apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesaksian palsu
"Mama dan papa pulang aja takut nya terlalu malam,
Thalia sudah aman sekarang," ucap Cavin dengan nada yang rendah sedikit banyak rasa pusing masih terasa kembali meskipun tadi sempat hilang.
berusaha menjaga wibawa di hadapan orang tuanya.
Mama Hera mendengus, menatap putranya tajam. "Jaga istrimu dengan baik Cavin. Jangan berani-berani meninggalkannya lagi. Untung Mama ikut mengantarnya , tadi mama sempat bimbang saat akan memesan kan taksi untuk nya, kalau tidak, entah apa yang terjadi pada Thalia," omelnya, masih menyisakan sisa kecemasan di raut wajahnya.
Semua ini bermula dari Thalia yang merasa asing dan tak bisa memejamkan mata di kediaman mertuanya. Atas izin singkat, ia memutuskan kembali ke apartemen.
Mama Hera yang menyadari keresahan menantunya, memilih untuk mengantar langsung hingga ke gerbang. Thalia sempat menolak, meminta turun di seberang jalan agar tak merepotkan, namun naluri seorang ibu membuat Mama Hera bersikeras menurunkan Thalia tepat di depan gerbang utama.
Keputusan itu adalah anugerah. Saat mobil yang dikendarai Tuan Ru belum jauh melaju, Mama Hera menangkap bayangan dari spion; dua siluet pria asing menghadang langkah Thalia .dan terjadilah aksi perampasan hp milik Thalia ia juga sempat terjatuh.
"Iya, ma Hati-hati di jalan," sahut Cavin singkat, hatinya masih bergemuruh.
"Hmph," Mama Hera hanya berdehem, lalu menoleh pada dua sahabat putranya yang setia menunggu. "Om dan Tante pulang dulu, ya."
"Hati-hati di jalan, Om, Tante," sahut mereka hampir bersamaan.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat menyisakan keheningan, Cavin langsung menoleh pada dua sahabatnya dengan tatapan mengusir. "Kalian juga, pulanglah. Tidak ada ranjang tambahan di sini."
Namun, atensinya teralih sepenuhnya pada sosok mungil yang masih berada dalam pelukannya. Cavin merasakan gerakan halus dari Thalia. "Ada apa?" tanyanya lembut.
"Thalia sesak... Kakak memelukku terlalu erat," bisik Thalia lirih.
"Modus itu, Tha! Jangan percaya," seru Ronald yang sudah telentang sembarangan di sofa ruang tamu.
"Tutup mulutmu dan kunci pintunya saat kalian keluar nanti!" balas Cavin sengit tanpa melepaskan proteksinya pada Thalia.
Cavin membimbing istrinya menuju kamar, memastikan tubuh Thalia terlindung dari pandangan jahil kedua temannya.
"Istirahatlah, ini udah malam" ucapnya dengan suara yang melunak selembut beludru.
"Kalau aku jadi kau, sudah kumangsa !" teriak Ronald lagi, disambut tawa kecil yang tertahan.
"Heran aku, bukannya tadi kau sudah hampir mati karena kantuk? Kenapa sekarang malah segar bugar?" tanya Ronald pada Eric yang berada di sofa sebelah.
"Pikirkan saja sendiri, aku harus terjaga sampai pagi menjaga pintu ini," sahut Eric malas sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.
Keheningan sempat bertahta, hingga suara pintu kamar berderit terbuka kembali. Cavin keluar dengan langkah terburu-buru.
"Cepat sekali? Sudah selesai?" tanya Ronald jahil.
"Kenapa kalian masih di sini?" Cavin terkejut melihat dua onggok manusia itu masih menjajah sofanya.
"Lah, kau sendiri kenapa keluar lagi?" balas Ronald.
"Aku hanya ingin memastikan pintu terkunci. Aku tidak mau kalian lupa dan membiarkan orang asing masuk. Benar-benar mau menginap di sini?"
"Malas pulang, supir pribadiku sudah terbang ke alam mimpi," tunjuk Ronald pada Eric yang sudah mendengkur halus.
"Terserahlah, aku mau menemani Thalia dulu."
"Alasan menemani, padahal memang ingin menikmati," goda Ronald yang hanya dibalas punggung dingin Cavin.
Ceklek. Pintu terbuka kembali. Thalia muncul di ambang pintu dengan wajah bimbang.
"Sudah tidur, tidak usah menoleh ke sini!" seru Cavin cepat sambil membekap wajah Ronald dengan bantal sofa agar tidak melihat istrinya.
"Pelit sekali! Lagipula kau bilang kau sudah tidak minat, kan?" gerutu Ronald dari balik bantal.
"Tidurlah, atau besok kau akan terlambat ke kantor," kilah Cavin, segera menghampiri Thalia dan menuntunnya kembali masuk.
Di dalam kamar yang temaram, Cavin mendadak merasa kerongkongannya kering. Thalia berdiri di hadapannya mengenakan gaun tidur berbahan tipis yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang ringkih namun memikat.
Meski Thalia merasa dirinya "rata", namun di mata Cavin, kesederhanaan itu justru menjadi ujian iman yang paling berat.
"Kakak... tidak marah, kan? Aku menghilangkan uang yang Kakak berikan kemarin," tanya Thalia ragu, jemarinya bertautan gelisah.
Cavin menghela napas panjang, membimbing istrinya duduk di tepian tempat tidur yang empuk. Ia menatap lekat netra istrinya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi di luar sana?"
Thalia hanya menggeleng pelan, tatapannya kosong. "Aku tidak tahu..."
Sabar... Cavin membatin, meredam rasa penasaran yang membuncah dengan rasa .