"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Kael membuka pintu kamar neneknya dengan jantung yang detaknya lebih kencang dari suara sound sistem yang ada di pesta rakyat, wajah wanita tua itu tersenyum penuh arti, kael yang melangkah masuk, sudah menyiapkan jiwanya lahir dan batin, kalau dia memang harus angkat kaki dari rumah.
"oma harap kamu secepatnya menikahi mahi, kael. dan kuliah mahi harus tetap lanjut, kamu nggak bisa larang dia untuk tetap kuliah"
Kael melongo tak percaya, cowok tampan itu tak bisa berkata-kata. Emang gadis itu ngomong apa, sampai omanya jadi jinak begini.
"oma menyukai mahi, kael. Bisa-bisanya pacar secantik dan sepintar itu kamu sembunyikan terus"
Kael semakin cengo, speechless. Jujur kael nggak tahu mau merespon ucapan neneknya bagaimana, takutnya dia salah ngomong malah semuanya jadi amburadul.
"oma mau pulang sekarang.." wanita tua itu turun dari ranjang dengan santainya,
"besok malam kenalkan mahiya pada seluruh keluarga, paham kael!"
Wanita tua itu melangkah anggun, menyambar tas tangannya, dan menelepon seseorang. Sepertinya supir pribadi neneknya itu, kael menggeleng-geleng tak percaya.
"oma nggak jadi sakit?"
Neneknya tersenyum penuh kemenangan, wanita tua itu mengernyitkan hidungnya gemas.
"kalau oma nggak ancam kamu kek gini, kamu nggak bakalan keluarin pacar kamu dari persembunyiannya, oma keren kan?"
Kael mendesahkan nafasnya gemas, senyum kemenangan neneknya sukses menambah penyakit baru untuk kael.
Penyakit kesal banget.
"kael..." panggil wanita tua itu lembut, menautkan tangannya pada lengan cucu kesayangannya itu.
Nenek nurmala menarik lengan kael, mengajaknya berjalan.
"oma sampai berpikir, kamu nggak normal kael. Oma pikir antara kamu dan rifki ada sesuatu"
"omaaa..." panggil kael gemas,
"yang benar aja!, kalau punya prasangka jangan jelek-jelek amat dong oma, kael malah mual sendiri membayangkannya"
"yah jangan kamu bayangin" omel oma nurmala, memukul lengan cucunya itu gemas.
"oma nggak mau tahu yah kael, apapun ceritanya, oma mau kamu dan mahi besok datang kerumah"
Sementara mahiya, saat ini terjajar di sudut toilet, harus ikhlas di interogasi gaby dengan tatapan seorang jaksa penuntut.
Mulut gadis tinggi langsing itu, memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun, yang belum sempat mahiya jawab satu buah pun.
"bisa-bisanya kamu pacaran ama pak kael, tapi nggak cerita apapun ke aku.."
"a..aku..."
Belum sempat mahiya menjawab, gaby memberondongnya lagi.
"dan kamu tadi pura-pura nggak kenal pak kael, sialan amat lo mahi"
"woooiiii...dengerin aku dulu" mahiya setengah berteriak, membungkam bibir gaby yang tak henti mengomel.
Sejujurnya mahiya lagi bingung berat nih, jujur atau gimana. Apakah permainan yang mendadak di ciptakan cucu si nenek pemilik rumah sakit ini di lanjut atau bagaimana.
"mahi..!"
"astaga, kaget tahu!" mahiya mengelus dada, jantungnya terasa kepengen lompat dari tempatnya, teriakan gaby lumayan nyaring.
"kamu bilang tadi mau ngejelasin" tatapan gaby tajam menuntut jawaban, jelas banget sih kelihatan kalau gaby kesal pada mahiya.
Gimana nggak kesal, mahiya dan dia adalah teman akrab. 2 tahun bersahabat masa' dia nggak tahu apapun tentang gadis berhijab itu.
Setahu gaby, mahiya nggak pernah pacaran, ehh tiba-tiba aja pacaran dengan cowok tampan bin tajir, siapa yang nggak kesal coba.
"sebenarnya aku nih teman kamu nggak sih?"
Mahiya mengernyitkan keningnya heran, mendadak bertanya seperti itu, mahiya tahu gaby pasti sangat kesal padanya.
"gab, maafin aku yah! Saat ini aku nggak bisa ngomong apapun kecuali, maaf"
Mata mahiya yang biasanya berkejab imut, kali ini kelihatan banget kalau dia beneran merasa bersalah.
