NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Apartemen Kecil dan Tatapan Pertama

Manhattan tidak pernah benar-benar diam.

Bunyi klakson, langkah kaki tergesa, dan cahaya yang tak pernah padam membuat Valeria Hernández merasa seperti sedang berjalan di dalam mimpi yang terlalu cepat.

Koper kecilnya ia tarik menyusuri trotoar dekat kampus kedokteran tempat ia diterima. Gedung universitas itu berdiri megah dengan arsitektur klasik yang kontras dengan gedung-gedung modern di sekitarnya.

Inilah awal hidup barunya.

Ia memegang map berisi dokumen beasiswa dan secarik kertas kecil: alamat apartemen yang termasuk dalam allowance tempat tinggal dari kampus.

“Upper East Side…” gumamnya pelan.

Ia belum pernah tinggal di kota sebesar ini. Desa kecil dekat Oaxaca terasa seperti dunia lain dibandingkan gemerlap Manhattan.

Gedung apartemennya tidak terlalu besar, tapi bersih dan rapi. Lobi dipenuhi aroma kopi dan parfum mahal. Valeria merasa sedikit kikuk dengan sepatu flat sederhana dan gaun biru mudanya.

Petugas resepsionis tersenyum ramah.

“Nama?”

“Valeria Hernández.”

Beberapa detik kemudian, ia menerima kunci apartemen 12B.

Saat pintu dibuka, ia terdiam.

Apartemennya kecil — hanya satu kamar tidur mungil dengan dapur sederhana dan jendela besar yang menghadap jalan kota. Namun bagi Valeria, tempat itu terasa seperti istana kecil.

Ia berjalan perlahan ke jendela.

Lampu-lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi.

“Papá… Mamá… aku benar-benar di sini…” bisiknya lirih.

Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya lebar.

Ia merapikan pakaian, menata buku-buku medisnya di meja kecil, lalu menempel foto Miguel dan Sofía di samping tempat tidur.

Hatinya hangat.

Namun dunia luar tidak selalu sehangat itu.

 

📚 Hari Pertama Kuliah

Gedung fakultas kedokteran dipenuhi mahasiswa dengan pakaian mahal dan mobil-mobil sport terparkir di depan.

Valeria menarik napas panjang sebelum masuk ke ruang orientasi.

Begitu ia melangkah masuk—

Beberapa kepala menoleh.

Bukan karena ia berpakaian mencolok.

Justru karena kesederhanaannya membuatnya berbeda.

Rambut cokelat gelapnya jatuh alami di bahu, matanya yang kelabu kebiruan tampak jernih tanpa riasan berlebihan. Ada aura lembut tapi kuat yang sulit dijelaskan.

Seorang gadis berambut pirang panjang berbisik pada temannya.

“Siapa dia?”

“Entahlah. Mahasiswa baru juga mungkin.”

Valeria memilih duduk di kursi tengah.

Beberapa menit kemudian, seorang pria duduk di sebelahnya.

“Hai. Aku Daniel.” Ia tersenyum canggung.

“Valeria.”

“Kau dari mana?”

“Meksiko.”

Daniel terlihat kagum. “Jauh sekali.”

Belum sempat percakapan mereka berkembang, seorang gadis lain datang dan duduk tepat di depan Valeria. Rambutnya pirang platinum, pakaiannya modis, dan tatapannya tajam.

Namanya disebut saat absensi: Camille Rivera.

Putri seorang pengusaha farmasi ternama di Prancis.

Sejak awal, Camille sudah memperhatikan Valeria.

Bukan karena asalnya.

Tapi karena setiap kali dosen menjelaskan sesuatu, Valeria menjawab dengan percaya diri dan tepat.

Dan karena beberapa mahasiswa pria mulai melirik ke arahnya.

Saat sesi perkenalan kelompok dimulai, mereka dibagi menjadi tim kecil.

Takdir mempertemukan Valeria dan Camille dalam kelompok yang sama.

“Aku pikir kita harus membagi tugas berdasarkan pengalaman,” kata Camille dengan nada halus namun terasa merendahkan. “Beberapa dari kita mungkin belum terbiasa dengan standar pendidikan di sini.”

Tatapannya jelas mengarah pada Valeria.

Daniel terlihat tidak nyaman.

Valeria tersenyum tenang.

“Aku setuju. Kita bisa mulai dengan anatomi dasar. Aku sudah mempelajarinya cukup dalam.”

Camille mengangkat alis.

“Benarkah?”

Valeria mengambil spidol dan menjelaskan struktur pembuluh darah koroner di papan kecil kelompok mereka — detail, runtut, tanpa ragu.

Beberapa mahasiswa yang lewat bahkan berhenti mendengarkan.

Daniel berbisik kagum, “Itu bahkan lebih jelas dari buku teks.”

Camille memaksakan senyum.

Namun sesuatu di dalam dirinya mulai terusik.

 

🌤️ Konflik Kecil

Saat jam istirahat, Valeria berjalan ke kantin kampus.

Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata masih memperhatikannya.

Seorang mahasiswa pria mencoba menyapanya, namun sebelum percakapan berkembang, Camille muncul di sampingnya.

“Kau cepat sekali beradaptasi,” ucap Camille.

“Terima kasih.”

Camille menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.

“Kau tahu, di sini tidak semua orang menyukai perhatian berlebihan.”

Valeria mengerutkan kening.

“Aku tidak mencari perhatian.”

“Kadang perhatian datang tanpa diminta,” jawab Camille tipis.

Valeria mulai merasa cemas. Ia tidak ingin musuh di hari pertama.

“Aku hanya ingin belajar,” katanya pelan.

Camille mendekat sedikit.

“Pastikan itu saja yang kau lakukan.”

Lalu ia pergi.

Valeria berdiri diam beberapa saat.

Ia bukan gadis yang mudah gentar. Tapi kota ini berbeda dari desa. Di sini, kecantikan bisa menjadi senjata… atau ancaman.

Daniel mendekat lagi.

“Jangan pikirkan Camille. Dia memang seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Tidak suka tersaingi.”

Valeria terdiam.

Tersaingi?

Ia tidak merasa sedang bersaing dengan siapa pun.

Namun malam itu, saat ia kembali ke apartemennya dan menatap pantulan dirinya di cermin kecil—

Ia mulai menyadari sesuatu.

Dunia baru ini bukan hanya tentang mimpi.

Ia tentang bertahan.

Tentang membuktikan diri.

Tentang tetap menjadi baik di tengah lingkungan yang mungkin tak selalu ramah.

Ponselnya berbunyi.

Pesan tak dikenal masuk.

“Selamat atas hari pertamamu. Manhattan tidak semenakutkan itu, bukan?”

Nomor asing.

Namun ia mengenali gaya kalimatnya.

Alexander.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia membalas singkat.

“Masih bertahan.”

Balasan datang cepat.

“Aku tidak pernah meragukanmu.”

Valeria tersenyum kecil.

Di luar jendela, lampu kota tetap bersinar.

Di dalam dirinya, semangat kecil menyala lebih terang.

Ia mungkin berasal dari desa kecil.

Ia mungkin hidup sederhana.

Namun ia tahu satu hal—

Ia tidak datang sejauh ini untuk mundur.

Dan tanpa ia sadari, hari pertamanya di Manhattan telah menorehkan dua hal penting:

Seorang teman yang tulus.

Dan seorang rival yang mulai merasa terancam.

Dunia barunya baru saja dimulai.

Dan Valeria Hernández… belum menunjukkan seluruh cahayanya.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!