NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Derma

Kepulangan dari Paris membawa perubahan besar dalam diri Bagas. Royalti dari paten desain mesin Bapaknya yang selama ini tertahan di bank Perancis kini telah cair. Jumlahnya fantastis, namun Bagas tidak lantas membeli jet pribadi atau pulau di Karibia. Bagas ingat betul rasanya menjadi remaja yang berdiri di depan gerbang sekolah dengan sepatu bolong, memandang masa depan dengan cemas karena tidak punya biaya kuliah dan tidak punya "orang dalam".

"Pak, Bu, uang royalti ini bukan milik Bagas. Ini milik keringat Bapak dan air mata Ibu selama tiga puluh tahun di gang," ujar Bagas saat mereka sudah kembali ke apartemen di Dubai. "Bagas ingin membangun sesuatu yang bisa memutus rantai kemiskinan anak-anak SMK di Indonesia."

Maka, lahirlah "Pratama Education Foundation". Bagas menyewa sebuah kantor kecil di Jakarta dan Dubai untuk mengelola program beasiswa khusus bagi lulusan SMK berprestasi dari keluarga tidak mampu. Programnya bukan sekadar memberi uang, tapi memberikan pelatihan bahasa Inggris, sertifikasi internasional, dan jaminan penempatan kerja di jaringan logistik global milik Bagas.

Namun, dunia filantropi ternyata lebih kejam daripada dunia korporat. Baru tiga bulan yayasan itu berjalan, Bagas dikejutkan oleh kedatangan otoritas keuangan Dubai dan perwakilan dari kedutaan besar.

"Mr. Pratama, kami mendeteksi aliran dana dalam jumlah besar yang masuk ke rekening yayasan Anda dari sumber di Eropa. Secara administratif, ini terlihat seperti pola pencucian uang (money laun dering)," ujar seorang petugas audit pemerintah dengan wajah tanpa ekspresi.

Bagas tersentak. Niat tulusnya justru berbalik menjadi bumerang. Ternyata, kompetitor lamanya di Dubai yang belum menyerah sisa-sisa pengikut Marco sengaja meniupkan rumor bahwa Bagas menggunakan yayasan tersebut untuk menyembunyikan "uang suap" dari proyek-proyek logistik di Jerman.

"Ini adalah uang royalti paten ayah saya dari pemerintah Perancis. Semua dokumennya legal dan sudah diverifikasi oleh pengadilan di Paris," jawab Bagas dengan tegas, mencoba tetap tenang meski tangannya sedikit dingin.

"Masalahnya, Mr. Pratama, dana tersebut dipindahkan melalui beberapa bank koresponden yang saat ini sedang dalam pengawasan internasional. Kami harus membekukan seluruh operasional yayasan dan akun pribadi Anda sampai investigasi selesai," tegas petugas tersebut.

Dalam semalam, hidup Bagas kembali terguncang. Beasiswa untuk seratus anak SMK yang sudah dijadwalkan berangkat ke luar negeri terancam batal. Media sosial mulai ramai dengan berita miring: "Eksekutif Muda Indonesia di Dubai Diduga Terlibat Skandal Pencucian Uang Berkedok Yayasan."

Ibu yang mendengar kabar itu langsung lemas. "Gas, apa kita salah kalau mau bantu orang? Kenapa pas kita susah nggak ada yang ganggu, tapi pas kita mau ngasih malah dituduh macam-macam?"

Bagas memeluk ibunya. "Ini ujian, Bu. Orang nggak akan menimpuk pohon kalau pohonnya nggak berbuah manis."

Di tengah kebuntuan itu, Bagas justru mendapatkan bantuan dari arah yang tidak terduga. Pak Baron, mantan bosnya yang dulu "macan" namun sekarang sudah pensiun dan hidup tenang, mendadak menelepon dari Jakarta.

"Bagas, saya dengar yayasanmu bermasalah. Saya masih punya banyak relasi di kementerian dan perbankan internasional. Saya tahu kamu anak jujur, saya sendiri saksinya. Saya akan kirimkan tim hukum terbaik saya untuk membantumu membuktikan bahwa uang itu bersih," ujar Pak Baron dengan suara yang kini jauh lebih lembut namun tetap berwibawa.

Tidak hanya Pak Baron, para mantan sopir truk di pelabuhan Jebel Ali yang pernah dibantu Bagas juga melakukan aksi solidaritas. Mereka mengunggah video testimoni tentang kejujuran Bagas, menjelaskan bagaimana Bagas justru sering menolak pemberian apa pun dari mereka. Video-video itu menjadi viral dengan tagar #Justice.For.Bagas.

Proses investigasi berlangsung selama satu bulan yang melelahkan. Bagas harus bolak-balik Dubai-Jakarta untuk memberikan klarifikasi. Ia bahkan harus membongkar kembali arsip-arsip tua milik Bapaknya untuk membuktikan keaslian penemuan mesin tersebut di depan komite internasional.

Akhirnya, kebenaran menang. Otoritas keuangan menyatakan bahwa seluruh dana Pratama Foundation adalah legal. Nama Bagas dibersihkan, dan permintaan maaf resmi dikeluarkan oleh pihak otoritas .

Momen kemenangan itu terjadi di sebuah acara wisuda angkatan pertama penerima beasiswa Pratama Foundation di Jakarta. Bagas berdiri di podium, menatap seratus wajah anak muda yang mengenakan seragam rapi. Di baris depan, Bapak duduk dengan kemeja batik, matanya tampak berkaca-kaca melihat nama "Pratama" kini bukan lagi identik dengan kegagalan proyek di Perancis, melainkan harapan bagi generasi muda.

"Dulu, saya berdiri di posisi kalian, merasa dunia tidak adil," ujar Bagas dalam pidatonya. "Sekarang saya berdiri di sini untuk memberitahu kalian Dunia mungkin tidak adil, tapi Tuhan selalu punya cara untuk menimbang kejujuran. Yayasan ini ada bukan karena saya kaya, tapi karena saya tahu rasanya tidak punya apa-apa kecuali kejujuran."

Salah satu penerima beasiswa, seorang anak yatim putra tukang bangunan, naik ke panggung dan memeluk Bagas. "Terima kasih, Pak Bagas. Berkat Bapak, ijazah SMK saya sekarang punya harga diri."

Bagas menangis. Ini adalah air mata paling bahagia dalam hidupnya. Lebih bahagia daripada saat menerima gaji pertama di Dubai. Ia menyadari bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan tersimpan di bank, tapi di dalam senyuman orang-orang yang hidupnya berubah karena tangan kita.

Namun, di balik kegembiraan itu, Bagas tidak tahu bahwa musuh besarnya yang sebenarnya si penggerak utama fitnah ini adalah seseorang yang memiliki kekuatan politik besar di Indonesia yang merasa terancam dengan popularitas Bagas yang kian menanjak. Sosok ini adalah orang yang pernah menolak lamaran kerja Bagas di Bab 1 dengan alasan "tidak selevel".

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!