NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: DUA DUNIA

Fajar pertama di luar klan terbit perlahan.

Cahaya jingga merambat masuk melalui celah-celah bebatuan gua, menciptakan garis-garis tipis di lantai tanah. Ha-neul duduk di dekat mulut gua, mengintip ke luar. Tirai air terjun masih setia mengalir, menyembunyikan mereka dari dunia luar.

Soo-ah masih tidur di pojok gua, terbungkus selimut tipis yang berhasil mereka bawa. Wajahnya terlihat lelah—lingkaran hitam di bawah mata, kulit pucat—tapi dalam tidurnya, ia tampak sedikit lebih tenang.

"Kau tidak tidur semalaman?" suara Hyeol-geon muncul di kepala Ha-neul.

"Tidak bisa. Takut mereka kembali."

"Bocah bodoh. Istirahat itu penting. Nanti kau jatuh sakit lagi."

"Aku akan tidur sebentar lagi. Tapi sebelumnya..." Ha-neul meraih batu kecil di dekatnya, mulai menggoreskan sesuatu di dinding gua. Garis-garis sederhana—peta mental dari wilayah sekitar.

"Kau membuat peta?"

"Supaya tidak tersesat. Kita mungkin akan tinggal di sini beberapa hari. Tapi setelah itu, kita harus pindah."

"Pintar."

Ha-neul menyelesaikan coretannya, lalu menoleh ke arah adiknya. Soo-ah bergerak sedikit, mengerjap-ngerjap, lalu matanya terbuka.

"Oppa?"

"Ada apa? Mimpi buruk?"

Soo-ah menggeleng. Ia bangkit, duduk, lalu menatap sekeliling gua. Matanya berhenti di coretan dinding.

"Itu apa?"

"Peta. Biar kita tidak nyasar."

Soo-ah mendekat, mengamati coretan sederhana itu. Lalu ia menunjuk satu titik.

"Ini gua kita?"

"Iya."

"Ini air terjun?"

"Iya."

"Ini..." Soo-ah menunjuk titik lain, agak jauh. "Ini apa?"

"Itu... mungkin desa. Aku tidak tahu persis. Tapi menurut guruku, di arah sana ada pemukiman."

Soo-ah diam. Lalu tiba-tiba ia bertanya, "Oppa, guru Oppa itu... manusia atau bukan?"

Ha-neul tertegun. "Apa maksudmu?"

"Aku lihat cincin Oppa bersinar kadang-kadang. Tadi malam, waktu kita lari, cincin itu bersinar terang dan Oppa seperti tahu jalan meski gelap." Soo-ah menatapnya tajam. "Oppa, jangan bohong. Soo-ah sudah besar."

Ha-neul terdiam cukup lama. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Di jarinya, cincin giok hitam berkilat samar, seolah Hyeol-geon juga ikut menunggu jawabannya.

Akhirnya, Ha-neul menghela napas.

"Guru Oppa... bukan manusia."

Soo-ah tidak terkejut. Matanya justru menunjukkan rasa ingin tahu.

"Dia arwah. Terperangkap di cincin ini sejak seratus tahun lalu. Dulu dia adalah pendekar terkenal—Iblis Pedang Berdarah, namanya."

"Seram sekali namanya."

Ha-neul tersenyum tipis. "Iya. Tapi dia baik. Dialah yang mengajar Oppa selama ini. Dialah yang menyelamatkan kita tadi malam."

Soo-ah menatap cincin itu lama. Lalu dengan hati-hati, ia bertanya, "Boleh... Soo-ah lihat?"

Ha-neul ragu. Tapi Hyeol-geon tiba-tiba berkata, "Biarkan. Lagipula, cepat atau lambat ia akan tahu."

Ha-neul mengangguk. Ia memejamkan mata, berkonsentrasi. Cincin itu bersinar merah, dan sesosok bayangan transparan melayang keluar.

Soo-ah tersentak mundur, tapi tidak berteriak. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membelalak menatap Hyeol-geon yang melayang di udara.

"Heh. Gadis kecil." Hyeol-geon tersenyum—setenang mungkin agar tidak menakut-nakuti. "Aku Hyeol-geon. Guru kakakmu yang menyebalkan ini."

Soo-ah berkedip. Lalu perlahan, ia menurunkan tangannya.

"Ka-kau... beneran arwah?"

"Setengah arwah. Separuh energi. Yang jelas, aku tidak akan menyakitimu."

"Apa yang kau lakukan di cincin?"

"Menunggu. Seratus tahun menunggu orang yang tepat. Dan ketemu kakakmu."

