Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Beberapa minggu berlalu sejak pernikahan resmi kedua Ling Chen. Istana Api Agung terasa lebih hidup dari sebelumnya. Pasukan elit gabungan Api dan Laut mulai terbentuk di bawah komando Ling Chen. Setiap pagi, halaman latihan besar dipenuhi suara benturan qi: api merah menyala dari prajurit kekaisaran, ombak biru mengalir dari murid-murid yang dipinjam dari sekte-sekte laut kecil yang bersekutu, dan di tengah-tengahnya, Ling Chen berdiri dengan trisula di tangan, mengajarkan teknik Dewa Laut Abadi yang telah dimodifikasi untuk cocok dengan qi api.
Yue Yan sering ikut latihan, pedang apinya menyala terang saat dia berlatih bersama suaminya. Qing Lin, dengan pedang air kristalnya, menjadi instruktur utama untuk para prajurit yang baru belajar elemen air. Kedua wanita itu saling melengkapi: Yue Yan mengajarkan kekuatan destruktif api, Qing Lin mengajarkan fleksibilitas dan pertahanan air. Ling Chen hanya perlu menggabungkan keduanya, menciptakan teknik hybrid yang membuat para prajurit terpana.
“Perhatikan!” seru Ling Chen suatu pagi, trisulanya diayunkan sekali. Ombak jingga kebiruan muncul, membentuk naga api-ombak yang melingkar di udara sebelum meledak menjadi perisai pelindung dan serangan simultan. “Ini adalah **Naga Ombak Nirwana**. Api untuk menyerang, air untuk melindungi. Kalian harus latih keseimbangan qi kalian setiap hari.”
Para prajurit bertepuk tangan, mata mereka penuh kekaguman. Beberapa bahkan mulai memanggil Ling Chen “Pangeran Api Laut” dengan hormat yang tulus. Huo Zhan yang dulu pernah merendahkannya kini menjadi kenangan buruk—dia masih meringkuk di penjara istana, tapi rumor mulai beredar bahwa dia sering berbicara sendiri dalam kegelapan.
Di paviliun pribadi, kehidupan ketiganya semakin harmonis. Setiap malam, mereka bertiga tidur bersama di tempat tidur besar yang kini menjadi simbol ikatan mereka. Yue Yan sering menjadi yang paling aktif, tubuhnya yang hangat seperti api selalu memulai—mencium Ling Chen dengan penuh gairah, lalu menarik Qing Lin ke dalam pelukan. Qing Lin, dengan kelembutannya, selalu menjadi penyeimbang—sentuhannya lembut seperti ombak, membuat Yue Yan yang biasanya dominan menjadi lebih rileks.
Suatu malam, setelah latihan panjang, mereka bertiga berbaring telanjang di bawah selimut sutra merah. Yue Yan berbaring di dada Ling Chen, jarinya menggambar pola api kecil di kulit suaminya. Qing Lin meringkuk di sisi lain, kepalanya di bahu Ling Chen, tangannya menyentuh perut Yue Yan dengan lembut.
“Kalian tahu… aku mulai merasa ada sesuatu,” kata Yue Yan pelan, suaranya penuh kebahagiaan. “Qi di perutku… seperti ada kehidupan kecil yang tumbuh.”
Ling Chen langsung duduk, matanya melebar. “Yan’er… kau hamil?”
Yue Yan tersenyum malu-malu, tangannya menyentuh perutnya yang masih rata. “Belum pasti. Tapi Jantung Nirwana membuat qi-ku lebih sensitif. Aku merasakan… energi kecil yang hangat. Seperti api kecil yang baru lahir.”
Qing Lin tersenyum lebar, air mata bahagia mengalir di pipinya. “Kak Yue Yan… ini luar biasa. Aku… aku juga ingin suatu hari nanti.”
Ling Chen memeluk keduanya erat, hatinya penuh. “Kita akan punya anak. Dan dia akan menjadi yang terkuat—darah api dan air, dari tiga orang tua yang mencintainya.”
Mereka bertiga berpelukan lama malam itu, tak ada lagi kata-kata—hanya kehangatan tubuh saling menempel, ciuman lembut, dan janji tak terucap untuk melindungi masa depan kecil yang mungkin sedang tumbuh di rahim Yue Yan.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan tanpa bayang-bayang.
