NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Toko Manisan Terbesar di Kota

Pagi di Kota Sagara selalu dimulai dengan aroma gula yang menguar di udara. Di sudut jalan utama, sebuah bangunan tiga lantai berdiri megah dengan papan nama besar berwarna emas: BOBA — Toko Manisan Keluarga Wijaya. Huruf-hurufnya berkilau diterpa sinar matahari, seolah menegaskan satu hal, di sinilah pusat kebahagiaan kecil warga kota bermula.

Sejak matahari belum sepenuhnya terbit, antrean sudah mengular di depan toko. Anak-anak sekolah berdiri sambil memegang uang saku, pasangan muda menggandeng tangan, hingga para orang tua yang ingin membawa oleh-oleh untuk keluarga. Semua menunggu giliran untuk membeli manisan legendaris yang telah mewarnai hidup mereka selama puluhan tahun.

Di lantai dua, Bima Wijaya, seorang remaja tujuh belas tahun, berdiri di balik jendela kaca sambil memperhatikan keramaian itu. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia terbiasa menyaksikan pemandangan ini sejak kecil, namun rasa bangga tak pernah luntur.

Toko BOBA bukan sekadar tempat berjualan. Bagi keluarga Wijaya, ini adalah warisan, kerja keras, dan cinta yang dirangkai perlahan dari nol.

“Bima, bantu angkat stok sirup ke depan!” suara ayahnya, Surya Wijaya, menggema dari lantai bawah.

“Iya, Yah!” sahut Bima sambil bergegas turun.

Di dapur produksi yang luas, puluhan karyawan bergerak cekatan. Panci-panci besar berisi cairan manisan berwarna-warni mendidih perlahan. Aroma karamel, vanila, stroberi, dan teh melati bercampur menjadi satu, menciptakan keharuman yang khas.

Surya berdiri di tengah ruangan, mengawasi setiap detail. Pria paruh baya itu dikenal perfeksionis. Baginya, kualitas adalah harga mati.

“Jangan sampai ada yang ceroboh,” katanya tegas namun hangat. “Satu kesalahan kecil bisa merusak rasa yang kita jaga bertahun-tahun.”

Bima mengangguk. Ia tahu betul prinsip ayahnya. Toko ini berdiri bukan karena keberuntungan, melainkan kegigihan dan konsistensi.

Ibunya, Ratna Wijaya, sibuk melayani pelanggan di kasir. Wajahnya selalu dihiasi senyum tulus, membuat siapa pun merasa disambut sebagai keluarga.

“Bu Ratna, manisan mangga favorit saya ya, seperti biasa,” ujar seorang pelanggan tetap.

“Siap, Pak Hendra. Seperti biasa, manisnya pas,” jawab Ratna sambil tertawa kecil.

Suasana toko selalu riuh oleh canda, pujian, dan tawa. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik kehangatan itu, badai besar tengah mengintai.

Di seberang jalan, berdiri sebuah toko manisan lain dengan papan nama yang lebih kecil: Permata Rasa. Pemiliknya, Rangga Pradipta, menatap keramaian BOBA dengan rahang mengeras.

“Selalu saja penuh,” gumamnya kesal.

Permata Rasa pernah berjaya, bahkan lebih dulu berdiri dibanding BOBA. Namun perlahan, pelanggan berpindah. Kualitas, pelayanan, dan inovasi BOBA membuat toko-toko lain tergerus, termasuk milik Rangga.

Ia menggenggam ponselnya erat, menatap layar yang menampilkan laporan keuangan toko dan angka merah bertumpuk.

“Kalau begini terus, aku bangkrut,” desisnya.

Rangga mengangkat telepon, menekan satu kontak yang disimpan tanpa nama.

“Halo, Pak. Kita perlu bicara. Saya punya rencana untuk menjatuhkan BOBA,” katanya pelan.

Di sisi lain kota, seorang pria berjas mahal menyunggingkan senyum samar. “Aku tunggu kabarnya. Pastikan rencanamu rapi. Kita tidak boleh meninggalkan jejak.”

Kembali ke toko BOBA, Bima membantu melayani pelanggan anak-anak. Ia menyerahkan segelas boba cokelat pada seorang bocah perempuan.

“Terima kasih, Kak!” ucap bocah itu ceria.

Bima tersenyum. Saat-saat seperti inilah yang membuatnya ingin meneruskan usaha keluarga.

