NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Rahasia

Seminggu telah berlalu sejak Bima keluar dari rumah sakit. Kondisinya berangsur pulih, meski lingkaran hitam di bawah matanya masih tampak samar. Ia sudah mulai kuliah lagi, dengan beban pikiran yang jauh lebih berat—beasiswa hilang, SPP harus dibayar sendiri, utang rumah sakit yang mencapai belasan juta, dan motor tua yang terus bermasalah.

Tapi Bima berusaha tegar. Ia tidak ingin Kay melihatnya lemah.

Hari itu, Selasa siang, Bima baru selesai kelas pemrograman lanjut. Ia berjalan menuju perpustakaan, berniat mengerjakan tugas sambil menunggu orderan ojek masuk. Ponselnya bergetar—bukan orderan, tapi panggilan dari nomor tidak dikenal.

"Halo, dengan Bima Wijaya?"

Suara wanita di seberang terdengar anggun, tegas, dan dingin.

"Iya, benar. Ini siapa?"

"Saya Lydia Ardhanareswari, ibu Kay."

Bima tertegun. Ia berdiri diam di tengah koridor kampus, mahasiswa lain berlalu lalang di sekitarnya.

"I-Ibu Lydia? Ada perlu apa?" tanyanya hati-hati.

"Saya ingin bertemu. Ada hal penting yang perlu didiskusikan. Kamu bisa hari ini jam 4 sore di Restoran Amantis, Jalan Kaliurang?"

Bima mengerutkan kening. Restoran Amantis terkenal sebagai tempat mahal—bukan tempat yang biasa ia datangi. Apalagi untuk pertemuan dengan ibu Kay, yang jelas-jelas tidak menyetujui hubungan mereka.

"Bisa... boleh tahu tentang apa, Bu?"

"Nanti saja di sana. Yang jelas, ini untuk kebaikan kamu dan Kay. Dan satu lagi," nada Lydia berubah lebih tajam, "Kamu jangan bilang Kay. Ini urusan orang dewasa."

Bima diam sejenak. Ia curiga ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia juga tidak bisa menolak—ini ibu Kay, dan mungkin ini kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman.

"Baik, Bu. Jam 4 saya datang."

 

Bima tiba di Restoran Amantis pukul 4 kurang sepuluh. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak biru—satu-satunya kemeja yang masih layak—dan celana bahan hitam yang sudah mulai kusam. Sepatu pantofelnya ia semir seadanya, berusaha tampil rapi meski terbatas.

Restoran itu mewah. Lampu kristal bergantung di langit-langit, meja-meja dilapisi taplak putih bersih, dan pelayan berseragam rapi berjalan dengan senyum profesional. Bima merasa tidak pada tempatnya.

"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?" sapa seorang pelayan.

"Saya... mau bertemu Ibu Lydia. Atas nama Bima."

Pelayan itu mengangguk. "Silakan ikut saya, Tuan."

Bima diantar ke meja pojok dekat jendela, dengan pemandangan taman. Lydia sudah duduk di sana, anggun dalam setelan blus sutra krem dan blazer hitam. Rambutnya disanggul rapi, perhiasan mutiara di leher dan telinga. Ia tersenyum tipis saat melihat Bima—senyum sopan yang tidak pernah sampai ke mata.

"Silakan duduk, Bima."

Bima duduk di hadapannya, meletakkan ransel lusuh di samping kursi. Seorang pelayan datang, meninggalkan menu.

"Pesan dulu," kata Lydia. "Ini traktiran saya."

Bima membuka menu. Angka-angka di sana membuatnya hampir tersedak—segelas jus termahal dari seharinya narik ojek. Ia memilih yang termurah, es teh.

"Es teh saja, Bu."

Lydia memesan salad dan air mineral. Setelah pelayan pergi, suasana hening beberapa saat. Bima menunggu, Lydia mengamatinya dengan pandangan menyelidik.

"Kamu tahu kenapa saya mengundangmu?" tanya Lydia akhirnya.

"Belum, Bu."

Lydia menghela napas, mengambil sesuatu dari tasnya—berkas-berkas yang dicetak. Ia meletakkannya di meja.

"Ini laporan rumah sakit Kay. Bayaran rawat inap kamu. 15,7 juta." Lydia menatapnya tajam. "Kamu tahu Kay membayarnya?"

Bima menunduk. "Saya tahu, Bu."

"Kamu tahu dia membayar perbaikan motormu juga?"

Bima mengangkat kepala, terkejut. "Itu... katanya promo gratis."

Lydia tersenyum sinis. "Promo gratis untuk service mesin jebol? Bima, kamu anak teknik, masa percaya?"

Bima membeku. Motor itu ternyata Kay yang membayar. Lagi.

"Dan ini," Lydia mengeluarkan kertas lain. "Laporan akademik kamu. IPK 2.7. Beasiswa dicabut. Kamu hampir drop out."

Bima merasakan dadanya diremas. Semua aibnya terbuka di hadapan ibu Kay.

"Saya tahu semuanya, Bima. Saya tahu kamu sakit, kamu kelelahan, kamu berutang. Dan saya tahu Kay diam-diam menguras tabungannya untuk menolongmu."