Di penjara bawah tanah istana, Huo Zhan duduk dalam sel gelap. Tubuhnya kurus, tapi matanya masih menyala penuh dendam. Di tangannya, talisman hitam kecil yang disembunyikan selama ini mulai bergetar. Itu adalah **Talisman Bayangan Ilahi**, peninggalan dari Pangeran Tian Hao yang pernah dikirim sebagai “hadiah” sebelum perang. Huo Zhan telah menyimpannya bertahun-tahun, menunggu momen yang tepat.
“Ling Chen… kau pikir kau menang?” gumamnya dalam gelap. “Kau punya dua istri, kekuatan baru, bahkan mungkin anak. Tapi talisman ini… akan membuka gerbang kegelapan. Klan Bayangan Ilahi belum mati. Mereka menunggu sinyal ini.”
Dia menggigit jarinya, meneteskan darah ke talisman. Cahaya hitam samar muncul, membentuk pola rune kuno. Talisman bergetar lebih kuat, lalu meledak menjadi asap hitam yang meresap ke dinding sel. Asap itu menyusup keluar dari penjara, melintasi lorong-lorong istana tanpa terdeteksi, menuju luar kota.
Malam itu, di paviliun, Ling Chen terbangun tiba-tiba. Jantung Nirwana di dadanya berdenyut tidak biasa—seperti ada ancaman gelap yang mendekat.
“Chen’er?” Yue Yan terbangun, merasakan kegelisahan suaminya.
“Ada sesuatu… qi gelap. Sangat samar, tapi mendekat.”
Qing Lin juga bangun, pedang air kristalnya sudah di tangan. “Aku juga merasakannya. Seperti… bayangan dari reruntuhan, tapi lebih jahat.”
Ketiganya bangkit, mengenakan jubah cepat. Mereka berlari ke balkon paviliun, menatap langit malam yang mulai gelap. Di kejauhan, di atas gunung berapi terdekat, awan hitam mulai berkumpul—bukan awan biasa, tapi awan qi gelap yang berbentuk wajah samar.
“Itu… Klan Bayangan Ilahi,” kata Ling Chen dingin. “Huo Zhan pasti terlibat.”
Yue Yan mengertak gigi. “Ayah harus tahu. Kita harus ke aula utama sekarang!”
Mereka bertiga berlari menuju aula utama istana. Di sana, Kaisar Huo Tian dan Ibu Suri sudah berdiri di balkon besar, menatap awan hitam yang semakin mendekat. Para penjaga berlari kesana-kemari, alarm kekaisaran dibunyikan.
“Yang Mulia!” seru Ling Chen saat tiba. “Ini serangan dari Klan Bayangan Ilahi. Huo Zhan pasti memicu talisman.”
Kaisar mengangguk muram. “Aku tahu. Penjaga melaporkan selnya kosong. Dia kabur dengan bantuan bayangan. Awan itu… adalah **Gerbang Bayangan Abadi**. Jika terbuka sepenuhnya, pasukan bayangan akan membanjiri kekaisaran.”
Ibu Suri menatap Ling Chen. “Kau yang paling paham kekuatan campuran api dan air. Apa rencanamu?”
Ling Chen menatap awan itu, trisula di tangannya bercahaya. “Kita harus tutup gerbang itu sebelum terbuka penuh. Aku, Yue Yan, dan Qing Lin akan pergi ke pusat awan. Pasukan elit harus lindungi istana.”
Yue Yan mengangguk tegas. “Ayah, izinkan kami. Kami bertiga punya kekuatan yang cukup.”
Kaisar diam sejenak, lalu mengangguk. “Pergilah. Lindungi kekaisaran. Dan… kembali selamat.”
Ketiganya langsung bergerak. Ling Chen mengayunkan trisula, menciptakan ombak api jingga yang membawa mereka bertiga terbang menuju awan hitam. Yue Yan dan Qing Lin mengikuti di sisi, qi mereka menyatu sempurna.
Di dalam awan, kegelapan menyelimuti. Bayangan-bayangan hitam muncul—prajurit Klan Bayangan Ilahi yang tersisa, dipimpin oleh Huo Zhan yang kini auranya lebih gelap, seperti telah menyerap kekuatan talisman.
“Ling Chen!” raung Huo Zhan, tubuhnya dibalut bayangan hitam. “Kau pikir kau bisa menang selamanya? Talisman ini memberiku kekuatan setengah dewa! Hari ini, aku akan ambil segalanya darimu—istri-istrimu, kekaisaran, semuanya!”
