Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 BENIH YANG BELAJAR MENAHAN DUNIA
Namun di balik dinding batu hitam, fondasi yang tak terlihat sedang dibentuk.
Pada usia satu tahun, Chen Long mulai berjalan lebih cepat dari anak normal. Langkahnya mantap, tidak goyah. Ketika jatuh, ia tidak menangis hanya bangkit kembali, seolah tubuh kecilnya sudah memahami cara menyalurkan dampak ke tanah.
Para pelayan memperhatikan hal-hal kecil.
Air dingin tidak membuatnya demam.
Makanan panas tidak melukai mulutnya.
Ia tidur lama, namun selalu terbangun tepat sebelum fajar.
Zhia Xining mengamati semuanya… dan tidak pernah memberi penjelasan.
“Jangan memaksanya,” pesannya setiap kali pelayan terlihat terlalu khawatir. “Biarkan tubuhnya belajar sendiri.”
Pada usia tiga tahun, sesuatu berubah.
Di malam tanpa bulan, Chen Long terbangun dari tidurnya dan duduk diam di ranjang. Matanya terbuka, namun tidak fokus seolah melihat sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.
Napasnya melambat.
Satu tarikan.
Satu hembusan.
Zhia Xining yang sedang bermeditasi di ruangan sebelah langsung membuka mata. Ia berdiri dalam sekejap dan memasuki kamar anaknya.
Apa yang ia lihat membuat langkahnya terhenti.
Qi tipis bahkan sangat tipis sedang berputar di sekitar tubuh Chen Long. Tidak liar. Tidak bergejolak. Hanya beredar mengikuti napasnya, masuk dan keluar secara alami.
Ia belum belajar apa pun…
Ini murni respons tubuh.
Zhia Xining segera mengangkat tangannya dan memutus aliran itu dengan lembut. Qi menghilang seolah tidak pernah ada.
Chen Long berkedip, lalu menoleh ke arahnya. “Ibu?”
Suaranya kecil, jernih.
Zhia Xining tersenyum dan mengangkatnya ke dalam pelukan. “Tidurlah.”
Chen Long menyandarkan kepala ke bahunya dan kembali terlelap dalam hitungan napas.
Namun malam itu, Zhia Xining tidak kembali bermeditasi.
Ia duduk hingga fajar, memeluk anaknya, pikirannya berputar cepat.
Tubuhnya mulai menyerap Qi pasif…
Ini terlalu cepat.
Keesokan paginya, Chen Hao memerintahkan latihan militer ringan di halaman dalam bukan untuk Chen Long, melainkan untuk prajurit muda. Namun Chen Long kecil berdiri di tepi halaman, menonton dengan mata berbinar tenang.
Ia memperhatikan cara kaki menapak tanah.
Cara napas ditahan sebelum mengayun pedang.
Cara tubuh menyerap hentakan.
Chen Hao memperhatikannya dari jauh.
“Apakah terlalu dini?” tanyanya pada Zhia Xining.
“Tidak,” jawab istrinya. “Selama ia melihat, bukan melakukan.”
Chen Hao mengangguk. Ia tahu, sejak hari kelahiran itu, putranya tidak akan pernah menjalani hidup yang normal.
Dan di menara pengawas paling utara, seorang penjaga tiba-tiba menegang.
“Ada gerakan di kabut!” teriaknya.
Bukan serangan.
Bukan penyusupan.
Namun di balik kabut Tanah Terlarang, sepasang mata merah terbuka… lalu tertutup kembali, seolah makhluk di sana telah memastikan satu hal.
Sesuatu telah lahir.
Dan mereka akan menunggu.
(Usia 3–6 tahun)
Angin pagi di lembah selalu datang lebih dulu daripada matahari.
Chen Long sudah berdiri ketika embun masih menggantung di ujung rumput. Tubuh kecilnya dibalut pakaian kasar yang kebesaran, lengan dan kaki kurusnya memerah oleh dingin. Tidak ada keluhan. Tidak ada tangisan. Sejak usia tiga tahun, ia telah belajar satu hal paling awal dari dunia ini: tubuh fana tidak dilindungi oleh belas kasihan.
Latihannya sederhana dan kejam.
Berjalan tanpa alas kaki di atas batu sungai saat fajar.
Mengangkat kendi air yang beratnya hampir setara dengan tubuhnya.
Berdiri diam berjam-jam, punggung lurus, napas ditahan, hingga kaki gemetar.
Tidak ada teknik. Tidak ada energi spiritual.
