Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. The Returning Shadow
Pesan singkat di layar ponsel itu seperti siraman air es yang membekukan seluruh saraf Jennie. Tangannya gemetar hebat. “Kau pikir kau satu-satunya yang kembali?” Kalimat itu hanya berarti satu hal: Seseorang dari masa depannya yang kelam juga berada di sini, di masa sekarang. Seseorang yang tahu bahwa alur waktu telah bergeser.
Jennie segera menghapus pesan itu saat mendengar langkah kaki Limario mendekat dari arah kamar mandi. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menampilkan wajah setenang mungkin. Ia tidak boleh terlihat panik; Limario terlalu tajam untuk dibohongi.
"Ada apa, Sayang? Wajahmu pucat sekali," tanya Limario sambil mengancingkan kemejanya. Ia mendekat, menempelkan punggung tangannya ke dahi Jennie.
"Hanya... sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan setelah acara semalam," jawab Jennie dengan senyum yang dipaksakan.
Limario menyipitkan mata, menatap Jennie dengan intensitas yang seolah bisa menembus tengkoraknya. "Istirahatlah di rumah hari ini. Aku akan menyuruh dokter datang memeriksa. Jangan membantah, Jennie."
Jennie hanya mengangguk patuh. Ia butuh waktu sendirian untuk berpikir.
Insting Seorang Ibu dan Istri
Setelah Limario berangkat ke kantor, Jennie tidak beristirahat. Ia justru masuk ke ruang kerjanya dan memanggil Hans, kepala keamanannya yang paling ia percayai.
"Hans, aku ingin kau melacak nomor ini. Sekarang juga. Tapi jangan sampai Limario atau siapa pun di mansion ini tahu," perintah Jennie sambil menyerahkan secarik kertas berisi nomor pengirim pesan tadi.
"Baik, Nyonya. Ada hal lain?"
"Perketat penjagaan di sekolah Kenzhi. Dan... carikan aku informasi tentang keberadaan Choi Reynard di lokasi tambang. Pastikan dia masih di sana dan dalam pengawasan ketat," lanjut Jennie.
Pikirannya melayang. Jika Reynard yang kembali, dia pasti akan sangat berhati-hati. Tapi mungkinkah itu Sarah? Atau malah Isabella? Tidak, Isabella terlalu emosional. Pengirim pesan ini terasa jauh lebih tenang dan penuh perhitungan.
Sinyal dari Tubuh
Siang harinya, saat sedang menunggu laporan dari Hans, rasa mual yang luar biasa tiba-tiba menyerang Jennie. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan seluruh sarapannya. Perutnya terasa bergejolak, dan kepalanya berputar.
Ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, teringat akan siklus bulanannya yang terlambat dua minggu. Jantungnya berdegup kencang, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena harapan.
Di kehidupan sebelumnya, ia hamil anak yang tidak jelas siapa ayahnya setelah dijual oleh Reynard. Namun kali ini... jika ada nyawa di dalam rahimnya, itu adalah anak Limario. Buah cinta yang dulu tidak pernah ia izinkan untuk tumbuh.
Dengan tangan gemetar, Jennie mengambil alat tes kehamilan yang sudah ia siapkan secara rahasia. Beberapa menit menunggu terasa seperti berabad-abad.
Dua garis merah.
Jennie menutup mulutnya, air mata kebahagiaan mengalir deras. "Terima kasih, Tuhan... terima kasih," bisiknya. Ia akan menjaga anak ini dengan seluruh nyawanya. Tidak akan ada yang boleh menyentuhnya.
Pertemuan di Balik Bayangan
Sore harinya, Hans masuk dengan wajah serius. "Nyonya, nomor itu berasal dari ponsel prabayar yang sudah dihancurkan setelah mengirim pesan. Namun, sinyal terakhir terdeteksi di dekat... pemakaman keluarga Vincentius."
Darah Jennie berdesir. Pemakaman? Kenapa di sana?
Tanpa menunggu lama, Jennie meminta Hans mengantarnya. Ia pergi tanpa memberitahu Limario, meninggalkan pesan singkat bahwa ia hanya pergi mencari udara segar bersama pengawal.
Sesampainya di pemakaman yang sunyi dan berkabut, Jennie berjalan menuju nisan keluarga besar Vincentius. Di sana, ia melihat seseorang berdiri memunggungi dirinya. Seorang pria dengan setelan hitam formal, bertubuh tegap, namun auranya sangat berbeda dari Limario.
Pria itu berbalik. Wajahnya sangat tampan, namun ada bekas luka tipis di sudut matanya.
"Lama tidak bertemu, Jennie Ruby Jane," sapa pria itu dengan suara halus yang mematikan. "Atau haruskah kupanggil... sang Regressor?"
Jennie terpaku. Pria itu adalah Dante Vincentius, sepupu jauh Limario yang di kehidupan sebelumnya tewas dalam kecelakaan tragis sebelum Jennie mulai berselingkuh dengan Reynard.
"Dante? Kau seharusnya... sudah mati," bisik Jennie tak percaya.
Dante tersenyum tipis, langkahnya mendekat dengan tenang. "Aku juga mati di kehidupan itu, Jennie. Sama sepertimu yang mati di gudang kotor itu. Tapi sepertinya, Tuhan punya selera humor yang tinggi dengan mengirim kita berdua kembali."
Jennie mundur selangkah. "Apa maumu?"
"Aku tidak ingin menghancurkan Limario," ucap Dante sambil menatap nisan kakek mereka. "Aku kembali untuk menyelamatkannya dari kesalahan terbesarnya. Dan di kehidupan lalu, kesalahan terbesarnya adalah... mencintaimu sampai mati."