"Bu, saya—"

"Biarkan saya selesai." Lydia memotong dingin.

"Saya tidak bermaksud merendahkanmu. Tapi lihat kenyataan. Kamu kuliah saja kesulitan. Kamu harus kerja ojek untuk bertahan. Kamu sakit sampai dirawat. Dan di tengah semua itu, Kay—anak saya—harus turun tangan membantu."

Bima diam. Kata-kata Lydia menusuk tepat di titik terlemahnya.

"Saya tidak bilang kamu jahat. Kamu anak baik, pekerja keras, pintar. Tapi Bima, kamu tidak cocok untuk Kay."

Bima mengangkat kepala. "Bu, saya sayang Kay."

Lydia tersenyum—bukan senyum mengejek, tapi senyum iba. "Saya tahu. Tapi sayang saja tidak cukup. Hidup ini butuh lebih dari sekadar sayang. Butuh stabilitas, butuh masa depan, butuh kemampuan untuk mandiri."

"Saya bisa—"

"Bisa apa?" Lydia memotong. "Bisa lulus? Mungkin. Tapi setelah lulus? Kamu akan cari kerja, mungkin butuh tahunan untuk stabil. Sementara Kay? Dia sudah punya masa depan cerah. Perusahaan keluarga menunggunya. Koneksi, relasi, semua sudah siap. Dan kamu—" Lydia menatapnya tajam, "—kamu akan menjadi beban."

Kata "beban" seperti palu godam di dada Bima.

"Lihat dirimu sekarang, Bima. Kuliahmu terganggu, kesehatanmu hancur, keuanganmu berantakan. Dan Kay? Dia harus mengeluarkan uang belasan juta untukmu, menangis karena cemas, bolos kuliah demi menjagamu. Kamu pikir itu baik untuknya?"

Bima tidak bisa menjawab. Semua yang dikatakan Lydia adalah fakta.

"Saya ibu. Tentu saya ingin anak saya bahagia. Tapi kebahagiaan tidak bisa dibangun di atas penderitaan. Dan hubungan kalian—maaf saya katakan—hanya membuat Kay menderita."

"Bu, saya akan bangkit. Saya janji—"

"Janji?" Lydia tersenyum pahit. "Bima, kamu sudah berjanji berkali-kali. Tapi lihat hasilnya. Bukan karena kamu tidak berusaha, tapi karena kondisimu memang sulit. Dan selama kamu di bawah, Kay akan terus menarikmu ke atas. Itu menguras fisik, mental, dan finansialnya."

Lydia mengambil napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut—tapi justru itu yang lebih menyakitkan.

"Saya tidak benci kamu, Bima. Saya bahkan kagum dengan perjuanganmu. Tapi sebagai ibu, saya harus melindungi anak saya. Dan cara terbaik melindungi Kay adalah dengan memintamu pergi."

Bima membeku. "Maksud Ibu?"

Lydia menatap matanya langsung. "Tinggalkan Kay. Putuskan hubungan kalian."

Bima merasa dunianya runtuh. "Bu—"

"Dengar dulu." Lydia mengangkat tangan.

"Bukan karena saya jahat. Tapi karena ini terbaik untuk kalian berdua. Kamu bisa fokus kuliah, fokus bangkit tanpa harus merasa bersalah merepotkan Kay. Dan Kay bisa melanjutkan hidupnya tanpa harus terus mengkhawatirkanmu."

"Tapi kami sayang—"

"Sayang tidak cukup, Bima. Saya sudah bilang." Lydia menghela napas.

"Saya tahu ini berat. Tapi coba pikir. Selama ini, apa yang sudah kamu berikan untuk Kay selain rasa cemas dan masalah?"

Bima membuka mulut, ingin membela diri. Tapi tidak ada kata yang keluar. Karena Lydia benar.

"Apa kamu punya waktu untuk quality time? Tidak, kamu sibuk kuliah dan narik. Apa kamu punya uang untuk traktir dia? Tidak, kamu bahkan kesulitan bayar kos. Apa kamu bisa memberinya masa depan yang pasti? Belum, karena kamu sendiri masih berjuang. Jadi, apa yang bisa kamu berikan?"

Bima menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja.

Lydia melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Saya tidak menyalahkanmu. Ini bukan salahmu. Tapi ini kenyataan. Cinta tanpa kesiapan hanya akan melukai kedua belah pihak. Dan sekarang, Kay sudah terluka. Lihat matanya yang sembab, lihat dia yang bolos kuliah, lihat tabungannya yang terkuras. Itu semua karena kamu."

Air mata Bima jatuh. Ia tidak bisa menahannya.

"Saya... saya tidak bermaksud menyusahkan Kay," bisiknya.

"Saya tahu. Tapi tetap saja terjadi." Lydia mendorong selembar tisu ke hadapannya.

"Kamu anak baik, Bima. Karena itu saya bicara langsung, bukan lewat Kay. Saya ingin kamu memutuskan sendiri, sebagai laki-laki."

Bima mengusap air matanya. "Apa yang harus saya lakukan?"

