Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Segera Menikah
Karina berdiri di balkon lantai 50, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Di belakangnya, Ella dan Aisha sedang duduk di sofa beludru sambil berdiskusi dengan seorang guru privat bahasa Prancis, kehidupan mereka telah berubah sepenuhnya.
"Mama," panggil Ella sambil mendekat.
Gadis itu kini terlihat sangat anggun dengan gaun sutra simpel, "Apa Mama benar-benar akan pergi ke acara amal malam ini? Ella dengar banyak rekan bisnis Ayah, maksudnya mantan suami Mama yang akan hadir," tanya Ella.
Karina berbalik dan mengusap pipi putrinya, "Sayang, di dunia bisnis, tidak ada yang namanya rekan bisnis Ayahmu lagi. Mereka semua sekarang adalah kolega Mama dan ya, Mama akan datang. Mama ingin memastikan bahwa nama Wijaya bersinar lebih terang dari sebelumnya," jawab Karina.
Aisha ikut bergabung, wajahnya yang dulu sering murung kini cerah. "Mama tahu nggak? Di sekolah nggak ada yang berani merundung Aisha lagi, mereka semua tahu siapa Mama sekarang. Tapi... kadang Aisha masih merasa aneh, Ma. Hidup dalam kemewahan ini terasa seperti mimpi setelah sepuluh tahun kita hidup berhemat demi mendukung bisnis... orang itu," ucap Aisha.
"Ini bukan mimpi, Aisha. Ini adalah hak kalian, hak yang seharusnya kalian dapatkan sejak lahir jika saja Mama tidak dibutakan oleh cinta yang salah. Mulai sekarang, jangan pernah lagi menundukkan kepala pada siapapun," ucap Karina.
Malam harinya, Grand Ballroom Hotel Mulia disulap menjadi ruang yang begitu megah untuk acara amal tahunan Jakarta Business Circle, harum bunga lili putih dan denting gelas kristal memenuhi ruangan.
Para pengusaha kelas kakap, sosialita dan pejabat berkumpul, saling bertukar senyum plastik di balik kemewahan. Namun, topik pembicaraan mereka malam ini hanya satu yaitu kemunculan mendadak pewaris tunggal Grup Wijaya.
"Benarkah dia putri Baskoro Wijaya? Aku dengar dia menghilang selama dua puluh tahun karena kabur dengan seorang kuli?" bisik seorang istri pengusaha properti di balik kipas mahalnya.
"Sstt! Jangan sebut kuli. Pria itu sempat sukses, Agus Wijaya... eh, maksudku Agus si pengusaha bangkrut itu yang punya Agus Materialindo. Bayangkan, dia memiliki berlian sekelas Wijaya tapi malah menjadikannya keset," sahut yang lain dengan nada mengejek.
Pintu besar ballroom terbuka, keheningan seketika menyergap ruangan saat pembawa acara mengumumkan kedatangan tamu kehormatan.
"Mohon sambutan hangat untuk Komisaris Utama Grup Wijaya, Ibu Karina Wijaya," ucap pembawa acara.
Karina melangkah masuk dengan elegan, ia mengenakan gaun malam berwarna emerald green yang menjuntai indah, karya desainer ternama yang hanya melayani kaum bangsawan.
Kalung berlian melingkar di lehernya, namun kilau matanya jauh lebih tajam dan mengintimidasi daripada perhiasan manapun. Di sampingnya, Paman Andri berjalan dengan bangga, seolah menunjukkan pada dunia bahwa singa betina mereka telah kembali ke kawanannya.
Beberapa pengusaha yang dulu sering meremehkan Karina saat ia masih menjadi Istri Agus, seketika menunduk malu. Mereka ingat betul bagaimana dulu mereka mengabaikan Karina di pojok ruangan saat pesta perusahaan Agus, atau bagaimana mereka menertawakan baju Karina yang dianggap ketinggalan zaman.
"Ibu Karina, ini adalah sebuah kehormatan!" Seorang pria paruh baya, pemilik jaringan retail terbesar, mendekat dengan wajah menjilat.
"Saya tidak menyangka... anda adalah putri mendiang Pak Baskoro, dulu saya sempat bertemu anda di kantor Agus, maaf jika saya tidak mengenali anda," ucapnya.
