Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamarku membuat mataku mengerjap pelan. Hal pertama yang kucari adalah ponsel di samping bantal. Benar saja, layarnya penuh notifikasi. Selain pesan Wira yang masih menggunung, ada 6 pesan baru dari Tomi yang dikirim berurutan sejak semalam sampai subuh tadi.
Pesan-pesan itu isinya mulai dari memastikan aku sudah tidur, sampai candaan kalau dia bakal "DEMO" (demo gak tuhh😜🤣) di depan rumah kalau aku nggak bangun-bangun. Aku menggigit bibir, merasa bersalah sekaligus tersenyum kecil melihat perhatiannya yang sebegitu besarnya.
Langsung saja jempolku menari di atas layar.
•°Ya ampun Tom, maaf banget! Semalam aku benar-benar tepar begitu kepala kena bantal. Maaf ya baru balas sekarang. Aku siap-siap ya, kamu boleh jemput aku kalau masih mau bubar (bubur bareng). Hehe.
Aku memutuskan untuk ikut. Lagipula, udara pagi dan semangkuk bubur hangat sepertinya adalah obat terbaik untuk menjernihkan pikiranku yang sempat keruh semalam karena bayang-bayang Wira. Aku butuh realita yang nyata, dan Tomi adalah realita paling menyenangkan saat ini.
Aku segera beranjak ke kamar mandi. Guyuran air dingin membuat badanku terasa jauh lebih segar. Selesai mandi, aku memilih pakaian yang sederhana saja celana kulot hitam dipadukan dengan kaos putih polos dan kemeja flanel oversized sebagai outer.
Rambutku hanya kuikat ekor kuda dengan sedikit anak rambut yang dibiarkan jatuh, memberikan kesan santai tapi tetap manis.
Aku menatap cermin sebentar, memoleskan sedikit lip balm agar wajahku tidak terlihat pucat.
"Hari ini harus jadi hari yang tenang," bisikku pada pantulan diriku sendiri.
Turun ke bawah, aku melihat Mama sudah di dapur.
"Mau kemana pagi-pagi sudah rapi, Sayang?" tanya Mama sambil menyeduh kopi.
"Mau cari sarapan di luar sama Tomi, Ma. Katanya mau cari udara segar kelulusan," jawabku sambil berpamitan.
Mama tersenyum penuh arti.
"Oalah, sama Nak Tomi. Ya sudah, hati-hati ya. Jangan pulang terlalu siang, nanti panas."
Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil yang sangat kukenal di depan gerbang. Tomi sudah sampai.
Begitu aku melangkah keluar, mobil Tomi sudah terparkir rapi di depan gerbang. Tomi turun dari mobil dengan setelan santai kaos polo dan celana pendek selutut namun tetap terlihat rapi dan segar.
"Wah, yang ditunggu akhirnya menampakkan diri juga!" seru Tomi sambil melambaikan tangan dengan cengiran khasnya.
Mama ikut menyusul ke depan, membukakan pintu gerbang untukku.
"Eh, ada Nak Tomi. Pagi-pagi sudah rajin mau jemput Hana," sapa Mama ramah.
Tomi segera mendekat dan menyalami tangan Mama dengan sopan.
"Iya, Tante. Mau pinjam Hananya sebentar buat cari oksigen murni sambil sarapan. Biar otaknya segar lagi habis wisuda kemarin."
Mama tertawa kecil.
"Ya sudah, bawa saja. Tapi tolong dijaga ya, jangan sampai telat makan siangnya nanti."
"Siap, Tante! Saya kembalikan dalam keadaan utuh dan kenyang," jawab Tomi jenaka yang membuatku hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala.
Aku pun berpamitan pada Mama dan masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup dan mesin mulai melaju, Tomi langsung melancarkan Serangan ceritanya.
"Han, kamu tahu nggak? Semalam aku itu hampir saja lapor ke layanan 'Orang Hilang' gara-gara chat-ku cuma dianggurin," ceritanya sambil memutar kemudi pura-pura masygul.
"Aku sudah mikir, apa Hana diculik alien karena terlalu pintar jadi lulusan terbaik? Atau jangan-jangan dia ketiduran di atas tumpukan ijazahnya?"
"Maaf, Tom! Aku beneran nggak sadar pas tidur, HP-ku saja masih nyala di sebelah bantal," balasku sambil tertawa renyah.
"Nggak apa-apa, Han. Setidaknya balasannya pagi ini bikin mood-ku naik lagi. Aku tadi subuh sudah latihan pidato di depan cermin, kalau-kalau kamu nolak, aku mau demo tunggal di depan rumahmu bawa spanduk 'Bubur Ayam Menunggumu'," candanya lagi yang sukses membuatku tertawa sepanjang jalan.
Tomi memang luar biasa. Dia bisa membuat hal sesederhana menunggu balasan chat menjadi cerita komedi yang menghibur. Selama di perjalanan, kami membahas banyak hal konyol, mulai dari gaya tidur masing-masing sampai rencana liburan singkat sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja yang membosankan.
