NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Us

Dua insiden ngidam dalam seminggu terakhir membuat para suami di Griya Asri bergerak.

Semuanya berawal dari chat Mario di grup WhatsApp "Griya Asri" pada Minggu pagi.

Mario: Om, Gi, Leon. Lo pada sibuk nggak? Aku mau ngomong serius.

Elgi: Siap. Di mana?

Endy: Di rumahku aja. Soo Young lagi berkebun, kita bisa ngobrol santai.

Leon: Coming!

Pukul 10.00 pagi, mereka berkumpul di teras rumah nomor 11. Endy menyiapkan kopi, Elgi membawa donat, Leon datang dengan sepedanya, dan Mario datang dengan wajah serius—tapi agak kurang tidur.

"Oke, kita mulai." Endy duduk di kursi favoritnya. "Ada apa, Nak?"

Mario menarik napas panjang. "Om, Gi, Leon. Gue butuh bantuan."

"Bantuan apa?" tanya Elgi.

"Jane. Dua minggu terakhir, ngidamnya makin parah. Semalem minta sate padang jam 11 malem. Alhamdulillah Leon punya stok sate frozen, jadi bisa." Mario menghela napas. "Tapi gue nggak bisa terus-terusan repotin kalian."

Leon mengangkat tangan. "You're not repoting us. We're family."

"Iya, tapi gue harus punya rencana. Gue nggak mau Jane kekecewaan terus nangis-nangis. Kasian."

Endy mengangguk. "Kamu bener. Kita harus siap siaga."

"Dari pada kita reaktif, lebih baik proaktif," tambah Elgi.

Leon mengerutkan dahi. "Proaktif? Maksudnya?"

"Kita siapin semuanya dari sekarang," jelas Endy. "Bikin daftar makanan yang mungkin diidamkan Jane, stok bahan-bahannya, dan siapin sistem darurat."

Mata Leon berbinar. "Like a emergency response team!"

"Exactly."

Mereka berempat mulai berdiskusi serius. Elgi mengambil buku catatan dari tasnya—kebiasaannya sejak kuliah dulu—dan mulai mencatat.

"Oke, kita bikin grup khusus," usul Elgi. "Grup 'Siap Siaga'."

"Setuju." Endy mengangguk. "Anggotanya kita berempat. Mario sebagai pihak yang dilindungi, gue sebagai sesepuh, Elgi sebagai koordinator lapangan, Leon sebagai anggota baru yang antusias."

Leon tersenyum bangga. "I'm honored."

Mario agak bingung. "Om, ini kayak militer ya?"

"Ini darurat, Nak. Kehamilan adalah masa kritis." Endy bicara dengan nada serius, tapi matanya berbinar bercanda. "Kita harus siap."

---

Mereka menghabiskan dua jam untuk merencanakan "operasi" ini. Hasilnya:

Daftar Makanan Potensial

Mario diminta membuat daftar semua makanan yang pernah diidamkan Jane, plus makanan-makanan yang mungkin akan diidamkan berdasarkan riset internet.

"Sate padang, rujak, es krim durian, bakso, mie ayam, siomay, batagor, pempek..." Mario membaca daftarnya.

"Wah, variatif." Elgi mencatat. "Ini kayak menu makanan sebulan."

"Jane emang suka makan." Mario tersenyum getir. "Apalagi sekarang hamil."

Stok Bahan Makanan

Mereka memutuskan untuk membuat stok bahan-bahan dasar di setiap rumah.

"Gue siapin stok daging sapi dan ayam di freezer," kata Elgi. "Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba minta sate atau bakso."

"Aku siapin bumbu-bumbu," tambah Endy. "Soo Young punya stok lengkap rempah. Bisa buat apa aja."

"Aku siapin buah-buahan," Leon menawarkan. "Near my house ada pasar buah yang buka 24 jam."

"Bagus." Elgi mencatat. "Terus, kita buat jadwal piket."

Jadwal Piket Malam

Elgi membuat tabel jadwal piket malam. Setiap malam, satu orang akan "siaga" dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi, siap sedia kalau Jane ngidam.

"Gue ambil Senin-Rabu," kata Elgi. "Om Endy Kamis-Jumat, Leon Sabtu-Minggu."

