"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Runtuhnya Mahkota dan Kebangkitan Sang Pewaris
[Waktu: Jumat, 1 Mei, Pukul 09.00 AM]
[Lokasi: Ruang Rapat Utama Gedung Gu Corp, Shenzhen]
Pagi itu, atmosfer di lantai paling atas gedung Gu Corp terasa seperti medan perang yang membeku. Seluruh dewan direksi telah berkumpul. Kursi-kursi kulit hitam yang biasanya diduduki oleh orang-orang paling berpengaruh di Shenzhen kini terasa panas. Di ujung meja, Tuan Besar Gu duduk dengan wajah yang lebih keras dari batu karang. Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman setelah konfrontasi dengan Jingshen.
Pintu besar terbuka. Gu Jingshen melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat tajam. Wajahnya tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang akan menghadapi hukuman mati bagi karirnya. Di belakangnya, Ah Cheng membawa sebuah tas kerja hitam dengan genggaman yang sangat erat.
"Duduklah, Jingshen," suara Tuan Besar Gu terdengar serak namun penuh otoritas.
Jingshen duduk tanpa ekspresi. Ia melirik Gu Yanran yang duduk di sisi kiri meja. Yanran tampak gelisah, jari-jarinya terus mengetuk meja dengan tidak beraturan.
"Setelah mempertimbangkan pengabaian tugasmu kemarin, ketidakpatuhanmu terhadap perintah dewan, dan perilaku yang membahayakan reputasi keluarga," Tuan Besar Gu berhenti sejenak, menatap setiap anggota direksi satu per satu. "Maka mulai detik ini, aku secara resmi mencabut jabatan Gu Jingshen sebagai CEO Gu Corp. Segala akses keuangan dan wewenang pengambilan keputusan atas nama perusahaan ini dibatalkan."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Beberapa direktur tua berbisik kaget, namun sebagian besar hanya menunduk, tidak berani menentang sang tiran.
"Dan sebagai penggantinya," lanjut Tuan Besar Gu dengan senyum penuh kemenangan yang tipis, "Aku menunjuk Gu Yanran untuk mengambil alih posisi CEO sementara hingga struktur baru terbentuk."
Yanran tersentak. "Pa? Aku belum siap untuk—"
"Diam, Yanran! Ini adalah perintah!" potong ayahnya tajam. Ia kemudian menoleh ke arah Jingshen. "Sekarang, Jingshen, serahkan lencana dan aksesmu. Kau bisa pergi dari gedung ini sebagai orang biasa."
Jingshen tidak terlihat terkejut. Ia justru tersenyum—sebuah senyuman yang membuat Tuan Besar Gu merasa tidak nyaman. Jingshen perlahan berdiri, namun ia tidak menyerahkan kartu aksesnya. Ia justru menatap ke arah Ah Cheng.
"Ah Cheng, silakan lakukan tugasmu," ucap Jingshen dengan nada yang sangat berwibawa.
Ah Cheng membuka tas kerjanya dan mengeluarkan tumpukan dokumen legal yang sudah dilegalisir. Ia mulai membagikannya kepada setiap anggota direksi.
"Apa-apaan ini?!" bentak Tuan Besar Gu sambil menyambar salah satu dokumen.
"Itu adalah surat pengunduran diri massal, Paman Gu," jawab Jingshen dengan penekanan pada kata 'Paman'. "Bukan hanya pengunduran diriku, tapi juga seluruh tim inti pengembangan Project Mnemosyne, departemen riset teknologi, dan tujuh manajer divisi kunci yang selama ini memegang jantung operasional Gu Corp."
Tuan Besar Gu membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. "Kau... kau menghasut mereka?!"
"Tidak, aku hanya memberi mereka pilihan," sahut Jingshen sambil melangkah menuju jendela besar yang menghadap kota Shenzhen. "Mereka tahu siapa yang membangun sistem ini dari nol. Mereka tahu siapa yang menghargai keringat mereka. Dan mereka tahu... bahwa 'Gu Corp' hanyalah sebuah nama yang dicuri dari sejarah yang salah."
Jingshen berbalik, menatap tajam ke mata ayah tirinya. "Silakan ambil kembali kursi CEO ini, Paman. Tapi kursinya sudah kosong. Jantung teknologinya tidak ada lagi di sini. Mulai hari ini, seluruh pengembangan sistem dialihkan ke Zhuo-Sheng Technology di Shanghai."