Tak terasa, mobil berhenti di sebuah rumah makan yang sudah sangat ramai. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang gurih langsung menusuk hidung, menggugah selera makanku yang sempat hilang semalam.
"Nah, sampai! Ini dia kuil bubur ayam paling legendaris se-kota ini," ucap Tomi bangga sambil mematikan mesin.
"Siap-siap ya, Han. Ini buburnya bisa bikin kamu lupa kalau pernah punya beban hidup."
Aku tersenyum menatap rumah makan itu. Untuk sesaat, aku benar-benar merasa bebas. Wira, masa lalu, dan ketakutan itu seolah tertinggal jauh di belakang, kalah oleh tawa Tomi dan aroma bubur hangat yang menanti di depan mata.
Mangkuk bubur di depan kami tandas tanpa sisa. Benar kata Tomi, gurihnya kaldu dan kehangatan suasananya sanggup mengusir sisa-sisa sesak di dadaku.
Setelah kenyang, Tomi tidak langsung mengajakku pulang. Ia memutar kemudi menuju sebuah taman kota yang asri, tempat di mana pepohonan mahoni yang rimbun menyaring sinar matahari pagi menjadi berkas-berkas cahaya yang lembut.
"Han, lihat! Belum lengkap kalau sarapan nggak ditutup dengan 'karbohidrat tambahan'," seru Tomi sambil menunjuk deretan penjual camilan di pinggir taman.
Kami berakhir dengan menenteng plastik berisi gorengan hangat yang masih berasap dan beberapa kue tradisional.
Kami duduk di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke kolam buatan di tengah taman.
"Kamu tahu nggak, Han?"
Tomi memulai, matanya tertuju pada sekelompok bebek yang sedang berenang beriringan di kolam.
"Bebek-bebek itu sebenarnya lagi rapat kabinet."
Aku yang sedang mengunyah bakwan jagung hampir tersedak.
"Rapat kabinet? Ngaco kamu, Tom!"
"Serius! Lihat deh yang paling depan, yang badannya paling gede. Itu menteri pertahanannya. Dia lagi mastiin nggak ada lele yang berani kudeta," lanjutnya dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Terus yang di belakang itu, yang berenangnya agak miring, pasti menteri keuangan. Lagi pusing mikirin cicilan eceng gondok yang makin mahal."
Aku tertawa terpingkal-pingkal sampai perutku kaku.
"Tomi, ya ampun! Bebek berenang doang bisa jadi drama politik di kepala kamu!"
"Ya habisnya, daripada kita bahas teori manajemen yang bikin pusing pas wisuda kemarin, mending bahas konspirasi bebek, kan?" Tomi menyengir, lalu menyodorkan plastik kue lupis ke arahku.
"Makan lagi, Han. Hari ini tugas kamu cuma dua ketawa sama kenyang. Urusan sedih-sedih, kasih ke bebek aja."
Aku menatap profil samping wajah Tomi.
Dia tertawa lepas, matanya menyipit jenaka. Di saat seperti ini, aku merasa sangat bersyukur. Tomi bukan hanya sekadar teman, dia adalah "udara segar" yang selama ini kucari. Bersamanya, aku tidak perlu merasa takut akan dihakimi atau dibentak. Dia membuat hal-hal paling konyol di dunia ini terasa seperti hiburan kelas atas.
"Makasih ya, Tom,"
bisikku pelan di sela tawa kami.
"Hah? Apa? Makasih buat gorengannya?" tanyanya sambil pura-pura tidak dengar.
"Makasih buat semuanya. Buat hari ini," ulangku dengan tulus.
Tomi terdiam sejenak, menatapku dengan binar mata yang lebih hangat dari sinar matahari pagi.
"Sama-sama, Han. Selama kamu masih bisa ketawa gara-gara bebek, aku bakal terus di sini buat jadi pengamat bebek pribadi kamu."
Kami kembali tertawa, menikmati sisa pagi yang indah itu.
Hampir satu jam kami habiskan di taman itu, menertawakan hal-hal sepele yang sebenarnya tidak lucu bagi orang lain, tapi terasa sangat istimewa bagi kami. Akhirnya, Tomi mengantarku pulang.
"Makasih ya buat asupan oksigen dan teorinya tentang kabinet bebek," candaku saat turun dari mobil.
Tomi tertawa lebar, menyempatkan diri turun untuk berpamitan dengan Papa yang kebetulan baru saja akan berangkat ke kantor.
"*Mari, Om. Pamit dulu, sudah mengembalikan Hana dengan selamat dan kenyang*."
"Iya, Nak Tomi. Makasih ya sudah ditemani sarapan," jawab Papa ramah sambil menepuk pundak Tomi sebelum beliau masuk ke mobilnya sendiri.
Mama juga sudah rapi, bersiap untuk pergi arisan dengan teman-temannya.
"Han, beneran nggak mau ikut Mama? Seru lho, nanti ada makan-makan juga," tawar Mama sambil memakai bros di dres hitamnya.
