Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Tengah malam itu, Brian tidak bisa memejamkan mata. Ia terus memikirkan kejadian barusan antara dirinya dan Amayah. Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti, membuat dadanya terasa sesak. Karena bosan dan tak kunjung mengantuk, ia pun memutuskan pergi ke ruang tamu untuk mencari camilan.
Namun begitu tiba di sana, Brian justru dibuat bingung. Lampu ruang tamu masih menyala, padahal ia yakin telah mematikannya sebelumnya.
Saat ia mendekat, barulah ia menyadari alasannya.
Emilia duduk di sofa sambil membaca selembar kertas. Di atas meja, terdapat banyak tumpukan kertas lain yang tampak berantakan, seolah sudah lama disentuh tanpa jeda.
Menyadari keberadaan Brian, Emilia menoleh. "Kamu belum tidur, ya?" tanyanya lembut.
"Ya…" jawab Brian singkat dan datar.
Emilia tersenyum santai. "Duduklah. Biar Tante buatkan kamu teh hangat," katanya dengan nada penuh perhatian.
Brian menuruti dan duduk di sofa. Pandangannya lalu tertuju pada tumpukan kertas di atas meja.
"Tumpukan kertas apa ini?" tanyanya datar.
"Beberapa naskah karakter film yang akan Tante perankan," jawab Emilia santai.
"Begitu ya. Tante pasti sangat sibuk sampai tidak sempat beristirahat," ucap Brian.
"Ya," Emilia tersenyum kecil. "Kalau kamu sendiri, kenapa tidak bisa tidur?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, Brian terdiam. Ia berpikir sejenak, mencari jawaban yang tepat. Namun sebelum ia sempat berbicara, Emilia kembali bertanya.
"Apakah karena Amayah?" tanyanya santai, seolah tidak menyadari beban yang ada di benak Brian.
"Ya… begitu," jawab Brian pelan. Ekspresinya tetap datar, namun kesedihan samar terlihat jelas.
Melihat itu, Emilia tersenyum tipis. "Ini jelas salahmu, loh, Brian," ucapnya santai.
"Eh?"
"Amayah cerita padaku kalau kalian sedang bertengkar," lanjut Emilia. "Ia sebenarnya ingin meminta maaf karena merasa hal sesepele itu tidak perlu diperpanjang."
"Dia bahkan memasak banyak hidangan istimewa sebagai permintaan maaf, dan rela menunggumu pulang," kata Emilia lagi.
"Tapi kamu malah bilang sudah makan malam. Tentu saja ia merasa sakit hati," tambahnya sambil meletakkan segelas susu hangat di atas meja.
Mendengar penjelasan itu, Brian terdiam. Dadanya terasa berat.
"Aku… tidak tahu soal itu…" gumamnya lirih.
Emilia menatapnya dengan ekspresi heran namun tetap lembut. "Komunikasi itu penting. Seharusnya kamu memberi tahu Amayah kalau kamu ada urusan," ucapnya.
"Ponselku kehabisan daya. Aku tidak menerima panggilan darinya, dan urusannya datang mendadak," balas Brian datar. Meski begitu, rasa bersalah tetap menggelayut di hatinya.
"Apa pun alasannya, itu tetap risiko yang kamu ambil. Jadi kamu juga harus siap menerima akibatnya," ujar Emilia santai sambil duduk di hadapan Brian.
Brian kembali terdiam. Emilia pun melanjutkan pekerjaannya, membiarkan suasana menjadi sunyi. Hanya suara kertas yang sesekali terdengar. Di sisi lain, pikiran Brian semakin dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Apa yang harus aku lakukan, Tante?" tanya Brian lirih dengan ekspresi murung.
Emilia tersenyum hangat dan menjawab, "Minta maaf saja. Tapi setiap orang punya respons yang berbeda. Sisanya, cari tahu sendiri."
Brian mengangguk pelan. "Ah ya…" ucapnya sambil perlahan meminum susu hangat yang diberikan Emilia.
Malam itu, Brian akhirnya kembali ke kamarnya. Ia tidur dengan perasaan gelisah, meski berusaha menenangkan diri.
---
Keesokan paginya, hujan tiba-tiba mengguyur kota New York. Brian terbangun ketika seseorang membangunkannya, namun yang ia lihat justru Emilia. Hal itu membuatnya sedikit bingung.
