Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Bab 8 Aku Ingin Memeluknya
Fiona baru saja hendak berjalan keluar, dia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ketika melihat sosok yang muncul dari luar pintu.
Denzel pun masuk dan berjalan ke depan Fiona. Dia mengerutkan kening sembari berkata, "Apakah kamu sudah mau keluar? Bukankah aku menyuruhmu untuk menungguku?"
Fiona masih belum terbiasa dengan pendekatan Denzel. Tanpa sadar, dia mundur dua langkah ke belakang sembari menjawab, "Aku sudah harus pergi bekerja."
Denzel mengerutkan kening tanpa sadar ketika melihat tindakan Fiona. Denzel tidak mengatakan apa-apa, tapi dia menyerahkan stroberi yang disembunyikan di belakangnya kepada
Fiona, kemudian berkata dengan nada lembut, "Makan dulu, kemudian baru pergi bekerja."
Saat ini, Fiona terlihat sedikit panik. Mendengar Denzel menyuruhnya untuk makan sesuatu, matanya tanpa sadar tertuju pada barang yang diserahkan oleh Denzel. Fiona hendak menolak, tapi dia langsung tercengang ketika melihat dua stroberi yang merah dan besar di telapak tangan Denzel itu.
Aroma stroberi yang wangi seketika menyebar ke ujung hidungnya.
Terdapat banyak tetesan air di buah merah cerah dan mengkilat itu, terlihat sangat menggoda!
Tanpa sadar, Fiona menelan ludah dan melihat stroberi di depannya tanpa mengedipkan mata bulatnya. Dia bertanya dengan nada bingung dan tidak percaya, "Ini ... stroberi, 'kah?"
Denzel tersenyum bahagia, dia berkata sambil mendekatkan stroberi di tangannya ke arah Fiona, "Iya, ini stroberi. Ini pasti lebih enak dari yang kamu tanam. Coba saja."
Fiona tidak bergerak sama sekali, tapi dia masih saja melihat Denzel dengan tatapan sedikit curiga. Fiona bertanya, "Dari mana kamu mendapatkannya?"
Dari mana Denzel membeli stroberi yang ukurannya sebesar apel ini? Fiona tidak pernah melihatnya.
Denzel sudah lama tahu bahwa Fiona pasti akan bertanya padanya ketika dirinya tiba-tiba mengeluarkan stroberi ini. Denzel langsung mengatakan alasan yang sudah dipikirkan olehnya sebelumnya, "Seorang teman di luar negeri yang mengirimnya untukku. Ini adalah varietas berkualitas tinggi, sekarang masih belum tersedia di dalam negeri. Cepat coba stroberinya."
Sebelum memasuki perguruan tinggi, pada dasarnya Denzel selalu berada di luar negeri. Fiona mengetahui hal itu. Sesuai dengan identitasnya saat itu, tidak sulit bagi Denzel untuk mendapatkan beberapa teman yang tinggal di luar negeri.
Setelah mendengar alasan Denzel yang cukup masuk akal itu, Fiona pun ragu-ragu sejenak, kemudian dia mengulurkan tangan dan mengambil stroberi di tangan Denzel dengan hati-hati.
Belakangan ini, Fiona sangat ingin makan stroberi. Begitu melihat stroberi yang merah dan menggoda di tangan Denzel itu, dia sama sekali tidak bisa menahan diri lagi.
Setelah mengambil stroberi itu, Fiona langsung membuka mulutnya tanpa ragu-ragu.
Namun, ketika hendak menggigit
Saat melihat Fiona sudah
menghabiskan stroberi di tangannya, Denzel juga tidak berpikir terlalu banyak. Dia melangkah maju dan menyerahkan sebuah stroberi ke depannya, melampaui punggung Fiona, kemudian berkata, "Masih ada satu lagi, kamu makan saja."
Begitu merasakan napas dari belakangnya serta suara lembut seroang pria, wajah Fiona langsung memerah.
Dia mengulurkan tangan dan memegang perut bulatnya, kemudian menjawab, "Aku sudah sangat kenyang, kamu saja yang makan."
Hari ini, Denzel benar-benar berbeda dari yang sebelumnya...
Sebelumnya kalau Denzel begitu dekat dengannya, Fiona akan menghindar secara naluriah.
Sekarang Fiona tidak hanya tidak ingin menghindar, dia bahkan sedikit
Enggan untuk melepaskan kelembutannya yang mendadak hari ini.
Tidak tahu apakah besok Denzel akan berubah menjadi orang yang mengabaikannya lagi.
Begitu memikirkan hal itu, tanpa sadar Fiona menundukkan kepalanya dengan sedih.
Saat ini, Denzel melihat wanita di depannya yang tampak sedikit tidak nyaman itu.
Denzel bahkan memiliki dorongan di hatinya, dia ingin mengulurkan tangannya dan memeluk wanita mungil itu.
Namun, begitu memikirkan penolakan Fiona terhadap pendekatannya hari ini, Denzel malah menekan dorongan di hatinya.
