NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu, Dua atau Tiga

Dewa berdiri di depan Apartemen Anggrek, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. Gedung tua, 5 lantai, cat putih mengelupas di pojok-pojok. Tempat yang tidak masuk akal untuk Dosen Killer dengan gelar doktor yang disembunyikan, M.Si yang dinamakan dan reputasi yang menakutkan.

Tapi ia memilih di sini 10 tahun lalu setelah patah hati lari dari kota Bandung memutuskan untuk tidak lagi membutuhkan siapa pun.

Apartemen kecil. 40 meter persegi, privat. aman dan sendiri, tidak ada tetangga yang mengenalnya sebagai "dosen galak." Hanya sebagai "Ibu Dian, unit A-12B, jarang keluar bersosialisasi dan bermain dengan sunyi

Dewa tahu setelah mendapat kan hasil"riset" mendalam dari Roby menyogok satpam dengan kopi dan sebungkus rokok.

"'Udah lama menunggu ?" tanya nya keluar dari apartemen mengulas senyum.

" Seperti biasa Bu, janji mesti ditepati."

Wajah nya seketika memutih," Benar, janji memang harus ditepati bukan diingkari."

" Maksud ibu ?Apakah saya telat menjemput?"

 ---

Jam 7 pagi, perjalanan ke kampus.

Motor butut melaju Jakarta Pusat ke Depok. 20 kilometer 45 menit melewati Tol Cijago yang macet, Jalan Arif Rahman Hakim yang berlubang, dan kampus The Yellow Jacket di kejauhan dibalik pohon rindang. Dan — Dewa selalu merasa aneh di sini — dimana tempat Dian mengajar, dosen universitas terkemuka, bergelar, berprestasi tapi tinggal disebuah apartemen murah Jakarta Pusat.

Apakah seorang dosen tidak punya kendaraan minimal bukan mewah, yang dibawanya ke kampus? Apakah ia tidak malu naik sepeda motor butut ? Beberapa pertanyaan misteri tidak pernah Dewa dapatkan jawabannya karena ia tidak pernah bertanya. Tapi dia tahu — tahu — pasti ada cerita di sini, cerita yang dia sembunyikan dibalik blazer hitam dan senyuman kaku muncul.

 

Jam 10 pagi, Fakultas Ekonomi Bisnis

Roby menyergap Dewa di koridor dengan peta peta dilipat-lipat di tangan dia dapatkan dari pedagang kaki lima

"Gue tahu, bro tahu semuanya."

Laki laki itu mengernyit, tahu? tahu apa? cincin? Ibu Dian? Apartemen?Roby sudah tahu semuanya, " Maksud Lo tahu apa?"

"Apartemen Anggrek," Ia berbisik dramatis "stasiun Kramat jati dekat Taman Ismail Marzuki itu area seniman, Dew, bukan tempat dosen killer."

Dewa menatap peta dia tahu teater, pameran, orang-orang ekspresif dan penuh kebebasan.

"Ibu Dian memang tinggal disana, tapi apa yang salah ? Apakah tidak boleh dosen kaku, steril, galak tinggal disana ?"

"Ini bisa jadi tidak masuk akal, tapi juga — somehow — masuk akal bro."

"Gue bingung liat Lo ngomong gak jelas."

Roby menurunkan suaranya seperti berbisik." Gue mendapat kan informasi dari jurnal CV beliau "15 tahun lalu, sebelum menjadi dosen Bu Dian alumnus mahasiswa S3 kampus Bandung."

" lho ? apa hubungan nya mahasiswa Bandung dengan apartemen anggrek ? Lo pe' ak."

Roby nyengir masam, " Lo denger gue kaga?jangan di potong dulu."

" Ya..ya gue denger, terus ..."

" Ibu Dian pindah ke Jakarta setelah... setelah mungkin ada kejadian heroik menimpa kehidupan nya, sesuatu yang gue gak tahu."

Dewa menggeleng gelengkan kepalanya," Lo kalau buat gosip jangan aneh aneh, orang pindah aja Lo urusin."

" Bukan itu, gue hanya mendapat kan sedikit info dari teman teman mahasiswa penghuni kampus calon drop out."

" Udah ah," Dewa menghela napas panjang, " Itu adalah cerita personal seseorang, kita gak boleh ikut campur, Ibu dian mau pindah kek, tinggal di istana kek, apa urusan."

" Tapi apartemen Kramat itu — tempat tersembunyi, Dew."

" Sinting, Lo pikir ibu Dian tinggal dengan anak Jin ?" Ia melihat peta sekali lagi, mendengar informasi aneh dari sahabatnya membuat kepala pusing .

 

Jam Empat sore di kampus.

Dewa menunggu di depan gedung Fakultas Ekonomi, tidak ada motor butut, hanya berdiri, dengan kopi sachet yang dibeli dari kantin — Ia tahu biasa nya sore sore begini Ibu Dian suka menyeduh kopi dari mesin patah tangkai gilingan.

Akhirnya penantiannya berakhir melihat perempuan itu keluar dari ruangan ke arah depan, dengan Blazer hitam, rambut di kuncir, membawa buku buku sejarah

"Bu," Mohon maaf, Ibu mau kopi ? " Dewa menyodorkan, "Kopi sachet gula setengah, seperti yang Ibu suka."

Ia membeku menatapnya"Anda... Anda ingat?"

Laki laki polos itu tersenyum tipis melihat nya menggenggam cangkir plastik cincin safir salting.

" Ibu bawa buku apa ? " Dewa tanpa sengaja memjndai buku sejarah seni. "TIM 50 Tahun." "Teater Modern Indonesia. Ibu Dian — Dosen Killer — membaca tentang seni?

Dian kaget dengan cepat memasukan kedalam tasnya. "Tidak... tidak penting. Hobi lama saya tapi sekarang tidak lagi.""Bu pernah... teater?"

Pertanyaan itu tidak terjawab karena ia dipanggil oleh salah seorang Dosen dari kejauhan.

" Bu Dian, dipanggil pak Dekan."

---

Jam 8 malam, perjalanan pulang depok ke Kramat melawan arus. Jakarta Pusat di depan, monas yang terlihat dari kejauhan, Cikini yang ramai dan kramat yang semakin dekat.

"Bu, TIM... dekat apartemen Ibu?"

"Kenapa?"

"Gak apa apa, saya tidak menyangka Ibu seorang dosen statistik rupanya peminat seni."

"Saya... saya dulu suka teater di Bandung. sebelum pindah" kata nya pelan sebelum patah hati, sebelum menjadi Dosen Killer dan sebelum bersembunyi di Kramat.

Dewa tidak bertanya lebih mengemudi pelan membiarkan perempuan itu bercerita sedikit.

Di Apartemen Anggrek, ia turun, matanya mengarah ke TIM terlihat dari pojok gedung — lampu-lampu malam, orang-orang keluar masuk dan berkata"Terima kasih" hanya itu

Dewa mengangguk tidak mengerti sepenuhnya, tapi cukup. "Dia mungkin punya masa lalu," pikirnya dan itu bukan urusannya hanya seorang asisten pribadi, mahasiswa semester enam berbohong cincin salah alamat.

 

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!