"Bukan Amayah ya...?" gumamnya dalam hati.
"Bangun, Brian. Sudah waktunya sarapan," ujar Emilia sambil tersenyum santai, lalu membuka jendela kamar Brian. "Tumben sekali hujan," tambahnya.
Brian menatap langit yang tampak mendung, tetesan hujan membasahi kota di kejauhan. "Benar juga..." katanya datar.
Saat melewati dapur, Brian tidak melihat keberadaan Amayah. Hal itu semakin mengganggu pikirannya.
"Sepertinya dia benar-benar marah besar..." pikirnya.
Brian menyantap sarapan dengan perasaan tidak enak. Dadanya terasa sesak, nafsu makannya pun berkurang. Emilia hanya tersenyum melihatnya. Ia tidak ingin terlalu ikut campur, membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Tante akan mengantarkanmu ke sekolah hari ini," ujar Emilia santai.
"Ya..." jawab Brian singkat.
Setelah sarapan, Emilia mengantar Brian ke sekolah menggunakan mobil pribadi milik Brian. Kehadiran mobil itu langsung menarik perhatian banyak murid di sekitar gerbang sekolah. Terdengar bisik-bisik kagum karena mobil tersebut merupakan keluaran terbaru. Namun setelah Brian turun, kerumunan itu langsung bubar, seolah kecewa karena mengira sosok yang keluar dari mobil adalah seorang wanita cantik yang terkenal.
"Terima kasih, Tante," ujar Brian sambil membuka payungnya.
"Sama-sama. Semangat sekolahnya!" ucap Emilia lembut, lalu perlahan meninggalkan Brian.
Brian sempat tersenyum melihat tingkah tantenya. Namun senyuman itu segera memudar setelah mobil tersebut pergi. Pikirannya kembali dipenuhi oleh satu nama.
"Cara sederhana tidak mungkin membuatnya memaafkanku..." batinnya murung.
Sesampainya di kelas, Brian langsung menyadari sesuatu yang janggal. Kursi Amayah kosong. Padahal biasanya, Amayah selalu hadir, bahkan ketika sedang sakit sekalipun. Pandangannya tertuju lama pada kursi itu, terasa ada sesuatu yang hilang.
"Selamat pagi, Brian," sapa Lena dari belakang dengan suara ceria.
Saat Brian hendak menoleh, Lena justru sudah berada di hadapannya. "Kamu tidak kehujanan kan?" tanyanya penasaran, senyumnya begitu manis.
"Ah, ya... aku diantarkan dengan mobil," jawab Brian datar. Namun tatapannya membuat Lena sedikit bingung.
"Begitu ya."
"Ya..." balas Brian meski pandangannya kembali tertuju pada kursi Amayah yang kosong.
Ketika Brian duduk di bangkunya, John yang duduk di depan menoleh. "Amayah tidak hadir? Apa yang terjadi?"
"Iya juga. Baru kali ini aku melihat Amayah tidak ada di kelas," tambah Lena dengan raut bingung.
"Kurasa... dia sedang marah," jawab Brian datar.
"Dia marah dari kemarin? Memangnya ada apa?" tanya Lena penasaran.
"Itu bukan hal yang terlalu serius, jadi tidak perlu ikut campur," ucap Brian, berusaha menghindari pembicaraan lebih jauh.
Mendengar itu, John berkata santai, "Kalau ada masalah, ceritakan saja pada teman-temanmu. Kami ada di sini untuk membantu."
Ucapan itu membuat Brian sedikit tenang, meski kegelisahan masih menyelimuti hatinya. Lena dan John tidak bertanya lebih jauh, menghormati batasan Brian dan Amayah.
Sepanjang jam pelajaran, Brian yang biasanya tertidur justru hanya melamun. Hal itu membuat Lena dan John semakin bingung, seolah ada sesuatu yang tidak beres di antara Brian dan Amayah.
Di tengah pelajaran, Brian meminta izin ke toilet. Ia membasuh wajahnya, mencoba menenangkan diri. Namun tiba-tiba, terdengar langkah sepatu mendekat.
Saat menoleh, William sudah berdiri di sampingnya, tersenyum seperti biasa, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
"Ada apa? Jangan mengangguku," ujar Brian datar dengan ekspresi sinis.
