Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Dira masih berada di kantor elvan. Ia merasa sangat bosan, Hari semakin gelap
Namun tiba-tiba sore itu Albian mengirim pesan pada Dira.
Albian:
Dira, kamu sudah sampai rumah?
Dira:
Belum. Masih di kantor om Elvan.
Beberapa detik kemudian…
Albian:
Kamu sering banget sama dia sekarang.
Dira membaca pesan itu sambil berbaring di sofa kantor.
Ia mengetik balasan.
Dia nyebelin kok.
Beberapa saat kemudian pesan baru masuk.
Dira… aku mau jujur.
Dira sedikit bingung.
Apa?
Balasan datang cukup lama.
Aku sebenarnya masih nunggu jawaban kamu.
Dira langsung duduk tegak.
“HAH?!”
Ia menatap layar ponselnya dengan mata membesar.
Di sisi lain ruangan, Elvan yang sedang membaca dokumen melirik.
“Ada apa?”
Dira langsung menyembunyikan ponselnya.
“Enggak!”
Namun wajahnya memerah.
Elvan mengernyit curiga. Namun kembali fokus membaca dokumennya.
***
Malam semakin larut.
Kenzo masih belum selesai rapat.
Dira mulai mengantuk di sofa.“Om …”
“Ya?”
“Aku bosan.”
Elvan menutup laptopnya. “Kamu mau pulang?”
“Mau pulang , Tapi bang Kenzo belum selesai.”
Dira menatap Elvan beberapa detik.
Lalu tiba-tiba berkata,
“Om sebenarnya nggak seburuk yang aku pikir.”
Elvan mengangkat alis.“Itu pujian?”
“Sedikit.”
Mereka saling menatap cukup lama.
Entah kenapa suasana menjadi sunyi.
Elvan sedikit mendekat.Dira tidak bergerak.
Jarak mereka semakin dekat.
Wajah Dira mulai merah.
“Om…”
Namun sebelum sesuatu terjadi—
PINTU TERBUKA KERAS.
“RAPAT SELESAI—”
Kenzo langsung berhenti di pintu.Ia melihat posisi mereka yang sangat dekat.
Dira langsung melompat dari sofa.
“EH!”
Kenzo mengangkat alis tinggi.
“Aku ganggu sesuatu?”
Dira langsung menunjuk Elvan.“Bukan aku!”
Elvan berdiri tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Kenzo tertawa keras.
“Wah… menarik sekali.”
Dira menutup wajahnya dengan bantal.
“AKU MALU!”
Kenzo hanya menggeleng sambil tertawa.
“Kayaknya aku datang di timing yang sangat sempurna.”
***
Malam itu akhirnya Kenzo membawa Dira pulang dari kantor.
Sepanjang perjalanan Dira masih diam karena malu dengan kejadian di kantor tadi.
Kenzo yang menyetir hanya tersenyum jahil.
“Kalau abang telat lima detik lagi tadi…”
“BANG DIEM!”
Kenzo tertawa.
Elvan yang duduk di kursi depan hanya diam, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Ya elvan memilih ikut untuk memastikan dira tetap aman. Setelah itu baru ia akan tenang saat pulang.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah.
Dira turun lebih dulu dan langsung berjalan ke arah pintu.
Namun saat ia hendak membuka pintu—
KRASH!
Sebuah batu besar menghantam jendela ruang tamu dari luar.
“APA ITU?!”
Kenzo langsung menarik Dira ke belakang.
Elvan menatap tajam ke arah halaman.
Dari luar pagar terlihat beberapa pria berdiri di jalan.
Salah satu dari mereka berteriak.
“Salam dari Bara!”
Dira langsung menegang.
“Bara?”
Kenzo menggeram.
“Sial.”
Namun sebelum para pria itu sempat masuk lebih jauh—
Sirene mobil keamanan terdengar mendekat.Para pria itu langsung kabur ke mobil mereka.
Elvan masih berdiri dengan tatapan dingin.
“Dia sudah mulai terang-terangan.”
Dira menatap mereka berdua dengan bingung.
“Siapa sebenarnya Bara itu?”
Kenzo dan Elvan saling melirik.
Namun tidak ada yang menjawab.
" Sudah jangan dipikirin, ayo masuk " Ajak kenzo
" Tapi..bang " dira masih penasaran dengan orang yang dimaksud.
" Lebih baik kamu masuk .Istirahat " perintah elvan
Dira mendengus.
kemudian meninggalkan mereka berdua.
" Dasar pelit, ku kutuk kalian jadi katak" omel dira sambil menuju kamarnya
Elvan mengehela napas pelan.
Kenzo menggeleng melihat tingkah adiknya.
" Kalau gitu aku juga pulang " ucap elvan
" Ya, terima kasih . Hati-hati dijalan " elvan hanya mengangguk ,melangkah masuk dalam mobilnya.
Melihat mobil elvan pergi , Kenzo Segera masuk dan mengunci pintu.
***
Keesokan harinya di sekolah. Seperti biasa saat jam istirahat.Dira duduk di kantin bersama Albian.
Ia mengaduk minumannya sambil terlihat melamun.
