Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sakral
Malam itu, atmosfer di apartemen terasa berbeda. Tidak ada perdebatan tentang tugas kuliah atau sindiran tajam mengenai pola makan. Morgan berdiri di ruang tengah, mengenakan setelanh hitam yang jauh lebih formal daripada jas dosen yang biasa ia gunakan. Ia sedang merapikan manset kemejanya saat Liana melangkah keluar dari kamar.
Liana mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang sederhana, tanpa payet yang berlebihan, namun memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat pas. Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan kini disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang dipoles riasan tipis.
Morgan terhenti. Jemarinya yang tengah membetulkan letak jam tangan peraknya mendadak kaku. Matanya menyapu penampilan Liana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intensitas yang tidak bisa disembunyikan.
"Apakah ... penampilanku aneh?" tanya Liana, merasa canggung di bawah tatapan tajam pria itu.
Morgan berdehem pelan, mencoba mengembalikan kontrol dirinya yang sempat goyah. Ia melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood dan jeruk nipisnya yang segar menyelimuti indra penciuman Liana. Morgan berhenti tepat di hadapannya, lalu secara perlahan tangannya terangkat untuk merapikan sehelai rambut Liana yang jatuh.
"Kau memukau, Liana," ucap Morgan, suaranya rendah dan terdengar tulus—sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Sederhana, tapi mewah. Sangat cantik."
Liana merasakan wajahnya memanas. Pujian itu bukan datang dari Derby yang biasanya berlebihan, melainkan dari Morgan yang pelit pujian. Ia hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang terbit di bibirnya.
"Ayo berangkat. Liam sudah menunggu di sana," Morgan menawarkan lengannya, sebuah gerakan sopan namun penuh perlindungan. Liana menyambutnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang berjalan menuju penjara, melainkan menuju sesuatu yang sakral.
Mobil melaju membelah kegelapan malam menuju pinggiran kota, menjauhi kebisingan bar dan klub malam yang biasanya menjadi pelarian Liana. Mereka berhenti di depan sebuah kapel tua bergaya gotik yang tersembunyi di balik barisan pohon cemara. Cahaya kuning temaram merembes dari jendela-jendela kaca patri, memberikan kesan magis pada bangunan batu tersebut.
Di depan pintu kapel, Liam Shine sudah berdiri dengan wajah lega. Ia memeluk adiknya sejenak sebelum memberikan isyarat agar mereka masuk. Di dalam, tidak ada jemaat. Hanya ada seorang pendeta tua, dua orang saksi dari kepercayaan Liam, dan keheningan yang begitu khidmat hingga suara napas Liana pun terdengar jelas.
Upacara dimulai. Morgan dan Liana berdiri di depan altar. Morgan berdiri tegak, posturnya sempurna, sementara tangannya menggenggam tangan Liana dengan erat—dingin namun memberikan rasa aman yang tak tergoyahkan.
"Saya, Morgan Bruggman, mengambilmu, Liana Shine, menjadi istriku yang sah," suara Morgan bergema di dalam kapel, jernih dan stabil tanpa keraguan sedikit pun. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Liana, mengunci jiwanya dalam setiap kata yang terucap. "Untuk memiliki dan menjaga, dari hari ini ke depan, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sakit maupun sehat, untuk mengasihi dan menghargaimu, sampai maut memisahkan kita."
Liana terpaku. Ia mendengarkan setiap detail sumpah yang diucapkan Morgan dengan perasaan yang tak menentu. Di bawah cahaya lilin yang menari-nari, Morgan terlihat begitu brilian—sosok pria dewasa yang matang, berprinsip, dan saat ini sedang menyerahkan perlindungannya sepenuhnya kepada Liana. Ada rasa kagum yang meluap di dada Liana. Ia melihat sisi lain dari suaminya; bukan lagi dosen yang menyebalkan, melainkan seorang pria yang sedang berjanji di hadapan Tuhan untuk menjaganya.
Kini giliran Liana. Suaranya sedikit bergetar saat ia mengulang kalimat sumpah tersebut. Namun, saat ia mengucapkan kata "mengasihi dan menghargai", matanya bertemu dengan mata Morgan. Ia melihat kejujuran di sana, sebuah ketulusan yang selama ini tertutup oleh topeng kekakuan.
"Saya nyatakan kalian sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia," ucap pendeta itu.