"Mario?" tanya Leon.

"Mario sebagai pihak yang dilindungi, tugasnya tinggal telepon." Endy tersenyum. "Dia yang jagain Jane."

Mario terharu. "Om, Gi, Leon... kalian..."

"Nggak usah lebay." Elgi menepuk bahunya. "Ini tugas kita sebagai keluarga."

---

Setelah pertemuan selesai, mereka langsung bergerak. Elgi pergi ke supermarket untuk belanja stok daging. Endy merapikan bumbu-bumbu di dapur. Leon mencari pasar buah 24 jam terdekat.

Mario pulang dengan perasaan campur aduk. Ia cerita pada Jane tentang rencana para suami.

"Mereka bikin grup 'Siap Siaga'? Piket malam?" Jane terbelalak. "Mas, ini lebay banget."

"Iya, aku tahu. Tapi mereka niat bantu." Mario tersenyum. "Mereka nggak mau lihat aku kewalahan."

Jane diam sejenap, lalu tersenyum. "Mereka baik banget, Mas."

"Iya. Mereka keluarga."

Malam harinya, grup "Siap Siaga" mulai beroperasi. Piket pertama dipegang Elgi. Ia menyiapkan stok bakso di freezer, siap direbus kapan saja.

Pukul 23.30, Mario mengirim pesan di grup.

Mario: Darurat. Jane minta bakso.

Elgi: Siap. 10 menit.

Dalam 10 menit, Elgi sudah sampai di depan rumah nomor 7 dengan membawa semangkuk bakso panas lengkap dengan kuah, mie, dan pangsit goreng.

"Ini, Bro. Bakso spesial."

Mario menerima dengan haru. "Makasih, Gi. Makasih banget."

"Sama-sama. Ini udah tugas piket."

Jane makan bakso dengan lahap, matanya berbinar. "Enak banget, Mas! Ini bakso langganan kita, kan?"

"Iya. Elgi yang beliin."

Jane berhenti mengunyah. "Elgi? Yang jaga malam?"

"Iya. Mereka bikin jadwal piket."

Jane terharu. "Mas, anterin aku ke rumah Elgi sebentar."

"Sekarang? Jam 12 malem?"

"Iya, sekarang."

---

Jane dan Mario berjalan ke rumah nomor 9. Lampu teras masih menyala. Elgi sedang duduk di teras, minum kopi.

"Elgi!" panggil Jane.

Elgi menoleh, kaget. "Jane? Jam segini kok keluar? Nggak dingin?"

Jane mendekat, langsung memeluk Elgi. Elgi kaget setengah mati, tangannya terangkat nggak tahu harus di mana.

"Uh... Jane... Mario... ini..."

"Makasih, Elgi." Jane melepas pelukan, matanya berkaca-kaca. "Makasih udah bantuin. Makasih udah beliin bakso. Makasih udah jadi keluarga buat kita."

Elgi tersenyum, lega. "Iya, Jan. Sama-sama. Itu udah tugas kita."

"Tapi ini malam-malam, lo rela bangun cuma buat anter bakso."

"Lo juga rela bangun cuma buat anterin istri lo terima kasih." Elgi tertawa. "Kita sama-sama gila."

Mereka tertawa. Irene keluar, melihat keramaian.

"Wah, pada ngapain? Jane, masuk sini, nanti masuk angin."

Jane akhirnya masuk sebentar, minum teh hangat buatan Irene, sebelum akhirnya diantar Mario pulang.

Malam itu, di grup "Siap Siaga", Mario menulis:

Mario: Makasih Elgi. Makasih semua. Kalian luar biasa.

Elgi: Sama-sama. Besok ganti Om Endy.

Endy: Siap. Aku udah siapin bumbu sate.

Leon: I'm ready for my shift on Saturday!

Jane (ditambahkan oleh Mario): Makasih keluarga. Love you all.

Irene: Sama-sama, Jan.

Soo Young: Sehat terus ya.

Jisoo: Kakakmu sayang kamu.

Chaeyoung: We love you, Jane!

Leon: This is the best family ever.

Jane membaca pesan-pesan itu sambil tersenyum. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena ngidam. Tapi karena haru.