Soo-ah menatap Hyeol-geon dengan campuran takut dan penasaran. Tapi kemudian, ia melakukan sesuatu yang tak terduga.

Ia tersenyum.

"Terima kasih sudah jagain Oppa."

Hyeol-geon terkejut. Ia tidak menyangka sambutan semanis ini. Biasanya orang-orang ketakutan melihatnya.

"Eh... iya. Sama-sama."

Soo-ah menoleh ke Ha-neul. "Oppa, kenapa nggak cerita dari dulu? Soo-ah kira Oppa jadi gila karena stres."

Ha-neul tertawa pelan. "Maaf. Oppa takut kau takut."

"Awalnya takut sih. Tapi sekarang..." Soo-ah menatap Hyeol-geon lagi. "Dia kayak kakek-kakek lucu."

"Kakek-kakek lucu?!" Hyeol-geon hampir tersedak meski tidak punya tenggorokan. "Aku ini Iblis Pedang Berdarah! Namanya bikin orang lari ketakutan!"

"Tapi mukanya kayak kakek baik hati."

Ha-neul tidak bisa menahan tawa. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia tertawa lepas. Hyeol-geon cemberut, tapi matanya—mati itu bersinar hangat.

Mungkin, pikir Hyeol-geon, memiliki dua murid tidak terlalu buruk.

---

Siang harinya, Ha-neul keluar mencari makanan. Ia meninggalkan Soo-ah di gua bersama Hyeol-geon—yang bisa memperingatkan jika ada bahaya.

Ia menyusuri lereng gunung, mencari buah-buahan liar atau umbi-umbian yang bisa dimakan. Hyeol-geon sudah memberi tahu jenis-jenis tanaman yang aman. Tapi di tengah pencarian, ia mendengar suara.

Suara orang.

Ia segera bersembunyi di balik semak. Dua orang pria berjalan melewati jalan setapak tak jauh darinya. Mereka berpakaian seperti pedagang biasa, bukan seragam Klan Kang.

"...katanya Klan Kang lagi kacau. Ada buronan."

"Iya, dengar-dengar keponakan pemimpin klan kabur. Yang jadi sampah itu, lho."

"Loh, yang jadi sampah kok bisa kabur?"

"Entahlah. Tapi yang jelas mereka cari besar-besaran. Siapa yang nemu dikasih hadiah."

Ha-neul menegang. Pengejaran sudah menyebar sampai ke luar klan. Mereka tidak akan aman lama-lama di sini.

Setelah kedua pria itu lewat, ia kembali ke gua dengan cepat. Ia membawa beberapa buah liar dan umbi yang ia temukan.

"Kita harus pindah," katanya begitu masuk gua. "Mereka cari sampai ke sini."

Soo-ah mengangguk. "Sekarang?"

"Besok pagi. Malam ini kita istirahat."

---

Malam itu, mereka makan dalam diam. Makanan sederhana—buah asam dan umbi rebus—tapi cukup untuk mengganjal perut. Setelah makan, Soo-ah bertanya,

"Oppa, kita akan tinggal di mana?"

"Aku belum tahu. Tapi guru bilang, di selatan ada kota besar. Banyak orang, mudah bersembunyi."

"Terus Oppa akan latihan lagi?"

"Iya. Oppa harus kuat. Supaya bisa lindungi kita."

Soo-ah mengangguk. Lalu ia berkata pelan, "Soo-ah mau belajar juga."

Ha-neul mengerutkan kening. "Belajar apa?"

"Bela diri. Atau ramuan. Atau apa pun. Soo-ah tidak mau jadi beban terus."

"Kau bukan beban."

"Tapi Soo-ah tidak bisa bantu apa-apa. Kalau ada musuh, Soo-ah cuma bisa lari atau sembunyi. Soo-ah mau bisa lawan juga."

Ha-neul menatap adiknya. Di mata gadis itu, ia melihat tekad yang sama seperti dirinya dulu.

"Biarkan," suara Hyeol-geon. "Aku bisa ajari dia dasar-dasar ramuan. Itu lebih cocok untuknya daripada pedang."

Ha-neul mengangguk. "Baik. Nanti Oppa minta guru ajarin kau soal ramuan. Tapi janji, kalau ada bahaya, kau lari duluan. Jangan lawan."

Soo-ah tersenyum lebar. "Janji!"

Di luar, angin malam bertiup. Di dalam gua, dua bersaudara dan satu arwah tua mulai merencanakan langkah selanjutnya.

Dunia baru menanti.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!