NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam itu dingin dan hujan turun dengan deras di luar. Naya menggulung dirinya dalam selimut tebal di kamar mereka, mencoba menahan rasa takut dan cemas yang masih menghantuinya. Di sampingnya, Lucio baru saja pulang dan berbaring sambil menatap serius pada ponselnya, wajahnya masih tampak kaku.

“Aku masih tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba pergi. Kamu sudah menyetujui pernikahan ini, Naya. Kamu melakukan itu demi papamu, tapi jangan buat aku kehilangan kesabaran atau benar-benar menghabisinya,” kata Lucio, setelah meletakkan ponselnya di atas nakas dengan suara datar, jelas dia masih kesal dengan Naya yang tiba-tiba menghilang.

Naya menggigit bibirnya, rasa bersalah bercampur dengan cemas. Memang itu keputusan gegabah, tapi saat itu ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih.

“Kamu menakutkan,” ucap Naya akhirnya, suaranya hampir berbisik. Ia tidak berani menoleh atau melirik sedikit pun, takut akan kemarahan Lucio yang mungkin meledak karena kalimat itu.

“Ya, kamu benar, Naya. Aku memang menakutkan,” jawab Lucio lalu terkekeh datar, ia tiba-tiba menarik Naya menghadapnya. Sedikit memaksa, membuat Naya bertatapan langsung dengannya. “Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah menyakitimu.”

Kata-kata itu terdengar tulus, dan Naya menahan senyum tipis. Benarkah? Tapi bayangan kematian ibunya masih menghantui pikirannya.

“Bagaimana dengan mamaku? Kenapa kamu menyakitinya?” Naya bertanya sedikit ragu.

Lucio tetap tenang. “Aku tidak melakukan apapun padanya.”

“Map itu,” Naya menatap mata Lucio.

“Maksudmu map yang kamu lihat di ruang kerjaku?” tanya Lucio, menegaskan dengan suara tenang.

Naya mengangguk perlahan.

“Aku tidak melakukan apapun, Naya,” tegas Lucio, menggeleng. Ia menghela nafas sejenak, kemudian menambahkan, “Aku sedang menyelidiki kematiannya. Dia meninggal terlalu tiba-tiba dan cara kematiannya terlalu aneh.”

Naya menatap mata Lucio, mencoba membaca kebohongan di sana, namun tidak menemukan satupun. Matanya jujur, seakan mengatakan bahwa apa yang diucapkannya benar-benar sungguh-sungguh.

Tetapi pertanyaan Naya tetap mengganjal di pikirannya.

Kalau memang benar, untuk apa Lucio melakukannya? Mereka tidak saling kenal. Ayahnya selalu bilang, hubungan keluarga mereka dengan Lucio hanya sebatas rekan bisnis.

Dan kini, Naya bingung. Apakah dia harus percaya atau tetap waspada?

Lucio bangun perlahan, mengambil kemeja yang sempat ia buka, lalu mengenakannya kembali dengan rapi. Setelah itu, ia menoleh ke Naya dan mengulurkan tangannya.

“Ayo ikut aku,” katanya.

“Kemana?” Naya menatap tangan itu sekilas, masih ragu untuk menyambutnya.

“Melihat isi map itu,” jawab Lucio singkat.

Naya masih diam. Namun sebelum ia sempat menolak, Lucio dengan sigap menarik tangannya, menggenggam erat jemari Naya.

Keduanya berjalan menyusuri lorong lantai dua dengan langkah tenang. Sesekali Naya menatap Lucio, membaca garis wajahnya yang serius, seolah mencoba menebak maksud di balik tindakannya.

Setelah tiba di ruang kerja, Lucio masih menggenggam tangan Naya. Dengan satu gerakan, ia menekan saklar lampu, membuat ruangan itu terang benderang. Kemudian, ia membimbing Naya menuju lemari besar yang berada tepat di belakang meja kerja, lemari yang sempat Naya perhatikan kemarin dengan perasaan penuh antisipasi.

“Ini dia,” ujar Lucio, matanya menatap Naya sejenak sebelum menekan tombol kunci lemari dengan hati-hati. “Sekarang, lihat sendiri.”

Saat lemari itu terbuka, Lucio dengan hati-hati mengeluarkan map yang selama ini menjadi pusat perhatiannya. Naya menatap Lucio sejenak, menilai keseriusan pria itu, sebelum akhirnya meraih map tersebut. Lucio mengangguk pelan sebagai bentuk persetujuan.

“Kamu bisa lihat dan nilai sendiri,” kata Lucio sambil melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Naya membaca isi map dengan leluasa.

Naya membuka map itu dengan hati-hati, matanya terpaku pada setiap lembaran dokumen. Ia mulai membaca dengan serius. Map itu berisi penyelidikan tentang ibunya, serta beberapa nama yang sedang diselidiki oleh Lucio. Ada tiga nama yang langsung membuat Naya terkejut: adik angkat ibunya, orang tua Ardan, dan yang terakhir, ayahnya sendiri.

“Kenapa kamu menyelidiki papaku juga? Kamu curiga dia terlibat? Itu tidak mungkin, Lu,” ujar Naya, suaranya bergetar oleh ketidakpercayaan dan penolakan saat melihat nama ayahnya tercantum di situ.

“Itu hanya penyelidikan, Naya. Hasil akhirnya akan menentukan segalanya,” jawab Lucio tenang, menatap Naya dengan mata tajamnya.

“Tapi papa nggak mungkin!” Naya menegaskan, yakin sepenuhnya bahwa ayahnya tidak mungkin terlibat. Ia tahu ayahnya sangat mencintai ibunya, lebih dari apapun.

Lucio mengerutkan kening, lalu menatap Naya dengan intens. “Seberapa kenal kamu sama papamu? Apa kamu tahu apa saja yang dia lakukan saat di luar rumah? Atau apa yang dia lakukan saat kamu kecil, saat kamu belum mengerti apa-apa?”

Pertanyaan itu menusuk logika Naya seperti pedang tajam. Memang, seberapa pun dekat kita dengan seseorang, tidak ada jaminan kita benar-benar mengetahui segala tentangnya. Akan selalu ada rahasia yang disimpan rapat oleh seseorang.

“Kamu hanya tidak ingin mengakuinya. Padahal jauh di lubuk hatimu, kamu tahu bahwa apa yang terjadi hari ini aneh. Dia mengantarkanmu ke rumah nenekmu, tapi sejak kapan kamu tahu itu rumah nenekmu?”

Sejak kapan? Naya baru tahu hari ini.

“Kamu diam, artinya kamu tahu jawabannya,” Lucio melanjutkan sambil mengambil kembali map dari tangan Naya dan melemparkannya ke dalam lemari dengan tegas. “Kamu juga merasa aneh, kan? Kenapa mantan tunangan bajinganmu itu ada di sana?”

Dengan gerakan lembut, Lucio merapikan rambut Naya yang jatuh di pipinya, menyelipkannya ke belakang telinga. “Kebetulan yang terjadi berkali-kali, itu bukan kebetulan. Itu sebuah rencana. Rencana berbahaya yang disusun sedemikian rupa agar terlihat seperti kebetulan.”

Naya menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang. Setiap kata Lucio membuat pikirannya berputar, mencoba menafsirkan maksud di balik semua ini.

Terlalu menyayangi membuat Naya tidak ingin mengakui bahwa sudah banyak hal aneh yang terjadi selama ini. Terlalu menyayangi membuat Naya tidak ingin percaya bahwa mungkin, mungkin saja kejahatan memang bisa dilakukan oleh orang paling dekat.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!