Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Aman
Pagi hari datang tanpa peringatan, seperti keputusan-keputusan yang akhir-akhir ini Rachel ambil tanpa sempat dipikirkan dengan matang. Mobil hitam itu sudah menunggu di depan rumah besar Liam ketika ia keluar dengan tas kecil pemberian Liam di tangannya. Seorang sopir duduk di balik kemudi, dan satu pria lain di kursi depan di samping sopir dengan bahu lebar, wajah kaku, dan mata yang terlalu awas. Sementara itu, Rachel duduk di belakang, sendirian.
"Kita akan pergi menuju tempat adik Anda tinggal, Nona.", katanya, membuat Rachel menganggukkan kepala sebagai sebuah balasan.
Suasana kota di sekitar mereka bergerak seperti biasa. Di jalanan yang cukup padat itu tampak orang-orang yang sedang bergelut dengan kesibukannya, lampu lalu lintas berganti warna, dan kedai kopi di sudut jalan dengan pintu yang terbuka lalu tertutup. Semuanya tampak normal, dan justru itu yang membuat Rachel sadar betapa jauh ia telah terseret dari kehidupan yang seharusnya.
Rachel merasa cukup tegang, dengan punggungnya yang menempel pada sandaran kursi dan jari-jarinya yang menggenggam tas sampai buku-buku jarinya memucat. Tapi ia tidak panik, meskipun rasa takut itu ada, dingin dan menetap, bercampur dengan sesuatu yang lebih rapuh, yaitu harapan.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang bersih dan modern, tampak tidak mencolok tapi jelas mahal. Di lobi, seorang satpam berdiri dengan sikap profesional, lalu akses dibuka tanpa banyak bertanya. Rachel pun akhirnya sadar bahwa tempat ini mungkin berada di bawah kendali penuh Liam.
Apartemen itu luas dan tampak terang oleh cahaya pagi yang masuk dari jendela besar. Udaranya bersih, dengan bau pengharum ruangan dan kopi segar yang tercium begitu Rachel memijakkan kaki di sana. Tidak ada sistem keamanan berlebihan yang menjadikan tempat itu tampak seperti sebuah penjara atau rumah tahanan. Keamanan di sana memang terasa di setiap detail kecil, seperti kamera hampir di setiap sudut, pintu dengan kunci digital, dan beberapa orang suruhan Liam yang berjaga di beberapa titik. Namun tempat itu tidak terasa seperti tempat penyekapan, melainkan sebuah tempat persembunyian yang nyaman.
Rachel menelan ludah. Semua yang ada di sana terlalu rapi dan terlalu aman, seolah seseorang tampak memang telah memikirkan ini matang-matang.
Di depan sana, pintu apartemen pun terbuka, dan Anna muncul lebih dulu. Rambutnya rapi, pipinya merona sehat, dan gaunnya tampak bersih dan pas di tubuh kecilnya. Ia berlari kecil, lalu memeluk Rachel tanpa ragu, hingga wajahnya menekan ke perutnya.
“Rachel. Kau akhirnya datang,” katanya cepat, napasnya terengah oleh emosi yang meluap. “Aku pikir kau tidak akan pernah datang.”
Rachel membeku sepersekian detik, lalu membalas pelukan itu erat—tenggorokannya menegang. Ia hampir menangis, bukan karena takut, melainkan karena beban yang ia tahan berhari-hari akhirnya runtuh. Anna kini terasa hangat, nyata, dan hidup.
Sementara itu, di belakang Anna, Mrs. Portman tampak berdiri dengan tangan terlipat di depan tubuhnya. Matanya menyapu Rachel dari ujung kepala sampai kaki, rasa cemasnya tidak dapat disembunyikan.
“Kau baik-baik saja, Rachel?” tanyanya pelan, tapi tegas. “Mereka tidak menyakitimu, kan?”
Rachel mengangkat wajah dan memaksakan senyum kecil. Ia menepuk lengan Anna, menenangkannya, lalu menatap Mrs. Portman. “Aku baik-baik saja,” katanya. “Sungguh.”
Itu bukan sepenuhnya sebuah kebohongan, tapi juga bukan kebenaran yang utuh. Di sana ada bagian yang sengaja ia simpan, untuk membuat Mrs. Portman merasa tenang dan tidak mengkhawatirkannya.
Anna segera menarik tangan Rachel, berbicara tanpa henti. Ia menunjuk kamar yang luas, lemari dengan gantungan penuh pakaian baru, dan mainan yang tertata rapi di sudut, serta meja makan dengan buah dan kue. “Di sini nyaman,” katanya lugu. “Aku suka tinggal di sini, Rachel.”
Kata-kata itu menancap pelan tapi dalam. Dada Rachel menghangat, diikuti rasa bersalah yang samar. Ia menyadari sesuatu yang tak bisa ia abaikan, bahwa Liam seharusnya tidak perlu melakukan semua ini, tidak perlu menyediakan tempat seperti ini, juga tidak perlu memastikan kenyamanan seorang anak dan seorang wanita tua yang bukan siapa-siapa baginya. Namun, nyatanya ia melakukannya.
Lalu, mereka duduk bersama di ruang tamu yang nyaman dan berbicara hal-hal kecil sembari tertawa singkat. Untuk beberapa saat, dunia menyusut dan menyisakan kehangatan dan kebahagiaan yang memenuhi ruangan itu—tanpa ancaman, juga tanpa tuntutan. Rachel mengamati Anna makan dengan lahap dan Mrs. Portman yang akhirnya tampak lebih tenang. Rachel merasakannya, bahwa kelegaan itu nyata, tapi juga terasa sedikit rapuh.
