Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Istana Teratai Darah
Surga Ketiga - Wilayah Tersembunyi, Lembah Darah Suci.
Langit di Surga Ketiga tidak berwarna kelabu mati seperti di alam bawahnya. Udara di sini beraroma teratai yang manis, namun menyesakkan. Awan-awan tebal berwarna merah marun menggantung rendah, memancarkan cahaya yang membuat segalanya tampak seperti direndam dalam anggur darah. Hukum alam di tempat ini begitu padat hingga setiap helaan napas terasa seperti menelan timah cair bagi kultivator fana biasa.
ZRAAAASH!
Sebuah pusaran dimensi raksasa terkoyak di atas lembah tersebut. Tiga puluh dua kapal perang raksasa berwarna hitam pekat, dengan lambang Sekte Malam Abadi berkibar di tiang utamanya, meluncur keluar dari lubang cacing dan berlabuh di udara dengan formasi pertahanan penuh.
Di bawah armada yang menutupi langit merah itu, terhampar sebuah istana megah yang dipahat dari batu giok merah. Air terjun darah mengalir dari tebing-tebing di sekitarnya, memberi nutrisi pada ribuan teratai merah yang mekar di danau istana. Inilah Kuil Teratai Darah, tempat persembunyian faksi separatis Surga Ketiga.
"Mo Han, pertahankan armada di udara. Jika ada satu pun formasi pelindung istana ini yang mengunci kapal kita, hancurkan tempat ini tanpa perlu menunggu perintahku," suara Shen Yu menggema dari geladak kapal utama.
"Perintah dilaksanakan, Kaisar Malam!" sahut Mo Han, yang kini telah mengomando puluhan ribu pasukan fana dan elit surga yang membelot.
Shen Yu melangkah turun dari udara, seolah menapaki anak tangga yang tak kasat mata. Di sebelahnya, Lin Xue melayang turun dengan keanggunan mutlak, jubah peraknya sangat kontras dengan pemandangan merah darah di sekeliling mereka. Utusan Hong Lian terbang mendahului mereka, memimpin jalan dengan kepala tertunduk.
Mereka mendarat di pelataran giok dan berjalan memasuki aula utama Kuil Teratai Darah.
Aula itu sangat luas, diterangi oleh mutiara-mutiara kosmik yang memancarkan cahaya merah muda. Di kedua sisi lorong, berlutut puluhan kultivator wanita yang memancarkan aura Dewa Fana Tahap Akhir hingga Puncak. Mereka adalah prajurit elit kuil ini.
Di ujung aula, di atas takhta yang terbuat dari kelopak teratai raksasa yang membatu, duduk bersandar sesosok wanita yang kecantikannya mampu meruntuhkan kewarasan makhluk fana.
Ia mengenakan gaun sutra tipis yang mengekspos lekuk tubuhnya yang sempurna. Kulitnya seputih pualam, matanya berwarna merah delima yang memabukkan, dan rambut peraknya menjuntai hingga menyentuh lantai. Ini adalah Dewi Yao Ji, mantan selir agung Pengadilan Langit yang dibuang oleh Kaisar Taiyi. Auranya berada di batas mutlak Dewa Sejati Tahap Menengah.
Melihat Shen Yu memasuki aula, Yao Ji tidak bangkit dari takhtanya. Ia justru tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung Dao Pesona dewa hukum alam tingkat dewa yang dirancang untuk membengkokkan kehendak pria mana pun yang menatapnya.
"Ah... Jadi ini Kaisar Malam yang meruntuhkan Surga Kedua," suara Yao Ji mengalun seperti melodi kecapi surgawi, menggoda dan mematikan. Hawa pesonanya merambat melalui udara, mencoba menyusup ke dalam Dantian Shen Yu. "Masih sangat muda, sangat liar. Daging yang menyerap Sumsum Naga Bintang dan hukum surga... Kau adalah mahakarya yang diciptakan untuk perang."
Shen Yu menghentikan langkahnya tepat sepuluh tombak dari takhta. Ia tidak membungkuk, tidak juga mengalihkan pandangannya. Mata kirinya yang bercincin perak dan emas menatap lurus ke arah Yao Ji.
Dao Pesona dewa milik Yao Ji menabrak pertahanan mental Shen Yu, namun pesona itu seolah menabrak dinding lubang hitam. Ketiadaan melahap ilusi tersebut tanpa sisa, tidak menyisakan satu pun riak di lautan kesadaran sang Tiran.
Yao Ji sedikit melebarkan matanya. Senyumnya goyah selama sepersekian detik. Tidak mempan? Bahkan Dewa Sejati Tahap Akhir pun akan bergetar di bawah pesonaku!
Berusaha menutupi keterkejutannya, Yao Ji mengubah posisinya, menopang dagunya dengan tangan yang lentik. "Aku mengundangmu untuk sebuah aliansi, Kaisar Malam. Taiyi terlalu kuat untuk kau hadapi sendirian. Jadilah pedangku, jadilah... pelindungku. Bersama-sama, kita bisa membagi Tiga Puluh Tiga Surga. Kau bisa memiliki semua yang kau inginkan di tempat ini."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada rayuan yang sangat kental, secara halus merendahkan posisi Shen Yu menjadi sekadar 'pedang' yang dikendalikan olehnya.
Sebelum Shen Yu sempat membuka mulut, suhu di dalam aula raksasa itu tiba-tiba anjlok hingga ke titik beku absolut.
