Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Kampus ke Sofa
Beberapa kawannya mengerubungi Pak Sugiono yang tergeletak di lantai, namun Randy segera berkata agar mereka menjauh. “Maaf, maaf, semua harap menjauh, supaya Pak Sugiono tidak kekurangan oksigen.”Wati segera mengambil segelas air putih yang ada di meja Pak Sugiono, dan menyerahkannya kepada Randy. “Ini air putih diminumkan ke Pak Sugiono, Ran.”
“Jangan, Wat,” kata Randy. “Yang aku pelajari, orang yang sedang pingsan atau collapse jangan dikasih air minum, katanya justru bisa fatal karena dia bisa tersedak. Yang bisa dilakukan sekarang adalah melakukan CPR dengan cara menekan-nekan dadanya dengan kedua tangan.”
Wati langsung meletakkan kembali gelas berisi air putih itu ke meja Pak Sugiono, dan beberapa mahasiswa menjauh dari Pak Sugiono agar Pak Sugiono mendapatkan udara segar seperti instruksi Randy tadi.
Randy lalu mendekatkan kedua tangannya ke dada Pak Sugiono dan bersiap melakukan CPR. Tiba-tiba dirasakan tangannya menghangat dan ada rasa clekit-clekit seperti kena aliran listrik kecil yang terus-menerus berdenyut perlahan dari telapak tangan sampai ujung jari. Sensasinya mirip yang dirasakan di dalam mimpinya. Segera dia menarik kedua tangannya karena terkejut, dan sepintas dia lihat telapak tangannya berwarna lebih merah dari bagian tubuh yang lain.
Dia lalu mendekatkan lagi kedua tangannya ke dada Pak Sugiono tanpa menyentuhnya, dan ajaib. Pak Sugiono tiba-tiba terbatuk-batuk dan mulai sadar dari pingsannya.
“Apa yang terjadi?” kata Pak Sugiono yang tersadar dari pingsannya. “Yang terakhir bapak ingat, dada kiri bapak terasa sakit, lalu semua terasa gelap.”
“Kayaknya bapak terkena serangan jantung barusan,” kata Randy. “Tapi bapak beruntung, karena serangan jantung itu tiba-tiba berhenti.”
“Astaga,” kata Pak Sugiono. “Alhamdulillah, dan terima kasih telah menyelamatkan saya, Rand.”
“Bukan saya, Pak, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi, bapak bisa sembuh sendiri secara ajaib,” tukas Randy.
Pak Sugiono segera memeluk Randy dan berkata, “Apa pun yang terjadi, saya telah berutang nyawa kepadamu, Rand.”
Teman-teman kuliah Randy langsung heboh dan tidak paham apa yang terjadi barusan. Randy sendiri merasa heran apa yang terjadi barusan. “Mimpi semalam, telapak tangan terasa hangat dan berwarna merah, dan Pak Sugiono mendadak sembuh dari serangan jantung ketika dia mendekatkan telapak tangannya ke dada untuk melakukan CPR tanpa menyentuh. Apakah itu semua kebetulan?”
Tak lama, kabar kehebatan Randy menyembuhkan Pak Sugiono yang terkena serangan jantung dan beberapa fotonya tengah menolong Pak Sugiono segera viral di lingkungan kampus.
Pelajaran Calculus 1 itu tak dilanjutkan karena Pak Sugiono buru-buru pergi ke rumah sakit diantar pihak kampus, dan Randy dkk. melewatkan waktu di kantin kampus untuk menunggu jam kuliah berikutnya, dan sebagian tetap tinggal di kelas untuk membaca-baca materi kuliah Calculus pagi itu.
Randy hanya memesan air mineral dingin dan sambil duduk dia mengamati kedua tangannya yang menghangat dan memerah tadi. “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Hey Rand, kamu lagi viral tuh!” kata Helen, anak fakultas kedokteran yang tiba-tiba duduk di depan Randy. “Pantesnya kamu kuliah di kedokteran, bukan teknik.”
“Ah, kamu ngaget-ngagetin aja, Len,” kata Randy yang terlonjak kaget karena ada cewek cakep yang tiba-tiba duduk di depannya. “Aku lagi heran, tadi waktu mau melakukan CPR ke dada Pak Sugiono tiba-tiba tanganku panas dan seperti kesetrum gitu, lalu tiba-tiba Pak Sugiono sembuh. Kamu kan mahasiswi kedokteran, mungkin tahu fenomena apa ini.”
“Ran, kalau dalam dunia medis, itu namanya paresthesia atau sensasi abnormal di saraf. Bisa karena adrenalinmu lagi tinggi banget tadi, atau tanganmu tegang pas mau tekan dada,” jawab Helen. “Hangatnya mungkin dari aliran darah naik, clekit-clekitnya kayak listrik kecil dari saraf.”