Di balik kehangatan pagi itu, sebuah kesadaran mengendap pelan di dalam pikiran Rachel, bahwa semua rasa nyaman dan aman ini ada karena satu orang. Dan harga dari perlindungan itu belum benar-benar ditagih darinya.
Waktu bergerak pelan di apartemen itu, seolah sengaja memberi ruang bagi kehangatan yang jarang mereka rasakan. Mereka duduk di meja makan, berbagi hidangan sederhana yang entah kenapa terasa istimewa. Anna bercerita panjang lebar tentang mainan barunya, tentang pemandangan dari jendela kamar, dan tentang bagaimana ia tidur nyenyak tanpa bermimpi buruk lagi. Lalu, Mrs. Portman menimpali dengan senyum lembut, sesekali mengoreksi atau tertawa kecil ketika Anna melebih-lebihkan ceritanya.
Untuk beberapa jam, tidak ada pikiran tentang Tom atau Sam, tidak ada ancaman, dan tidak ada utang yang menunggu untuk ditagih–meskipun jelas Rachel akan tetap berusaha untuk membayarnya. Rachel merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, bahwa napas yang masuk ke paru-parunya tidak lagi terasa sesak. Bahunya kini turun, lalu rahangnya mengendur. Ia ikut tertawa—bukan tawa lepas, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa lebih ringan.
Mereka telah makan bersama, membersihkan meja bersama, lalu duduk kembali dengan secangkir teh. Kehangatan itu terasa nyata, namun juga sementara. Rachel jelas menyadarinya, tapi ia memilih menunda kesadaran itu. Untuk saat ini, ia ingin percaya bahwa kehidupan normal hampir mungkin terjadi untuk mereka. Bahwa semua ini bukan jeda singkat sebelum sesuatu yang lebih berat datang menghantam kembali ke dalam kehidupannya.
Lalu, sore merayap masuk melalui jendela. Cahaya berubah memanjang di lantai, dan jarum jam dinding berdetak lebih nyaring dari sebelumnya. Rachel melihatnya, lalu menatap Anna. Wajah adiknya tampak tenang dan bahagia, dan itu jelas pertanda baik. Rasanya ia ingin tinggal di sini saja bersama mereka dan merasakan kehangatan itu lebih lama. Namun, Rachel sadar bahwa ia harus segera pergi.
Ia berdiri, lalu merapikan tasnya. “Aku harus kembali,” katanya pelan.
Anna mendongak, alisnya mengernyit. “Kenapa Kakak tidak tinggal di sini saja?” tanyanya polos. “Di sini enak.”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat di tempat yang paling rapuh. Rachel berlutut di depan Anna, menyamakan tinggi mereka. Ia menyentuh pipi adiknya dengan ibu jari, lalu tersenyum kecil. “Kakak harus bekerja,” jawabnya. “Tapi Kakak akan sering datang. Janji.”
Alasan itu terdengar rapuh, dan ia tahu itu. Namun, Anna mengangguk, meski raut kecewa tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya. Dan di detik berikutnya, ia memeluk Rachel lagi, lebih lama dari sebelumnya.
Rachel lalu beralih menatap Mrs. Portman yang berdiri tepat di sebelah Anna. “Tolong jaga dia,” kata Rachel, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan nada memohon. “Aku minta bantuan Anda, Mrs. Portman.”
Mrs. Portman menggenggam tangan Rachel dengan kedua tangannya. Kulitnya terasa hangat dan genggamannya memberi ketenangan. “Jangan khawatir, Rachel ” katanya. “Selama ini aku sudah lama tinggal seorang diri. Aku kesepian. Dan aku sudah menganggapmu dan Anna seperti keluargaku sendiri.”
Kata keluarga kembali muncul, dan bersama kata itu, luka lama Rachel ikut tersentuh. Ia menelan ludah, mengangguk, dan memeluk wanita itu cukup lama untuk menyampaikan terima kasih yang tak terucap.
Ketika Rachel melangkah keluar, pintu menutup dengan bunyi yang terlalu lembut untuk sebuah perpisahan. Di luar, mobil hitam sudah menunggu seperti pagi tadi. Dan suasana kota di sekitarnya menyambutnya kembali dengan ritme yang sama—lalu lintas yang cukup padat, suara klakson yang nyaring, dan orang-orang yang berjalan cepat menuju tujuan mereka masing-masing.
Di kursi belakang, Rachel menatap keluar jendela. Pikirnya, Anna dan Mrs. Portman sudah aman. Dan itu karena satu nama yang terus muncul di kepalanya, meski ia tidak mengucapkannya.
Kelegaan pun mengalir pelan, bercampur kontradiksi yang mengganggu. Ia mulai percaya pada Liam, pada cara perlindungan itu diberikan, pada batas yang tidak dilanggar, juga pada perhatian yang tidak sengaja ditunjukkan. Dan tanpa ia sadari, kepercayaan itu menautkan sesuatu di dalam dirinya.
Mobil melaju, meninggalkan apartemen yang kini terasa seperti pulau yang aman bagi Anna dan Mrs. Portman. Rachel menutup mata sejenak. Ia tidak tahu apa yang akan menunggunya. Namun satu hal menjadi jelas, tajam, dan tak bisa ditarik kembali, bahwa kepercayaan adalah sesuatu paling berbahaya di dunia yang baru saja ia masuki.