Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Junhwan Terjebak
Siang hari, Hunter tiba di tahanan kota Icheon. Ketua lapas langsung menyambutnya. "Selamat siang, Tuan. Silakan."
Hunter mengikutinya menuju ruang pertemuan. Junhwan sudah menunggu di sana, langsung berdiri begitu melihat Hunter masuk.
"Akhirnya kamu datang juga, Tuan Hunter."
"Sepertinya kamu sudah yakin kalau aku satu-satunya orang yang bisa membantumu, Tuan Kim." Hunter menatapnya dingin.
Junhwan mengepal, menahan diri.
Hunter duduk berhadapan dengannya. "Semua orang sudah tahu kamu bersalah, ditambah pengakuan ayahmu kemarin. Situasimu tidak bagus."
Junhwan menunduk sebentar. "Iya, Tuan Hunter. Tapi... apa yang Anda rencanakan untuk bantu aku?"
"Sebenarnya ini cukup mudah," jelas Hunter tenang. "Kita hanya perlu memenangkan sidang untukmu."
Junhwan menatapnya penuh ragu. "Bagaimana caranya, Tuan? Wanita yang menjebak aku saja belum ditemukan."
Hunter tertawa kecil. "Kita tidak perlu mencarinya. Itu hanya membuang waktu. Kalau dia bekerja untuk seseorang, sudah pasti dia dilindungi."
"Lalu bagaimana?"
"Kita hanya butuh bukti bahwa kamu dijebak, Tuan Kim. Itu sudah cukup untuk memenangkan sidang."
"Kamu memang benar, Tuan Hunter." Junhwan mencondongkan tubuhnya sedikit. "Tapi kira-kira siapa yang menyuruh wanita itu?"
Hunter menatap Junhwan tajam. "Kamu yakin akan percaya jika aku mengatakan siapa dalangnya?"
Kenapa dia bertanya begitu apa dia tahu sesuatu? Junhwan mengeraskan ekspresinya. "Katakan saja. Aku akan mendengarkan."
Hunter cukup puas. Junhwan mulai masuk. "Menurutku orang yang menjebakmu adalah keluargamu sendiri."
Junhwan terperanjat. "Apa maksudmu, Tuan Hunter? Untuk apa keluargaku menjebak aku?"
Hunter tersenyum sinis. "Kamu cukup polos, Tuan Kim. Itulah kenapa semua orang dari keluargamu menganggapmu sampah."
Hunter menatap Junhwan serius. "Kalau memang ayahmu yang merencanakan semua ini, kamu baru akan dibebaskan setelah dia berhasil jadi dewan."
Junhwan terdiam. Tidak ada celah untuk membantah.
Hunter kembali duduk. "Ada kemungkinan yang lebih buruk dari itu."
"Jangan bikin aku makin bingung," tegas Junhwan.
Hunter tertawa pelan. "Tenang dulu, Tuan Kim." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar. "Kalau yang merencanakan semua ini adalah pamanmu, tujuannya hanya satu: menyingkirkanmu dari daftar ahli waris."
"Paman Taesung," gumam Junhwan pelan. Ia mengangguk pelan. "Pamanku itu memang selalu menekanku soal warisan."
Hunter merasa sangat puas. "Kamu akan tinggal diam saja?"
"Tidak akan pernah." Junhwan mengangkat kepala. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut yang menjadi milikku."
Hunter tertawa rendah. "Itu yang aku harapkan. Aku ingin klien yang penuh ambisi."
Junhwan menatapnya langsung. "Terima kasih, Tuan Hunter. Aku minta bantuanmu. Lawan keluargaku dan bantu aku mendapatkan hak waris yang seharusnya jadi milikku."
"Aku akan melakukan apa pun untuk menegakkan keadilan bagimu, Tuan Kim." Hunter tersenyum tipis, puas.
----------------
Haerim turun dari mobil bersama Alexey dan langsung masuk ke dalam rumah. "Sayang, aku kangen banget sama Mommy dan Daddy," ucapnya penuh rindu.
"Sekarang sudah bisa ketemu," jawab Alexey singkat.
Haerim langsung memanggil pelayan yang lewat. "Mommy dan Daddy-ku ada di mana?"
"Tuan dan Nyonya ada di ruang utama, Nona."
Haerim langsung menarik lengan Alexey. "Ayo sayang, cepat!"
"Pelan-pelan," jawab Alexey datar, membiarkan dirinya diseret.
Haerim menarik Alexey masuk ke ruang keluarga. Kang Mira dan Kang Taesok sudah ada di sana.
"Hai, sayangnya Mommy." Kang Mira langsung menyapa begitu melihat mereka. "Kalian sehat selama sebulan ini?"
"Aku sehat, Mom, tapi kangen banget sama Mommy." Haerim langsung memeluknya erat.
Kang Mira membalas pelukan putrinya. "Mommy juga sangat merindukanmu, sayang."
Kang Taesok hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Tatapan Alexey tidak pernah berpindah dari Haerim, dan itu tidak luput dari perhatiannya.
