NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh — Mereka Ancaman bagi sang Alpha

Selamat membaca ceritaku yang baru, semoga kalian suka yaab

Jay menutup pintu perlahan hingga kembali ke posisi semula, memastikan kuncinya terkunci seperti awal. Tidak ada bekas paksa maupun tanda mereka pernah melewatinya.

Klik. Terkunci.

Ia mundur satu langkah, bergabung dengan Arsya dan Niki.

Tanpa membuang waktu, mereka segera menaiki anak tangga darurat menuju lantai dasar gedung. Kini mereka sadar–jalur keluar tadi membawa mereka ke area basement, ruang bawah tanah yang justru terbuk ke sisi luar gedung sehingga sinar matahari masih bisa masuk melalui celah ventilasi besar di dinding atas.

Cahaya sore menyusup masuk, menciptakan garis-garis terang di antara debu yang berterbangan. Langkah mereka menggema pelan di tangga beton.

Satu lantai.

Dua lantai.

Nafas mereka belum benar-benar stabil karena—

BRAK!

Suara pintu terdorong paksa terdengar dari bawah. Logam bergetar keras, namun tetap tak terbuka. Disusul benturan kedua. Lebih kuat.

Arsya menegang. Niki refleks menoleh ke bawah, wajahnya memucat. Jay berhenti sepesekian detik, rahangnya mengeras, karena mereka tahu.

Itu bukan Kanihu biasa melainkan sang Alpha. Tidak ada pekikan lar, tidak ada amukan membabi buta. Hanya dorongan terukur, berkali-kali seperti sedang menguji kekuatan pintu.

Marah namun tetap terkendali. Alpha menyadari bahwa tidak hanya kehilangan mangsa. Melainkan ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting, beberapa berkas. Berkas yang selama ini di jaga dan di sembunyikan, dan kini bukan sekedar insting lapar yang bergerak. Melainkan ambisi.

Dilindungi di lantai yang paling banyak dijaga oleh kawanan mereka.

Jay berlari menaiki tangga, nafasnya berat. “Kemungkinan besar… kita bukan sekedar mangsa yang lolos.”

Niki melanjutkan dengan suara tegang, “kita mangsa yang mencuri.” Arsya merasakan dingin menjalar di punggungnya.

“Kita harus cepat,” bisik Jay, kali ini tanpa menoleh lagi. Mereka kembali menaiki tangga, langkah lebih cepat namun tetap di jaga agar tidak terpeleset. Di bawah sana, satu benturan terakhir terdengar—lebih keras dari sebelumnya sampai logam mulai melengkung.

Waktu mereka tidak banyak.

Jika berkas-berkas itu memang berisi informasi tentang vaksin, tentang subjek Alpha, tentang eksperimen awal– maka mereka baru saja mengambil sesuatu yang menjadi kunci.

Dan Alpha tahu. Di bawah sana terdengar lagi suara logam terpelintir. Bukan lagi sekedar dorongan kasar, melainkan tekanan terarah.

Seolah ia memahami bahwa mangsanya kali ini lebih pintar, lebih berani. Dan cukup cerdas untuk menyentuh rahasia yang selama ini tersembunyi.

Asrya menggenggam tali tasnya lebih erat, serta tongkat baseball yang ia peluk sejak tadi. “Kita harus baca isinya secepat mungkin,” ujarnya pelan, namun penuh tekad. “Kalau ini benar tentang awal Kanihu… mungkin kita bisa menemukan kelemahan mereka.”

Jay menoleh sekilas, sorot matanya berbeda sekarang. Bukan hanya bertahan hidup. Tapi melawan, karena sejak mereka membawa berkas itu, permainan berubah. Mereka bukan lagi sekedar korban di dunia hancur. Melainkan mereka adalah ancaman bagi sang Alpha.

Akhirnya mereka tiba di lantai dasar. Tangga darurat berakhir pada sebuah lorong pendek dengan dua pintu besar di hadapan mereka. Satu pintu bertuliskan AKSES GEDUNG– mengarah kembali ke dalam, ke jantung bangunan yang penuh dengan Kanihu.

Satu lagi pintu logam kusam tanpa tanda jelas, hanya cat terkelupas dan bau menyengat samar yang merembes dari celah bawahnya. Jay langsung tahu.

“Itu pintu luar,” bisiknya. Niki mengernyir ketika angin tipis membawa aroma busuk ke arah mereka. “Halaman belakang… tempat pembuangan sampah.”

Arsya menelan ludah, keluar berarti terbuka. Terbuka untuk terlihat, namun tetap lebih baik dari pada kembali ke dalam sarang. Dari tangga di belakang mereka, samar-samar terdengar getaran berat. Bukan langkah cepat, melainkan sesuatu yang turun dengan tenang dan teratur.

Alpha tidak lagi mengamuk tapi ia mengejar.

Jay meraih gagang pintu belakang, dingin dan berkarat. Ia membukanya perlahan, engsel nya berbunyi pelan.

