Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kejutan Kedatangan Kembali Fahmi
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang perlahan menyapu sisa-sisa kegelapan di langit desa. Bayu sudah terjaga sejak dentang jam sahur, tubuhnya terasa jauh lebih segar meskipun hanya beristirahat selama beberapa jam saja.
Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah bersama ibunya di rumah yang sunyi, ia segera berpamitan dengan suara yang penuh semangat.
"Bu, Bayu ke panti dulu ya. Ada banyak yang harus segera dikerjakan sebelum matahari terlalu terik," pamit Bayu sembari mencium punggung tangan ibunya yang terasa hangat.
Ibunya hanya mengangguk sembari memberikan senyum bangga. Melihat putranya yang kini memiliki binar mata yang jauh lebih hidup daripada saat pertama kali menginjakkan kaki kembali di rumah ini, merupakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai baginya.
Bayu melangkah cepat membelah kabut tipis yang masih menyelimuti jalanan setapak menuju panti asuhan tempat masa kecilnya dulu. Sesampainya di sana, ia langsung menuju gudang, mengambil sekop tua dan sisa semen yang sempat ia lihat semalam di pojok ruangan yang pengap.
Prioritas pertamanya pagi ini bukanlah atap, melainkan area tanah yang semalam membuat Nayla terpeleset hingga mereka berakhir dalam dekapan yang tidak terencana. Ia mulai mencampur semen dengan pasir seadanya yang ia kumpulkan dari pinggiran halaman panti dengan gerakan yang sangat telaten.
Bayu bekerja dengan fokus yang luar biasa, memplester bagian tanah yang becek dan miring di samping teras agar permukaannya menjadi rata dan tidak lagi membahayakan. Keringat mulai membasahi pelipisnya, namun ia tidak peduli, setiap ayunan sekopnya adalah bentuk penebusan rasa bersalah sekaligus perlindungan bagi orang-orang yang ia cintai.
Nayla keluar dari pintu dapur sembari membawa sapu lidi, ia nampak terkejut melihat Bayu yang sudah sibuk bekerja di pagi buta seperti ini.
"Astaga, Bay. Kamu beneran langsung benerin ini? Padahal aku tadi baru mau kasih tanda pakai batu supaya anak-anak nggak lewat sini," ujar Nayla dengan nada suara yang masih mengandung sisa kecanggungan semalam.
Bayu menoleh sebentar, memberikan senyum tipis yang tulus sembari tetap melanjutkan pekerjaannya meratakan adukan semen yang masih basah.
"Lebih baik langsung dipermanenkan, Nay. Aku nggak mau kejadian semalam terulang lagi, apalagi kalau yang kena itu anak-anak kecil," jawab Bayu dengan nada yang rendah namun penuh perhatian.
Nayla hanya bisa terdiam, ia berdiri beberapa langkah di belakang Bayu sembari memperhatikan punggung pria itu yang kini nampak jauh lebih kokoh dan bertanggung jawab. Suasana di halaman panti terasa sangat tenang, hanya diisi oleh suara gesekan sekop dengan semen dan kicauan burung yang mulai bersahutan di dahan pohon nangka.
Namun, ketenangan pagi itu tiba-tiba pecah oleh suara klakson motor yang terdengar nyaring dari arah gerbang depan panti asuhan yang terbuka lebar. Bayu dan Nayla secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara tersebut, menghentikan aktivitas mereka sejenak untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
Sebuah motor besar yang sangat familiar bagi mereka masuk ke area halaman, memecah kesunyian dengan deru mesinnya yang khas dan berwibawa. Sosok pria berjaket kulit hitam turun dari motor tersebut sembari melepas helmnya, menampakkan wajah lelah namun tetap menunjukkan binar semangat yang sangat konsisten.
"Fahmi? Tumben jam segini sudah sampai sini lagi, Mi," gumam Bayu sembari meletakkan sekopnya dan menyeka tangannya yang kotor ke kain lap di dekatnya.
Fahmi berjalan masuk ke area panti dengan langkah yang lebar, ia nampak membawa sebuah kantong plastik besar yang berisi beberapa botol minuman dingin yang nampak segar. Ia langsung menuju ke arah gudang setelah melihat cahaya lampu neon yang masih menyala redup dari luar ruangan penyimpanan alat tersebut.
Fahmi masuk ke dalam gudang yang sempit itu, di mana Nayla kebetulan sedang berdiri di ambang pintu untuk mengambil beberapa peralatan kebersihan tambahan. Ia berdiri tepat di samping Nayla dengan posisi yang nampak sangat akrab, sebuah kedekatan yang lahir dari tahun-tahun perjuangan mereka menjaga panti ini bersama.
