bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakit
Pagi itu datang dengan sunyi.
Hujan sudah berhenti, menyisakan udara dingin dan bau tanah basah yang masih terasa di sekitar rumah.
Bella berdiri di balik pintu.
Matanya sembab.
Tubuhnya lelah.
Semalaman… ia tidak benar-benar tidur.
Suara hujan.
Suara Yoga.
Semua terus berputar di kepalanya.
Tangannya terangkat perlahan ke gagang pintu.
Ragu.
Namun kali ini… hatinya kalah.
Dengan pelan—
klik.
Pintu terbuka.
Bella membeku di tempat.
Di sana—
Yoga masih duduk di teras.
Tubuhnya bersandar lemah ke dinding.
Kepalanya sedikit tertunduk.
Bajunya masih basah, kusut, dan dingin.
Seolah ia tidak pernah bergerak dari tempat itu semalaman.
“Yoga…”
Suara Bella bergetar.
Ia melangkah mendekat.
Jantungnya berdegup kencang.
Tangannya menyentuh tangan Yoga.
Dan dalam sekejap—
Bella kaget.
“Ya Tuhan…”
Tubuh Yoga… panas.
Sangat panas.
Bella langsung menyentuh keningnya.
Masih sama.
Demam.
“Yoga, bangun…”
Ia mengguncang pelan.
Yoga membuka mata dengan susah payah.
Pandangan matanya berat.
“Bella…”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Hati Bella langsung terasa diremas.
Air matanya jatuh lagi.
“Maaf… maaf…”
Tanpa pikir panjang, Bella merangkul tubuh Yoga.
Tubuhnya berat.
Lemas.
Namun Bella memaksakan diri.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia membantu Yoga berdiri.
“Pelan… ayo masuk…”
Langkah mereka goyah.
Bella hampir jatuh beberapa kali.
Tapi ia tetap bertahan.
Akhirnya mereka sampai di ruang tamu.
Bella membantu Yoga duduk di sofa, lalu perlahan membaringkannya.
Napasnya sedikit terengah.
Bella menatap tubuh Yoga yang basah kuyup.
Bajunya masih dingin.
Kalau dibiarkan… bisa makin parah.
“Maaf…” gumam Bella lagi.
Tangannya gemetar saat mulai membuka jaket dan kancing baju Yoga.
Yoga yang setengah sadar sedikit bereaksi.
“Bella… aku bisa…”
“Diam…”
Suara Bella pelan, tapi tegas.
Dengan hati-hati, Bella membantu melepas pakaian basah Yoga.
Ia berusaha tetap fokus.
Wajahnya memerah.
Tapi ia tidak berhenti.
Beruntung…
di rumah itu memang ada beberapa pakaian milik Yoga.
Karena ia sering menginap.
Bella segera mengambil kaos bersih.
Dengan hati-hati, ia memakaikannya pada Yoga.
Gerakannya pelan.
Penuh perhatian.
Setelah itu, Bella menyelimuti tubuh Yoga.
Lalu berlari kecil ke dapur.
Ia mengambil air hangat.
Kain bersih.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Kembali ke ruang tamu—
Yoga sudah terbaring lemah.
Matanya setengah terpejam.
Bella duduk di sampingnya.
Perlahan…
ia mengompres kening Yoga dengan kain hangat.
“Kenapa kamu nggak pulang…”
Suaranya lirih.
“Kenapa harus sekeras itu…”
Air matanya jatuh lagi
Yoga membuka mata sedikit.
Menatap Bella dengan lemah.
“Aku bilang… aku nggak akan pergi…”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Meski jelas ia kesakitan.
Bella menggigit bibirnya.
Menahan tangis.
“Bodoh…”
Tangannya terus mengompres kening Yoga.
Pelan.
Hati-hati.
“Maaf…”
Kali ini lebih jelas.
Lebih dalam.
Yoga mengerutkan kening sedikit.
“Untuk apa…”
Bella menunduk.
“Semalam… aku denger semuanya…”
Suaranya bergetar.
“Tapi aku nggak buka pintu…”
Air matanya jatuh ke tangan Yoga.
“Aku takut… aku marah… tapi aku juga…”
Ia tidak melanjutkan.
Yoga menatapnya.
Pelan.
Meski matanya berat.
Aku nggak pernah…”
Ia berhenti sejenak, mengatur napas.
“ngekhianatin kamu…”
Bella mengangguk cepat.
“Iya… aku tahu sekarang…”
Hening sejenak.
Bella terus mengompres keningnya.
Tangannya kini lebih tenang.
“Mulai sekarang…” kata Bella pelan,
“aku bakal denger kamu dulu.”
Yoga tersenyum tipis.
Meski lemah.
“Bagus…”
Bella menatap wajahnya.
Wajah yang pucat… tapi tetap berusaha tersenyum.
Hatinya menghangat.
Namun juga… terasa perih.
Ia meraih tangan Yoga.
Menggenggamnya pelan.
“Sekarang kamu istirahat dulu…”
Suara Bella lembut.
Sangat lembut.
Yoga tidak menjawab lagi.
