Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang dan rahasia yang terusik
Laras merasa jemarinya yang tadinya hangat di dalam saku jaket Bagas mendadak membeku. Mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya itu tampak sangat asing, berkilat mewah di bawah lampu jalanan komplek yang remang. Ibunya berdiri di teras dengan tangan yang saling bertautan cemas, pemandangan yang jarang sekali Laras lihat.
Bagas memperlambat laju motornya dan berhenti tepat di belakang mobil itu. Dia bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tubuh Laras.
"Ras? Lo oke?" tanya Bagas sambil mematikan mesin motor.
"Gue... gue nggak tahu itu mobil siapa, Gas," jawab Laras pelan. Dia turun dari motor dengan kaki yang terasa sedikit lemas.
Belum sempat Laras melangkah ke pagar, pintu mobil itu terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi keluar. Wajahnya keras, memiliki garis rahang yang tegas, sangat mirip dengan Laras. Ibunya langsung menghampiri pria itu dengan wajah pucat.
"Laras, masuk nak," panggil Ibunya dengan suara yang sedikit bergetar.
Bagas yang masih duduk di atas motor hanya bisa memperhatikan dari jarak tiga meter. Dia bukan orang bodoh; dia bisa merasakan aura "masalah gede" dari pria berpakaian mahal itu. Bagas segera turun dan menghampiri Laras, berdiri tepat di sampingnya sebagai dukungan tanpa kata.
"Laras Gendis," pria itu menyebut nama lengkap Laras dengan nada yang dingin, seolah sedang membaca daftar inventaris kantor. "Sudah besar ternyata."
"Siapa ya?" tanya Laras, suaranya berusaha tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku rasa ibumu belum bercerita banyak tentang kenapa kita pindah ke kota ini sepuluh tahun lalu."
"Laras, masuk! Bagas, maaf ya, mending Bagas pulang dulu. Ada urusan keluarga," potong Ibu Laras dengan cepat, hampir memohon.
Bagas menatap Laras, mencari aba-aba. Laras hanya bisa mengangguk kecil, memberikan isyarat bahwa dia akan baik-baik saja, meski matanya berkata sebaliknya. Dengan berat hati, Bagas pamit dan menghidupkan motornya, namun dia tidak langsung pergi jauh. Dia hanya memarkir motornya di ujung gang, mematikan lampu, dan menunggu.
Di dalam rumah, suasana mendadak sesak. Pria itu duduk di sofa ruang tamu yang sempit, membuat ruangan itu terasa semakin kecil.
"Papa mau apa lagi?" suara Ibu Laras terdengar tajam.
Papa? Laras mematung di ambang pintu. Pria yang selama ini dia kira sudah meninggal—sesuai cerita ibunya saat dia masih kecil—ternyata ada di depannya. Hidup, bugar, dan terlihat sangat kaya.
"Aku cuma mau menjemput apa yang menjadi milikku," jawab pria itu enteng. "Laras sudah semester lima, kan? Aku sudah siapkan tempat untuknya di firma hukum pusat di Jakarta. Dia tidak perlu susah-susah mencari kerja atau memikirkan biaya skripsi. Semua sudah diatur."
"Laras bukan barang dagangan!" teriak Ibu.
Laras merasa kepalanya berdenyut. Jadi ini alasannya mereka selalu hidup berpindah-pindah? Karena ibunya berusaha lari dari pria ini? Komedi dalam hidupnya hari ini mendadak hilang, digantikan oleh drama sinetron yang selama ini dia tertawakan bersama Rhea dan Eno.
"Aku kasih waktu seminggu," pria itu berdiri, merapikan jasnya. "Pikirkan masa depan anakmu. Di sini dia cuma jadi mahasiswa biasa yang nongkrong di kantin kumuh. Di Jakarta, dia punya segalanya."
Pria itu keluar tanpa menoleh lagi. Saat mobil hitam itu melesat pergi, Laras langsung lari ke teras. Dia melihat Bagas masih ada di ujung gang, berdiri di samping motornya. Begitu melihat Laras keluar, Bagas langsung berlari menghampiri.
Laras tidak bisa menahan diri lagi. Dia merosot duduk di ubin teras dan menangis.
"Ras... hey," Bagas berjongkok di depan Laras, bingung harus melakukan apa. Dia tidak pernah jago menghadapi perempuan menangis. Biasanya kalau Rhea menangis karena putus cinta, Bagas cuma bakal kasih tisu sambil bilang 'udahlah, cowok itu emang sampah'. Tapi ini beda.
"Gue... gue baru tahu kalau bokap gue masih hidup, Gas," isak Laras. "Dan dia datang cuma buat ngatur hidup gue kayak pion catur."
Bagas terdiam. Dia menarik napas panjang, lalu perlahan menepuk-nepuk pundak Laras. "Dengerin gue. Selama ada gue, Eno, Juna, Gia, dan Rhea... nggak akan ada yang bisa narik lo paksa dari sini. Kita ini 'Enam Serangkai', inget? Satu ditarik, semua ikut nahan."
Laras mendongak, menatap Bagas yang wajahnya terlihat sangat serius di bawah lampu teras yang kuning. "Tapi dia punya segalanya, Gas. Gue takut nyokap gue ditekan."
"Dia punya uang, tapi dia nggak punya Eno yang bisa jadi ayam raksasa buat bikin lo ketawa," celetuk Bagas, mencoba menyelipkan sedikit lelucon di tengah suasana mendung.
Laras tertawa kecil di tengah isakannya. "Lo bener. Itu ayam bau keringat banget."
Bagas tersenyum lega. "Nah, gitu dong. Sekarang masuk, istirahat. Besok kita omongin bareng anak-anak di 'Markas'. Kita bakal bikin rencana. Kalau perlu, Eno kita suruh meditasi lagi di depan rumah bokap lo."
Malam itu, Laras tidur dengan perasaan campur aduk. Dia tidak tahu bahwa kehadiran ayahnya hanyalah babak pertama dari rahasia-rahasia lain yang akan terbongkar. Termasuk rahasia tentang kenapa Bagas selalu ada untuknya, yang ternyata lebih dari sekadar "sahabat tapi peduli".
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...