Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sore harinya di rumah, Ara mulai bersiap-siap untuk pergi ke tempat perawatan yang sudah ia booking jauh-jauh hari sebelum hari pernikahannya. Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang tergerai lembut, lalu memilih pakaian yang nyaman namun tetap cantik setelan sederhana berwarna pastel yang membuatnya terlihat segar.
Di atas meja rias, ponselnya menampilkan notifikasi pengingat jadwal treatment. Ara menarik napas pelan, ada rasa campur aduk antara gugup dan bahagia. Hari pernikahan yang selama ini ia impikan semakin dekat. Ia mengambil tas kecil berisi dompet, ponsel, dan sedikit perlengkapan pribadi, lalu menyemprotkan parfum favoritnya.
Sebelum keluar kamar, ia sempat menatap pantulan dirinya sekali lagi. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Bismillah,” gumamnya pelan.
Ara melangkah keluar rumah, dan di teras sudah menunggu Mba Raina dengan senyum lebarnya.
“Kamu siap, calon pengantin?” goda Mba Raina sambil mengangkat alisnya.
Ara tertawa kecil. “Siap nggak siap harus siap, Mbak. Deg-degan banget rasanya.”
Mereka pun berangkat bersama. Sepanjang perjalanan, Mba Raina tak henti-hentinya memberi semangat dan sesekali menggoda Ara tentang hari H yang semakin dekat. Ara hanya bisa tersenyum malu, pipinya memerah setiap kali nama calon suaminya disebut.
Sore itu, begitu pintu tempat treatment terbuka, aroma lembut langsung menyambut Ara dan Mba Raina. Lampu temaram dan musik instrumental pelan membuat suasana terasa seperti jeda dari riuhnya persiapan pernikahan.
Mba Raina menggandeng tangan Ara dengan santai.
“Hari ini kamu dilarang mikirin apa pun selain rileks,” katanya tegas. “Checklist nikahan cuti dulu.”
Ara tersenyum kecil. “Aku masih kepikiran takut ada yang kurang, Mbak.”
“Kalau ada yang kurang, itu urusan besok. Sekarang urusan kita cuma satu: bikin kamu glowing maksimal.”
Setelah konfirmasi di resepsionis selesai, mereka duduk sebentar di ruang tunggu. Ara terlihat diam, mungkin memikirkan banyak hal sekaligus.
“Kamu sadar nggak,” ujar Mba Raina pelan, “beberapa hari lagi hidup kamu berubah?”
Ara tertawa kecil. “Iya… rasanya campur aduk.”
“Deg-degan itu wajar,” lanjutnya lebih lembut. “Artinya kamu serius. Tapi jangan takut. Kamu nikah sama orang yang kamu pilih.”
Tak lama kemudian, terapis datang.
“Kak Ara, untuk body spa nanti bisa pilih aroma ya. Ada lavender, jasmine, atau green tea.”
Ara menoleh pada Mba Raina. “Menurut Mbak enaknya apa?”
Mba Raina mengangkat bahu. “Yang bakal bikin kamu paling tenang. Kamu yang pilih. Ini badan kamu, bukan badan aku.”
Ara berpikir sejenak.
“Lavender deh, Mbak. Kayaknya lagi butuh yang bikin rileks.”
“Pilihan bagus,” kata Mba Raina sambil mengangguk. “Biar kamu nggak overthinking lagi malam ini.”
Setelah itu, Ara dipersilakan masuk ke ruang perawatan untuk facial. Sebelum masuk, Mba Raina merapikan sedikit rambutnya.
“Eh bentar. Calon pengantin tetap harus proper, walaupun cuma ke ruang treatment.”
Ara tersenyum. “Mbak lebay.”
“Aku ini tim support system resmi.”
Ara masuk ke ruangannya, sementara tak lama kemudian Mba Raina juga dipanggil ke ruang berbeda untuk treatment pilihannya sendiri—body slimming dan hair spa.
“Ya sudah, kita treatment masing-masing ya,” ucapnya sebelum masuk. “Nanti keluar harus sama-sama kinclong.”
Di ruang perawatan, wajah Ara dibersihkan perlahan. Aroma lavender mulai terasa saat body spa dimulai. Hangat, menenangkan.
Ia memejamkan mata, mencoba benar-benar menikmati momen itu tanpa memikirkan apa pun.
Sementara di ruangan lain, Mba Raina duduk dengan rambut terbalut krim hair spa, sesekali tersenyum sendiri membayangkan Ara yang pasti sedang berusaha keras untuk tidak overthinking.
Beberapa waktu kemudian, treatment selesai.
Mba Raina lebih dulu keluar dan menunggu di ruang tunggu. Rambutnya tampak lebih rapi dan wajahnya segar.