Meskipun tidak ada kontak fisik sedikit pun di antara mereka, namun cara Fahmi berdiri dan menatap Nayla menunjukkan sebuah ikatan batin yang sangat dalam dan tak tergoyahkan.
"Nay, ini aku titip minuman dingin buat nanti buka puasa anak-anak ya. Tadi lewat depan minimarket sekalian ambil mumpung masih dingin," ucap Fahmi dengan nada bicara yang sangat akrab.
Ia meletakkan kantong plastik tersebut di atas meja kerja yang semalam baru saja dibersihkan oleh Bayu dan Nayla dalam keheningan yang intim.
Bayu yang berdiri di luar gudang memperhatikan interaksi itu dengan perasaan yang tiba-tiba terasa sangat tidak nyaman di dalam dadanya. Ia melihat betapa Fahmi bisa berkomunikasi dengan Nayla tanpa ada kecanggungan sedikit pun, sebuah kemewahan yang belum sepenuhnya Bayu miliki saat ini.
Rasa cemburu mulai merayap di hati Bayu, sebuah perasaan primitif yang mencoba memprovokasi logikanya untuk merasa terancam oleh kehadiran Fahmi. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, menyadari bahwa Fahmi adalah orang yang paling berjasa bagi keberlangsungan panti asuhan ini selama ia menghilang.
"Lo kepikiran aja, Mi, beli minuman buat buka puasa nanti sore," celetuk Bayu sembari berjalan mendekati mereka dengan langkah yang diatur setenang mungkin.
Fahmi menoleh ke arah Bayu, ia memberikan senyum lebar yang sangat bersahabat, seolah tidak menyadari adanya ketegangan batin yang dialami sahabatnya itu.
"Harus sedia payung sebelum hujan, Bay. Apalagi anak-anak kalau buka puasa paling seneng minum yang seger-seger begini," jawab Fahmi sembari menepuk pundak Bayu dengan akrab.
Bayu hanya bisa mengangguk, ia melirik ke arah Nayla yang kini nampak sedang berbincang kecil dengan Fahmi mengenai menu buka puasa hari ini.
Kedekatan mereka berdua di dalam gudang yang sempit itu menciptakan sebuah pemandangan yang membuat Bayu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia melihat bagaimana Nayla tersenyum menanggapi ucapan Fahmi, sebuah senyuman yang terasa berbeda dengan senyum yang Nayla berikan kepadanya semalam.
‘Gue selama ini ke mana saja? Mereka udah seakrab itu, dan gue baru mau mulai ngerangkak sekarang,’ batin Bayu dengan rasa getir yang menyesakkan ulu hatinya.
Ia kembali mengambil sekopnya, mencoba mengalihkan rasa tidak nyaman itu dengan bekerja lebih keras pada plesteran halaman yang belum selesai sepenuhnya.
Fahmi kemudian keluar dari gudang dan berdiri di samping Bayu, memperhatikan hasil kerja plesteran yang nampak sangat rapi dan presisi di tangannya.
"Bagus juga kerjaan lo, Bay," puji Fahmi dengan tulus.
Bayu hanya tersenyum tipis, ia tidak ingin terlihat terlalu emosional di depan Fahmi yang selalu nampak tenang dan bijaksana dalam setiap tindakannya. "Cuma usaha kecil, Mi. Daripada bengong mending benerin apa yang bisa dibenerin sekarang sebelum urusan lahan itu makin mendesak."
Nayla keluar dari gudang sembari membawa botol-botol minuman itu untuk disimpan di lemari es dapur agar tetap dingin sampai waktu berbuka tiba.
"Terima kasih ya, Mi. Ini bener-bener ngebantu, anak-anak pasti seneng banget pas liat ada minuman segar nanti sore," ujar Nayla sembari melintas di depan mereka.
Fahmi hanya mengangguk sembari menatap kepergian Nayla dengan pandangan yang sangat teduh, sebuah tatapan pelindung yang membuat Bayu semakin merasa tersisih. Ia menyadari bahwa di panti ini, ia bukan hanya bertarung melawan waktu dan hukum, melainkan juga bertarung dengan perasaannya sendiri terhadap masa lalu yang tertinggal.
Matahari perlahan mulai meninggi, menyinari halaman panti asuhan yang kini nampak sedikit lebih rapi berkat kerja keras Bayu sejak pagi buta tadi. Fahmi mulai ikut membantu Bayu menyiapkan tangga kayu besar untuk mulai memeriksa genteng di bagian atap yang semalam mereka catat kerusuhannya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