"Enggak deh, Ma. Hana di rumah saja, mau me-time dulu. Capek banget rasanya habis wisuda kemarin," jawabku sambil memberikan senyum meyakinkan.
Setelah rumah menjadi sepi Papa ke kantor dan Mama berangkat arisan aku merasa kelegaan yang luar biasa menyelimuti. Aku segera naik ke kamar, mengganti pakaianku dengan daster rumahan yang paling nyaman, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur.
Aku mengambil sebuah novel dari rak, membukanya di halaman yang sempat tertunda, dan menyiapkan beberapa camilan yang kubeli tadi di taman. Suasana kamar yang tenang, semilir angin dari jendela yang terbuka, dan aroma kertas novel favoritku... ini adalah surga kecilku.
Aku benar-benar tidak ingin memikirkan apa pun saat ini. Tidak ingin memikirkan masa depan karier, tidak ingin memikirkan Tomi yang baru saja mengantarku, dan terutama... aku juga mencoba menutup rapat pintu hatiku untuk bayang-bayang Wira.
Aku ingin bergelut dengan duniaku sendiri. Membiarkan diriku tenggelam dalam barisan kata-kata di novel, seolah aku adalah tokoh utamanya yang sedang berada di dunia lain yang jauh lebih damai. Ponselku? Aku meletakkannya dengan posisi layar menghadap ke bawah di atas meja rias, cukup jauh dari jangkauan tanganku.
"Satu hari saja... biarkan aku tenang seperti ini," bisikku pelan sambil mulai membaca baris pertama.
Namun aku salah Aku menutup novel itu dengan kasar. Kalimat-kalimat di dalamnya mendadak buyar tak mampu lagi menahan badai yang berkecamuk di dalam dadaku. Benar, aku salah.
Aku tidak bisa berpura-pura tenang saat ada bom waktu yang siap meledak di saku pakaianku.
Aku tidak bisa membiarkan Wira terus-terusan menerorku lewat pesan, atau lebih buruk lagi, muncul tiba-tiba di depan gerbang rumah ini dan menghancurkan senyum Mama yang baru saja kembali.
Aku tidak mau kehilangan Papa yang sekarang sudah bangga menepuk pundakku.
Aku mengambil ponsel itu. Jariku gemetar, bukan karena cinta, tapi karena amarah yang mendidih saat mengingat kembali kejadian Tujuh tahun lalu.
Tujuh tahun yang lalu, aku bukan sekadar gadis yang salah jalan. Aku adalah pertaruhan nyawa. Aku ingat rasa sakit yang luar biasa saat tubuhku melemah, saat aku berjuang sendirian di atas ranjang rumah sakit dengan sisa-sisa tenaga, bertaruh nyawa demi janin yang kandunganku lemah. Dan apa yang kudapatkan dari laki-laki yang katanya "mencintaiku"?
Bukannya dukungan, bukannya genggaman tangan, aku justru mendapatkan makian. Kata-kata "tidak pantas" itu masih terngiang jelas dia menyebutku murahan, dia meragukan anak yang kukandung, dia menertawakan kesakitanku dari balik jeruji besi. Itu tidak gratis. Aku membayar kesalahan itu dengan masa mudaku, dengan harga diriku, dan dengan nyawa kecil yang tak sempat menghirup udara dunia.
"Cukup," bisikku tajam pada diri sendiri.
Air mata mulai mengalir, tapi kali ini bukan air mata kelemahan. Ini air mata kemarahan.
Aku membuka ruang obrolan dengan Wira. Aku harus memutus rantai ini sekarang juga. Sebelum dia melangkah lebih jauh, sebelum dia menemukan alamat baruku, dan sebelum dia merusak hidup yang sudah susah payah kubangun dengan nilai IPK 3,97 dan gelar sarjana ini.
Aku mulai mengetik dengan tangan yang tidak lagi gemetar.
[•Wira, berhenti mencari aku. Berhenti kirim pesan, berhenti tanya ke tetangga lama, dan berhenti bersikap seolah kamu punya hak atas hidupku. Kamu tanya kenapa aku pindah? Karena aku ingin menghapus setiap inci kenangan buruk tentang kamu dari hidupku]
[Ingat kata-kata kamu 7 tahun lalu? Saat aku bertaruh nyawa dan kamu justru menghinaku? Hari itu, kamu bukan cuma kehilangan anak itu, tapi kamu juga kehilangan hak untuk tahu aku masih hidup atau tidak. Jangan pernah muncul di depan keluargaku lagi. Kalau kamu nekat, aku tidak akan segan lapor polisi. Aku bukan Hana yang dulu bisa kamu bodohi dengan kata 'cinta' palsumu.]
Setelah mengirim pesan itu, aku langsung memblokir nomornya. Seluruh akses. Aku tidak butuh balasannya. Aku tidak butuh penjelasannya.
Aku melempar ponsel itu ke ujung tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Aku menangis untuk Hana yang dulu begitu bodoh, dan aku menangis lega karena akhirnya aku berani bicara. Aku hanya ingin menjadi anak bagi Papa dan Mama. Aku hanya ingin menjadi Hana yang baru.