Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kotak Timah
Suasana di bengkel Geri terasa mencekam. Suara "kebisuan" motor bebek di sudut ruangan itu jauh lebih menakutkan daripada suara knalpot brong yang memekakkan telinga. Geri menyeka keringat di pelipisnya menggunakan kain lap yang sudah hitam oleh oli.
"Gue nggak bisa biarin Scoopy loe disini lebih lama, Del. Kalau semua motor pelanggan gue jadi 'mati' kayak gini, reputasi bengkel bokap gue hancur," ucap Geri dengan nada frustasi.
"Gue tahu, Ger. Makanya gue ke sini," sahut Della. Ia menatap Scoopy-nya yang terparkir di bawah pohon mangga. "Lo bilang mau coba pake timah?"
Geri mengangguk. Ia menarik sebuah kotak besi kecil dari bawah meja kerjanya. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran timah tipis yang biasa digunakan untuk pemberat pancingan atau pelapis kabel tegangan tinggi.
"Rencananya, gue mau bikin 'sarung' buat spion itu. Timah punya kerapatan atom yang tinggi. Dalam dunia metafisika yang pernah gue baca di forum-forum kaskus lama, timah dipercaya bisa meredam radiasi energi negatif," jelas Geri sambil mulai menggunting lembaran tersebut.
Geri mendekati motor Della dengan ragu, Ia mengenakan sarung tangan kulit tebal milik ayahnya yang biasa digunakan untuk mengelas. Begitu tangannya berada sekitar sepuluh sentimeter dari spion kiri itu, udara di sekitarnya mendadak terasa berat dan lengket.
"Del, pegangin stangnya! Dia mulai nolak!" teriak Geri.
Della segera memegang stang kanan dan jok motor agar Scoopy-nya tetap stabil. Begitu Geri menyentuhkan lembaran timah pertama ke kaca spion yang retak itu, suara pekikan melengking seperti gesekan logam di atas aspal terdengar di telinga mereka berdua.
KREEEEKKKK!
"Tahan, Ger!" Della berteriak, matanya terpejam menahan getaran hebat yang merambat dari stang ke bahunya.
Tiba-tiba, pohon mangga di atas mereka berguncang hebat meski tidak ada angin. Buah mangga yang masih mentah berjatuhan menghantam atap seng bengkel seperti hujan peluru.
Brak! Buk! Brak!
Geri terus memaksakan lembaran timah itu membungkus kaca spion. Saat timah itu menutupi seluruh permukaan kaca, cairan hitam yang merembes dari retakan spion mulai mendidih, mengeluarkan asap putih yang baunya busuk seperti karet terbakar.
"Sedikit lagi... sedikit lagi!" Geri mengikat bungkusan timah itu dengan kawat tembaga.
Begitu ikatan terakhir dikencangkan, getaran motor mendadak berhenti. Keheningan total kembali menyelimuti area bengkel.
Geri terduduk lemas di tanah, napasnya memburu. Ia melepas sarung tangan kulitnya, dan mereka berdua terkesiap. Sarung tangan itu tidak terbakar, tapi permukaannya kini dipenuhi oleh pola retakan yang persis sama dengan pola retakan di kaca spion Della.
"Gue berhasil... tapi gue nggak tahu ini bakal tahan berapa lama," bisik Geri.
Della melihat ke arah spionnya yang sekarang tampak seperti gumpalan logam abu-abu yang jelek. Tidak ada lagi pantulan, tidak ada lagi cahaya biru. Namun, di dalam hatinya, Della merasa ada yang hilang. Ia merasa "buta" di sisi kirinya.
"Del, liat telapak tangan loe," kata Geri tiba-tiba.
Della melihat tangannya yang tadi memegang stang. Di sana, garis-garis halus berwarna hitam mulai muncul di bawah kulitnya, menjalar dari telapak tangan menuju pergelangan. Garis itu tampak seperti urat syaraf, tapi warnanya sehitam tinta spion tersebut.
"Benda itu nggak hilang, Ger," ucap Della dengan suara bergetar. "Dia cuma pindah... dia mulai masuk ke dalem gue karena jalurnya di spion loe tutup."
