Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Pelakunya
Rakash dan Letisha sama-sama terjadi perang dingin di antara keduanya. Letisha berada di kamar masih tetap menangis, sepertinya masih kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Rakash.
"Dasar jahat!" ucapnya semakin kesal dengan memeluk kedua lututnya.
"Apa dia tidak memiliki pikiran? Kenapa harus melarangku menerima uang hasil kerjaku sendiri, bukannya berusaha untuk menyelesaikan semuanya dan malah ikut-ikutan seperti orang lain memberi tuduhan kepadaku!" oceh Letisha.
Dratt- Dratt- Dratt-
Letisha mengangkat ponselnya yang berdiri.
"Winona!" Letisha dengan cepat merengek kepada sahabatnya itu.
"Letisha! Kamu kenapa sampai menangis seperti itu? Ada apa lagi?" tanya Winona.
"Bagaimana aku tidak menangis, semakin hari dia semakin jahat kepada, dia membentakku dan bahkan melempar uang-uang yang baru saja aku dapatkan, dia marah-marah seolah-olah aku adalah penjahatnya," ucap Letisha.
"Memang apa yang membuat dia sampai marah dan aku rasa tidak akan ada asap jika tidak ada api," sahut Winona.
"Aku hanya menerima uang dari pak Digo, uang hasil dari pembeli perhiasanku, kami bertemu di luar dan beliau memberikan DP kepadaku. Hanya itu saja dan dia sudah membesarkan masalah," jawab Letisha.
"Aku tidak tahu di mana letak membesarkan masalahnya, aku mendapatkan uang dari hasil kerjaku sendiri, dia sudah mengatakan harga dirinya diinjak-injak dengan segala semua perkataannya!" lanjut Letisha.
"Letisha, sebenarnya kamu yang salah!" ucap Winona.
"Kamu bilang apa?" tanyanya tidak percaya mendapat tanggapan seperti itu dari sahabatnya.
"Harga diri seorang pria adalah ketika wanitanya diberikan uang oleh laki-laki lain? Kamu lupa jika kamu sudah menikah dan seharusnya kamu tidak menerima uang dari laki-laki manapun dan apalagi Rakash adalah orang yang sangat mampu," ucap Winona.
"Saat ini sebagai sahabat aku harus jujur jika semua kesalahan terletak pada kamu. Kamu yang salah dan sama saja tidak menghargai suami kamu, Rakash mungkin selama ini terlihat tenang dan tidak peduli kamu ingin melakukan apapun, tetapi bukankah belakangan ini dengan masalah yang sudah timbul dan bahkan masalah kamu belum selesai. Kamu sudah mulai mencari masalah baru bertemu dengan laki-laki itu dan bahkan baru kemarin kamu minum alkohol!" tegas Winona dengan bijak mencoba untuk memberi pencerahan kepada sahabatnya.
"Tetapi dia sama sekali tidak melakukan apapun disaat semua orang menyalahkanku?" Letisha masih mencoba untuk mencari pembelaan.
"Apa kamu yakin dia tidak melakukan sesuatu untuk kamu? Letisha dia mungkin pergi disaat kamu disalahkan, tetapi mungkin saja dia melakukan sesuatu yang tidak kamu ketahui dan tidak mungkin diam saja saat kamu diperlakukan seperti itu? Kamu jangan langsung memikirkan hal buruk kepadanya? Kamu harus yakin jika apapun yang dia lakukan adalah hal yang terbaik," ucap Winona.
"Coba kamu tenangkan diri kamu dulu, tenangkan hati kamu dulu, jangan langsung gegabah menyimpulkan semuanya," ucap Winona.
Letisha hanya diam saja, Letisha mungkin baru menyadari bahwa apa yang dikatakan sahabatnya itu benar apa adanya.
"Ya sudah aku tetap teleponnya dulu, kamu adalah sahabatku yang dewasa dan aku yakin kamu bisa mengerti situasi saat ini dan tidak langsung memutuskan sesuatu," ucap Winona.
Letisha tidak mengatakan apapun lagi sampai telepon itu akhirnya tertutup.
"Apa aku memang keterlaluan?"
"Iya, mungkin saja aku memang keterlaluan, selama ini dia memang tidak pernah mengaturku, tidak pernah melarangku, bahkan semua syarat yang aku ajukan dituruti begitu saja, tetapi kenapa hanya karena perkara hal yang kecil saja dan aku langsung memutuskan semuanya," batin Letisha menyadari semua apa yang terjadi.
Letisha tiba-tiba saja turun dari ranjang dengan cepat kembali mengambil ponsel. Letisha buru-buru keluar dari kamar.