Tak lama kemudian, Ara keluar.
Langkahnya lebih ringan. Wajahnya terlihat cerah dan tenang.
Mba Raina berdiri, memperhatikannya dari atas ke bawah dengan gaya dramatis.
“Hm.”
Ara langsung salah tingkah. “Kenapa?”
“Nah ini,” katanya puas. “Aura pengantinnya mulai keluar. Lebih soft. Lebih tenang.”
Ara tersenyum. “Enak banget, Mbak. Badan rasanya ringan.”
“Nah itu yang penting. Cantik itu bukan cuma soal makeup nanti pas akad. Tapi soal hati yang tenang.”
Ara menatapnya, matanya sedikit berkaca.
“Mbak… makasih ya udah nemenin.”
Mba Raina tersenyum hangat.
“Selalu. Kamu mau masuk bab baru yang panjang. Jadi jangan cuma siap jadi pengantin cantik. Siap juga jadi pasangan yang kuat.”
Ara mengangguk mantap.
“Sekarang ayo pulang,” lanjut Mba Raina sambil mengambil tasnya. “Mood kamu harus dijaga sampai hari H. Dilarang stres. Wajib bahagia.”
Ara tertawa kecil, menggandeng tangannya.
Sore itu, mereka keluar bersama—masing-masing dari ruang perawatan yang berbeda, dengan pilihan yang berbeda, tapi dengan satu perasaan yang sama.
Lebih siap.
Langit sudah mulai berubah jingga ketika mereka keluar dari tempat treatment. Udara sore terasa lebih sejuk, atau mungkin hanya perasaan Ara saja yang lebih ringan.
Mba Raina membuka pintu mobil lebih dulu.
“Pelan-pelan jalannya. Jangan sampai habis di-spa malah kepeleset. Bisa batal glowing,” katanya santai.
Ara tertawa kecil dan masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan. Beberapa detik mereka hanya diam, menikmati sisa rasa tenang setelah perawatan.
“Aneh ya, Mbak,” ucap Ara pelan sambil menatap ke luar jendela.
“Apa?”
“Tadi pas masker dipasang, aku tiba-tiba kepikiran… ini benar-benar mau kejadian.”
Mba Raina meliriknya sekilas. “Kejadian apanya?”
“Aku nikah.”
Nada suaranya bukan panik. Lebih seperti seseorang yang baru menyadari betapa dekatnya sesuatu yang selama ini terasa jauh.
Mba Raina tersenyum tipis.
“Ra, dari dulu kamu itu selalu siap buat orang lain. Siap bantu, siap ngalah, siap jagain. Sekarang kamu cuma pindah peran.”
“Pindah peran?”
“Iya. Dari anak gadis di rumah orang tua, jadi istri di rumah sendiri. Tapi kamu tetap Ara yang sama.”
Mobil melaju pelan melewati jalan sore yang mulai ramai.
“Aku takut nggak cukup baik,” ujar Ara jujur.
Mba Raina tidak langsung menjawab. Ia fokus menyetir beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Nggak ada yang langsung jadi istri sempurna di hari pertama. Semua belajar. Yang penting kamu mau tumbuh bareng.”
Ara mengangguk pelan.
“Dan satu lagi,” lanjut Mba Raina, “jangan merasa kamu harus kuat sendirian. Nikah itu bukan lomba siapa paling sabar. Itu kerja tim.”
Ara tersenyum kecil.
“Kamu ngomongnya kayak konselor pernikahan, Mbak.”
“Pengalaman nih” jawabnya santai, membuat Ara tertawa lagi.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah Ara. Dari luar sudah terlihat tenda berdiri dan lampu-lampu kecil tergantung rapi.
Ara memandangnya sejenak sebelum turun.
“Besok makin ramai” gumamnya.
“Dan lusa kamu sah,” sahut Mba Raina ringan.
Ara menoleh, menatap sahabatnya itu dengan campuran syukur dan haru.
“Terima kasih ya, Mbak.”
Mba Raina melepas sabuk pengaman dan menepuk tangan Ara pelan.
“Denger ya. Kalau nanti di tengah jalan kamu capek, kamu tetap punya tempat pulang buat cerita. Jangan dipendam sendiri.”
Ara mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Eh,” Mba Raina cepat-cepat menambahkan, “jangan mulai sekarang. Nanti maskernya sia-sia.”
Ara tertawa sambil menyeka sudut matanya.
Ia turun dari mobil dengan langkah lebih mantap.
Lampu tenda menyala lembut. Dari dalam rumah terdengar suara ibu-ibu yang masih sibuk. Aroma masakan tercium samar.
Ara berdiri sejenak di halaman.
Wajahnya memang lebih cerah.