NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meninggalkan Sketsa

Kos Bima terasa dingin meski tidak ada AC. Kay masih berlutut di lantai, memeluk buku sketsa itu erat-erat. Surat Bima tergeletak di sampingnya, basah oleh air mata. Ia sudah menangis sampai matanya perih, tapi air mata sepertinya tidak pernah habis.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel. Menekan kontak Mika. Butuh tiga kali percobaan karena jarinya terus salah tekan.

"Ha-lo?" suara Mika di seberang terdengar santai.

"Mik..." suara Kay serak, hampir tidak terdengar.

"Kay? Lo kenapa? Kok suaranya aneh?"

"Mik... tolong... gue di kos Bima..." napas Kay tersengal. "Dia... dia pergi..."

"APA? Kay, lo tunggu! Gue ke sana sekarang!"

Mika mematikan telepon. Kay meletakkan ponsel, mencoba berdiri. Kepalanya pusing, dunia terasa berputar. Ia melangkah satu langkah, dua langkah, lalu semuanya gelap.

---

Mika tiba di kos Bima 20 menit kemudian. Ia naik ojek online, langsung berlari ke kamar Bima—pintu sudah terbuka. Di dalam, ia melihat Kay tergeletak di lantai, buku sketsa di sampingnya.

"KAY!" Mika berteriak, berlari menghampiri. Ia memeriksa napas Kay—masih ada, syukurlah. Tapi wajahnya pucat pasi.

"Kay..." panggilnya sambil mengangkat kepala Kay, menepuk pipinya pelan. "Kay! Kay, bangun!"

Tidak ada respons. Mika panik. Ia mengambil ponsel, menekan nomor darurat.

"Ambulans, tolong! Ada yang pingsan!"

---

Di UGD rumah sakit, Kay terbaring di ranjang darurat. Dokter dan perawat sibuk memeriksa. Mika duduk di kursi tunggu, tangan masih gemetar. Ia membaca surat Bima yang ditemukannya di lantai—dan ikut menangis.

Ponselnya bergetar. Lydia—mama Kay.

"Mba Mika, saya dengar Kay di rumah sakit? Ada apa?" suara Lydia panik.

"Iya, Tante. Kay pingsan di kos Bima. Sekarang di UGD."

"Saya ke sana!"

Mika menutup telepon, menatap layar ponsel. Ia harus kuat buat Kay.

---

Lydia tiba 30 menit kemudian dengan wajah kacau—untuk pertama kalinya Mika melihat ibu Kay tanpa dandanan sempurna. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab.

"Gimana Kay?" tanyanya langsung.

"Masih diperiksa, Tante. Dokter bilang dehidrasi berat, kelelahan, plus syok emosional."

Lydia duduk di samping Mika, menunduk. "Ini... karena Bima?"

Mika menatapnya tajam. "Tante tahu? Tante yang nemuin Bima, kan? Tante yang suruh dia pergi?"

Lydia tidak menjawab. Tapi diamnya cukup jadi jawaban.

Mika menghela napas. "Aku tahu Tante mau yang terbaik buat Kay. Tapi cara Tante... ini hancurin dia."

Lydia menangis—tidak biasanya ia menunjukkan emosi di depan umum. "Saya cuma... saya cuma mau lindungin dia."

"Tante lindungin dari apa? Dari cinta? Dari kebahagiaan?" Mika menatapnya. "Kay sayang banget sama Bima. Dan Bima, meskipun miskin dan sekarang jatuh, dia laki-laki baik. Dia nggak pantas diperlakukan kayak gitu."

Lydia tidak bisa menjawab.

---

Dokter keluar satu jam kemudian. "Pasien sudah sadar. Tapi masih lemah. Bisa dijenguk, tapi jangan terlalu lama."

Mika dan Lydia masuk bersamaan. Kay terbaring di ranjang, infus di tangan, wajah pucat. Matanya kosong menatap langit-langit.

"Kay," panggil Mika lembut, duduk di sampingnya.

Kay menoleh perlahan. Melihat Mika, air matanya langsung jatuh. "Mik... dia pergi."

Mika meraih tangannya. "Gue tahu, Kay. Gue baca suratnya."

"Dia ninggalin gue, Mik. Dia pindah kampus. Dia..."

"Tapi dia nggak ninggalin Jogja. Masih di Jogja. Kita bisa cari dia."

Kay matanya sedikit berbinar. "Lo mau bantu gue?"

"Tentu, Kay. Gue akan bantu cari Bima."

Lydia yang berdiri di dekat pintu melangkah maju. "Nak—"

Kay menoleh, dan tatapannya berubah dingin. "Mama keluar."

Lydia terpukul. "Kay—"

"KELUAR!"

Perawat masuk, melihat situasi tegang. Lydia menghela napas, lalu keluar dengan langkah gontai.

Mika menatap Kay. "Kay, lo nggak—"

"Gue nggak mau ngomong sama dia. Dia yang hancurin semuanya."

Mika menghela napas. Ia mengerti, tapi juga tahu hubungan ibu-anak itu rumit. Tapi untuk sekarang, prioritasnya adalah Kay.

---

Dua hari kemudian, Kay sudah boleh pulang. Tapi ia tidak pulang ke rumah. Ia memilih tinggal di kos Mika—sebuah kamar kos sederhana tapi hangat. Lydia sudah berkali-kali menelepon, tapi Kay tidak pernah menjawab.

