Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saatnya Berubah
Di ruang steril itu, suara monitor jantung terdengar seperti satu-satunya bahasa yang jujur.
Bip… bip… bip…
Maëlle terbaring diam. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kering, rambutnya tersisir ke samping. Ada perban dan selang—benda-benda yang membuat manusia tampak rapuh sekaligus bertahan. Fred berdiri di samping ranjang itu, menatap naik-turunnya dada Maëlle yang pelan, lalu menatap tangan Maëlle yang diam di atas selimut.
Kehidupan Maëlle… tiba-tiba terasa terlalu mirip dengan hidupnya.
Orang tua dibunuh—meski orang tua tiri, tetap orang yang membesarkannya, tetap cinta yang ia kenal seumur hidup. Sendirian. Diseret takdir ke lorong yang tidak pernah ia pilih. Bedanya…
Maëlle ahli.
Maëlle bisa bergerak di dunia gelap itu seperti ikan di air.
Sedangkan Fred… Fred hanya manusia biasa yang panik, yang lelah, yang selalu terlambat memahami.
Ia menelan ludah, mata menatap alat-alat medis yang rapi dan dingin.
Hidupku hancur.
Kuliah kedokteran yang ia banggakan—yang dulu jadi arah hidupnya—sekarang seperti kertas yang dibakar pelan-pelan. Masa depan yang ia rancang—jadi dokter, punya klinik kecil, menghidupi orang tua—lenyap, bahkan sebelum ia sempat mencapainya.
Ia tidak bisa berjalan di jalan dengan bebas.
Tidak bisa percaya pada siapa pun.
Tidak bisa pulang.
Yang ia lakukan selama ini hanya jadi beban—bagi Mercer… dan Maëlle.
Dan sekarang Maëlle terbaring koma karena mengejar jawaban yang seharusnya ia cari bersama, kalau saja ia bukan “pecundang.”
Fred mengalihkan pandangan dari Maëlle ke layar monitor.
Bip… bip… bip…
Ada banyak hal yang kabur:
Fox.
Kontrak pembunuh.
Orang tua aslinya.
Semua seperti kabut yang tidak bisa ia pegang.
Dan di tengah kabut itu, Fred melihat dirinya sendiri seperti orang jatuh ke lubang hitam—ditarik semakin dalam, semakin sempit, semakin gelap.
Ia menarik napas panjang, lalu satu kesimpulan muncul, dingin dan menyakitkan:
Hanya ada satu cara keluar.
Bukan dengan berharap dunia kembali normal.
Bukan dengan menunggu Maëlle bangun dan menyelesaikan semuanya.
Tapi dengan berubah.
Fred menatap Maëlle sekali lagi, lalu berbisik—bukan pada Maëlle, bukan pada Mercer—melainkan pada dirinya sendiri.
“Aku tidak bisa terus jadi beban.”
Ia berbalik dan keluar dari ruang steril itu dengan langkah cepat.
Mercer berada di ruang tamu, memeriksa beberapa map tipis, seperti selalu. Ia menatap Fred yang masuk dengan wajah tegang.
“Kamu lihat dia?” tanya Mercer.
Fred tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri tepat di depan Mercer, napasnya sedikit berat, mata tajam—lebih tajam daripada biasanya.
“Aku mau kamu melatih aku,” kata Fred.
Mercer mengangkat alis. “Melatih apa?”
“Melatih aku jadi seperti Maëlle,” jawab Fred, tegas. “Aku mau bisa bertahan. Aku mau bisa mengejar Fox. Aku mau bisa… setidaknya tidak mati di perjalanan.”
Mercer menatap Fred lama. Wajahnya tidak menunjukkan ejekan, tapi juga tidak menunjukkan harapan. Lebih seperti dokter menilai pasien yang baru saja meminta sesuatu yang tidak mungkin.
“Kamu tahu apa yang kamu minta?” tanya Mercer pelan.
“Aku tahu ini sulit,” kata Fred cepat. “Aku tahu aku lambat. Aku tahu aku bukan orang lapangan.”
Mercer menghela napas, lalu berdiri. Ia berjalan ke jendela, menatap ladang, seolah mencari alasan untuk menolak.
Lalu ia menoleh kembali, tatapannya tajam.
“Tubuhmu gemuk,” kata Mercer langsung, tanpa memoles. “Kardio kamu buruk. Koordinasi kamu belum ada. Latihannya sulit.”
Fred menelan ludah, tapi tidak mundur.
“Bisa lama,” lanjut Mercer. “Kalau kamu tidak punya tekad, kamu akan berhenti di minggu pertama. Dan kalau kamu berhenti di minggu pertama, kamu akan tetap jadi target—hanya lebih lelah.”
Fred mengepalkan tangan. “Aku punya tekad.”
Mercer menatap Fred, seolah menunggu retak. Tidak ada retak.
Fred mengulang, lebih tegas: “Aku punya tekad.”