Hanya tubuh.
Setiap pagi, Chen Long diminta merasakan denyut jantungnya sendiri. Bukan untuk menenangkan, melainkan untuk mengenali batas. Ketika napasnya kacau, ia diperintah diam. Ketika ototnya gemetar, ia tidak boleh jatuh. Jika jatuh ia bangun sendiri.
Pada usia itu, anak lain belajar berlari.
Chen Long belajar menahan.
Perlahan, perubahan mulai terjadi.
Kulitnya menjadi lebih padat. Tulangnya terasa berat saat digerakkan. Saat ia berlari, langkahnya lebih stabil daripada anak seusianya. Saat ia jatuh, tubuhnya tidak langsung memar seperti dulu.
Tanpa disadari, ia telah menyentuh Tingkat 0 Fondasi Tubuh Dunia Fana.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada ledakan energi.
Hanya satu tanda sederhana: tubuhnya berhenti mudah rusak.
Namun malam hari membawa sesuatu yang lain.
Ketika Chen Long berusia lima tahun, ia mulai terbangun di tengah malam tanpa sebab. Dadanya terasa hangat, lalu dingin, lalu hangat kembali seperti dua arus kecil yang saling mengejar di dalam dirinya.
Ia tidak mengerti apa itu.
Ia hanya tahu satu hal: ia tidak boleh membiarkannya liar.
Maka ia duduk. Diam. Meniru posisi berdiri yang diajarkan pagi hari. Menahan napas, lalu melepaskannya perlahan. Aneh setiap kali ia tenang, rasa panas dan dingin itu ikut mereda.
Tanpa bimbingan, tanpa nama teknik, Chen Long secara naluriah belajar menenangkan resonansi Yin dan Yang mentah di dalam tubuhnya.
Itulah yang menyelamatkannya.
Insiden itu terjadi saat ia berusia enam tahun.
Sore hari, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Chen Long diminta mengambil kayu bakar di tepi hutan dengan jarak yang seharusnya aman. Namun hari itu, hutan terasa sunyi secara tidak wajar. Burung tidak bersuara. Angin berhenti.
Chen Long berhenti melangkah.
Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdetak pelan namun bukan cepat, melainkan berat.
Di balik kabut, sesuatu bergerak.
Makhluk itu tidak besar. Bentuknya menyerupai serigala, namun matanya hitam tanpa pantulan cahaya. Uap gelap keluar dari sela giginya setiap kali ia bernapas.
Iblis liar tingkat rendah.
Jika Chen Long adalah anak biasa, ia sudah mati.
Namun tubuhnya tidak lari.
Ia mundur satu langkah. Lalu dua. Kakinya menapak tanah dengan stabil. Napasnya ditahan sesuatu seperti saat latihan pagi. Dunia seolah menyempit pada satu garis lurus antara dirinya dan makhluk itu.
Iblis itu menerjang.
Chen Long berguling ke samping, tubuh kecilnya menghantam tanah. Rasa sakit datang, tapi tidak melumpuhkan. Ia bangkit, mengambil kayu bakar terbesar, dan memukul bukan dengan tenaga, melainkan dengan waktu yang tepat.
Kayu itu patah. Namun cukup untuk membuat iblis itu tersentak.
Saat itulah sesuatu di dalam Chen Long bergetar.
Panas dan dingin yang biasa ia tekan… berhenti.
Untuk satu detik, tubuhnya terasa kosong dan sangat berat. Iblis itu ragu. Naluri binatangnya menangkap sesuatu yang salah.
Chen Long tidak mengejar.
Ia mundur perlahan, langkahnya tidak goyah, tatapannya tidak lepas.
Iblis itu akhirnya menghilang ke dalam kabut.
Saat Chen Long jatuh terduduk, napasnya bergetar hebat. Tangan kecilnya berdarah. Namun matanya tetap jernih.
Hari itu, ia tidak menang.
Namun ia bertahan.
Dan dunia untuk pertama kalinya mengakuinya.
Di usia enam tahun, tanpa guru, tanpa kitab, Chen Long telah menancapkan kakinya sepenuhnya di Fondasi Tubuh Dunia Fana. Lebih dari itu, tubuhnya mulai mengenali keseimbangan sesuatu yang bahkan para kultivator dewasa sering abaikan.
Jauh di dalam tanah, sesuatu yang tua berdenyut pelan.
Benih telah berakar.
Dan ia tidak akan mudah dicabut.
...BERSAMBUNG...
...****************...