Namun, di tengah kesibukan, seorang karyawan baru, Dian, tampak gelisah. Pandangannya sesekali melirik ke arah ruang administrasi, tempat dokumen keuangan disimpan. Tangannya gemetar saat menyusun kotak kemasan.

“Kenapa, Dian? Kamu kelihatan tegang,” tanya Bima.

Dian terkejut, lalu cepat menggeleng. “Nggak, Mas. Cuma capek.”

Bima tidak memaksa. Ia kembali ke pekerjaannya, tanpa tahu bahwa kegelisahan itu adalah awal dari rangkaian kehancuran.

Sore harinya, toko semakin ramai. Media lokal datang meliput karena BOBA dinobatkan sebagai Toko Manisan Terfavorit Kota Sagara untuk ketiga kalinya berturut-turut. Kamera dan mikrofon diarahkan ke Surya.

“Apa rahasia kesuksesan BOBA, Pak?” tanya seorang reporter.

Surya tersenyum sederhana. “Kejujuran, kualitas, dan kepercayaan. Itu saja.”

Tepuk tangan menggema. Bima menatap ayahnya dengan bangga. Ia tidak tahu, kalimat itulah yang kelak akan dipelintir menjadi senjata paling mematikan.

Malam menjelang. Lampu toko tetap menyala terang, melayani pelanggan terakhir. Ketika pintu akhirnya ditutup, keluarga Wijaya berkumpul di lantai atas untuk makan malam sederhana.

“Terima kasih, semuanya. Hari ini luar biasa,” ujar Surya.

Ratna tersenyum. “Semoga besok lebih baik lagi.”

Bima mengangguk, merasakan hangatnya kebersamaan. Dalam hati, ia berdoa agar hari-hari manis ini tak pernah berakhir.

Namun, di luar sana, fitnah sedang dirangkai dengan rapi. Sebuah rencana kejam mulai bergerak, perlahan namun pasti, siap merobohkan istana manisan yang dibangun dengan penuh cinta.

Dan tanpa disadari siapa pun, hari itu adalah hari terakhir kebahagiaan utuh keluarga Wijaya.

Malam semakin larut. Kota Sagara mulai sunyi, hanya menyisakan suara kendaraan sesekali melintas. Di lantai tiga toko BOBA, Bima berdiri di balkon kecil kamarnya, memandang gemerlap lampu jalan. Angin malam mengibaskan tirai tipis, membawa aroma sisa manisan yang masih melekat di udara.

Biasanya, pemandangan ini selalu menenangkan. Namun entah mengapa, malam itu dadanya terasa sesak.

Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.

Ia menghela napas, lalu berbalik masuk ke kamar. Di atas meja belajarnya, tergeletak buku catatan berisi sketsa desain kemasan baru. Bima ingin membuat tampilan produk yang lebih modern agar toko mereka bisa berkembang ke luar kota. Ia bermimpi suatu hari nanti, BOBA menjadi merek nasional.

Namun, sebelum sempat membuka buku itu, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Hati-hati dengan orang di sekitarmu. Kebenaran akan segera dipelintir.

Alis Bima berkerut. Ia membaca ulang pesan itu beberapa kali.

“Siapa ini?” gumamnya.

Ia membalas singkat, namun tidak ada jawaban.

Di lantai bawah, Surya masih berada di ruang kerja, memeriksa laporan penjualan. Meski hari itu luar biasa, raut wajahnya tidak sepenuhnya santai. Beberapa bulan terakhir, ia merasakan tekanan yang tidak biasa: pasokan bahan baku tertahan, izin distribusi yang dipersulit, dan pemeriksaan mendadak dari dinas terkait.

Semua itu terjadi terlalu sering untuk disebut kebetulan.

“Sepertinya ada yang tidak suka dengan perkembangan kita,” gumam Surya.

Ia menutup laptop, lalu mengusap wajahnya lelah. Namun, sebagai kepala keluarga, ia memilih menyimpan kegelisahan itu sendiri.

Keesokan paginya, suasana toko berubah.

Sejak pagi, tidak ada antrean panjang seperti biasanya. Pelanggan datang dengan wajah ragu, beberapa bahkan hanya berdiri di depan pintu tanpa masuk.

Ratna merasakan keganjilan itu.

“Bima, kenapa sepi sekali?” bisiknya.