Ada jeda.
Lalu Mercer mengangguk pelan—sekali, seperti cap keputusan.
“Baik,” kata Mercer. “Mulai besok.”
Fred menelan ludah. “Besok?”
“Besok pagi,” jawab Mercer. “Subuh. Kamu bangun sebelum matahari.”
Fred mengangguk cepat.
Mercer menambahkan, tanpa emosi: “Dan kamu tidak akan suka.”
Besoknya, Fred benar-benar bangun sebelum matahari.
Udara dingin menampar wajahnya ketika ia keluar rumah dengan pakaian olahraga yang masih terasa asing. Mercer sudah menunggu—seperti biasa, rapi, tenang, seolah tubuhnya tidak pernah lelah.
“Jalan,” kata Mercer.
Fred mengira “jalan” berarti pemanasan.
Ternyata “jalan” berarti lari.
Mereka mulai berlari.
Pada menit pertama, Fred masih merasa bisa mengendalikan napas. Pada menit kelima, dada Fred mulai terbakar. Pada menit kedelapan, kepalanya pusing, dan keringat dingin muncul di punggung. Pada menit kesepuluh, kakinya terasa seperti dicabut dari sendi.
Mercer tidak mempercepat. Mercer tidak menghina. Mercer hanya berlari di sisi Fred dengan ritme yang stabil—dan justru itu yang membuat Fred merasa lebih buruk. Karena Mercer tidak sedang “menantang” Fred. Mercer sedang menunjukkan betapa jauh jarak mereka.
Fred akhirnya berhenti. Ia membungkuk, muntah sedikit di pinggir jalan tanah.
Mercer berhenti beberapa langkah di depan, menoleh.
“Kamu hidup?” tanya Mercer datar.
Fred mengangkat kepala, napas tersengal. “Masih.”
“Bagus,” kata Mercer. “Besok lagi.”
Hari berikutnya, Fred lari lagi.
Ia tidak muntah, tapi ia hampir pingsan.
Hari berikutnya lagi, ia lari lagi.
Ia mulai belajar trik kecil: tarik napas lewat hidung saat langkah ringan, buang lewat mulut saat tanjakan; jangan mengejar Mercer, cukup mengejar ritme.
Hari berikutnya lagi, ia lari lagi.
Kaki Fred sakit. Betisnya menjerit. Lututnya terasa seperti dipaku. Tapi ia tetap keluar dari rumah sebelum matahari, karena setiap kali ia ingin menyerah, ia melihat wajah Maëlle di ruang steril itu—diam, tidak bisa melakukan apa pun.
Dan Fred tidak mau kembali jadi orang yang hanya diam.
Hari demi hari berubah jadi minggu.
Minggu berubah jadi minggu yang lain.
Fred mulai bisa berlari lebih lama tanpa berhenti, tapi rasa bosan datang seperti musuh baru. Setiap pagi sama: jalan tanah, kabut, napas berat, Mercer yang tidak berubah.
Tidak ada latihan menembak.
Tidak ada latihan pisau.
Tidak ada “aksi.”
Hanya lari.
Suatu pagi, setelah mereka selesai lari dan Fred duduk di batu, mengusap keringat dari wajah, ia akhirnya melampiaskan kekesalan.
“Kapan aku latihan menembak?” tanya Fred, suaranya frustrasi. “Aku butuh.”
Mercer menatap Fred, tatapannya dingin tapi tidak marah.
“Jika lari saja kamu lambat,” kata Mercer, “maka tembakanmu lambat.”
Fred mengerutkan kening. “Itu tidak—”
Mercer memotong, suaranya rendah dan tajam, seperti paku:
“Kamu mau pegang pistol dengan tangan gemetar? Kamu mau tarik pelatuk dengan napas putus? Kamu mau bergerak lambat saat orang lain bergerak cepat?”
Fred terdiam.
Mercer mencondongkan tubuh sedikit.
“Kalau kamu lambat,” Mercer melanjutkan, “kamu bukan memesan senjata. Kamu memesan peti mati.”
Kalimat itu menampar keras.
Fred menunduk, keringat menetes ke tanah.
Ia ingin membantah. Ingin bilang ia bisa belajar cepat. Tapi tubuhnya tidak bisa bohong. Setiap kali ia lelah, pikirannya melambat. Tangan gemetar. Mata berkunang.
Mercer berdiri, menepuk bahu Fred satu kali—bukan pelukan, lebih seperti penanda:
“Besok,” kata Mercer. “Kita lari lagi.”
Fred mengangkat kepala, mata merah, napas masih berat.
Ia mengangguk.
Karena untuk pertama kalinya, ia mengerti: ini bukan hukuman.
Ini fondasi.
Dan fondasi itu membosankan.
Tapi kalau ia ingin keluar dari lubang hitam ini, ia harus rela membangun dirinya dari hal paling sederhana—langkah demi langkah—sebelum ia berani memegang peluru.