"Sopan sekali ya, padahal aku hanya menghampirimu," balas William dengan senyum ramah, meski jelas tersimpan ketidaksenangan di hatinya.
"Kalau kau menghampiriku, pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Dan itu pasti hanya akan merepotkanku. Lagipula setelah kejadian kemarin, aku sudah tidak percaya padamu."
"Kau ini ya..." balas William sambil tersenyum heran.
Brian menghela napas. "Jadi, apa yang kau inginkan?"
William tersenyum tipis, lalu berkata santai, "Mari kita bicarakan ini di ruang BK."
Brian menghela napas panjang setelah mendengarnya.
"Perasaanku tidak enak," batinnya.
---
Setibanya di dalam ruangan BK, William langsung duduk santai di kursinya. Ia memutar kursi tersebut menghadap ke arah jendela, membelakangi Brian seolah sengaja. Brian hanya bisa duduk di kursi seberangnya dengan tatapan curiga.
"Jadi, jelaskan mengapa kau dan Amayah bisa bertengkar," ucap William datar.
"Mengapa tiba-tiba? Kau tidak perlu ikut campur juga, kan?" tanya Brian dengan nada yang sama datarnya.
"Hei, aku ini guru BK—bimbingan konseling. Kalian bisa curhat padaku jika ada masalah, dan tugasku memberikan solusi," jawab William santai. "Jadi, ada masalah apa?"
Brian menghela napas panjang. Ia pun mulai menceritakan semuanya, dari kejadian serangga hingga makan malam. Mendengar seluruh cerita itu, William justru tertawa.
"Hahaha, hanya gara-gara serangga bisa berantem!" ujar William. Namun, tawanya terdengar agak dipaksakan.
"Jadi kau hanya ingin mengejekku? Mana saran dan solusinya?" tanya Brian kesal.
"Tenang, tenang…" jawab William santai.
Suasana mendadak hening. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian, William kembali membuka pembicaraan.
"Apa pendapatmu tentang Amayah?" tanyanya tiba-tiba.
"Mengapa menanyakan hal itu?"
"Jawab saja."
Brian terdiam. Ia bersandar di kursinya dan menatap langit-langit. "Dia… wanita yang luar biasa. Meskipun sering marah padaku, dia selalu bersikap baik. Bahkan terkadang memperhatikan hal-hal kecil yang tidak aku sadari," ucap Brian datar.
"Dia tegas dan terlihat dingin, tapi aku selalu melihat celah pada dirinya yang menunjukkan perhatiannya," tambahnya.
"Apa itu saja?" tanya William lagi.
"Tidak. Dia wanita yang kompleks, sulit dimengerti isi pikirannya. Tapi karena kami sudah berteman lama, aku jadi terbiasa dengannya," jawab Brian.
"Lantas, bagaimana perasaanmu terhadapnya selama ini?" tanya William lagi. Kali ini ia memutar kursinya dan berhadapan langsung dengan Brian, tatapannya serius.
"Aku senang dengan kehadirannya. Dia selalu rela menemaniku meskipun aku sering menyusahkannya," jawab Brian.
Ia melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Dan tanpa kehadirannya sekarang, entah kenapa hatiku terasa gelisah…"
William mengangguk pelan dua kali. "Apa kau tahu soal cinta?" tanyanya.
"Cinta… aku berusaha mencari tahu soal itu belakangan ini," jawab Brian.
"Lalu apa pendapatmu tentangnya?"
"Sesuatu yang sulit aku mengerti dan rasakan. Mungkin butuh waktu untuk memahaminya. Aku pun tidak tahu cara membalasnya," kata Brian.
"Kalau begitu, apa kau bisa menjelaskan cinta menurut pendapatmu, William?" tanya Brian.
William tersenyum. "Aku mungkin belum punya pasangan sampai sekarang, tapi aku bisa menjelaskannya secara sederhana."
"Jomblo," ejek Brian dengan senyum sinis.
"Itu penghinaan terbesar," balas William datar.
William kembali tersenyum. Ia memejamkan mata sejenak sebelum berkata, "Cinta adalah proses paradoks antara rasio dan emosi. Seseorang menemukan dirinya melalui orang lain, sekaligus kehilangan sebagian kendali atas dirinya sendiri."
