Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIBIT PENGKHIANATAN
Lembah Patah Hati berubah dalam semalam. Puing-puing kapal emas Jenderal Wei yang jatuh dari langit tidak dibiarkan menjadi sampah; di bawah komando Feng, pelayan-pelayan itu membedah bangkai logam suci tersebut. Logam emas astral dipadukan dengan kayu besi dari hutan sekitarnya, menciptakan barak-barak yang memancarkan aura pertahanan tingkat tinggi.
Namun, di tengah kesibukan pembangunan, sebuah racun yang lebih berbahaya daripada pedang Jenderal Wei mulai merembes: Ambisi.
Dua ribu orang yang dulu hanya mengharap sisa nasi, kini memiliki kekuatan Chi yang mengalir di meridian mereka. Sistem "Seni Transmutasi Kolektif" milik Feng membuat mereka kuat dengan cepat, namun ia juga membuat mereka merasa berhak atas lebih banyak lagi.
Feng berdiri di balkon barak utama yang baru dibangun, menatap ke arah pemukiman di bawah. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa besar beban mental yang ia tanggung untuk menyeimbangkan energi seluruh lembah.
"Kau terlalu memanjakan mereka, Feng," suara Xuelan terdengar dari belakang. Ia membawa nampan berisi bubur herbal panas. "Zhao dan beberapa orang dari faksi dapur mulai menuntut pembagian batu roh yang lebih besar. Mereka bilang, karena mereka yang bekerja paling keras membangun tembok, mereka harus mendapat porsi energi yang lebih banyak."
Feng menerima mangkuk bubur itu, uapnya menghangatkan wajahnya. "Hutang kesetiaan adalah yang paling sulit dikelola, Xuelan. Jika aku menekan mereka, mereka akan merasa aku sama saja dengan Mu Yun. Jika aku membiarkan mereka, sistem keseimbangan ini akan runtuh."
“Potong saja kepala satu orang, dan yang lain akan patuh,” suara Yue Er berdesis dingin dari tato di dada Feng. “Manusia adalah aset yang hanya menghargai nilai mereka saat mereka merasa terancam kehilangan nyawanya.”
"Aku bukan tukang jagal, Yue Er," gumam Feng pelan.
"Apa kau bilang?" tanya Xuelan, mengira Feng bicara padanya.
"Bukan apa-apa. Di mana gadis kecil yang kau temukan di puing kapal kemarin?" tanya Feng, mengalihkan pembicaraan.
"Dia di tenda medis bersama Guru Lin. Namanya Mei. Dia tidak bicara sepatah kata pun sejak ditemukan. Dia hanya memeluk potongan kayu yang mirip instrumen musik yang hancur itu," jawab Xuelan, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Ada sesuatu yang aneh padanya, Feng. Auranya... terlalu bersih untuk seorang pelayan kapal perang."
Feng meletakkan mangkuknya. "Bawa aku menemuinya."
Di tenda medis, Guru Lin sedang mencoba memberikan ramuan penenang kepada gadis kecil itu. Mei duduk di sudut ranjang, rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya yang mungil. Di pangkuannya, potongan kayu Guqin yang retak dipeluk erat.
Begitu Feng masuk, Mei mendongak. Mata besarnya menatap Feng—bukan dengan rasa takut, tapi dengan pengenalan yang sangat dalam.
TING.
Suara senar imajiner berdenting di kepala Feng. Tato teratai di dadanya mendadak terasa dingin membeku.
"Mei?" Feng berjongkok di depan gadis itu. "Kau selamat dari kapal emas. Siapa yang mengirimmu?"
Mei tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya yang mungil, menyentuh tato di dada Feng. Seketika, bayangan Yue Er yang biasanya tersembunyi terlempar keluar dari tubuh Feng, bermanifestasi secara paksa di tengah tenda.
"Kau!" Yue Er berteriak, wajahnya yang cantik berubah menjadi penuh ketakutan. "Bagaimana bisa kau ada di sini?!"
"Yue Er, kau mengenalnya?" Feng berdiri, tangannya secara insting memegang gagang Pedang Keseimbangan Agung.
“Dia bukan Mei! Dia adalah 'Saksi' dari Istana Karma!” raung Yue Er. “Dia dikirim bukan untuk membunuhmu, Feng, tapi untuk mencatat setiap transaksimu! Jika dia tetap di sini, Istana Karma akan tahu cara memutus benang takdirmu dari kejauhan!”
Tiba-tiba, suara teriakan pecah dari luar tenda.
"PENGKHIANAT! TIAN FENG ADALAH PENGKHIANAT!"
