Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Tamu yang Tidak Diundang
Ketenangan itu bertahan hampir dua minggu.
Dua minggu tanpa bau tanah, tanpa mimpi buruk, tanpa jam 02.17 yang terasa seperti palu di kepala. Aku bahkan sempat mulai percaya bahwa hidupku benar-benar dikembalikan.
Tapi ketenangan di rumah ini selalu seperti kaca tipis—indah, bening, dan rapuh.
Semuanya bermula dari tamu yang datang pada hari Minggu siang.
Aku sedang menyapu teras ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Mobil yang terlalu bersih untuk jalan kampung, terlalu rapi untuk rumah tua kami.
Seorang laki-laki turun. Usianya mungkin akhir empat puluhan, kemeja putih, sepatu mengilap, senyumnya sopan tapi matanya tajam seperti orang yang terbiasa menilai ruangan sebelum orangnya.
“Ini rumah Bu Sari, ya?” tanyanya.
Aku mengangguk ragu.
“Saya keponakannya. Raisa.”
Senyumnya melebar.
“Ah, akhirnya ketemu juga. Saya teman lama keluarga ini. Nama saya Bima.”
Nama itu tidak pernah kudengar sebelumnya.
Ayah keluar dari dalam, wajahnya langsung berubah ketika melihat laki-laki itu.
“Mas Bima?” suaranya setengah kaget, setengah tidak suka.
Mereka berjabat tangan, tapi suasananya aneh—seperti dua orang yang pura-pura ramah di depan saksi.
“Saya dengar kalian baru melewati malam berat,” kata Bima sambil melirik ke arah pohon mangga. “Saya datang cuma ingin memastikan semuanya baik-baik saja.”
Kalimatnya halus, tapi ada sesuatu di nadanya yang membuat tengkukku meremang.
⸻
Kami duduk di ruang tamu.
Dini kebetulan sedang datang dan ikut bergabung, sementara Arga belum terlihat hari itu.
Bima mengamati sekeliling rumah dengan tatapan yang terlalu mengenal.
“Sudah lama saya nggak ke sini,” katanya. “Tapi energinya masih sama.”
Aku menahan diri untuk tidak bertanya terlalu banyak.
Ayah yang lebih dulu membuka suara.
“Mas Bima dulu dekat dengan almarhum Ibu saya,” jelasnya singkat kepadaku. “Dia yang membantu waktu… masa sulit kampung.”
Aku langsung menegang.
“Bantu yang mana, Yah?”
Bima tersenyum tipis.
“Sekadar memberi saran spiritual. Dulu orang-orang gampang panik.”
Kata spiritual itu terdengar licin di mulutnya.
Dini menyenggol tanganku pelan, tanda dia juga merasakan keanehan yang sama.
⸻
Selama pembicaraan, Bima berkali-kali menatap ke arah lorong belakang, seolah tahu di sanalah pusat segala cerita.
“Lubangnya sudah ditutup lagi?” tanyanya tiba-tiba.
Aku dan Ayah saling pandang.
“Sudah,” jawab Ayah hati-hati.
Bima mengangguk.
“Bagus. Tapi yang ditutup belum tentu yang selesai.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak dingin.
“Apa maksudnya?” tanyaku.
Dia menatapku lama, terlalu lama untuk orang yang baru bertemu.
“Kamu Raisa, ya? Nama yang dipanggil kedua kali.”
Aku ingin berdiri dan mengusirnya saat itu juga.
Ayah mendahului, suaranya tegas.
“Mas, kita nggak butuh orang luar lagi. Semuanya sudah beres.”
Bima tertawa kecil.
“Beres menurut siapa? Menurut yang di bawah tanah atau menurut manusia yang takut mengaku?”
Suasana menegang.
Dini berdiri pura-pura mengambil air, mungkin supaya ada alasan menjauh sebentar.
Aku memberanikan diri bertanya:
“Mas Bima sebenarnya siapa dalam cerita ini?”
Dia tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke televisi di sudut ruangan—televisi yang pernah menampilkan masa lalu itu.
“Saya cuma saksi yang belum sempat bicara.”
⸻
Setelah Bima pulang, rumah terasa berubah lagi.
Ayah terlihat gelisah sepanjang sore. Dia mondar-mandir di teras seperti sedang mengingat sesuatu yang ingin dilupakan.
“Yah, orang itu nggak baik,” kataku pelan.
Ayah menghela napas.
“Dia yang dulu memperkenalkan orang asing itu ke kampung. Tanpa dia, mungkin perjanjian itu nggak pernah ada.”
Dadaku langsung panas.
“Kenapa baru sekarang dia datang?”
Ayah menggeleng.
“Entah. Tapi kehadirannya bukan kebetulan.”
Malam itu aku sulit tidur lagi.
Bukan karena suara, tapi karena pikiran. Wajah Bima terus muncul di kepalaku, senyumnya yang terlalu tenang, kalimatnya yang seperti kunci cadangan untuk pintu lama.
⸻
Jam 02.17 datang—untuk pertama kali setelah sekian lama.