Air mancur darah di sudut aula berhenti mengalir, membeku menjadi kristal merah. Puluhan prajurit elit kuil yang berlutut di sisi lorong mulai menggigil hebat, Qi mereka tertahan di dalam tenggorokan.
Lin Xue melangkah maju satu langkah, melewati bahu Shen Yu.
Mata ungu Ratu Abadi itu berkilat dengan niat membunuh yang begitu dingin hingga mengiris hukum alam Surga Ketiga. Ia mencabut Pedang Teratai Waktu dari sarungnya hanya sejengkal, memperlihatkan bilah yang memancarkan aura pemusnah kehidupan.
"Singkirkan pesona murahanmu itu, jalang surga," desis Lin Xue. Suaranya tidak keras, namun bergema membekukan tulang sumsum setiap orang di ruangan itu. "Kau berbicara dengan Kaisar Malam. Jika kau mencoba meletakkan kalung anjing di lehernya dengan rayuan fana itu lagi, aku akan memotong lidahmu dan mengubah teratai darahmu menjadi kuburan es abadi."
Yao Ji terkesiap. Ia menatap wanita berjubah perak di samping Shen Yu. Awalnya, ia mengira Lin Xue hanyalah tungku kultivasi atau selir pelengkap. Namun tekanan Dao Kehidupan dan Dao Waktu yang memancar dari Lin Xue setara dengan badai es yang menolak segala bentuk kehidupan.
"Beraninya kau menghina Sang Dewi!" teriak Hong Lian dari samping, bersiap menghunus senjatanya.
"Diam."
Satu kata dari Shen Yu membatalkan segalanya.
Shen Yu mengangkat tangan kanannya. Api Ketiadaan meledak dari telapak tangannya, menciptakan hisapan gravitasi yang mengerikan. Hong Lian dan puluhan prajurit di aula itu langsung terlempar dan menempel rata di dinding giok, Dantian mereka terkunci mutlak oleh tekanan Setengah Langkah Dewa Sejati yang dipadukan dengan Hukum Cahaya.
Shen Yu melangkah pelan menaiki anak tangga takhta Yao Ji.
Dewi Buangan itu mencoba berdiri, memadatkan hukum Dewa Sejati Tahap Menengah-nya untuk melawan. Namun Shen Yu jauh lebih cepat.
SRAAAAK!
Shen Yu mencengkeram leher Yao Ji dengan tangan kanannya yang sekeras baja naga, mengangkat mantan dewi itu dari takhtanya. Hukum dewa milik Yao Ji berontak, namun Ketiadaan yang mengalir dari tangan Shen Yu secara instan menetralisir dan melahap hukum tersebut, mengubah Yao Ji menjadi tak berdaya layaknya manusia biasa.
"K-Kau... lepaskan..." Yao Ji tercekik, wajahnya yang cantik jelita memerah karena kurang udara. Kepanikan meruntuhkan topeng nya.
Shen Yu mendekatkan wajahnya. Tidak ada jejak nafsu di matanya, hanya arogansi murni seorang penakluk yang memandang rendah pada mangsanya.
"Ratu-ku sudah memperingatkanmu," bisik Shen Yu, suaranya sedingin bilah sabit. "Kau memanggilku ke sini dengan asumsi kau bisa mengendalikanku. Kau berpikir Taiyi adalah monster? Taiyi hanyalah dewa yang menjaga tatanan. Aku adalah monster yang memakan tatanan itu."
Shen Yu menghempaskan Yao Ji kembali ke atas takhtanya dengan kasar. Takhta kelopak teratai itu retak.
Yao Ji terbatuk-batuk, memegangi lehernya yang memar. Matanya kini dipenuhi oleh ketakutan absolut. Ia sadar ia telah melakukan kesalahan fatal. Mengundang Sekte Malam Abadi bukanlah memanggil sekutu; ia baru saja membukakan pintu untuk Kematian.
"K-Kami... kami menyerah," Yao Ji merintih, menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengabaikan harga diri abadinya. "Kuil Teratai Darah akan berada di bawah panji Malam Abadi. Ampuni kelancangan kami, Kaisar Malam."
Lin Xue menyarungkan kembali pedangnya. Hawa beku di aula itu memudar, membiarkan para prajurit yang menempel di dinding jatuh terkapar sambil terengah-engah.
Shen Yu membalikkan badan, berdiri membelakangi takhta Yao Ji, memandang ke arah pintu keluar aula.
"Di mana Klan Gagak Emas itu bermarkas?" tanya Shen Yu tanpa basa-basi, langsung menuju tujuan utamanya.
Yao Ji menelan ludah. "D-Di Puncak Matahari Kembar, tiga ribu mil ke arah timur dari lembah ini. Pemimpin mereka, Gagak Emas Leluhur, adalah Dewa Sejati Tahap Akhir. Mereka menguasai salah satu dari Sembilan Gerbang Kenaikan."
"Dewa Sejati Tahap Akhir," Shen Yu menyeringai, mengelus gagang Pemutus Samsara Primordial di balik jubahnya. "Target yang sempurna untuk menguji ketajaman sabitku setelah ditempa."
Shen Yu menoleh sedikit ke arah Yao Ji yang masih gemetar.
"Kumpulkan seluruh prajurit elitmu yang masih bisa memegang senjata. Malam ini, kalian tidak akan bersembunyi di balik kabut darah ini. Kita akan membakar Puncak Matahari Kembar dan mencabut bulu burung-burung peliharaan Taiyi itu dari akarnya."