Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Persiapan Upacara Besar
Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela aula istana, menyorot lantai marmer yang mengilap.
Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya merah bersinar, tangan kecilnya menepuk kain perlahan sambil mengamati aktivitas di sekitarnya.
Hari ini istana sibuk, persiapan untuk upacara besar yang akan dihadiri raja-raja tetangga, bangsawan, dan tamu-tamu dari seluruh wilayah kerajaan.
Lampu, kain hias, dan bunga-bunga segar disiapkan di aula besar, sementara pelayan, pengawal, dan tukang dekorasi berlarian menyelesaikan tugas mereka.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk seorang pelayan yang hampir menumpahkan vas bunga yang mahal.
Liora segera menahan pelayan itu, tersenyum sambil berkata, “Tenang, semua akan baik-baik saja.”
Bayi itu menggeliat, matanya merah bersinar, menandakan bahwa dia sudah melihat potensi bahaya yang mungkin terjadi.
Di sisi lain aula, Kael berdiri dengan tubuh tegap, matanya biru menatap Arvella dan Liora.
Ia mengamati setiap gerakan bayi itu dengan rasa penasaran dan kekaguman.
“Bayi ini… sungguh luar biasa,” gumamnya pelan, matanya mengikuti setiap isyarat Arvella.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora sebagai tanda bahwa Kael bisa membantu mencegah hal-hal yang mungkin salah.
Ketegangan mulai meningkat ketika Raja datang, mengawasi persiapan.
“Semua harus sempurna,” katanya tegas, menatap setiap pelayan dan pengawal.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya menyala, merasakan kegelisahan Raja.
Ia menepuk kain Liora, memberi isyarat agar mereka memastikan setiap detail dipastikan aman.
Di taman istana, beberapa pekerja hampir merusak rangkaian bunga karena hujan semalam.
Arvella mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah beberapa vas yang tidak stabil.
Liora segera menegur pekerja, memindahkan vas, dan memastikan setiap bunga tetap indah dan rapi.
Kael tersenyum, kagum pada kewaspadaan bayi itu.
“Jika aku memiliki insting seperti ini, banyak masalah bisa dihindari,” katanya pelan, matanya biru menatap Arvella.
Namun masalah muncul ketika salah satu tamu bangsawan terlambat datang, membawa delegasi besar.
Kerumunan mulai panik, pelayan kebingungan menyiapkan tempat duduk tambahan, sementara pengawal mencoba menertibkan tamu.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora.
Liora segera mengatur pengawal dan pelayan, menyarankan agar tamu duduk di tempat khusus sementara dekorasi disesuaikan.
Kael membantu, mengarahkan tamu dengan sopan, sambil tetap mengawasi setiap gerakan Arvella.
Saat matahari hampir tenggelam, aula mulai dipenuhi cahaya lampu dan lilin, memantul di lantai marmer dan patung-patung kuno.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk beberapa bayangan gelap di sudut aula—seorang pelayan yang tampak gugup dan seorang bangsawan yang terlalu dekat dengan vas hias.
Liora segera menenangkan pelayan itu, sedangkan Kael menegur bangsawan dengan sopan namun tegas.
Bayi itu tersenyum kecil, puas—bahaya kecil berhasil dicegah tanpa ada yang menyadari.
Ketika semua mulai tenang, Arvella mencondongkan tubuh ke arah jendela, matanya merah bersinar, membaca energi tamu yang datang.
Ada seorang bangsawan yang membawa surat misterius, terlihat gelisah dan cemas.
Arvella menepuk kain Liora, memberi isyarat bahwa surat itu harus diperiksa sebelum diserahkan ke Raja.
Liora segera mengambil surat, membacanya dengan teliti, dan menemukan pesan yang bisa menimbulkan konflik diplomatik.
Kael mengangguk, memahami betapa pentingnya peran Arvella dalam menjaga keamanan dan ketertiban acara.
Saat malam tiba, upacara dimulai dengan megah.
Musik mengalun, tamu-tamu duduk dengan rapi, dan Raja memberikan sambutan hangat.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, memantau setiap gerakan tamu.
Ia merasakan ketegangan di antara beberapa bangsawan—potensi konflik yang bisa meletus jika tidak segera dikendalikan.
Liora dan Kael bekerja sama, mengatur tamu dan menjaga ketertiban, sementara Arvella tetap menjadi pengintai kecil yang waspada.
Di tengah acara, seorang bangsawan mencoba memprovokasi delegasi lain.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk Kael.
Kael segera menengahi situasi dengan sopan, mencegah pertengkaran yang bisa memalukan Raja.
Bayi itu menggeliat, matanya bersinar, puas—tugasnya hari ini berhasil.
Namun, di lorong belakang aula, bayangan laki-laki misterius muncul lagi, matanya biru menatap Arvella dari kejauhan.
Bayi itu mencondongkan tubuh, menatap bayangan itu, dan kali ini ada rasa keakraban yang samar.
Kael menatap Arvella, menyadari bahwa sosok ini akan menjadi bagian dari perjalanan mereka.