. Namun sebelum pergi, Genta sengaja berteriak keras.
“Darrel! Sudah cukup!”
Teriakan itu membuat beberapa siswa yang datang langsung menoleh ke arah kelas. Seolah-olah Darrel lah pelaku pengeroyokan itu.
Sementara itu, Darrel yang masih berada di dalam kelas sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja dijadikan kambing hitam.
☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa menit setelah kejadian itu, Edo akhirnya dibawa ke UKS oleh beberapa siswa yang melihatnya tergeletak di lorong belakang sekolah.
Seragamnya terlihat kusut, bibirnya sedikit berdarah, dan salah satu tangannya memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
“Pelan-pelan, Do,” kata salah satu temannya sambil membantu Edo duduk di ranjang UKS.
Bu Rina, petugas UKS, segera menghampiri.
“Astaga, ini kenapa?” tanyanya kaget.
“Tadi Edo dipukuli, Bu,” jawab salah satu siswa.
Bu Rina segera membersihkan luka di bibir Edo dengan kapas dan cairan antiseptik.
“Siapa yang melakukan ini?” tanyanya lagi.
Beberapa siswa saling pandang.
“Tadi… kayaknya Darrel, Bu,” ucap salah satu anak ragu-ragu.
“Soalnya kami dengar Genta teriak, ‘Darrel, sudah cukup!’” timpal yang lain.
Bu Rina langsung mengernyit. “Darrel?”
Tak lama kemudian Pak Irwan datang dengan langkah cepat setelah mendengar keributan itu.
“Ada apa ini?” tanyanya serius.
“Pak… Edo dipukuli,” kata salah satu siswa.
Pak Irwan langsung mendekati ranjang UKS.
“Edo, kamu dipukul siapa?”
Edo terlihat ragu. Ia mengingat jelas siapa yang memukulnya, tetapi sebelum ia sempat berbicara, salah satu siswa kembali bersuara.
“Tadi kami dengar Genta memanggil Darrel, Pak.”
Beberapa anak lain langsung mengangguk.
“Iya, Pak. Kami juga dengar.”
Pak Irwan menarik napas panjang. “Darrel lagi?” gumamnya pelan.
Di sisi lain sekolah, Darrel yang baru saja keluar dari kelas sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia bahkan masih sempat membeli minuman di kantin Andin sebelum pulang.
Sementara itu di UKS, Pak Irwan masih menatap Edo dengan serius. “Kamu istirahat dulu saja di sini,” katanya.
Kemudian ia menoleh ke arah Bu Rina. “Lukanya tidak terlalu parah, kan?”
“Tidak terlalu, Pak. Tapi tetap perlu istirahat,” jawab Bu Rina.
Pak Irwan mengangguk pelan, namun wajahnya terlihat muram. Akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dari saku.
“Sepertinya orang tua Darrel harus tahu soal ini,” gumamnya.
Ia lalu membuka daftar kontak wali murid dan menemukan nama yang ia cari.
Nathan.
Tanpa menunggu lama, Pak Irwan langsung menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung.
“Halo?” suara pria dewasa terdengar dari seberang.
“Selamat siang, Pak Nathan. Saya Pak Irwan, wali kelas Darrel.”
“Ya, ada apa?” jawab Nathan singkat.
Pak Irwan terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.
“Saya perlu membicarakan sesuatu tentang Darrel di sekolah hari ini.”
Nada suaranya terdengar serius, Pak Irwan mulai membicarakan apa yang terjadi di sekolah barusan, menurut saksi beberapa anak yang mendengarnya.
Sementara itu, Darrel yang sama sekali tidak tahu apa-apa sedang berjalan santai keluar dari gerbang sekolah. Tanpa ia sadari, sebuah masalah besar kembali menunggunya di rumah.
Bersambung .....