NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Bagai Pelac*r

“Yay, Papa pulang!” teriak Binar riang begitu melihat sosok ayahnya berdiri di ambang pintu sesuatu yang jarang sekali terjadi saat jam makan malam.

Samira yang sedang merapikan meja makan ikut menoleh. Matanya sedikit melebar. Ia jelas terkejut. Biasanya Samudra baru pulang larut malam dengan alasan lembur, rapat, atau pekerjaan yang tak pernah benar-benar ia jelaskan.

“Ayo, Pa! Kita makan malam!” ajak Binar antusias sambil berlari dan menarik tangan ayahnya.

Samira segera mendekat, tersenyum lembut pada putrinya.

“Bibi, Papa mau mandi dulu, sayang. Nanti setelah mandi baru kita makan sama-sama, oke?” ucapnya halus, berusaha menjaga suasana tetap hangat.

Binar mengangguk patuh meski wajahnya sedikit kecewa. “Iya deh… tapi Papa cepet ya!”

Samudra menatap anak itu sekilas. Tatapannya melembut sesuatu yang hanya muncul saat ia memandang Binar. Ia mengusap puncak kepala putrinya singkat.

“Iya,” jawabnya pendek.

Lalu ia berjalan melewati Samira begitu saja.

Tanpa senyum.

Tanpa sapaan.

Tanpa benar-benar melihatnya.

Samira sudah terbiasa.

Ia hanya menunduk pelan, membiarkan pria itu naik ke lantai atas menuju kamar mereka atau lebih tepatnya kamar Samudra. Karena sejak awal pernikahan, ruangan itu tak pernah benar-benar terasa seperti miliknya.

Sunyi kembali memenuhi ruang makan.

“Mama…” panggil Binar pelan.

Samira langsung menoleh. “Iya, Nak?”

“Papa lagi sibuk kerja ya akhir-akhir ini?”

Pertanyaan polos itu membuat dada Samira mengencang. Ia menahan napas sejenak sebelum tersenyum.

“Iya, Papa lagi banyak kerjaan.”

Binar mengangguk kecil, lalu duduk di kursinya sambil memainkan sendok. “Papa capek terus ya…”

Samira menelan sesuatu yang terasa pahit di tenggorokannya.

“Iya,” jawabnya lirih.

Tak lama terdengar suara langkah turun dari tangga. Samudra sudah selesai mandi, mengenakan kaus rumah sederhana dan celana santai. Rambutnya masih sedikit basah. Ia terlihat lebih segar dan entah kenapa, lebih muda.

Binar langsung berdiri.

“Papaaa! Ayo makan!”

Samudra duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Samira segera menyajikan nasi dan lauk ke piringnya seperti biasa. Gerakannya rapi, terbiasa, nyaris otomatis.

Mereka makan dalam keheningan.

Hanya suara sendok dan piring.

Hanya suara Binar yang sesekali bercerita.

“Mama tadi aku gambar pelangi loh di sekolah. Kata Bu Guru bagus.”

Samira tersenyum hangat. “Iya? Nanti Mama lihat ya. Sekarang Bibi lanjutin makannya dulu, ya."

Samudra diam.

Tak berkomentar. Tak menanggapi.

Sampai tiba-tiba...

“Kamu tadi ke mana?”

Suara bariton itu terdengar datar, tapi cukup membuat Samira tersentak kecil. Ia mengangkat wajah. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan padanya.

“Aku, Mas?” tanyanya pelan.

Samudra menatap piringnya. “Iya.”

Samira menelan ludah. “Habis antar Binar sekolah… aku nunggu di kafe dekat sana.”

Hening.

Samudra berhenti makan.

Perlahan ia mengangkat pandangan. Tatapannya lurus ke arah Samira tajam, meneliti, membuat jantung perempuan itu berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.

“Sendirian?”

“Iya.”

Nada suaranya biasa saja. Tapi entah kenapa pertanyaan itu terasa seperti interogasi.

Samira mengangguk kecil.

“Iya. Sendiri.”

Beberapa detik berlalu.

Samudra kembali makan.

Seolah percakapan itu tak pernah terjadi.

Namun Samira tahu sesuatu berubah. Ada sesuatu dalam cara pria itu menatapnya tadi. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan dingin.

Bukan marah.

Melainkan…

Memperhatikan.

Samira juga tahu kenapa Samudra bisa bertanya seperti itu. Bukan karena Samudra peduli tapi karena Samudra tahu dari GPS yang terpasang pada mobil yang dipakai Samira.

•••••

Samudra masuk ke kamar lebih dulu. Ia meregangkan otot-ototnya perlahan, mencoba mengusir penat yang menumpuk sejak pagi. Setelah makan malam tadi, ia memang langsung naik tanpa banyak bicara, meninggalkan Samira dan Binar yang masih mengobrol di ruang tamu seperti biasanya.

Malam semakin larut.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Samira masuk dengan langkah hati-hati. Ia baru saja menemani Binar tidur. Langkah kakinya otomatis berjalan ke arah meja rias. Ia membersihkan wajah, lalu mengoleskan skincare dengan gerakan lembut dan lambat, seolah ia sengaja menunda waktu. Menunda saat ia harus berbaring di ranjang yang sama… namun terasa sejauh dua dunia.

