NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Will you be mine?

Ruang perawatan itu hanya diterangi oleh lampu temaram di atas nakas dan cahaya biru pucat dari layar monitor detak jantung. Bunyi bip yang teratur menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan malam rumah sakit yang mencekam.

Takara terbaring tak berdaya di atas seprai putih yang kaku. Wajahnya yang biasanya penuh determinasi kini tampak sangat rapuh, dengan sisa pucat yang belum hilang sepenuhnya. Ia tertidur pulas, sebuah pelarian yang sangat ia butuhkan dari rasa lelah yang menghimpit jiwanya selama berhari-hari.

Di sampingnya, Arlo tidak beranjak satu inci pun. Pria itu duduk tegak, kacamata bertengger di hidungnya, sementara jemarinya sesekali menari di atas papan ketik laptop. Ia sedang meninjau ulang revisi anggaran proyek yang sempat terbengkalai karena insiden tadi sore. Sesekali, ia berhenti bekerja hanya untuk memastikan dada Takara masih naik-turun dengan teratur, memastikan gadis itu masih bernapas di sisinya.

Larut malam pun tiba. Arlo menghela napas panjang, melepas kacamatanya yang mulai terasa berat, dan meletakkan laptopnya di atas nakas. Ia memutar kursi, sepenuhnya menghadap Takara.

Dalam keremangan itu, Takara terlihat sangat tenang, jauh dari bayang-bayang kegelisahan yang biasa menghantuinya saat terjaga.

Rambutnya yang sedikit berantakan di atas bantal membuat Arlo tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.

Perlahan, tangan Arlo terangkat. Dengan gerakan yang sangat halus, seolah takut akan menghancurkan sesuatu yang berharga, ia mengusap puncak kepala Takara. Jemarinya menyisir helai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang yang selama ini ia pendam rapat-rapat.

"Kenapa kamu harus sesakit ini, Ra?" bisik Arlo sangat lirih.

Terbawa oleh suasana sunyi dan perasaan yang membuncah, Arlo mencondongkan tubuhnya. Jantungnya berdebar hebat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Takara, sekadar ingin merasakan napas gadis itu lebih dekat. Jarak mereka menyempit hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma obat-obatan bercampur dengan wangi sampo Takara memenuhi indra penciumannya.

Tepat saat Arlo ragu apakah ia harus menjauh atau terus maju, kelopak mata Takara bergerak. Perlahan, mata sayu itu terbuka.

Mereka saling berpandangan dalam jarak yang sangat intim. Takara tidak terkejut. Ia tidak menjerit atau mendorong Arlo menjauh. Di matanya yang masih diselimuti kabut kantuk dan sisa obat-obatan, ada kekosongan yang dalam, sebuah ruang hampa yang butuh diisi karena Jake tidak pernah ada di sana.

Takara menatap bibir Arlo, lalu beralih ke matanya yang penuh ketulusan. Entah karena pengaruh lelah, rasa haus akan kasih sayang yang nyata, atau sekadar keinginan untuk berhenti merasa sakit karena Jake, tangan Takara yang bebas dari infus tiba-tiba bergerak.

Ia mencengkeram kerah kemeja Arlo dengan kuat, menarik pria itu mendekat hingga jarak yang tersisa hilang seketika. Bibir mereka bertaut di tengah keheningan ruang UGD yang dingin.

Arlo tersentak, namun ia tidak menolak. Ia membalas ciuman itu dengan penuh keputusasaan, sementara Takara memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah kenyataan yang ia butuhkan, seorang pria yang ada di sini, menyentuhnya, dan tidak perlu bersembunyi dari dunia.

Suasana di ruang perawatan itu mendadak terasa begitu berat sekaligus melegakan. Ciuman yang baru saja terjadi menyisakan desiran halus di udara yang dingin. Takara melepaskan cengkeraman tangannya di kerah kemeja Arlo, namun ia tidak menjauh. Ia menatap mata Arlo yang kini berkilat penuh emosi, campuran antara keterkejutan, harapan, dan perlindungan yang tulus.

