NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Rengganis meletakkan sumpitnya, selera makannya hilang dan digantikan oleh gumpalan rasa tidak percaya diri yang sudah lama ia pendam rapat-rapat.

Ia menatap Permadi yang duduk di hadapannya. Pria itu tampak begitu sempurna dengan binar masa depan di matanya, sementara Rengganis merasa seperti buku tua yang halaman-halamannya mulai menguning.

"Permadi, bisa bercanda sebentar. Aku ingin bicara serius," suara Rengganis rendah, namun bergetar oleh emosi yang tertahan.

Permadi yang baru saja hendak menyuapkan potongan sushi ke mulutnya, menghentikan gerakannya

"Jujur saja, kenapa kamu setuju menikahiku? Apa karena aku anak tunggal pemilik rumah sakit ini? Apa ini soal ekspansi bisnis? Karena jujur saja, ini aneh. Aku sudah empat puluh tahun, Permadi. Secara medis, rahimku punya masa kedaluwarsa. Mungkin saja aku tidak bisa memberimu keturunan. Dan secara logika, mungkin saja aku akan menua dan meninggal dunia jauh lebih dulu darimu, meninggalkan kamu yang masih di puncak kehidupan. Kenapa kamu mau membuang waktumu untuk wanita yang sudah berada di penghujung musim?"

Permadi yang mendengarnya langsung bangkit dari tempat duduknya.

Suasana ruangan yang tadinya penuh godaan jahil, seketika berubah menjadi sangat berat dan pekat.

Permadi berjalan perlahan memutari meja, melangkah mendekati Rengganis.

Setiap langkahnya terasa seperti dentum jam yang menghitung mundur keberanian Rengganis.

Ia berhenti tepat di depan Rengganis, lalu membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.

"Kamu pikir aku semurah itu?" tanya Permadi dengan suara yang kini bukan lagi bariton yang menggoda, melainkan suara yang dalam dan dingin, menusuk langsung ke ulu hati.

"Kamu pikir aku butuh rumah sakit ini untuk jadi kaya? Kamu pikir aku begitu tidak laku sampai harus menerima wasiat hanya demi harta?" Permadi mencengkeram pinggiran kursi Rengganis, mengurung wanita itu.

"Dengar baik-baik, Dokter Rengganis Leksananingtyas. Aku tidak butuh ahli waris rumah sakit. Aku punya cukup uang untuk membangun sepuluh rumah sakit baru jika aku mau."

Permadi menarik napas tajam, matanya berkilat marah sekaligus terluka.

"Soal keturunan? Aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu mesin pabrik anak. Jika Tuhan memberi, aku bersyukur. Jika tidak, aku sudah cukup bahagia hanya dengan memilikimu untuk berdebat setiap pagi."

Kemudia ia mengulurkan tangan sambil menyentuh dagu Rengganis dengan ujung jarinya, memaksa istrinya untuk tidak membuang muka.

"Dan soal kamu akan meninggal lebih dulu. Maka, aku akan menjadi pria yang paling beruntung karena telah menghabiskan sisa waktu terbaikmu bersamaku. Aku lebih baik memiliki sepuluh tahun bersamamu daripada lima puluh tahun bersama wanita seumuran yang tidak punya jiwa sepertimu."

Rengganis langsung terdiam saat mendengar perkataan dari suaminya.

Ia terbiasa memberikan vonis medis, namun baru kali ini ia merasa divonis oleh sebuah kenyataan yang tidak pernah ia duga.

"Aku sudah melihatmu sejak lama, Ganis. Jauh sebelum perjodohan konyol ini ada di kepala orang tua kita. Aku melihatmu menangis di parkiran rumah sakit saat kehilangan pasien pertamamu sepuluh tahun lalu. Kamu tidak melihatku, tapi aku ada di sana," ungkap Permadi dengan kejujuran yang telanjang.

"Jadi, berhenti menghina dirimu sendiri dengan menyebut dirimu 'barang kedaluwarsa'. Karena di mataku, kamu adalah satu-satunya wanita yang membuatku ingin berhenti berlari."