Aku terbangun otomatis, jantungku langsung berdegup kencang.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada bau tanah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Dari ruang tamu terdengar televisi menyala sendiri.
Cahayanya memantul sampai ke pintu kamar.
Aku keluar perlahan. Dini tertidur di sofa, Ayah di kursi, keduanya tidak terbangun.
Di layar televisi muncul gambar halaman belakang—bukan rekaman lama, tapi tampilan seperti kamera langsung.
Dan di bawah mangga, berdiri seseorang.
Bukan Ranti.
Bukan sosok tanpa wajah.
Tapi Bima.
Dia berdiri memandang ke arah kamera, lalu perlahan menoleh seolah tahu aku sedang melihat.
Di bibirnya terbaca kalimat tanpa suara:
“Belum selesai.”
Televisi mati sendiri.
Aku berdiri gemetar di tengah ruang tamu yang kembali gelap.
⸻
Besok paginya aku menceritakan semuanya pada Arga yang baru datang.
Wajahnya langsung tegang mendengar nama Bima.
“Orang itu dulu memang terlibat jauh,” katanya. “Bahkan lebih dekat dengan yang di bawah daripada keluarga kalian.”
“Kenapa dia datang sekarang?” tanya Dini.
“Karena mungkin ada bagian janji yang belum dipenuhi,” jawab Arga pelan.
Kalimat itu membuatku merasa kembali ke titik nol.
Kami memutuskan mencari informasi lebih dalam tentang Bima. Bu Mira dipanggil lagi, dan begitu mendengar nama itu, beliau langsung pucat.
“Dia bukan cuma saksi,” katanya. “Dia juru bicara dari lelaki asing itu.”
Potongan cerita baru mulai terbuka:
bahwa perjanjian dulu bukan sekadar menukar anak dengan keselamatan, tapi juga membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar untuk tinggal di kampung.
Ranti hanya pintu pertama.
Dan namaku mungkin pintu kedua.
⸻
Sejak hari itu gangguan datang lagi, tapi berbeda bentuk.
Tidak lagi kasar seperti dulu—tidak ada teriakan, tidak ada langkah, tidak ada bau menyengat. Yang datang justru hal-hal kecil yang menggerogoti pelan.
Cermin di kamar memantulkan bayanganku terlambat sepersekian detik.
Air keran kadang mengalir hangat seperti darah.
Dan beberapa kali aku menemukan jejak sepatu laki-laki di teras—jejak yang ukurannya sama persis dengan sepatu Bima.
Aku mulai merasa dia tidak sekadar manusia penasaran.
Dia seperti penjaga pintu yang menunggu celah baru.
⸻
Suatu sore, saat aku pulang dari sekolah, di depan pagar sudah terparkir mobil hitam itu lagi.
Bima berdiri di teras, berbicara dengan Ayah.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Kita harus bicara berdua, Raisa.”
Ayah hendak menolak, tapi aku lebih dulu menjawab:
“Bicara saja di sini. Aku nggak punya rahasia lagi.”
Bima mengangguk, tidak tersinggung.
“Baik. Saya cuma mau jujur. Yang kalian lakukan malam itu memang mengantar Ranti pulang. Tapi pintu utama belum ditutup.”
“Pintu apa?” tanyaku.
Dia menunjuk ke arah rumah.
“Rumah ini sendiri. Dia dibangun di atas simpul lama. Selama rumah berdiri seperti ini, akan selalu ada yang mencari jalan kembali.”
Arga yang baru datang langsung menyela.
“Mas Bima mau apa sebenarnya?”
Bima menatapnya datar.
“Saya menawarkan jalan aman: menyerahkan satu nama lagi secara sukarela, bukan paksa.”
Ruangan terasa membeku.
Ayah berdiri marah.
“Pergi dari rumah saya.”
Bima tersenyum tipis.
“Pikirkan saja. Waktu tidak berpihak pada kalian.”
Dia pergi tanpa pamit.
Tapi jejaknya tertinggal seperti bau yang tidak bisa dicuci.
⸻
Malam itu aku bermimpi lagi.
Bukan tentang Ranti.
Aku bermimpi berdiri di ruang tamu bersama Bima. Dia menunjukkan denah rumah seperti peta tubuh manusia.
“Di sini jantungnya,” katanya menunjuk lantai.
“Di sini mulutnya.” menunjuk pintu belakang.
“Dan kamu… nadinya.”
Aku terbangun dengan napas tersengal.
Jam menunjukkan 02.17.
Di luar, pohon mangga bergoyang pelan—padahal tidak ada angin.
⸻
Aku duduk di tempat tidur lama sekali.
Perasaan yang dulu kupikir sudah selesai kini kembali, tapi dengan wajah baru.
Bukan lagi anak kecil yang minta pulang,
melainkan manusia dewasa yang ingin membuka pintu lebih lebar.
Aku sadar satu hal menakutkan:
pertempuran sebenarnya bukan melawan Ranti.
Tapi melawan orang yang dulu menyerahkannya.
Dan orang itu kini berdiri sangat dekat dengan hidupku.