Sementara Rakash sedang berada di dalam ruangan yang terlihat begitu frustasi, pria tampan itu sejak tadi tidak fokus bekerja dengan hanya memijat kepalanya dan mata terkejam. Rakash tidak tidur dan hanya saja pikirannya tidak tenang saat ini.
"Apa aku keterlaluan kepadanya?" gumam Rakash ternyata menyadari bahwa dia memang sedikit keterlaluan.
"Huhhh, kenapa aku begitu berlebihan, hanya karena melihat pria itu memberi tawaran yang mahal pada perhiasan dan aku seperti sudah menakutkan sesuatu. Apa salahnya jika aku bertanya secara baik-baik dan tidak dengan cara seperti itu," ucap Rakash ternyata menyadari bahwa dia juga keterlaluan dan terlihat dari wajahnya tampak menyesal karena sudah memperlakukan istrinya dengan buruk.
Tok-tok.
"Masuk!" sahut Rakash membuka mata dengan melihat ke arah pintu.
Maudy tersenyum memasuki ruangan tersebut dengan membawa map berwarna biru.
"Ini hasil penjualan dari produk yang sudah diproduksi," Maudy meletakkan map tersebut di atas diatas meja.
Rakash mengambil map itu dan hanya melihat-lihat saja dengan membolak-balikkan.
"Rakash, ternyata pameran yang mendapatkan insiden beberapa hari yang lalu tidak mempengaruhi penjualan kita. Alhamdulillah semua lancar dan baik-baik saja. Aku juga tidak percaya jika semuanya bisa seperti," ucap Maudy dalam memberi laporannya.
"Baiklah, aku hanya mengantarkan hasil penjualan saja, kalau begitu aku permisi dulu!" ucap Maudy dengan tersenyum dan kemudian langsung pergi.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" langkah mau berhenti ketika mendengar suara Rakash membuat membalikkan tubuh.
"Kamu mengatakan apa?" tanya Maudy.
"Kamu sibuk sekali belakangan ini, kamu mengatur strategi untuk membuka hasil desain yang didaftarkan Letisha dan sampai hasilnya seperti ini dan kamu juga mengacaukan acara pameran dengan mendatangkan wanita yang mengaku sebagai desainer untuk menjatuhkan Letisha," ucap Rakash.
Maudy cukup kaget mendengarnya, ekspresi wajahnya terlihat begitu panik.
"Ma, maksud kamu apa?" tanyanya mencoba untuk tenang.
Rakash mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya dan meletakkan lembaran kertas yang cukup keras di atas.
"Jangan kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan? Saya tahu apa yang kamu lakukan dan semua bukti yang ada di hadapan saya sudah memperjelaskan jika kamu dengan sengaja ingin menghancurkan pacar pameran dan harus melibatkan istri saya!" tegas Rakash.
"Rakash, kamu tidak bisa memberi tuduhan seperti itu kamu..."
"Saya tidak memberi tuduhan! kamu lihat bukti-buktinya!" tegas Rakash.
"Saya benar-benar tidak menyangka jika orang seperti kamu bisa melakukan hal sebodoh ini. Kamu seperti orang yang tidak memiliki kerjaan sehingga membayar wanita itu untuk membuat kekacauan dan menjatuhkan fitnah kepada istri saya.
"Rakash kamu salah? aku tidak melakukan semua ini," Maudy masih tetap berusaha untuk meyakinkan Rakash bahwa dia benar-benar tidak bersalah.
"Bukti sudah ada di depan mata dan kamu masih tidak mengakui? jangan kamu pikir saya bodoh! Saya benar-benar kecewa kepada kamu dan kamu langsung pertanggungjawabkan semua perbuatan kamu atas tuduhan ini!"
"Di awal permasalahan terjadi dalam pameran saya sudah mencurigai sesuatu dan saat itu saya langsung pergi untuk mencari bukti dan ternyata sesuai dugaan saya jika. Kamu jangan pikir saya diam saja dan tidak bertindak selama beberapa hari dan bukan berarti saya tidak tahu apa yang kamu lakukan!"
"Apa sebenarnya masalah kamu dengan istri saya, dari kamu protes bagaimana istri saya menggunakan beberapa karyawan untuk membantunya dalam memproduksi karyanya dan sampai kamu membuat acara yang sangat penting bagi saya dan juga istri saya kamu hancurkan begitu saja, berani sekali kamu lakukan semua ini Maudy. Saya benar-benar tidak bisa memaafkan kamu!" tegas Rakash
Bersambung...