Terlihat jelas bahwa kesan dan sikap
Fiona terhadapnya sudah sedikit berubah saat ini. Denzel tidak bisa terlalu impulsif sehingga membuat Fiona tidak nyaman.
Bagaimanapun, mereka masih memiliki banyak waktu di masa depan.
Perlahan-lahan, Denzel akan memperbaiki hubungan mereka sampai Fiona tidak akan menolaknya lagi.
Denzel menarik kembali stroberi yang dia serahkan kepada Fiona, lalu berkata, "Aku akan membungkus stroberi yang tersisa ini untukmu, kamu bisa membawanya untuk dimakan di pabrik."
Setelah itu, Denzel tidak menunggu Fiona menjawab dan langsung berbalik badan. Dia berjalan ke dalam kamar, kemudian membuka pintu lemari dan langsung melihat beberapa kantong plastik yang dimasukkan menjadi satu di sudut lemari.
Semua itu adalah kantong plastik
Yang dikumpulkan oleh Fiona. Ketika membutuhkannya di masa depan, semua itu bisa digunakan untuk menyimpan barang atau dijadikan sebagai kantong sampah.
Denzel mengulurkan tangan dan mengeluarkan kantong plastik transparan yang kusut. Dia menggoyangkannya beberapa kali dan meniupnya hingga terbuka, kemudian memasukkan stroberi yang ada di tangannya.
Setelah menyimpan stroberi itu, Denzel pun berjalan ke depan Fiona. Kemudian, dia menyerahkan kantong plastik itu kepada Fiona, "Bawa saja."
Hati Fiona terasa hangat ketika dia melihat kantong plastik yang diserahkan oleh Denzel. Dia mendongak dan melihatnya, kemudian berkata, "Kamu makan saja, stroberi ini... cukup lezat."
Denzel tersenyum. Satu tangannya
Meraih pergelangan tangan Fiona, sementara satunya lagi menyerahkan kantong plastik ke tangan Fiona. "Aku sudah menyisakannya untuk diriku, kamu bawa saja."
Setelah merasakan tindakan Denzel, terutama punggung tangannya yang dipegang oleh telapak tangan Denzel, Fiona menjadi sedikit tidak tenang.
Jantungnya mulai berdetak dengan cepat.
Den... Denzel malah meraih tangannya!
Denzel malah meraih tangannya dengan lembut!
Sebelumnya, Denzel selalu mencubit Fiona karena merasa enggan ...
Begitu memikirkan hal itu, di benak Fiona muncul adegan di mana Denzel sedang mabuk, kemudian menarik
Pergelangan tangannya dan melamparkannya ke tempat tidur. Fiona tiba-tiba menggigil, seluruh tubuhnya menegang secara naluriah. Dia menarik kembali tangannya dari telapak tangan Denzel, kemudian tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang.
Denzel tercengang ketika melihat Fiona yang tampak sedikit takut dan bereaksi dengan cepat. Hati Denzel jadi merasa sangat bersalah.
Denzel mungkin mengerti kenapa Fiona tiba-tiba menolaknya lagi.
Dulu, keesokan harinya setelah bangun dari keadaan mabuk, Denzel selalu melihat banyak bekas luka di tubuh Fiona...
Meskipun ingatannya sedikit kabur, Denzel tahu apa yang telah dia lakukan pada Fiona.
Dirinya benar-benar sangat
Berengsek!
Klaim
Denzel menurunkan tangannya dan diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat. Dia melihat Fiona sembari berkata dengan nada serak, "Ke depannya... aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin lagi. Aku tidak akan minum alkohol lagi, bisakah kamu percaya padaku?"
Fiona memegang kantong plastik yang diberikan oleh Denzel sembari melihat pria yang tampak serius di depannya, dia langsung tidak tahu harus berbuat apa.
Hari ini, Denzel benar-benar sangat aneh.
Denzel malah memedulikan perasaannya berulang kali ... Denzel bahkan juga berjanji padanya dengan sangat serius
Apakah Fiona harus percaya
Padanya?
Apakah Fiona harus percaya bahwa Denzel benar-benar tidak akan seperti itu lagi di masa depan?
Fiona mendongak dan melihat ekspresi serius di wajah Denzel, dia membuka mulutnya, tetapi tidak tahu harus berkata apa.
"Aku ... aku akan terlambat."
Fiona tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Denzel, dia pun buru-buru mencari alasan untuk dirinya sendiri. Dia segera berbalik badan dan berjalan pergi seperti sedang melarikan diri.
Denzel melihat punggung Fiona yang melarikan diri itu, dia pun mengerutkan alisnya. Denzel diam-diam menghela napas dan mengingatkannya, "Hati-hati, jangan sampai jatuh."
Dari luar pintu, Fiona menjawab dengan nada sedikit bingung, tetapi juga terdengar bahagia.
"Ya!"
Denzel tersenyum tidak berdaya.
Lupakan saja, barusan dialah yang kurang menjaga jarak. Denzel akan menebus kesalahannya pada wanita itu perlahan-lahan.