Cahaya matahari sore menerobos masuk, menyilaukan mata mereka sesaat. Diluar terlihat halaman luas dengan kontainer sampah besar, beberapa mobil box tua, dan pagar tinggi berkarat yang membatasi area gedung.

Sepi, terlalu sepi.

“Cepat,” desis Jay. Mereka melangkah keluar satu per satu. Begitu seluruh tubuh mereka berada di halaman belakang, Jay menutup pintu itu perlahan tanpa membantingnya.

Klik. 

Kembali terkunci.

Tanpa menoleh lagi ke arah pintu, mereka segera menjauh dari gedung itu. Langkah mereka cepat namun tetap terkontrol, menyusuri sisi tembok belakang agar tidak terlalu terlihat dari jalan utama.

Dari celah gang kecil, mereka mengintip ke arah jalan raya.

Penuh.

Kanihu liar bergerak dengan gelisah, kepala mereka menoleh ke satu arah yang sama—menuju gedung tempat Alpha berada. Beberapa berlari patah-patah, beberapa melangkah cepat dengan gerakan aneh namun terkoordinasi.

Seakan mereka menjawab panggilan itu dengan kehadiran, sebuah panggilan yang tak terdengar oleh manusia biasa. “Kita beruntung,” bisik Niki. “Mereka fokus ke sana.”

Jay mengangguk singkat. “Alpha memanggil mereka, artinya dia sadar ada yang salah.”

Arsya merasakan campuran lega dan tegang sekaligus. Jika para kanihu berkumpul di satu titik, berarti area belakang ini untuk sementara lebih aman. Namun kata ‘sementar’ terasa rapuh.

Mereka bergerak menyusuri tumpukan kontainer sampah dan mobil box tua, memanfaatkan bayangan dan sudut mati. Sinar matahari sore mulai condong ke barat membuat bayangan semakin panjang—menguntungkan bagi mereka.

“Jangan ke jalan besar,” ujar Jay pelan. “Kita ambil jalur gang sempit dulu.”

Sekitar lima belas menit berlalu sejak mereka meninggalkan gedung itu. Lima belas menit yang terasa seperti satu jam.

Mereka bergerat memutar, melewati gang sempit, melompati pagar pendek, dan akhirnya berhasil menjauh dari titik berkumpulnya kawanan Kanihu. Pekikan Alpha kini hanya terdengar samar di kejauhan—seperti gema yang perlahan tertelan jarak.

Untuk sementara… mereka lolos.

Kini mereka berada di sebuah rumah kosong bertingkat tiga. Cat dinding mengelupas, jendelanya sebagian pecah, dan pintu depannya terbuka setengah seperti mulut yang lupa tertutup. Tidak ada tanda kehidupan–tidak ada bau menyengat atau jejak darah segar.

Jay memastikan setiap lantai cepat dan efisien.

Kosong.

Mereka akhirnya naik hingga ke lantai tiga dan keluar melalui jendela menuju atap. Angin sore menyambut wajah mereka. Dari ketinggian itu, pandangan mereka jauh lebih luas. Setiap pergerakan di jalanan bisa terlihat lebih dulu–gerombolan Kanihu yang berkeliaran, bayangan yang mencurigakan di tikungan gang, hingga kawanan yang masih bergerak menuju titip panggilan Alpha.

Kota terlihat lebih sunyi… namun bukan sunyi yang damai. Beberapa asap tipis terlihat di kejauhan. Bangunan-bangunan berdiri tanpa suara, seperti saksi bisu kehancuran.

“Dari sini kita bisa mengawasi mereka lebih jelas,” ujar Jay pelan. “Kita akan tetap lewat jalur atas, dan lebih kecil kemungkinan berpapasan langsung.”

Niki mengangguk, mengatur nafasnya. “Dan kalau ada yang bergerak, kita bisa lihat lebih dulu.”

Angin sore berhembus cukup kencang di ketinggian itu. Rambut Arsya berantakan tertiup, jaketnya berkibar tipis. Namun justru itu yang menguntungkan. Udara yang bergerak cepat membawa pergi aroma tubuh mereka–keringat, nafas, jejak manusia yang biasanya mudah ditangkap indera tajam Kanihu.

Bau kota yang amos dan berdebu pun semakin bercampur, menutupi keberadaan mereka.

Arsya berdiri sejenak, memandang langit yang mulai berubah jingga. Dalam tasnya, berkas-berkas itu terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena bobotnya, melainkan karena maknanya.

Ia sadar, sejak mereka mengambil dokumen itu–perjalanan mereka bukan lagi sekedar mencari adiknya maupun orang yang masih sehat bisa diselamatkan melainkan mencari jawaban dari semua yang telah terjadi.

Agar lebih bisa mengawasi kanihu dari atas. Dan udara yang kencang membuat aroma tubuh mereka tidak tercium.

Terima kasih sudah membaca, nanti kita lanjut jam 16.00 yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!