Rengganis kehilangan kata-katanya yang akan ia ucapkan.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menggenang di pelupuk matanya.

Keheningan di ruangan itu begitu sunyi, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk mendengarkan detak jantung mereka yang saling berkejaran.

Suasana haru yang sempat menyelimuti ruangan itu mendadak menguap seperti alkohol medis yang terkena udara.

Pengakuan Permadi yang begitu mendalam baru saja menyentuh relung hati Rengganis yang paling dalam, namun sepertinya pria itu tidak membiarkan suasana melankolis bertahan lebih dari dua menit.

Permadi menarik kembali tangannya dari dagu Rengganis.

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berbahan satin hitam yang terlihat sangat mencolok.

Dengan gerakan dramatis, ia membuka bungkusan itu di atas meja periksa. Isinya meluncur keluar selembar kain merah berbahan lace transparan yang sangat minim.

Dimana itu adalah sebuah lingerie merah darah dengan potongan leher rendah dan tali-tali tipis yang terlihat sangat rumit.

"Ini buat nanti malam, Sayang," ucap Permadi tanpa dosa, kembali ke mode "berondong" menyebalkannya.

Ia memiringkan kepala, menatap kain merah itu lalu beralih menatap Rengganis dengan tatapan menilai.

"Aku rasa merah akan sangat kontras dengan kulit putihmu. Dan tenang saja, aku sudah pilih ukuran yang paling pas untuk lekuk tubuh Dokter spesialis favoritku ini."

Rengganis, yang air matanya sudah menggantung di sudut pelupuk, seketika mengerjap.

Isak tangis yang hampir pecah itu tertelan kembali ke dalam kerongkongannya.

Rasa haru yang menyayat hati tadi berganti menjadi rasa ingin melempar stetoskop tepat ke wajah tampan suaminya.

"Permadi! Kamu benar-benar...!" Rengganis menyambar kain merah itu dan menyembunyikannya di balik punggung, wajahnya kembali merah padam.

"Kita sedang di rumah sakit! Bagaimana kalau ada perawat yang masuk?"

"Pintunya terkunci, Dokter," sahut Permadi santai sembari kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia meraih sumpitnya lagi, mengambil sepotong sashimi dan mengunyahnya dengan nikmat.

"Nah, sekarang karena sesi baper-bapernya sudah selesai, ayo lanjutkan makan siangmu. Aku butuh istriku sehat dan bertenaga untuk 'praktik' mandiri nanti malam."

Rengganis menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kacau balau.

Ia menatap kain merah di tangannya, lalu menatap suaminya yang sedang makan dengan lahap seolah baru saja memberikan kuliah umum tentang ekonomi makro, bukan memamerkan pakaian dalam di rumah sakit.

"Kamu benar-benar sakit jiwa, Permadi," gumam Rengganis.

"Sakit karena cinta itu obatnya cuma satu, Dokter. Aku hanya butuh kamu," jawab Permadi sambil mengedipkan mata. "

Rengganis menaruh lingerie itu ke dalam laci meja kerjanya dan menguncinya rapat-rapat dimana sebuah rahasia merah di antara tumpukan jurnal medis.

Ia mengambil sumpitnya, menyuapkan makanan ke mulutnya dalam diam.

Sesekali ia melirik Permadi dari sudut matanya. Pria ini adalah teka-teki.

Di satu detik ia bisa menjadi pria dewasa yang bijak dan penuh kasih, namun di detik berikutnya ia berubah menjadi pengganggu paling ulung di muka bumi.

"Kenapa? Aku terlalu tampan ya kalau dilihat dari samping?" tanya Permadi tanpa menoleh, masih asyik dengan makanannya.

"Makan saja sushimu, atau aku akan menyuntikmu dengan vitamin dosis tinggi agar kamu diam," ancam Rengganis sambil tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rengganis merasa ruang praktiknya yang beraroma antiseptik itu terasa sedikit lebih hangat karena suaminya.

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!