"Makasih, Arlo... karena selalu ada," bisik Takara. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh bunyi detak jantungnya sendiri.

Kata-kata itu bukan sekadar ucapan terima kasih. Itu adalah pengakuan bahwa selama ini, di saat dunia Jake terlalu jauh untuk digapai, Arlo-lah yang berpijak di bumi bersamanya. Arlo yang memegang tangannya saat ia hampir jatuh, dan Arlo yang kini menatapnya seolah ia adalah pusat dunianya.

Arlo menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menggenggam tangan Takara yang tidak terpasang infus, meremasnya lembut seolah sedang menyalurkan seluruh keberanian yang ia punya.

"Takara," panggil Arlo dengan nada rendah yang sangat serius. "Aku nggak mau cuma jadi tempat pelarian kamu. Aku nggak mau cuma jadi orang yang kamu panggil saat kamu lelah sama dia."

Arlo mencondongkan tubuhnya kembali, menatap dalam ke bola mata Takara. "Will you be mine? Kasih aku kesempatan buat jagain kamu secara resmi. Bukan sebagai partner kerja, bukan sebagai bayangan Jake. Tapi sebagai pria kamu."

Takara terdiam. Di kepalanya, bayangan Jake tiba-tiba muncul, senyum jailnya di Brisbane, tatapan posesifnya di panggung konser, dan jarak yang pria itu ciptakan demi "melindunginya". Namun, bayangan itu perlahan memudar, tertutup oleh sosok Arlo yang nyata di depannya saat ini.

Ia teringat betapa sakitnya mencintai seseorang yang miliki dunia. Ia teringat betapa lelahnya menangis sendirian di apartemen mewah yang terasa seperti penjara.

"Inilah yang terbaik," batin Takara meyakinkan dirinya sendiri. "Gue butuh seseorang yang beneran ada di samping gue, bukan seseorang yang cuma bisa gue liat lewat layar ponsel."

Takara menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis, meski masih terlihat lelah, muncul di bibirnya.

"Iya, Arlo. Aku mau," jawab Takara mantap.

Takara memejamkan mata erat-erat setelah mengucapkan jawaban itu. Di balik kelopak matanya, potongan memori masa kecilnya bersama Jake di Brisbane berputar seperti film usang, tawa mereka di taman, janji-janji konyol di bawah langit Australia, dan pelukan perpisahan saat Jake memutuskan menjadi trainee.

Namun, Takara segera memaksa memori itu menjauh. Ia merasakan jemari Arlo yang hangat masih menggenggam tangannya dengan erat. Nyata. Hangat. Dan yang paling penting: Ada di sini.

"Maafin gue, Jake," batin Takara dengan getir. "Tapi gue nggak bisa selamanya hidup di masa lalu, sementara masa depan gue sekarang ada di depan mata gue sendiri."

Takara menatap Arlo kembali, kali ini dengan sorot mata yang lebih tegas. Ia bertekad bahwa mulai detik ini, ia harus perlahan melepaskan Jake. Ia harus berhenti mencari nama Jake di kolom pencarian berita, berhenti menunggu pesan singkat yang jarang datang, dan berhenti berharap pada takdir yang tidak pernah berpihak padanya.

Arlo, seolah bisa membaca pergolakan batin Takara, mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Aku bakal bikin kamu nggak nyesel milih aku, Ra. Aku janji."

"Aku percaya sama kamu, Arlo," sahut Takara pelan. "Tolong... bantu aku buat bener-bener lepas dari rasa sakit ini."

Malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang sunyi, sebuah hubungan baru resmi dimulai di atas reruntuhan persahabatan belasan tahun. Takara merasa sedikit lebih ringan, seolah beban berat yang selama ini ia pikul sendirian akhirnya terbagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!