Di kos Mika, Kay duduk di lantai, membuka buku sketsa Bima halaman demi halaman. Ada puluhan gambarnya—Kay di perpustakaan, Kay di kantin, Kay sedang marah, Kay sedang tertawa, Kay sedang tidur. Semua dengan detail yang membuatnya menangis lagi.

"Gue nggak nyangka dia selama ini ngeliatin gue sebanyak itu," bisiknya.

Mika duduk di sampingnya. "Dia sayang lo, Kay. Itu jelas."

"Terus kenapa dia pergi?"

"Karena dia pikir itu yang terbaik buat lo. Orang kayak Bima, dia lebih rela sakit hati daripada lihat orang yang dia sayang susah."

Kay mengusap air mata. "Gue harus cari dia. Gue harus bilang kalo gue nggak peduli dia jatuh. Yang penting dia ada."

Mika mengangguk. "Gue bantu cari. Tapi Jogja gede, Kay. Bisa butuh waktu."

"Gue rela nunggu."

---

Pintu kos Mika diketuk. Mika membuka—Rendra berdiri di sana dengan setelan rapi, membawa sebuket bunga dan tas buah.

"Rendra? Lo ngapain ke sini?"

"Aku dengar Kay sakit. Ingin jenguk." Rendra mencoba tersenyum ramah.

Mika menghela napas. "Ren, ini bukan waktu yang tepat."

"Tolong, cuma bentar. Aku cuma mau pastiin dia baik-baik aja."

Dari dalam, Kay berseru, "Siapa, Mik?"

Mika menoleh. "Rendra."

Kay diam sebentar, lalu berkata dingin, "Usir."

Rendra terkejut. "Kay, aku cuma—"

"Ren, dengar sendiri kan?" Mika menatapnya. "Pulang. Jangan bikin keadaan tambah runyam."

Rendra mencoba bersikeras. "Kay, aku tahu lo lagi sedih. Tapi aku ada di sini buat lo. Bima udah pergi, tapi aku—"

"RENDRA!" Kay muncul di pintu kamar, mata bengkak, wajah kusut. "Denger gue baik-baik. Gue nggak butuh lo. Gue nggak mau lo. Yang gue mau cuma Bima. Jadi pergi. Jangan pernah datang lagi."

Rendra terpukul. "Kay, lo nggak sadar. Bima udah ninggalin lo. Dia nggak—"

"DIA PERGI BUKAN KARENA DIA NGGAK SAYANG!" Kay berteriak, suaranya pecah. "TAPI KARENA ORANG-ORANG KAYAK LO YANG TERUS TEKAN DIA! JADI PERGI, RENDRA! ATAU GUE PANGGIL SATPAM!"

Mika melangkah di antara mereka. "Ren, please. Ini nggak baik buat siapa pun. Pulang."

Rendra menatap Kay dengan pandangan sakit hati, lalu membalikkan badan. Bunga dan buahnya ia lempar ke lantai.

"Ini belum selesai," gumamnya, lalu pergi.

Mika menutup pintu, menghela napas lega. Ia kembali ke Kay yang sudah duduk lemas di lantai.

"Kay, lo hebat. Ngelawan Rendra kayak gitu."

Kay tersenyum getir. "Gue capek, Mik. Capek sama semua orang yang pura-pura peduli padahal cuma mau manfaatin."

Mika memeluknya. "Gue tahu. Tapi lo nggak sendiri. Kita cari Bima bareng."

Kay mengangguk lemah. "Makasih, Mik."

---

Malam itu, Mika mulai mencari. Ia menghubungi teman-teman di berbagai kampus, menyebar informasi diam-diam. Kay duduk di sampingnya, sesekali melihat foto-foto Bima di ponsel.

"Lo tahu, Mik," bisik Kay. "Dia pernah bilang, dia nggak bisa ngomong 'sayang' dengan kata-kata. Tapi lihat ini." Ia menunjukkan sketsa dirinya yang sedang tertawa. "Ini lebih berarti dari seribu kata 'sayang'."

Mika tersenyum. "Dia unik. Tapi lo beruntung, Kay. Dapat laki-laki yang tulus."

"Tapi kenapa harus susah banget?"

Mika menghela napas. "Mungkin karena cinta sejati emang nggak pernah mudah, Kay. Harus diuji dulu biar kuat."

Kay menatap langit-langit. "Gue akan cari dia. Sampai ketemu. Dan kalo udah ketemu, gue nggak akan lepas lagi."

Di luar, hujan turun lagi—seperti selalu menemani setiap momen penting dalam hidup mereka. Kay berharap, di suatu tempat di Jogja, Bima juga melihat hujan yang sama. Dan berharap, suatu hari nanti, mereka akan bertemu lagi.

---

Di kos baru di daerah Demak, Bima duduk di kamar sempitnya. Ia menatap layar laptop—mengerjakan tugas dari Dr. Hartono. Tapi pikirannya melayang pada Kay. Ia membuka dompet, mengeluarkan foto kecil Kay yang ia simpan.

"Maaf, Kay. Tapi mungkin ini yang terbaik."

Ia meletakkan foto itu di samping laptop, lalu kembali mengetik. Tapi air mata jatuh di keyboard.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!