Setelah selesai, ia berjalan menuju tempat tidur.

Di tengah ranjang itu, bantal panjang masih terbaring setia pembatas sunyi yang selama ini menjadi garis tak kasat mata di antara mereka. Pembatas yang menegaskan jarak yang tak pernah benar-benar hilang.

Samira berbaring perlahan di sisinya sendiri.

Tangannya terlipat di atas perut. Napasnya teratur, tapi dadanya terasa sesak. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terlalu riuh untuk diajak beristirahat.

Di sampingnya, Samudra membelakangi dirinya. Punggung pria itu naik turun pelan mengikuti napas yang terdengar tenang seolah hari ini tak pernah menyisakan apa pun di antara mereka. Tak ada ucapan selamat malam. Tak ada percakapan ringan sebelum tidur.

Hanya sunyi.

Sunyi yang menebal di udara.

Beberapa menit berlalu. Samira masih terjaga.

Air matanya jatuh perlahan tanpa suara. Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan isak yang hampir lolos. Ia tak ingin Binar mendengarnya. Ia juga tak ingin Samudra tahu… bahwa setiap malam ia selalu kalah oleh perasaannya sendiri.

Kenapa harus sejauh ini, ya, Mas… bisiknya dalam hati, suaranya bergetar lirih. Kalau sejak awal aku tak pernah kau inginkan… kenapa kau masih menahanku di sini?

Tangannya refleks meremas sprei, seolah mencari pegangan agar hatinya tak runtuh sepenuhnya.

Samira merasa begitu sendirian meski tubuh seseorang berbaring hanya sejengkal darinya.

Malam itu, bukan dinginnya sikap Samudra yang paling menyakitkan.

Melainkan kenyataan… bahwa hatinya benar-benar sudah lelah berharap.

•••••

Tengah malam, Samira terbangun karena sentuhan di lengannya.

“Samira…”

Suara Samudra terdengar serak.

Matanya terbuka perlahan. Ia menoleh, masih setengah sadar. “Ada apa, Mas?” tanyanya lirih, suaranya berat oleh kantuk.

Samudra memejamkan mata sejenak, seolah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia berkata pendek...

“Aku mau kamu.” Suaranya berat menahan hasrat.

Kalimat itu terdengar datar. Nyaris seperti permintaan yang lahir dari kebiasaan, bukan dari perasaan.

Samira terdiam.

Ia paham betul arti kalimat itu. Di rumah ini, kata-kata semacam itu jarang bahkan hampir tak pernah diiringi kelembutan. Tapi tetap saja ia mengangguk pelan.

Bukan karena ingin.

Melainkan karena merasa itu kewajibannya.

Ia adalah istri Samudra. Dan selama status itu masih melekat, ia merasa harus memenuhi apa pun yang diminta meski hatinya sering tertinggal jauh di belakang.

Malam-malam seperti ini selalu sama.

Bantal panjang yang selama ini menjadi pembatas disingkirkan. Jarak yang siang dan malam dijaga rapat… runtuh hanya untuk sementara.

Samira memejamkan mata. Membiarkan semuanya terjadi seperti rutinitas yang tak lagi ia pahami maknanya. Tak ada kata cinta. Tak ada sentuhan yang menenangkan. Hanya keheningan, yang sesekali pecah oleh napas berat… lalu kembali sunyi.

Saat semuanya usai, Samudra berbalik tanpa sepatah kata.

Punggungnya kembali menghadap arah lain seolah apa yang baru saja terjadi tak meninggalkan apa pun.

Tak ada pelukan.

Tak ada ucapan.

Tak ada rasa.

Samira menarik selimut lebih tinggi. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Air mata mengalir pelan di sudut matanya.

Beginikah rasanya jadi pelac*r…? Dipakai kalo ada mau dibuang kalau sudah tak membutuhkan.

Di ranjang yang sama, Samira kembali merasa sendirian.

•••••

Beberapa menit berlalu.

Sunyi.

Di balik punggungnya, Samudra masih terjaga.

Matanya terbuka dalam gelap.

Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Napasnya terdengar berat, tapi bukan karena lelah. Tangannya perlahan mengepal di atas kasur.

Ia tahu.

Ia tahu Samira menangis.

Isak itu pelan. Sangat pelan. Tapi tetap terdengar oleh seseorang yang sebenarnya tak pernah benar-benar tidur.

Samudra menelan ludah.

Ada sesuatu yang menekan dadanya. Sesuatu yang tak ia mengerti bentuknya rasa bersalah, mungkin. Atau sesuatu yang lebih rumit dari itu.

Tangannya sempat bergerak sedikit… seolah ingin menyentuh pundak Samira.

Namun berhenti di udara.

Kaku.

Akhirnya ia menarik tangannya kembali, menggenggam seprai erat.

Ini yang kamu pilih, batinnya dingin pada dirinya sendiri. Jangan mulai merasa kasihan sekarang.

Matanya terpejam.

Namun malam itu, baik Samira maupun Samudra tak ada satu pun yang benar-benar tertidur.

Di ranjang yang sama, dengan jarak yang nyaris tak ada… dua hati itu tetap terpisah sejauh langit dan bumi.

•••••

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!