Pemuda itu benar-benar mencintai putriku.
"Duduk dulu, kalian," ajak Kang Mira ramah.
Haerim langsung menarik Alexey duduk di sampingnya. "Mommy, Daddy, ada yang mau Haerim ceritain nih."
Kang Taesok menaikkan alisnya. "Cerita apa?"
"Aku sempat ke Rusia, lo!" cerita Haerim semangat. "Alexey ada buronan yang harus dikejar ke sana, jadi kita pergi bareng."
Kang Taesok langsung menatap serius. "Kalian sempat terlibat bahaya?"
"Alexey sempat tertusuk, Daddy," jawab Haerim jujur, tidak menyadari kekhawatiran di balik pertanyaan itu.
"Alexey." Kang Mira langsung menoleh ke Alexey. "Kamu baik-baik saja, Nak?"
"Aku tidak apa-apa," jawab Alexey tenang.
Kang Taesok menghela napas pelan. "Lain kali jangan bawa Haerim ke situasi seperti itu."
"Daddy, aku yang minta ikut!" protes Haerim cepat.
Taesok buru-buru menjelaskan. "Daddy tidak menyalahkan Alexey."
Ia menatap Haerim serius. "Situasi yang dihadapi Alexey sekarang sama seperti yang pernah merenggut nyawa ibunya, dan yang pernah membuat ibumu mengalami kecelakaan. Daddy tidak ingin kamu jadi beban tambahan baginya."
"Aku nggak beban, Dad! Aku juga ikut bantu!" balas Haerim kesal. Ia langsung menoleh ke Alexey, mencubit lengannya. "Bener kan, sayang?"
Kang Mira menahan senyum. "Hei, kalau caranya gitu, udah pasti Alexey bilang iya."
Alexey melirik Haerim sebentar. "Iya."
Haerim langsung tersenyum puas, menoleh ke Taesok. "Nah, Daddy dengar sendiri kan?"
Taesok menggeleng pelan, menahan tawa. "Dasar anak ini."
"Kalian berdua harus selalu hati-hati," tegas Taesok. "Dan khusus kamu, Haerim, walaupun Alexey mengizinkanmu ikut, kamu tetap tidak boleh terlibat dalam hal-hal kekerasan."
Haerim ingin menolak, tapi ia memilih diam dan mengangguk. "Iya, Daddy."
Kang Mira menoleh ke Alexey. "Tolong selalu jaga Haerim."
"Iya," jawab Alexey singkat.
Taesok melirik jam di dinding. "Kalian sudah makan siang?"
"Belum," jawab Haerim cepat, terkekeh. "Lapar banget, malah, Dad."
"Kalau begitu makan dulu. Ayo."
Haerim langsung berdiri antusias. "Aku mau duduk di sebelah Mommy, ya!"
Kang Mira tertawa pelan. "Bukannya di sebelah kekasihmu?"
"Mommy ini!" protes Haerim, pipinya merona.
-----------------------
Jauh dari kehangatan rumah keluarga Kang, Kim Hwaran melempar berkas itu ke depan Jinhwa dengan kasar. "Laporan ini terlalu aneh."
Jinhwa menatap ibunya serius. "Maksud Ibu?"
"Video itu bukan sekadar rekaman Junhwan dan wanita itu." Kim Hwaran berdiri, melangkah ke arah monitor. "Ini terlihat jelas seperti sesuatu yang sudah direncanakan."
"Kenapa Ibu begitu yakin?"
Hwaran menyalakan monitor, mengarahkan pandangan Jinhwa ke layar. "Skandal ini terlalu rapi. Wanita itu sengaja disembunyikan oleh seseorang." Ia mengetuk layar pelan. "Dan setelah video diunggah, media seolah sudah menunggu, memojokkan isu politik langsung ke arah keluarga kita."
Jinhwa terdiam, menatap layar dengan serius. "Berarti ada orang lain yang bermain di balik ini, Ibu?"
"Itulah yang ingin aku ketahui." Hwaran berbalik, menatap Jinhwa tajam. "Cari tahu siapa dalangnya, sebelum mereka melangkah lebih jauh."
Jinhwa mengangguk. "Baiklah." Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
"Jinhwa." Suara Hwaran tajam, menghentikan langkahnya. "Anak yang mirip Seoyon itu. Bagaimana?"
Jinhwa berbalik. "Alexey?" Ia berpikir sejenak. "Sampai sekarang belum ada bukti apa pun, Ibu. Dia hanya terlihat seperti mahasiswa biasa."
"Kemunculannya di Incheon bukan kebetulan." Hwaran melipat tangan di depan dada, menatap Jinhwa dingin. "Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Seperti sudah diatur sejak awal."
Jinhwa terdiam, mencerna ucapan ibunya. "Ibu yakin?"
"Aku tidak pernah bicara tanpa yakin, Jinhwa." Hwaran kembali duduk. "Awasi pemuda itu. Diam-diam."