---

Seminggu kemudian, sistem piket berjalan lancar. Elgi menangani bakso dan mie ayam. Endy menangani sate padang dan rujak. Leon menangani buah-buahan dan makanan ringan. Mario sebagai komandan lapangan yang selalu siap menerima laporan.

Para istri awalnya menganggap ini lucu. Tapi lama-lama mereka ikut bangga.

"Suami kita pada kompak ya," kata Irene suatu sore di taman.

"Iya. Mereka serius banget bikin grup itu." Jisoo tertawa. "Sampe bikin jadwal piket segala."

"Tapi itu bagus." Soo Young tersenyum. "Mereka sayang sama Jane."

"Mereka sayang sama kita semua." Chaeyoung menatap Leon yang sedang bermain bola dengan Rafa dan Amora. "Lihat Leon, udah kayak bapak-bapak."

Semua tertawa. Leon memang sudah berbaur sempurna. Ia bahkan mulai belajar bahasa Indonesia dengan serius, dan sudah bisa memesan bakso sendiri.

Suatu malam, giliran Leon piket. Pukul 02.00, Mario mengirim pesan.

Mario: Darurat. Jane minta es campur.

Leon: Siap! Aku beli di pasar buah 24 jam.

30 menit kemudian, Leon datang dengan dua gelas besar es campur lengkap dengan topping. Satu untuk Jane, satu untuk Mario.

"Ini, Jane. Es campur spesial."

Jane menerima dengan mata berbinar. "Leon, makasih banget!"

"You're welcome. This is my duty."

Mario menepuk bahu Leon. "Lo hebat, Leon. Beneran."

Leon tersenyum bangga. "I'm part of the team."

Setelah Leon pulang, Jane dan Mario menikmati es campur bersama.

"Mas, kita harus balas kebaikan mereka suatu hari nanti," ucap Jane.

"Iya, Sayang. Nanti pas anak kita lahir, kita traktir semua."

"Setuju."

---

Bulan-bulan berlalu. Sistem piket berjalan dengan baik. Para suami semakin kompak. Mereka bahkan membuat "kode darurat" di grup: 🚨 untuk ngidam ringan, 🔥 untuk ngidam berat, dan 💣 untuk ngidam darurat yang harus segera ditangani.

Jane sendiri mulai merasa bersalah karena terlalu sering merepotkan mereka. Tapi setiap kali ia protes, mereka selalu berkata, "Ini buat anak kita bersama."

Satu malam, saat Endy piket, Mario bertanya, "Om, kalian nggak capek? Nggak keberatan?"

Endy tersenyum. "Nak, dulu waktu Soo Young hamil, aku juga panik. Nggak tahu harus ngapain. Aku beruntung punya tetangga-tetangga baik yang bantu. Sekarang giliran kita bantu yang lain."

"Tapi ini kan bukan Om punya kewajiban."

"Ini bukan soal kewajiban. Ini soal pilihan." Endy menatap Mario dengan lembut. "Kita memilih untuk saling peduli. Itu artinya keluarga."

Mario terharu. "Makasih, Om."

"Sama-sama, Nak. Sekarang, antar itu rujaknya ke Jane. Udah dingin."

Mario tertawa, membawa rujak itu ke kamar. Jane sudah menunggu dengan mata berbinar.

---

Di Griya Asri, para suami telah menemukan peran baru mereka. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tapi sebagai pilar komunitas. Mereka belajar bahwa menjadi laki-laki bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi tentang kehadiran. Tentang kesediaan untuk bangun di tengah malam demi orang lain. Tentang arti gotong royong yang sesungguhnya.

Grup "Siap Siaga" mungkin hanya grup WhatsApp sederhana. Tapi di baliknya, ada hati-hati yang saling terhubung. Ada cinta yang mengalir tanpa pamrih.

Dan suatu hari nanti, ketika anak Jane lahir dan besar, ia akan mendengar cerita tentang bagaimana para "om-om" ini bergadang demi memenuhi ngidam ibunya. Ia akan tahu bahwa ia lahir ke dunia yang penuh cinta. Bukan cinta dari orang tua saja, tapi dari seluruh keluarga pilihannya.

Keluarga yang siap siaga. Setiap saat. Tanpa pamrih.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!