"Tinggalkan Kay. Bukan karena kamu jahat, tapi karena kamu sayang. Kalo kamu benar sayang Kay, kamu tidak akan membiarkannya terus begini. Kamu akan melepaskannya, biar dia bisa hidup tenang."

"Tapi dia akan sakit hati."

"Sakit hati sementara, lebih baik daripada sakit hati seumur hidup." Lydia menatapnya.

"Kay muda, cantik, kaya. Dia akan menemukan yang lain. Laki-laki yang setara, yang bisa memberinya kebahagiaan tanpa beban. Kamu juga, setelah lulus dan mapan, kamu bisa cari yang selevel. Ini yang terbaik."

Bima diam lama. Pikirannya kacau. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ia bisa berubah. Tapi lidahnya kelu.

"Saya tidak akan memaksamu," kata Lydia.

"Saya hanya minta kamu pertimbangkan. Demi Kay. Demi masa depannya. Dan demi dirimu sendiri."

Lydia berdiri, merapikan blazernya. Ia mengeluarkan amplop dari tas, meletakkannya di meja.

"Ini untuk biaya rumah sakit dan motor. Anggap saja hadiah perpisahan. Kamu nggak perlu bilang Kay."

Bima menatap amplop itu, lalu menggeleng. "Tidak, Bu. Saya tidak bisa terima."

"Bima—"

"Saya sudah menyusahkan Kay. Saya tidak mau menyusahkan Ibu juga." Ia mendorong amplop itu kembali. "Biaya rumah sakit akan saya bayar sendiri. Mungkin lama, tapi saya bayar."

Lydia menatapnya dengan pandangan baru—sedikit kagum, tapi juga iba. "Kamu anak baik. Sungguh."

Ia mengambil amplop itu, kembali ke tas. "Tapi ingat pesan saya. Pikirkan baik-baik. Untuk kebaikan Kay."

Lydia pergi, meninggalkan Bima sendirian di meja mewah itu. Es tehnya datang, tapi ia tidak menyentuhnya. Ia hanya duduk, memandang kosong ke taman di luar.

 

Bima pulang naik bus malam itu. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada kata-kata Lydia. Semua yang dikatakan ibu Kay itu benar. Ia memang tidak bisa memberi apa-apa pada Kay selain masalah. IPK hancur, beasiswa hilang, utang menumpuk, sakit-sakitan. Kay harus mengeluarkan uang, waktu, dan air mata untuknya.

Sesampainya di kos, ia duduk di dipan, menatap dinding penuh sketsa Kay. Senyum Kay di mana-mana. Tapi di balik senyum itu, ia tahu ada cemas, ada lelah, ada tangis.

Ponselnya bergetar. Kay: "Bim, udah pulang? Makannya apa? Jangan lupa vitamin!"

Bima menatap pesan itu lama. Tangannya gemetar membalas.

"Udah. Makasih."

Kay: "Bentaran aja. Lo kenapa? Kok singkat?"

Bima: "Capek. Mau tidur."

Kay: "Oke. Istirahat. Jangan lupa doa. Love you 💕"

Love you. Dua kata yang dulu susah sekali diucapkan Bima, kini sering keluar dari Kay. Dan Bima merasa tidak pantas menerimanya.

Ia membuka buku sketsa, mencari halaman kosong. Dengan pensil di tangan, ia mulai menggambar—bukan Kay, tapi dirinya sendiri. Sendiri, di tengah gelap. Di bawahnya, ia menulis:

"Mungkin dia benar. Mungkin aku memang tidak pantas. Tapi bagaimana cara melepaskan seseorang yang sudah menjadi alasan aku bertahan?"

Air mata jatuh di atas kertas, membasahi sketsa.

 

Keesokan harinya, Bima bangun dengan tekad bulat. Ia akan menyelesaikan kuliah, bayar utang, dan menjadi seseorang yang layak. Tapi untuk itu, ia harus fokus. Dan fokus berarti... menjauh dari Kay.

Bukan putus. Bukan meninggalkan. Tapi menjauh, sementara.

Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Kay. Atau apakah Kay akan mengerti.

Yang ia tahu, ini akan jadi keputusan terberat dalam hidupnya.

 

Di rumah Kay, Lydia duduk di ruang kerjanya, menatap layar monitor. Ponselnya bergetar, pesan dari Bima:

"Bu, saya akan pertimbangkan. Tapi saya tidak bisa putus begitu saja. Kay berhak tahu."

Lydia membalas: "Kamu mau bilang? Bilang apa? Bahwa ibunya memintamu pergi? Itu hanya akan membuat Kay marah padaku."

Bima: "Saya tidak akan bilang Ibu yang minta. Saya akan bilang... ini keputusan saya."

Lydia menghela napas. Anak muda ini, meski terpuruk, tetap berusaha jujur. Ada kebaikan di hatinya.

Lydia: "Terserah kamu. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, pikirkan yang terbaik untuk Kay."

Bima: "Iya, Bu."

Lydia meletakkan ponsel, menatap foto Kay di meja. "Maaf, Nak. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu."

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!