Suara Zhao menggelegar di tengah lembah. Feng melangkah keluar dari tenda dan melihat pemandangan yang mengejutkan. Zhao berdiri di atas tumpukan batu roh, memegang sebuah gulungan kertas emas—perintah resmi dari Kekaisaran Pusat yang entah bagaimana bisa sampai ke tangannya.
"Dengarkan semuanya!" Zhao berteriak kepada kerumunan murid yang mulai berkumpul. "Tian Feng menyembunyikan kebenaran! Kekaisaran Pusat menjanjikan pengampunan dan posisi sebagai murid inti bagi siapa saja yang menyerahkan kepala pembawa pedang emas ini! Dia menggunakan kita sebagai tameng hidup untuk melawan Jenderal Wei!"
Kerumunan mulai berbisik. Ketakutan yang sempat hilang kini kembali, dipicu oleh keserakahan yang ditawarkan oleh musuh.
"Zhao, kau sedang meminjam masalah yang tidak bisa kau bayar," ucap Feng dingin sambil berjalan mendekat. Langkahnya tenang, namun setiap injakan kakinya membuat tanah lembah bergetar pelan.
"Jangan mendekat, Sampah!" Zhao mengeluarkan sebuah belati perak yang memancarkan aura cahaya—senjata pemberian dari Kekaisaran Pusat. "Kau bukan penyelamat kami! Kau hanya pencuri yang membawa kami ke lubang kematian! Teman-teman, lihatlah dia! Dia memakan bubur mewah sementara kita berkeringat di bawah terik matahari!"
Xuelan mencabut pedangnya, matanya berkilat penuh amarah. "Zhao! Kau yang paling banyak menerima bantuan dari Feng saat tanganmu lumpuh!"
"Itu hanya triknya agar aku berhutang budi padanya!" balas Zhao gila.
Feng mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Xuelan mundur. Ia menatap dua ribu orang di depannya. Sebagian besar dari mereka tampak ragu, namun sebagian lagi mulai memegang senjata mereka dengan erat, menatap Feng seolah-olah ia adalah tumpukan emas yang bisa ditukarkan dengan kenyamanan.
"Sektor hutang kesetiaan memang selalu yang paling tidak stabil," Feng bergumam. Ia memejamkan mata sejenak, berkomunikasi dengan Pedang Keseimbangan Agung. "Kalian ingin pengampunan dari Kekaisaran? Kalian ingin menjadi murid inti?"
Feng menghunus pedang emasnya. Cahaya mentari terpantul di bilahnya, menyinari wajah-wajah yang penuh keserakahan itu.
"Baiklah. Mari kita lakukan audit akhir," ucap Feng. "Semua energi yang kalian punya sekarang... adalah modal dariku. Jika kalian ingin mengundurkan diri dari sekte ini, maka kalian harus mengembalikan modal itu. SEKARANG JUGA."
Feng menghantamkan pangkal pedangnya ke tanah.
"Penyitaan Massal: Penutupan Akun!"
Seketika, simbol emas di dahi Zhao dan beberapa orang yang mendukungnya meledak. Energi Chi yang selama ini mereka nikmati tersedot keluar secara paksa melalui pori-pori kulit mereka, kembali mengalir masuk ke dalam pedang Feng.
Zhao jatuh berlutut, tubuhnya kembali menjadi gemuk dan lemah, napasnya tersengal-sengal saat ia merasakan kekuatannya hilang.
"Kau... kau mencuri kekuatan kami!" raung Zhao.
"Aku tidak mencurinya," Feng menatapnya dengan tatapan yang sangat datar. "Aku hanya menarik kembali investasi yang gagal. Kau bangkrut, Zhao. Secara moral, dan secara energi."
Namun, di tengah keheningan yang mencekam itu, gadis kecil bernama Mei keluar dari tenda. Ia memegang sepotong kayu Guqin yang kini telah menyatu kembali secara misterius.
Mei memetik satu senar yang tak terlihat.
TRIIING...
Gelombang suara itu tidak menyerang Feng, melainkan membakar gulungan kertas emas di tangan Zhao. Abu dari kertas itu terbang dan membentuk sebuah pesan di langit yang bisa dilihat oleh seluruh benua.
"AUDIT DIMULAI. TARGET: TIAN FENG. LOKASI: LEMBAH SUNYI."
Feng mendongak ke langit, menyadari bahwa pengkhianatan Zhao hanyalah pengalih perhatian agar Mei bisa mengirimkan sinyal koordinat yang tepat kepada para pengejar.
"Yah," Feng menyarungkan pedangnya, menoleh ke arah Xuelan yang tampak pucat. "Sepertinya promosi besar-besaran Sekte Tanpa Hutang sudah selesai. Sekarang, bersiaplah untuk kunjungan dari 'Hakim Agung' yang sebenarnya."