Dante menatap perut Jennie yang masih rata. "Dan aku tidak akan membiarkan 'kesalahan' itu terulang lagi dengan adanya benih baru di rahimmu."
Jennie mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Udara di pemakaman itu terasa semakin tipis. Mengetahui bahwa Dante juga kembali dari masa depan adalah mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.
Dilema Sang Penjaga
"Kau pikir kau siapa, Dante? Menentukan siapa yang pantas dicintai Limario?" desis Jennie, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.
Dante tertawa hambar, langkahnya semakin mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Jennie. "Aku adalah orang yang melihat Limario hancur berkeping-keping di kehidupan sebelumnya, Jennie. Setelah kau menghianatinya, setelah kau membunuh ibunya, dia menjadi monster yang tidak punya jiwa. Dia menghancurkan seluruh keluarga Vincentius dalam amarahnya sebelum akhirnya dia mengakhiri hidupnya sendiri di depan makam ini."
Dante menatap mata Jennie dengan tajam. "Aku kembali untuk memastikan Limario tetap menjadi pemimpin yang kuat, tanpa kelemahan bernama 'Jennie Ruby Jane'. Jadi, pilihannya mudah: Kau pergi menjauh darinya sekarang, atau aku yang akan memaksamu pergi."
"Aku tidak akan pergi!" Jennie membalas tatapan itu tanpa gentar. "Aku mencintainya! Dan kali ini, aku akan melindunginya dengan caraku sendiri!"
"Dengan caramu? Dengan rahasia yang kau simpan di perutmu itu?" Dante melirik sinis ke arah perut Jennie. "Anak itu hanya akan menjadi rantai yang mengikat Limario pada kehancuran yang sama."
Baru saja Dante hendak meraih lengan Jennie, sebuah suara deru mesin mobil yang sangat kencang memecah kesunyian makam. Sebuah SUV hitam legam berhenti mendadak hingga menciptakan debu yang beterbangan.
Pintu mobil terbuka dengan kasar. Limario keluar dari sana, auranya begitu gelap dan mencekam. Di tangannya, ia memegang ponsel yang menampilkan pelacak lokasi Jennie.
"Lepaskan tangannya, Dante," suara Limario terdengar rendah, hampir menyerupai geraman serigala.
Dante mengangkat kedua tangannya ke udara, mundur perlahan dengan senyum miring yang provokatif. "Tenanglah, Sepupu. Aku hanya sedang menyapa istrimu yang cantik. Tidak menyangka kau begitu posesif sampai memasang pelacak padanya."
Limario berdiri di depan Jennie, menyembunyikan tubuh istrinya di belakang punggungnya yang kokoh. "Aku tidak pernah suka kau mendekati apa yang menjadi milikku, Dante. Terutama saat kau seharusnya masih berada di luar negeri."
"Aku hanya rindu kampung halaman, Lim," jawab Dante santai, lalu beralih menatap Jennie sekilas sebelum memakai kacamata hitamnya. "Nikmatilah waktumu, Jennie. Karena masa depan tidak mudah diubah hanya dengan air mata penyesalan."
Dengan langkah santai, Dante masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan area pemakaman.
Kebenaran di Balik Pelukan
Suasana menjadi hening. Limario berbalik, mencengkeram bahu Jennie dengan lembut namun penuh tuntutan. "Apa yang dia katakan padamu? Kenapa kau kemari tanpa memberitahuku?"
Jennie menatap wajah Limario yang dipenuhi kecemasan. Ia ingin menceritakan semuanya—tentang Dante yang juga kembali, tentang masa depan yang kelam. Namun, ia tahu Limario yang sekarang belum siap mendengar hal gila seperti itu.
"Dia... dia hanya bicara tentang masa lalu, Lim," bohong Jennie, meskipun hatinya terasa perih.
Limario memeluk Jennie erat, membenamkan wajahnya di leher istrinya. "Jangan pernah pergi sendiri lagi. Aku hampir gila saat Hans bilang kau pergi ke tempat sepi seperti ini."
Jennie membalas pelukan itu, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya sendiri. Di tengah pelukan hangat itu, ia membuat keputusan. Ia tidak bisa menyembunyikan kehamilannya lebih lama lagi, terutama dengan adanya ancaman Dante.
"Lim..." bisik Jennie.
"Ya, Sayang?"
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Sesuatu yang akan mengubah segalanya." Jennie melepaskan pelukan, mengambil tangan besar Limario dan meletakkannya tepat di atas perutnya. "Ada kehidupan di sini. Anak kita, Lim."
Limario membeku. Matanya yang biasanya dingin dan tajam seketika bergetar. Ia menatap tangan yang berada di perut Jennie, lalu menatap wajah istrinya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Kau... kau serius?" suara Limario parau.
Jennie mengangguk sambil tersenyum melalui air matanya. "Ya. Kenzhi akan punya adik."
Limario langsung mengangkat Jennie dan memutarnya di udara, tawa bahagianya pecah di tengah kesunyian pemakaman. Untuk pertama kalinya, sang Bos Mafia menangis karena bahagia.
Namun, di kejauhan, dari balik kaca mobilnya yang gelap, Dante memperhatikan mereka dengan tatapan dingin. Ia memegang sebuah pemantik api, memainkannya berulang kali.
"Maafkan aku, Lim," gumam Dante. "Tapi anak itu tidak boleh lahir jika aku ingin kau tetap hidup."