Tiba-tiba, HP Della bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
"Sesuatu yang terbungkus akan mencari jalan keluar yang lebih menyakitkan. Kembalikan dia ke rumah asalnya sebelum bulan purnama tiba."
Della menoleh ke arah Geri. "Ger, kita harus ke rumah keluarga Tan. Minggu depan sudah bulan purnama."
Geri menatap ngeri ke arah pergelangan tangan Della. Garis hitam itu tampak seperti tinta yang disuntikkan ke bawah kulit, berdenyut tipis mengikuti detak jantung.
"Del, kita harus buka lagi timahnya? Gue takut itu racun," Geri meraih tangannya, mencoba memeriksa garis hitam itu.
Della menarik tangannya cepat. Anehnya, rasa sakit yang tadi ia rasakan mendadak hilang, digantikan oleh rasa dingin yang menenangkan. "Jangan. Kalau dibuka sekarang, gue nggak tahu apalagi yang bakal dia ambil. Seenggaknya sekarang dia diem."
Geri menghela napas, ia bangkit dan merapikan sisa-sisa timah yang berserakan. "Oke. Tapi kalau garis itu naik sampai ke siku, kita ke rumah sakit atau ke dukun, gue nggak peduli lagi mana yang logis."
Pukul 23.15 WIB – Garasi Rumah Della
Della baru saja memarkirkan Scoopy-nya, Kondisi motor itu sekarang terlihat sangat aneh. Spion kirinya yang dibungkus timah dan kawat tembaga tampak seperti "luka" yang diperban paksa. Ayahnya sempat bertanya tadi saat ia pulang, namun Della beralasan itu hanya bagian dari proyek seni di kampus.
Della turun dari motor, namun saat ia hendak melangkah masuk ke rumah, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah joknya.
Cklek.
Ia membuka bagasi motornya. Biasanya di sana hanya ada jas hujan plastik, kunci busi, dan kain lap microfiber. Namun malam ini, ada sebuah benda tambahan.
Sebuah amplop coklat tua yang sudah sangat rapuh, terselip di balik wadah aki.
Della mengambilnya dengan tangan gemetar. Di pojok amplop itu tertulis inisial yang ia kenali dari cerita-cerita lama Papanya: T.H.G (Tan Hok Gie).
"Gimana bisa benda ini ada di sini? Geri udah bongkar semua bagian motor ini kemarin..." gumam Della.
Ia membuka amplop itu di bawah temaram lampu garasi.
Di dalamnya bukan surat, melainkan selembar kertas kalkir tua yang sudah menguning. Itu adalah peta wilayah Goalpara, daerah perkebunan teh di kaki Gunung Gede yang jalannya terkenal terjal dan penuh kabut.
Di peta itu, ada sebuah titik yang dilingkari dengan tinta merah darah. Titik itu bukan bangunan utama pabrik teh, melainkan sebuah area yang ditandai dengan tulisan Mandarin: 鏡之墓 (Jìng zhī mù)-Makam Cermin.
Tiba-tiba, garis hitam di tangan Della berdenyut kencang. Secara otomatis, tanpa Della sadari, tangannya bergerak menyentuh bungkusan timah di spion kirinya.
Psss...
Suara desis terdengar.
Timah yang tadinya keras dan kokoh, tiba-tiba melunak seperti mentega yang dipanaskan. Garis hitam di tangan Della seolah menjadi "kunci" yang bisa menembus segel timah tersebut.
"Bawa... aku... kembali..."
Suara itu kini bukan lagi bisikan Kakek Tan. Itu adalah suara ribuan orang yang berbicara bersamaan, sangat pelan namun memenuhi isi kepala Della hingga ia harus berlutut menahan pening.
Della menyadari satu hal: Bungkusan timah Geri tidak berguna jika "penghuninya" sudah memiliki akses langsung ke tubuh Della.
Ia melipat peta itu, memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
Besok adalah hari Sabtu, Tidak ada kelas. Dan ia tahu, satu-satunya cara untuk menghilangkan garis hitam di tangannya adalah mengikuti rute yang sudah disiapkan oleh takdir di bawah jok motornya itu.