Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Damian perlahan mengendurkan bekapan tangannya, namun jemarinya beralih mencengkeram pergelangan tangan Valerie dengan protektif. Ia menarik gadis itu keluar dari balik bayangan pohon besar, menuntunnya menjauh dari area yang berbahaya.
Di belakang mereka, beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam muncul dari kegelapan—tim taktis kepercayaan Damian.
Tanpa sepatah kata pun, Damian hanya memberikan kode lewat lirikan mata yang dingin kepada anak buahnya untuk "membereskan" sekelompok pria asing yang masih berkeliaran mencari Valerie di taman itu.
Langkah kaki Damian begitu cepat dan lebar, memaksa Valerie untuk setengah berlari mengikutinya hingga mereka sampai di pinggir jalan tempat mobil sedan mewah antipeluru milik Damian sudah menunggu dengan mesin menyala.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan suasana menjadi kedap suara, Valerie menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk. Ia memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan.
Sungguh ironis; pria yang paling ingin ia hindari justru menjadi satu-satunya orang yang ia harapkan muncul di saat nyawanya terancam.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" tanya Valerie lirih, menoleh ke arah Damian yang duduk di sampingnya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
Damian tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki letak jasnya, lalu menatap Valerie dengan tatapan tajam yang seolah mengunci seluruh pergerakan gadis itu.
"Sudah kubilang berkali-kali, Penipu Kecil. Kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kemanapun kau pergi, sejauh apa pun kau bersembunyi, aku akan selalu menemukanmu," ucapnya dengan nada dingin yang mengintimidasi.
Valerie terdiam, merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar "kebetulan" dalam pertemuan ini. Ia tidak menyadari bahwa Damian sebenarnya telah memasang aplikasi pelacak tingkat tinggi di ponsel yang ia gunakan.
Damian sudah memantau pergerakan Valerie sejak ia meninggalkan apartemen, dan ia menyadari lebih cepat dari siapa pun bahwa orang-orang yang menargetkan Valerie—para pemburu harta Blackwood—sudah mulai bergerak serentak untuk mendapatkan gadis itu malam ini.
"Kau aman sekarang," gumam Damian, meski suaranya terdengar lebih seperti sebuah klaim kepemilikan daripada sebuah janji perlindungan.
"Tapi ingat, mulai detik ini, kau tidak akan pernah lepas dari pengawasanku lagi."
Damian menyandarkan tubuhnya, matanya yang tajam menatap Valerie seolah ingin menembus dinding pertahanan gadis itu.
"Siapa mereka, Valerie? Dan kenapa mereka mengejarmu sampai ke taman itu seolah-olah kau adalah buronan paling dicari?" tanyanya dengan nada menuntut yang dingin.
Valerie terdiam sejenak. Meski ia merasa aman di samping Damian, ia belum sepenuhnya menaruh kepercayaan pada pria ini. Rahasia tentang identitasnya sebagai pewaris Blackwood adalah kartu mati yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun—termasuk Damian.
"Aku tidak tahu," jawab Valerie pelan, berusaha membuat suaranya terdengar seyakin mungkin. "Aku tidak mengenali mereka. Aku juga bingung kenapa mereka tiba-tiba mengincarku sejak aku keluar dari apartemen."
Damian tidak langsung menyahut. Ia terdiam, tatapannya beralih ke jendela mobil yang gelap, seolah sedang menyusun potongan teka-teki di kepalanya. Ia tahu Valerie berbohong, namun ia memilih untuk menyimpan kecurigaannya sendiri untuk saat ini.
Ia kembali menoleh ke arah Valerie. Gadis itu sudah terlihat jauh lebih tenang; rona merah mulai kembali ke pipinya dan napasnya tidak lagi memburu seperti tadi.
Tanpa sadar, sebuah dorongan refleks muncul dalam diri Damian. Tangannya terangkat dan—untuk pertama kalinya—ia mengacak rambut Valerie dengan gerakan yang hampir terlihat... manis.
"Mungkin selain menipuku, kau juga pernah menipu orang lain di luar sana, dan sekarang mereka datang untuk membalas dendam," goda Damian dengan seringai tipis yang jarang ia tunjukkan.
Valerie tersentak kecil karena perlakuan Damian yang tiba-tiba tidak terduga itu. Ia segera merapikan kembali rambutnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Mana ada seperti itu! Aku bukan penipu profesional seperti yang kau tuduhkan," gerutunya.
Damian hanya terkekeh rendah, sebuah suara yang sangat langka keluar dari bibirnya. Namun, di balik tawa singkat itu, batinnya tetap waspada. Ia tahu bahwa "buruan" yang sedang ia lindungi ini adalah target yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Langkah kaki Valerie menggema pelan di lantai marmer mewah saat mereka tiba di dalam penthouse.
Dengan perasaan campur aduk, Valerie mempercepat langkahnya menuju pintu kamar tamu, berharap bisa segera mengunci diri dan menenangkan pikirannya yang kalut setelah kejadian di taman tadi.
Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah tangan besar yang hangat mencekal lengannya dengan kuat.
Valerie tersentak, napasnya tertahan saat Damian menariknya pelan hingga punggungnya nyaris bersentuhan dengan dada bidang pria itu.
Damian membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie hingga deru napasnya terasa menggelitik kulit leher gadis itu.
" Kau tidak lupa di mana seharusnya kau tidur malam ini, kan?" bisiknya dengan suara bariton yang rendah dan menuntut.
Seketika, jantung Valerie berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Butiran keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Ia teringat akan "perjanjian" terselubung yang pernah Damian lontarkan—bahwa di setiap malamnya Valerie harus bersedia berbagi kasur dengannya.
Valerie menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.
"Aku... aku mengingatnya," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Damian melepaskan cekalannya, namun matanya tetap mengawasi setiap gerik Valerie dengan tatapan posesif yang tak terbantahkan. Dengan langkahnya yang pelan Valerie berbalik arah menuju kamar utama.
Valerie memutar knop pintu kamar utama milik Damian. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi warna gelap dan aroma maskulin Damian yang kuat, menyadari bahwa pelariannya malam ini justru membawanya masuk lebih dalam ke kandang sang predator.