"aku janji akan cerita semuanya secepatnya"
Mahiya menunjukkan 2 jarinya, tanda gadis cantik itu serius. Ia mencoba membujuk gaby yang memang terlihat masih marah, berulangkali kali gaby menghembuskan nafasnya kesal, nggak enak banget di cuekin teman sendiri seperti ini.
Tapi, ngelihat wajah mahiya yang menatap penuh harap itu. Gaby tahu mahiya beneran serius,
"janji yah!"
Senyum manis mahiya, dekik pipinya malah membuat gadis itu malah semakin cantik.
"tcihhhh..nggak usah lebay deh, senyummu memuakkan" gerutu gaby tersenyum lucu, sejujurnya saja walau dia perempuan, melihat mahiya dan senyumnya, sering membuat gaby terpesona, mahiya emang cantik sih, cuman sayang gadis itu kadang nggak sadar kalau dia cantik.
******
"ki..."
Kael menarik air phone dari telinga rifki, asistennya itu pura-pura budek. Dari tadi kael sibuk menginstruksikan, malah bocah tengil itu asyik ngedengerin musik lewat air phonenya.
Buset amat kan, jadi dari tadi kael ngomong sama siapa coba. Kalau saja kael nggak ingat, rifki itu sahabatnya, kepengen banget rasanya saat itu juga kael menendangnya keluar.
"kamu cari gadis itu, bawa kemari!"
Perintah kael setengah berteriak di telinga rifki, mengejutkan pria itu. Sontak rifki terlonjak dari duduknya, matanya melotot penuh protes.
"bisa nggak sih pak kael, ngomongin ini baik-baik, kita bisa bicarain dengan kepala dingin"
"baik-baik, pale lu.." sembur kael kesal, ngelihat tingkah rifki yang sok ngedrama.
"drama banget lo.."
"buruan..."
"iya..iya..iya bos"
Rifki melangkah, meninggalkan kael yang blingsatan, ekor matanya masih sempat melihat kael yang kebingungan.
"rasain. buat masalah sendiri, bingung sendiri deh lo" gumam rifki pelan sebelum menutup pintu.
Kael mondar-mandir di depan meja kerjanya, baru 10 menit rifki pergi mencari perempuan itu, tapi kok rasanya lama banget. Mata coklat kehijauannya, berulangkali melirik ke arah pintu.
Kael kesal sendiri, saat ini sebenarnya dia bingung. Gimana caranya mengajak perempuan itu ke rumahnya, secara dia juga baru 2 hari yang lalu mengenal sosok cewek bernama mahiya itu.
heummm, secara fisik bolehlah, dibawa ke rumah buat di kenalin ke keluarganya, cukup membanggakan, gadis itu cantik, hidungnya mancung kulitnya putih dan matanya, jujur matanya sangat indah menurut kael, mata besar dan bulat, dengan bulu mata lentik asli.
Tapi entah mengapa kael merasa ragu, cara perempuan itu merespon cepat tadi di depan neneknya, jujur kael kaget. Sepertinya gadis itu cukup pro, mana tadi dengan santai dan tanpa beban, walau tanpa kehadiran omanya, cewek itu manggil dia sayang.
Kael mengernyitkan keningnya, gimana kalau ternyata cewek itu, manfaatin dia.
"alamaak..."
Kael memukul jidatnya sendiri, kakinya mondar-mandir lagi, gelisah.
"nggak bisa.., aku harus bicara dulu dengan si mahiya itu" gumamnya sambil mondar-mandir nggak capek, kerutan di keningnya pun semakin menebal. Kael sibuk berpikir, sambil mondar mandir, dia nggak sadar mahiya sudah masuk ke ruangannya mengamati dia dengan tatapan heran.
"pak..."
Kael nggak mendengar, kakinya masih sibuk kek setrikaan uap, berisik.
"paaak.." panggil mahiya lagi, kali ini rada kuat, mahiya menaikkan 1 oktaf biar suaranya kedengaran.
Kael menoleh, sesaat mata mereka saling menatap, tanpa bicara tanpa kata-kata.
"sini kamu.." lambai kael dan memanggil dengan suara beratnya sedikit ketus.
Wajah mahiya yang tadinya kepengen senyum, batal. Tapi kakinya tetap melangkah, mendekati pria itu yang memandanginya tak henti dan tak berkedip.
Bersambung...