Ling Chen mendarat di depannya, trisula siap. “Huo Zhan… kau sudah kalah sejak dulu. Dendammu hanya membuatmu lebih lemah.”
Pertarungan meledak.
Huo Zhan melepaskan **Bayangan Penghancur**—gelombang hitam yang menyerap cahaya dan qi. Yue Yan melompat maju, pedang apinya menciptakan **Naga Api Penghancur** yang membakar bayangan itu. Qing Lin menyusul dengan **Ombak Es Nirwana**, membekukan sisa-sisa gelombang hitam.
Ling Chen melompat ke depan Huo Zhan, trisula menusuk. **Gelombang Api Ombak Dewa Laut** meledak, ombak jingga kebiruan yang membakar dan memurnikan bayangan sekaligus. Huo Zhan menghindar, tapi lengan kirinya terbakar, darah hitam mengalir.
“Kalian bertiga… terlalu kuat!” geram Huo Zhan. Dia mengangkat talisman hitam yang masih tersisa. “Tapi ini belum selesai! Gerbang Bayangan—buka!”
Awan hitam bergolak lebih hebat. Gerbang raksasa berbentuk mulut kegelapan terbuka di atas mereka, mengeluarkan pasukan bayangan tak terhitung jumlahnya.
Ling Chen menatap istrinya berdua. “Kita tutup gerbang itu bersama. Gunakan teknik terkuat kita!”
Ketiganya berdiri berdekatan, tangan saling bergenggam. Yue Yan di tengah, api merahnya menyala terang. Qing Lin di kiri, air birunya mengalir lembut. Ling Chen di kanan, trisula diangkat tinggi.
“Kita satukan!” seru Ling Chen.
Qi mereka menyatu sempurna: api merah, air biru, dan api jingga membentuk **Teratai Api Ombak Abadi**—bunga raksasa jingga kebiruan yang berputar cepat di udara. Bunga itu membesar, menyerap semua qi gelap di sekitar, lalu meledak ke arah gerbang bayangan.
Ledakan besar mengguncang langit. Gerbang hitam retak, lalu hancur menjadi partikel gelap yang terserap ke teratai. Pasukan bayangan berteriak sebelum lenyap. Huo Zhan terjatuh berlutut, talisman di tangannya hancur total.
“Tidak… mustahil…” gumamnya.
Ling Chen mendekat, trisula diarahkan ke leher Huo Zhan. “Ini akhirnya, Huo Zhan. Dendammu berakhir di sini.”
Huo Zhan menatapnya dengan mata penuh kebencian terakhir. “Kau… akan menyesal… Klan Bayangan… belum mati…”
Ling Chen menggeleng. “Mereka tak akan datang lagi. Kau sendirian sekarang.”
Dengan satu gerakan trisula, Huo Zhan jatuh tak bernyawa. Bayangan terakhirnya lenyap bersama angin.
Awan hitam menghilang, langit kembali jingga cerah. Ketiganya mendarat di bukit dekat istana, napas tersengal tapi penuh kemenangan.
Yue Yan memeluk Ling Chen erat. “Kita menang… lagi.”
Qing Lin bergabung, air mata bahagia mengalir. “Keluarga kita… aman sekarang.”
Ling Chen memeluk keduanya, menatap istana di kejauhan. “Ya. Dan sekarang… kita bisa membangun masa depan.”
Beberapa bulan kemudian, Yue Yan mengumumkan kehamilannya secara resmi. Seluruh kekaisaran merayakan. Qing Lin juga mulai merasakan tanda-tanda yang sama. Ling Chen berdiri di balkon paviliun, memeluk kedua istrinya yang kini sama-sama mengandung, menatap langit api yang cerah.
“Kita akan jadi keluarga terkuat,” bisiknya.
Yue Yan dan Qing Lin tersenyum, tangan mereka menyentuh perut masing-masing.
“Ya… suamiku.”
Di bawah langit jingga, Kekaisaran Api Agung memasuki era baru—era yang dipimpin oleh Pangeran Api Laut Agung, dengan dua istri yang mencintainya, dan anak-anak yang akan lahir membawa darah api dan air.
Dan di suatu tempat di lautan jauh, Bai Yue Chan menatap langit dari Pulau Dewa Laut, tersenyum. “Mereka bahagia… aku juga akan ke sana suatu hari.”
Cerita belum berakhir—tapi untuk saat ini, api dan air telah menemukan harmoni abadi.