Matanya perlahan terpejam
Namun kali ini—
bukan karena lelah…
tapi lega karna Bella memercayainya
Sembari menunggu yoga bangun bella menyiapkan bubur untuk yoga makan sembari menyiapkan beberapa obat demam
Selesai membuat bubur Bella mengambil bubur dan obat belarih ke kamar tempat yoga tidur
"yoga...Bagun dulu minum obat dulu habis itu langsung istirahat"
"ya ampun yoga demam mu makin panas "
Dengan sigap mengambil telepon genggam nya dan menelpon Rafi
"hallo Rafi bisa ke sini gak?yoga demam aku mau bawa dia kerumah sakit"
"apa dimana " jawab Rafi di sebrang sana
"di rumahku"
Okke gue otw
"yoga sebenarnya kamu kenapa si ko malah makin panas"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella kembali ke sisi Yoga.
Mengompres keningnya lagi.
“Bentar ya… Rafi lagi ke sini…”
Ia berusaha tenang, tapi air matanya terus jatuh.
Tidak butuh waktu lama—
Suara mobil berhenti di depan rumah.
Pintu diketuk cepat.
“BELLA!”
Bella langsung membuka pintu.
Rafi berdiri di sana, napasnya sedikit terengah.
“Mana dia?”
Bella menunjuk ke dalam.
Rafi langsung masuk.
Melihat kondisi Yoga yang terbaring lemah.
“Anjir…” gumamnya pelan.
Ia langsung mendekat.
“Yoga… bro…”
Tidak ada respon jelas.
“Harus ke rumah sakit sekarang,” tegas Rafi.
Bella langsung mengangguk cepat.
Dengan panik—
mereka berdua membopong Yoga.
Tubuhnya berat, lemas, hampir tidak sadar.
Bella menahan bahu Yoga dari satu sisi.
Rafi dari sisi lainnya.
Langkah mereka cepat, hampir terburu-buru.
“Pelan… pelan…”
Bella hampir kehilangan keseimbangan, tapi tetap bertahan.
Akhirnya mereka berhasil memasukkan Yoga ke dalam mobil.
Bella duduk di belakang, menopang kepala Yoga di pangkuannya.
Rafi langsung menyetir cepat.
Sepanjang jalan—
suasana tegang.
Rafi melirik ke kaca spion.
“Kenapa bisa begini?”
Nada suaranya serius.
“Gue nggak pernah liat dia sakit separah ini…”
Bella menunduk.
Air matanya jatuh ke wajah Yoga.
“Ini… salah aku…”
Rafi mengernyit.
“Maksud lo?”
Bella menggigit bibirnya.
“Semalam dia di luar rumahku… kehujanan…”
Suaranya makin pelan.
“Aku nggak buka pintu…”
Rafi terdiam beberapa detik.
Ia menghela napas panjang.
“Lo… serius?”
Bella mengangguk.
Tangannya mengelus pelan rambut Yoga.
“Kalau aku buka… dia nggak akan kayak gini…”
Tiba-tiba—
tangan Yoga bergerak sedikit.
Lemah… tapi terasa.
“Jangan…”
Suaranya pelan.
Hampir tidak terdengar.
Bella langsung menunduk.
“Yoga?”
Yoga membuka mata sedikit.
Menatap Bella dengan susah payah.
“Bukan… salah kamu…”
Air mata Bella langsung jatuh deras.
“Jangan bela aku…”
Yoga tersenyum tipis.
“Bukan bela…”
Napasnya berat.
“Memang… bukan salah kamu…”
Bella menggeleng.
“Tapi kalau aku buka pintu—”
Yoga mengangkat tangan sedikit, menyentuh tangan Bella.
Lemah… tapi hangat.
“Udah…”
Rafi yang melihat dari depan hanya bisa diam.
Situasi ini… terlalu dalam untuk ia komentari.
Tak lama—
mobil berhenti di depan rumah sakit.
Rafi turun cepat.
Membantu Bella mengeluarkan Yoga.
Petugas medis langsung datang dengan kursi roda.
Yoga segera dibawa masuk.
Bella mengikuti di sampingnya.
Tangannya tidak lepas dari Yoga.
Setelah pemeriksaan—
mereka menunggu dengan cemas.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar.
“Siapa keluarga pasien?”
Bella langsung berdiri.
“Saya…”
Rafi juga ikut berdiri di sampingnya.
Dokter mengangguk.
“Pasien mengalami demam tinggi, dan setelah pemeriksaan, kami menduga ini tipes.”
Bella langsung terdiam.
“Tipes…?”
Dokter menjelaskan dengan tenang,
“Ya. Tipes atau demam tifoid biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri dari makanan atau minuman yang kurang higienis.”
Ia melanjutkan,
“Namun kondisi pasien juga diperparah karena kelelahan dan kehujanan dalam waktu lama, sehingga daya tahan tubuhnya menurun drastis.”
Bella menunduk.
Tangannya mengepal pelan.
“Gejalanya seperti demam tinggi, lemas, pusing, dan bisa semakin parah kalau tidak segera ditangani,” lanjut dokter.
“Tapi tenang, kami akan rawat pasien dan berikan penanganan terbaik.”
Bella mengangguk pelan.
“Dok… dia akan sembuh, kan?”
Suaranya hampir berbisik.
Dokter tersenyum tipis.
“Selama ditangani dengan baik dan pasien istirahat cukup, peluang sembuhnya sangat besar.”
Bella menghela napas lega, meski air matanya masih jatuh.
Rafi menepuk pelan bahu Bella.
“Dia bakal baik-baik aja.”