Morgan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru. Ia mengambil sebuah cincin berlian sederhana namun terlihat sangat mahal, lalu perlahan menyematkannya di jari manis Liana. Sentuhan jemari Morgan yang mantap membuat Liana merasa seolah dunia berhenti berputar.
"Sekarang, silakan cium mempelai wanitamu."
Morgan berbalik menghadap Liana sepenuhnya. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi wajah Liana, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi gadis itu. Liana bisa merasakan napas Morgan yang hangat. Secara perlahan, Morgan menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Liana dengan sangat lama dan lembut. Kecupan itu tidak mengandung nafsu, melainkan sebuah segel perjanjian—bahwa Liana kini sepenuhnya adalah tanggung jawabnya.
Setelah upacara selesai, Liam memberikan selamat dan segera pamit untuk urusan bisnis mendesak, meninggalkan pasangan baru itu di pelataran kapel yang sunyi. Angin malam berembus dingin, menggoyangkan dedaunan cemara di sekitar mereka.
Liana berdiri di samping mobil, menatap cincin di jari manisnya yang berkilau di bawah cahaya bulan. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya tiba-tiba perlahan mendingin saat akal sehatnya kembali berfungsi.
Ini semua hanya kontrak.
Pikiran itu menghantamnya seperti ombak yang keras. Sumpah pernikahan yang baru saja mereka ucapkan, janji untuk setia sampai maut memisahkan, semuanya hanyalah skenario yang dirancang oleh kakaknya untuk melindunginya selama lima tahun. Lima tahun dari sekarang, cincin ini mungkin harus dilepaskan. Morgan akan kembali menjadi dosen yang dingin, dan ia akan kembali menjadi Liana yang sendirian.
Morgan mendekat, ia melepaskan jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Liana yang terbuka agar gadis itu tidak kedinginan. "Ayo pulang. Udara malam tidak baik untukmu."
Liana menoleh, menatap wajah Morgan yang kini kembali ke ekspresi datarnya yang biasa. Rasa kagum yang tadi membuncah kini berganti dengan kesedihan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Ia merasa perih di ulu hatinya saat menyadari bahwa momen seindah ini memiliki tanggal kedaluwarsa.
"Morgan ..." panggil Liana pelan.
Morgan yang hendak membuka pintu mobil terhenti. Ia menatap Liana dengan kening sedikit berkerut, menyadari ada perubahan atmosfer pada istrinya. "Ada apa? Kau merasa pusing?"
Liana menggeleng. Ia ingin bertanya apakah sumpah tadi berarti sesuatu bagi Morgan, ataukah itu hanya bagian dari akting yang harus dijalani demi Liam. Namun, lidahnya terasa kelu.
"Cincin ini ... sangat bagus," hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Liana.
Morgan menatap cincin di jari Liana, lalu tatapannya beralih kembali ke mata Liana. "Itu bukan sekadar perhiasan, Liana. Itu adalah tanda bahwa kau tidak lagi sendiri. Apapun yang terjadi di luar sana, kau memiliki tempat untuk pulang. Setidaknya untuk lima tahun ke depan."
Kata-kata "lima tahun ke depan" itu bagaikan sembilu bagi Liana. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya mulai terasa panas. Ia masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya ke jendela kaca yang dingin.
Sepanjang perjalanan pulang, Liana hanya diam membisu. Ia memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat di luar sana. Hatinya yang egois dan keras kepala mulai goyah. Ia takut. Ia takut jika selama lima tahun ini, ia justru benar-benar jatuh cinta pada pria yang suatu saat nanti harus ia tinggalkan sesuai kontrak.
Morgan menyadari kesunyian Liana. Ia tidak bertanya, namun ia mengecilkan volume radio dan menaikkan suhu pemanas di dalam mobil agar Liana merasa lebih nyaman. Tindakan-tindakan kecil dan perhatian kaku itulah yang justru membuat kesedihan Liana semakin dalam.
Kenapa kau harus begitu baik padaku jika akhirnya kita harus berpisah? batin Liana.
Liana bersandar di kaca jendela mobil yang dingin. Ia memandangi cincin berliannya sekali lagi dalam kegelapan. Kenyataan yang dimaksud Morgan adalah kampus, tugas, dan sandiwara. Dan bagi Liana, kenyataan itu kini terasa jauh lebih menyakitkan daripada saat mereka pertama kali menandatangani kontrak itu di kantor Liam.