menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka Puasa Terakhir untuk Bapak
Kang Ali menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya lagi dengan kasar. "Kamu jangan cerita soal ini ke bapak, ya? Takutnya malah nambah pikiran," ucapnya.
Aku mengangguk. "Pasti, Kang. Aku juga gak mau bapak sakit hati."
Kami hening beberapa saat, sampai Aira keluar dari kamar Bapak dan menghampiri kami. Dia bilang bahwa kakeknya mau ke kamar mandi.
Kang Ali langsung masuk, sedangkan aku duduk bersama Aira. Dia bercerita kalau buka puasa hari ini ingin makan ayam krispy dan minum jeruk hangat.
Waktu Magrib sudah tiba. Kami berbuka puasa di kamar Bapak. Saling berbagi dengan keluarga pasien sebelah dan mereka memberiku kurma.
Aku dan Kang Ali bergantian shalat Maghrib di masjid. Ketika waktu Isya sudah tiba, Kang Ali kembali ke masjid untuk shalat, sekalian Tarawih.
Sedangkan aku, menjaga Bapak bersama Aira.
"Bapak mau kurma?" tanyaku sambil memperlihatkan kurma pemberian orang baik tadi.
Bapak mengangguk. "Bapak pengen cepet sembuh. Biar bisa puasa lagi," ucapnya.
"Makan yang banyak. Bapak jangan mikirin yang lain-lain, biar gak stres. Kalau Bapak sehat, baru boleh puasa lagi," ucapku.
"Iya. Bapak bersyukur sekali bisa sampai di Ramadhan kali ini. Bapak pengennya puasa terus. Karena, keutamaan orang berpuasa di bulan suci ini di antaranya, dosanya diampuni dan doanya dikabul," terangnya sambil mengambil satu butir kurma.
"Emang, Kakek punya dosa apa dan apa doa Kakek?" tanya Aira tiba-tiba.
"Eh, Aira …." Aku menatap Aira sambil mengeleng.
Namun, Bapak malah terkekeh setelah tadi beberapa detik sempat terlihat kaget karena pertanyaan Aira. "Dosa kakek banyak. Banyaaak … banget. Aira bantu doain, ya, supaya dosa-dosa kakek itu diampuni oleh Allah. Dan, orang yang sudah kakek sakiti bisa memaafkan kakek," ucap Bapak.
"Iya, Kek. Mulai sekarang, Aira mau bantu doain kakek seperti itu." Aira mengangguk dengan semangat.
"Assalamu'alaikum …." Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung memeluk Bapak.
Kami di ruangan ini menjawab salamnya serentak.
"Putri? Kenapa kamu di sini?" tanya Bapak sambil membalas pelukan cucu keduanya.
Putri adalah anak bungsu A Farid dan Teh Rita. Dia sekarang sudah duduk di bangku kelas delapan dan tinggal di kota Pelajar.
"Kan, mama sama papa …."
"Putri pengen jenguk Bapak," selaku sambil memberi isyarat kepada gadis berkerudung merah muda itu agar tidak melanjutkan kalimatnya. "Jadi, dia sengaja pulang. Iya, kan, Put?"
"I-iya, Kek. Aku langsung pulang waktu denger Kakek sakit," ucap Putri sambil melirikku. "Kakek sakit apa, sih? Masa, jagoan kalah …." Dia terkekeh.
"Kakek kangen kamu," jawab Bapak. Kemudian mereka tertawa.
Wajah Bapak seketika terlihat berseri. Semoga kehadiran Putri bisa menjadi obat mujarab untuknya.
Putri memang berbeda dari mama papanya. Juga dari Adam, kakaknya.
Putri adalah gadis yang lembut dan baik hati. Dia terlihat begitu sayang kepada Bapak. Dan dia pun akrab denganku dan Aira.
"Aira, kakak ada hadiah buat kamu," ucapnya.
"Hadiah apa, Kak?" tanya Aira sambil menatap kakak sepupunya itu dengan penasaran.
"Nih, coba buka." Putri memberikan sebuah kotak berbungkus kertas motif boneka Teddy Bear.
Aira langsung membuka dan kemudian berseru bahagia. "Bagus banget, Kak kotak pensilnya. Aku suka. Makasih, ya, Kak Putri …." Aira memeluk Putri.
"Sama-sama. Belajar yang rajin, ya?" Putri mengusap kepala Aira lembut.
"Buat kakek, mana hadiahnya?" tanya Bapak tiba-tiba.
Putri melepas pelukan Aira lalu melirik kakeknya. "Ini buat kakek," ucapnya kemudian memeluk Bapak erat.
Aku tersenyum bahagia melihat adegan manis di depan mata ini. Terutama, aku bersyukur sekali karena Bapak terlihat lebih ceria dan sehat.
Ya, andai sikap A Farid dan Teh Nana kepada Bapak sehangat Putri, pasti hidup Bapak akan sangat bahagia di usia senjanya.