Helen minum air mineral seteguk dan melanjutkan. “Tapi… Pak Sugiono sembuh mendadak? Itu nggak masuk akal secara medis, Rand. Mungkin kebetulan aja serangannya berhenti sendiri, atau… ah entahlah, aku juga bingung.”
“Waduh aku makin puyeng dengernya, Len,” jawab Randy. “Mana njelasinnya sambil megap-megap kepedasan habis makan cabai gitu, bikin gagal fokus.”
“Mulai deh ngegombalnya,” kata Helen. “Kalau dalam dunia nonmedis ada sensasi mirip yang kamu rasakan, namanya reiki.”
Pulang kuliah, Randy masuk kamarnya dan kembali melihat kedua telapak tangannya sambil masih terbengong-bengong. Tiba-tiba dia ingat papanya yang mengidap penyakit darah tinggi. Nanti dia akan tes lagi, sebelumnya papanya ditensi dulu lalu Randy melakukan ritual seperti tadi, dan hasilnya berapa.
Tidak berapa lama mobil papa Randy datang dari kantor. Segera Randy keluar dan menceritakan mimpi semalam dan kejadian tadi pagi yang menimpa Pak Sugiono di kampus.
“Ki Suromenggolo?” tanya papanya mengernyitkan kening. “Rasanya kakekmu pernah bercerita, tapi papa lupa karena waktu itu papa masih kecil.”
Papa Randy segera mengambil alat tensimeter digital miliknya dan Randy membantu mengukurnya. 150/90. Cukup tinggi.
“Coba papa berbaring di sofa, nanti coba Randy lakukan apa yang terjadi di kampus tadi,” kata Randy. Papa Randy menurut dan berbaring di atas sofa dan membuka kancing kemejanya yang bagian atas.
Randy lalu mendekatkan kedua tangannya ke dada papanya. Setelah beberapa menit, tidak terjadi apa-apa.
“Kebetulan aja itu tadi, Ran,” kata Mama Randy yang dari tadi mengikuti tingkah bapak dan anaknya itu.
“Coba sekarang, Pa,” tangan Randy dinaikkan sedikit jaraknya dari papa. Tiba-tiba sensasi hangat menjalar ke telapak tangannya, dan rasa clekit-clekit kesetrum itu terasa lagi. “Berhasil, Pa. Rupanya nggak boleh terlalu dekat dengan dada papa. Coba ukur lagi tensinya, Pa.”
Papa Randy segera mengukur tensinya lagi dibantu Randy. Ajaib, tekanan darah yang tadinya 150/90 sekarang turun drastis menjadi 120/70.
“Berhasil, Pa! Randy punya ilmu sekarang,” teriak Randy. “Terima kasih Ki Suromenggolo. Sudah mewariskan ilmu kesaktian kepada Randy.”
“Belum tentu, siapa tahu alatnya sedang error,” kata papa Randy lalu melakukan pengukuran tensi lagi. Dan hasilnya nggak beda jauh, 125/72.
“Luar biasa ilmu yang diwariskan Kakek Suromenggolo,” pekik Randy. “Ini harus dicobakan ke pasien dengan penyakit yang berat, seperti kanker, misalnya.”
“Ini penyakit yang ringan-ringan dulu saja,” kata mama Randy sambil menunjukkan telunjuk jari tangan kanannya yang diplester karena tadi teriris pisau dapur sewaktu memasak. “Tadi siang berdarah, karena kena pisau.”
Dengan hati-hati kemudian Randy membuka plester di jari telunjuk mamanya. Masih ada bekas luka di ruas jari telunjuk mamanya walau sudah mengering.
“Sakit, Ma?” tanya Randy sambil meniup luka itu.
“Nggak terlalu, tapi ada rasa perih sedikit,” jawab mamanya.
Randy segera mendekap jari mamanya yang luka itu dengan tangannya. Tidak terjadi apa-apa.
“Oh ya, tidak boleh terlalu dekat,” kata Randy. “Letakkan jari mama di atas meja, Ma.”
Randy lalu meletakkan telapak tangannya di atas jari mamanya dengan menyisakan jarak sedikit. Rasa hangat yang menjalar dan sensasi kesetrum itu mulai terasa.
Setelah beberapa detik, Randy mengangkat tangannya, dan ajaib! Bekas luka di jari mamanya itu telah menutup, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. “Ajaib, bisa sembuh, Ma!” pekik Randy kegirangan.
“Eh iya,” kata mamanya juga terheran-heran. “Sekarang bisa untuk nyubit kamu lagi!”
“Aduh, Ma! Sakit!” Randy mengaduh sambil tertawa, mama dan papanya juga ikut tertawa.
Lalu Papa Randy berdiri dari duduknya di sofa, tapi tiba-tiba pandangannya jadi berkunang-kunang dan hampir ambruk karenanya. Randy cepat-cepat memegangi tangan ayahnya supaya nggak terjatuh.