"Kehilangan sebagian kendali?" tanya Brian bingung.
"Ya. Saat seseorang mencintai, emosi, keputusan, dan kebahagiaannya tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri, tetapi ikut dipengaruhi oleh orang yang ia cintai," jawab William santai.
"Contohnya, suasana hatimu bisa berubah hanya karena sikap atau kata-kata orang itu," lanjutnya. "Atau kau mulai mempertimbangkan perasaannya sebelum mengambil keputusan pribadi."
"Hal-hal yang dulu netral kini memiliki makna emosional karena terkait dengannya. Itulah rasa kebersamaan," ujar William.
"Jadi, mencintai itu seperti tarik-menarik?" tanya Brian.
William tersenyum. "Tepat sekali. Antara ingin menggenggam dan harus merelakan, antara ingin yakin dan sadar bahwa kehilangan itu mungkin terjadi."
Perkataan William membuat Brian terdiam. Ia mulai memahami makna cinta.
"Lalu, apa tanda-tanda seseorang mencintai?" tanya Brian.
"Biasanya terlihat dari pola perilaku yang konsisten, bukan dari kata-kata manis sesaat. Ada yang mencintai dengan terang-terangan, ada juga yang memilih diam," jawab William.
"Dia menghargai batasanmu, dan tetap berusaha hadir serta bertahan di saat sulit," lanjutnya. "Jika kau bingung dengan perasaanmu, tanyakan pada dirimu sendiri—apa yang kau rasakan saat dia tiba-tiba menghilang."
Brian memahami maksudnya. Namun ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
"Jadi… aku mencintainya...?" batin Brian.
Setelah berbicara panjang lebar, William menghela napas. Ia mengambil sebatang rokok dari saku celananya, lalu menyalakannya dengan santai. Kakinya dinaikkan dan disandarkan di atas meja.
"Jadi," katanya sambil mengembuskan asap, "apa kau menyadari perasaanmu terhadap Amayah?"
"Perasaanku…" gumam Brian.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Setibanya di depan rumahnya setelah melalui hari yang terasa begitu berat—ditambah hujan yang tak kunjung berhenti—Brian berhenti sejenak dan menatap ke arah rumah Amayah. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menemuinya. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Brian akhirnya masuk ke kamar, berbaring di ranjang, dan menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Perasaannya bercampur aduk, sulit ia pahami sendiri.
"Aku... mencintai Amayah?" gumamnya pelan.
Ia memegang dadanya. Rasa sakit itu kembali muncul, membuat napasnya terasa berat. Brian mencoba memejamkan mata, berharap bisa tertidur, namun tubuhnya seolah menolak. Pikiran dan hatinya sama-sama gelisah.
"Mengapa aku ragu soal perasaanku terhadapnya?" tanyanya dalam hati.
Tak lama kemudian, Brian bangkit. Ia berjalan keluar dari kamar dengan langkah cepat, seakan tak ingin memberi waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir lebih jauh.
Ia menuruni tangga dengan tergesa, membuat Emilia yang sedang berada di ruang bawah terkejut.
"Ada apa?" tanya Emilia bingung.
"Aku ingin menemui Amayah," ujar Brian datar, namun raut wajahnya serius.
Emilia menatapnya sejenak, lalu tersenyum hangat. "Semoga beruntung," katanya lembut.
Brian segera menghampiri rumah Amayah dan menekan bel pintunya. Namun tak ada jawaban.
"Amayah, kau ada?" panggilnya, suaranya sedikit meninggi.
Beberapa menit berlalu, tetap tak ada respons. Hingga akhirnya, seorang wanita tua—nenek yang sebelumnya pernah ia temui—datang menghampiri.
"Sedang mencari Dik Amayah?" tanyanya ramah.
"Ya... apa Anda melihatnya?" tanya Brian.
"Kemarin malam cucuku sempat mengobrol dengannya," jawab sang nenek santai. "Ia curiga Amayah membawa koper. Katanya, Amayah ingin pergi ke suatu tempat untuk sementara waktu."
Mendengarnya, hati Brian terasa retak. Perasaan kehilangan yang selama ini ia takuti seakan menjadi nyata.
Bersambung.
semangat terus bang!!!