Putri pamit keluar, katanya mau membeli minuman. Aku pun mengikutinya.
"Putri, makasih kamu udah jenguk kakek, ya? Sepertinya, kakek bakal bisa pulang lebih cepat berkat kamu," ucapku.
"Sama-sama, Tan. Lagian, kakek itu kakek aku juga. Dan aku seneng bisa melihatnya."
"Tadi, tante lihat kakek bahagia banget bisa ketemu kamu. Gak kaya kemarin-kemarin."
"Gak ada yang kasih tahu aku kalau kakek sakit. Kalau aku tahu dari kemarin, aku pasti udah maksain pulang," terangnya dengan wajah sedih.
"Gak apa-apa. 'Kan, sekarang kamu sudah ada di sini." Kuusap pundaknya lembut.
Dia mengangguk. "Untung tadi Tante ingetin aku. Hampir aku bilang soal pesta mama sama papa."
Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian tersenyum meski pasti terlihat hambar.
"Mama sama papa masih kaya biasanya, ya, Tan?"
Aku mengangguk lemas.
Ya, anaknya sendiri pun bisa melihat. Kalau sikap A Farid dan Teh Rita kepada Bapak memang tidak pantas dilakukan.
"Entahlah … aku juga udah gak tahu harus bagaimana biar mereka gak perlakuin kakek semena-mena."
"Yang penting kamu enggak."
"Tante ingetin aku aja kalau sampai aku kaya mereka." Putri tersenyum. "Eh, Tante sama Oom Ali, kenapa gak hadir tadi di rumah?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng pelan.
Lagi-lagi, gadis 16 tahun itu menghela napas. "Maafin mama papa aku, ya, Tan?"
"Gak apa-apa. Lagian, siapa yang nemenin kakek kalau tante sama oom ke sana juga."
Putri tersenyum dan aku melihat itu seperti dipaksakan.
Hampir pukul sepuluh malam, aku, Aira, dan Putri pamit pulang. Karena Bapak pun sudah tertidur dengan pulas.
Kang Ali mengantar kami ke depan rumah sakit.
"Oom, besok kalau mau masuk kerja, masuk aja. Biar kakek aku yang jaga," ucap Putri.
Kami sedang menunggu taksi online yang belum tiba.
"Emang, kamu pulang kapan?" tanya Kang Ali.
"Lusa," jawab Putri.
"Tapi, gak apa-apa kamu jaga kakek seharian?"
"Ya enggak, dong. Emang kenapa?"
"Ya udah kalau gitu."
**
Keesokan harinya.
Aku sedang membuat kue untuk dijual sore ini. Meski lapak masih ditunggu orang lain, tetapi aku memutuskan tetap membuat kue yang biasa kujual. Bagaimanapun, kami butuh biaya tambahan untuk bolak-bolak balik ke rumah sakit.
Aku melirik ponsel yang berdering. Setelah melihat siapa yang memanggil, aku mengerutkan dahi. Tidak biasanya Teh Rita meneleponku.
"Nayla! Kenapa kamu suruh Putri buat jagain bapak di rumah sakit? Dia pulang ke sini buat temenin mamanya. Saya juga kangen sama dia!" bentaknya.
"Lho, Teh. Gak ada yang nyuruh. Putrinya sendiri yang mau."
"Jangan banyak alasan kamu! Sekarang, suruh Putri pulang!"
"Iya, Teh. Tapi tunggu Aira pulang sekolah. Baru aku ke rumah sakit."
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar nada sambungan telepon yang terputus.
Aku melirik jam dinding. Setengah jam lagi Aira pulang. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaan. Meski aku tidak jadi membuat semua kuenya.
Setelah Aira pulang, aku mampir ke rumah Bu Mira, orang yang kutitipi lapak kue. Kemudian bergegas ke rumah sakit.
Sampai di sana hampir pukul satu siang dan ternyata Teh Rita sudah ada. Dia sedang membujuk Putri untuk pulang di depan pintu ruangan Bapak.
Aku berdiri di belakang mereka.
"Kata mama pulang, kamu harus pulang. Mama juga kangen sama kamu, Sayang …," ucapnya lembut.
"Mama 'kan sering ngunjungin aku. Kalau sama kakek, aku ketemu kalau pulang aja," jawab Putri.
"Di sini banyak virus. Nanti kamu sakit."
"Lagian, kenapa kakek gak ditempatin di ruangan VVIP?"
"Dia maunya di sini …."
"Pokoknya, hari ini aku mau jagain kakek sampai sore."
"Kamu denger, ya! Buat apa jagain kakek. Dia juga dulu waktu papa kamu masih kecil, terus sakit, gak pernah jagain papamu. Jadi, biar dia tahu sekarang gimana rasanya gak dipeduliin," ucap Teh Rita.
Aku mengerutkan dahi mendengar ucapannya itu. Apa maksudnya?