Bima mengangkat bahu. “Mungkin orang-orang masih libur.”

Namun, keganjilan itu tak berlangsung lama.

Seorang pelanggan tetap, Ibu Lina, masuk dengan wajah panik.

“Bu Ratna, ini benar?” katanya tergesa-gesa sambil menunjukkan layar ponselnya.

Di layar itu terpampang sebuah berita daring dengan judul mencolok:

TERBONGKAR! TOKO MANISAN TERBESAR DI SAGARA GUNAKAN BAHAN BERBAHAYA

Ratna terhuyung sejenak. Bima langsung merebut ponsel itu.

Isi beritanya menuduh BOBA menggunakan pemanis buatan berbahaya dan zat kimia ilegal yang bisa merusak ginjal. Disertai foto-foto buram gudang mereka dan potongan dokumen yang tampak resmi.

“Ini tidak mungkin…” bisik Bima.

Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar seperti api di musim kemarau.

Pelanggan yang semula ragu langsung pergi. Sebagian memaki, sebagian lagi menatap dengan kecewa.

“Jadi selama ini kalian menipu kami?”

“Kasihan anak-anak kami!”

“Dasar serakah!”

Suara-suara itu menghujam lebih tajam dari pisau.

Surya keluar dari ruang kerja dengan wajah pucat. Ia menatap layar ponsel, lalu menggeleng keras.

“Ini fitnah,” katanya tegas. “Semua bahan kita sesuai standar. Kita punya sertifikat resmi!”

Namun, dunia tidak selalu peduli pada kebenaran.

Menjelang siang, petugas dinas kesehatan dan aparat kepolisian datang melakukan inspeksi mendadak. Gudang diperiksa, dokumen disita, dan produksi dihentikan sementara.

Seorang petugas berkata dingin, “Kami menerima laporan serius. Toko ini harus ditutup sampai penyelidikan selesai.”

Ratna terduduk lemas di kursi.

Bima mengepalkan tangan. “Pak, kami tidak bersalah. Tolong periksa dengan adil.”

Namun, petugas itu hanya menatap singkat lalu berlalu.

Sore itu, papan “TUTUP SEMENTARA” tergantung di pintu kaca BOBA.

Di seberang jalan, dari balik jendela Permata Rasa, Rangga menyaksikan semua itu dengan senyum tipis. Ponselnya kembali bergetar.

“Bagus. Lanjutkan,” pesan dari nomor tanpa nama itu singkat namun penuh makna.

Rangga menghela napas lega. Tapi di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Ia tahu, begitu permainan ini dimulai, tak ada jalan kembali.

Malam turun dengan getir.

Di ruang keluarga, Surya duduk terdiam, menatap lantai. Tangannya gemetar saat memegang secangkir teh yang tak tersentuh.

“Yah…” suara Ratna lirih.

Surya mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, Bima melihat ayahnya tampak begitu rapuh.

“Ayah gagal melindungi usaha ini,” ucap Surya pelan.

“Tidak, Yah,” Bima mendekat. “Ini fitnah. Kita bisa membuktikannya.”

Surya menatap putranya lama. “Dunia tidak sesederhana itu, Nak.”

Hari-hari berikutnya menjadi neraka.

Media menyerbu tanpa ampun. Tuduhan demi tuduhan bermunculan. Sponsor memutus kontrak. Bank membekukan kredit. Supplier menarik pasokan.

Dalam waktu seminggu, BOBA yang megah berubah menjadi bangunan sunyi, terkunci, dan penuh debu.

Utang menumpuk. Ayah jatuh sakit karena tekanan.

Setiap malam, Ratna menangis diam-diam.

Dan Bima, yang dulu hanya bermimpi memperluas toko, kini harus menelan pahit kenyataan: keluarganya sedang dihancurkan secara sistematis.

Di kamar yang gelap, Bima menatap pesan misterius di ponselnya sekali lagi.

Hati-hati dengan orang di sekitarmu.

Saat itu, tekad mulai tumbuh dalam dadanya.

Ia bersumpah, tak peduli seberapa kuat musuhnya, ia akan mencari siapa pun yang berada di balik semua ini.

Dan ia akan membuat mereka membayar mahal.

Karena dari reruntuhan toko manisan itu, lahirlah sebuah dendam yang akan mengguncang seluruh Kota Sagara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!