Albian memperhatikannya. “Kamu lagi mikir apa?”
Dira menghela napas. “Banyak."
Albian tersenyum kecil.“Masih soal kak Elvan?”
Dira langsung menatapnya.
“Kok Kamu tahu?”
Albian mengangguk.
“Semua orang di sekolah tahu kamu dekat dengan dia sekarang.”
Dira mendengus.“Dekat apanya.”
Namun wajahnya sedikit memerah.
Albian menatapnya dengan serius.
“Dira… aku benar-benar suka sama kamu.”
Dira langsung menunduk.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.Karena di dalam hatinya sekarang…
Ada dua nama yang membuat pikirannya kacau.
Albian.
Dan Elvan.
Dira memegang kepalanya .
" Kenapa hidup aku ribet banget sih "
Sedangkan dikantor Bagaskara group.
Siang hari itu terlihat masih sibuk seperti biasa.
Karyawan berjalan cepat membawa berkas, suara ketikan komputer terdengar di setiap ruangan. Namun suasana di lantai atas tiba-tiba berubah ketika lift khusus CEO terbuka.
Seorang pria keluar dengan langkah tenang.
Pria itu mengenakan jas abu-abu mahal, sepatu kulit hitam mengilap, dan rambut yang disisir rapi ke belakang meskipun sudah mulai dipenuhi uban tipis.
Bara Sebastian. Dia datang kembali.
Usianya sekitar lima puluh tahun, tetapi aura kekuasaannya masih kuat. Tatapannya tajam seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi.
Beberapa karyawan langsung berbisik.
“Siapa itu…?”
“Direktur perusahaan lain sepertinya…”
Namun Bara berjalan santai seolah tempat itu miliknya.
Ia berhenti di depan ruang CEO.
Tanpa mengetuk. Ia langsung membuka pintu.
Di dalam ruang CEO.
Elvan sedang membaca dokumen di meja kerjanya ketika pintu terbuka.
Ia langsung mengangkat kepala.
Tatapannya berubah dingin begitu melihat siapa yang masuk.
“Paman.”
Bara tersenyum tipis.
“Sudah lama ya. Kita tidak bertemu di kantor seperti ini.”
Elvan menutup map di tangannya.
“Apa paman tidak tahu etika? Ini ruang kerja saya.”
Bara berjalan santai dan duduk di kursi tamu tanpa diminta.
“Masih galak seperti dulu.”
Ia melihat sekeliling ruangan.
“Kamu berhasil juga mengambil alih semuanya.”
Elvan menatapnya tajam. “Apa tujuan paman datang?”
Bara bersandar santai.
“Tidak bolehkah seorang paman mengunjungi keponakannya?”
Elvan tidak menjawab.
Suasana menjadi tegang.
Bara akhirnya tertawa kecil.
“Baiklah… aku langsung saja.”
Tatapan matanya berubah lebih tajam.
“Aku dengar kamu kembali dekat dengan gadis itu.”
Elvan langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Jangan sebut dia di sini.”
Bara mengangkat alis. “Masih melindunginya?”
Elvan berdiri dari kursinya.
“Kalau paman datang hanya untuk itu, silakan pergi.”
Namun Bara malah tersenyum lebih lebar.
“Menarik sekali.”
Ia mencondongkan badan sedikit.
“Kamu tahu… kalau dia mengingat semuanya…”
Suara Bara menjadi pelan.
“Kamu yang akan paling menderita.”
Rahangan Elvan mengeras. “Cukup.”
Bara berdiri perlahan.
Langkahnya mendekati meja kerja Elvan.
“Kamu mungkin sudah jadi CEO sekarang…”
Ia menatap Elvan lurus.
“Tapi permainan ini belum selesai.”
Sebelum pergi, Bara berhenti di depan pintu.Ia menoleh sedikit.
“Ada satu hal yang harus kamu ingat.”
Elvan menatapnya tanpa ekspresi.
Bara berkata dengan suara dingin.
“Rahasia masa lalu itu tidak bisa kamu sembunyikan selamanya.”
Hening beberapa detik.
Lalu ia menambahkan sesuatu yang membuat suasana semakin berat.
“Terutama dari Dira.”
Elvan tidak bergerak.
Namun tangannya mengepal di bawah meja.
Bara tersenyum puas melihat reaksinya.
“Cepat atau lambat… dia akan tahu.”
Ia membuka pintu.
“Dan saat itu terjadi…”
Bara menatap Elvan terakhir kali.
“Kita lihat siapa yang benar-benar menang.”
Pintu tertutup.Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian…
Kenzo masuk dengan wajah serius.
“Kamu juga merasakannya?”
Elvan menatap pintu yang baru saja ditutup Bara.
“Dia tidak akan berhenti.”
Kenzo menghela napas. “Berarti kita harus bergerak lebih cepat.”
Elvan terdiam sejenak.
Lalu berkata pelan. " Ya." terdiam sebentar " Segera siapkan pernikahan secepatnya " kenzo mengangguk kemudian kembali pergi meninggalkan ruangan.
Karena sekarang bukan hanya bisnis yang dipertaruhkan.
Tetapi juga—
Dira.
Bersambung.......