[Waktu: Jumat, 1 Mei, Pukul 11.30 AM]
[Lokasi: Lobby Utama Gedung Gu Corp, Shenzhen]
Pemandangan di lobby gedung Gu Corp menjadi tontonan yang tak terlupakan bagi para karyawan. Puluhan staf ahli dari berbagai divisi keluar secara bersamaan, membawa kotak-kotak berisi barang pribadi mereka. Di depan barisan itu, Gu Jingshen berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi membawa beban nama keluarga Gu di pundaknya.
Gu Yanran berlari mengejar kakaknya sampai ke parkiran. "Kak! Tunggu! Kau gila? Kau benar-benar ingin meninggalkan semua ini? Bagaimana dengan Mama?"
Jingshen berhenti dan menatap adiknya. "Mama akan selalu aman bersamaku, Yanran. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan. Jika kau ingin tetap menjadi CEO di sana, silakan. Tapi kau hanya akan memimpin sebuah cangkang kosong tanpa mesin."
"Aku tidak menginginkan jabatan ini, Kak! Aku tahu kau yang berhak!" seru Yanran frustrasi.
"Kalau begitu, pilihlah pihakmu dengan bijak, Yanran. Aku tidak akan membencimu jika kau tetap bersama Ayah, tapi jangan harap aku akan berhenti untuk menghancurkan apa yang dia curi," ucap Jingshen sebelum masuk ke dalam mobilnya.
[Waktu: Jumat, 1 Mei, Pukul 16.00 PM]
[Lokasi: Kantor Sheng-Li Capital (Zhuo-Sheng Technology), Shanghai]
Sementara itu, di Shanghai, Lin Xia sedang sibuk menyiapkan ruang kerja baru. Ia telah menerima pesan singkat dari Jingshen satu jam yang lalu: "Kami sedang dalam perjalanan. Badai sudah lewat, sekarang saatnya membangun kembali."
Lin Xia mengatur meja-meja untuk tim IT yang akan datang. Ia merasa bangga dan berdebar secara bersamaan. Ia tahu bahwa mulai hari ini, Jingshen bukan lagi seorang CEO yang terbelenggu, melainkan seorang pejuang yang bebas.
Pintu kantor terbuka. Sosok Jingshen muncul di sana, tampak sedikit lelah namun matanya bersinar dengan kelegaan yang luar biasa. Di belakangnya, Ah Cheng dan tim inti Shenzhen masuk dengan wajah penuh semangat, seolah-olah mereka baru saja melarikan diri dari penjara.
Lin Xia berlari kecil dan langsung memeluk Jingshen di depan semua orang. Jingshen membalas pelukan itu dengan erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Lin Xia.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Jingshen," bisik Lin Xia.
"Terima kasih, Xia. Karena naskahmu, aku berani menulis ulang hidupku," jawab Jingshen pelan.
Jingshen melepaskan pelukannya dan menatap timnya yang sudah berkumpul di ruang tengah kantor Shanghai yang modern itu. Ia berdiri di depan sebuah papan tulis besar. Ia menghapus tulisan lama dan menulis satu kata dengan huruf besar dan tegas: ZHUO.
"Rekan-rekan sekalian," suara Jingshen menggema di ruangan itu. "Terima kasih karena tetap setia di sampingku. Hari ini, kita tidak lagi bekerja untuk Gu Corp. Hari ini, kita membangkitkan kembali Zhuo-Sheng Technology. Nama yang seharusnya ada di puncak industri ini sejak tiga puluh tahun lalu. Mari kita tunjukkan pada dunia, bahwa kebenaran selalu menemukan jalan untuk pulang."
Seluruh tim bersorak. Suasana di kantor Shanghai itu dipenuhi energi yang luar biasa. Lin Xia berdiri di samping Jingshen, menggenggam tangannya erat. Ia tahu perang fisik melawan Tuan Besar Gu mungkin belum berakhir secara hukum, tapi secara moral, Jingshen sudah menang.
Di kejauhan, matahari terbenam di atas sungai Huangpu, menyinari awal dari sebuah era baru bagi sang pewaris Zhuo yang telah kembali.