Karina berhenti dan menatap pria itu dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata, "Tentu saja anda tidak mengenali saya, Pak Surya. Saat itu, anda sedang sibuk menertawakan rencana bisnis saya yang anda sebut sebagai pikiran Ibu rumah tangga. Padahal, rencana itulah yang membuat perusahaan Agus tidak bangkrut di tahun kelima," ucap Karina.
Pria itu terdiam, wajahnya memerah padam karena malu di depan kolega lainnya.
Karina terus berjalan, menyapa beberapa relasi lama Ayahnya dengan bahasa Prancis dan Inggris yang sangat fasih, membuat semua orang terpana.
Mereka baru menyadari bahwa Karina bukan sekadar wanita kaya karena warisan, dia adalah produk pendidikan elit dunia yang selama dua puluh tahun ini ia tekan demi peran sebagai istri yang penurut.
Di tengah kerumunan, langkah Karina terhenti. Di depannya berdiri seorang pria dengan tubuh tegap dan tatapan yang sangat dalam, pria itu adalah Faisal, di mana ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang sempurna. Faisal tidak mendekat dengan wajah menjilat seperti pengusaha lainnya, ia hanya berdiri di sana, memegang gelas champagne dan menatap Karina dengan binar kebanggaan yang tulus.
"Kau terlihat... seperti dirimu yang seharusnya, Karina," ucap Faisal lirih saat Karina sampai di depannya.
Karina merasakan hatinya sedikit bergetar, namun ia tetap menjaga wibawanya. "Terima kasih, Faisal. Terima kasih juga sudah membantuku menangani sengketa hukum di balik layar selama ini," ucap Karina tulus.
"Itu adalah tugas terkecil yang bisa kulakukan untuk menebus waktu dua puluh tahun saat aku membiarkanmu pergi," jawab Faisal sungguh-sungguh.
"Kalian ini sangat serasi, Paman rasa kalian harus segera menikah," ucap Paman Andri.
"Saya juga inginnya begitu, Pama. Tapi, semuanya kembali ke Karina, saya tidak mau memaksanya," jawab Faisal.
"Untuk masalah itu, kita bicarakan nanti ya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk membahasnya," ucap Karina.
"Aku tahu itu," jawab Faisal dengan senyum yang meneduhkan.
"Bagaimana kalau aku temani kamu bertemu beberapa petinggi?" tawar Faisal.
Karina mengangguk pelan dan menerima tawaran lengan Faisal untuk menemaninya berkeliling, kehadiran Faisal di sisi Karina memberikan pernyataan yang lebih kuat daripada kata-kata manapun.
Di dunia hukum dan bisnis Jakarta, Faisal dikenal sebagai singa Pengadilan yang tak tersentuh, pria yang integritasnya setinggi langit dan ketajamannya ditakuti lawan, melihatnya berdiri di samping Karina membuat para pria yang berniat menggoda atau meremehkan sang putri mahkota langsung mengurungkan niat.
"Karina, perkenalkan ini adalah Bapak Adrian, CEO dari Nusantara Development yang memegang proyek Mega City," ucap Faisal dengan nada bariton yang mantap saat mereka mendekati sekumpulan pria berjas mahal di tengah ruangan.
Adrian yang seharusnya menjadi klien terbesar Agus, tampak terkejut dan ia segera menjabat tangan Karina dengan hormat yang berlebihan.
"Ibu Karina... saya benar-benar tidak menyangka. Selama ini saya hanya berhubungan dengan mantan suami anda. jika saya tahu di balik strateginya ada sosok sehebat anda, mungkin saya sudah sejak lama menawarkan kerja sama langsung dengan Grup Wijaya," ucap Adrian.
Karina menyambut jabat tangan itu dengan genggaman yang kuat, "Terima kasih, Pak Adrian. Saya dengar proyek Mega City sedang mengalami kendala suplai material karena vendor-vendor utama menarik diri? Sangat disayangkan, proyek sebesar itu harus terhambat karena ketidakmampuan manajemen mitra anda dalam menjaga arus kas," ucap Karina.
Wajah Adrian menegang, "Benar, Bu. Saya sangat pusing Pak Agus meyakinkan saya bahwa semuanya aman, tapi nyatanya perusahaannya sedang di ambang kehancuran dan saat ini kamu sudah memutus kontrak secara sepihak," ucap Adrian.
"Keputusan yang bagus," jawab Karina.
.
.
.
Bersambung.....